Kamis, 19 April 2012

Jalan-jalan ke Martapura pusat intan permata di Kalsel

Sejak lama saya memimpikan untuk bisa pergi ke Kalimantan Selatan, tepatnya untuk bersilaturahmi dengan mas(kakak lelaki) saya yang  tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalsel. Mas saya yang ketiga  sekaligus anak ke lima orangtua saya sudah sejak kuliah tinggal di Kalsel. Mas kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, selepas kuliah diangkat menjadi PNS, menikah dan tinggal di Barabai Hulu Sungai Tengah. Hampir 30 tahunan beliau tinggal jauh di sana, tetapi saya sebagai adiknya belum pernah menengok ke sana.

Tahun lalu, alhamdulillah ada sedikit rejeki yang memang segaja di sisihkan untuk biaya perjalanan  menengok keluarga mas , mbakyu ipar dan kedua ponakan yang kuliah di Akper dan kelas dua SMA.  Kebetulan pimpinan  kantor saya yang baik hati memberikan ijin saya untuk beberapa hari.
Saya berangkat bersama suami dengan meninggalkan ketiga anak saya bersama ibu saya dan mertua perempuan serta mbak pengasuh mereka. Sebenarnya nggak tega meninggalkan mereka bertiga, tetapi kami berdua sudah berniat lama sehingga mau tidak mau harus disegerakan menuanikan niat yang lamaaaaaaaaaaa sekali di rencanakan. Untuk menghemat biaya, kami melakukan perjalanan lewat Surabaya, baru terbang ke Kalsel. Kami memang segaja tidak lewat Jogja karena biaya lewat Surabaya lebih irit hampir setengahnya. 
Mas  saya tinggal di Barabai  Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang terletak cukup jauh dari bandara udara Samsuddin Noor. Jarak tempuh dengan kemdaraan pribadi sekitar 4-5 jam. Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di Barabai. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.472 km² dan berpenduduk sebanyak 243.389 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Motto daerah ini adalah "Murakata" yang diambil dari bahasa Banjar. Murakata merupakan singkatan dari kata, Mufakat, Rakat, Seiya-sekata. Secara topografi, Kabupaten ini terdiri atas tiga kawasan, yakni kawasan rawa, dataran rendah dan wilayah pegunungan Meratus.
Dua ponakan di Barabai

Mobil  yang membawa kami melaju tidak terlalu kencang meskipun ponakan lelaki saya cukup lihai menjadi drivernya. Hal itu karena jalanan cukup ramai dan tidak semua jalan  bagus dan rata. Ada beberapa ruas jalan yang aspalnya cukup  bagus, tetapi ketika kami meninggalkan jalan utama, jalanan tidak terlalu bagus. Menurut mas, jalanan gampang rusak karena tidak terlalu kuat menahan beban truk-truk yang melintasi dengan membawa beban batu bara dan hasil bumi lainnya.
Sepanjang perjalanan, saya terkagum-kagum dengan banyaknya bangunan masjid yang terletak di sepanjang jalan yang di lalui. Tidak sampai 1 km akan dijumpai bangunan masjid yang megah dan kontras dengan bangunan rumah penduduk yang sebagian besar biasa saja.

Selain ke Barabai, saya dan suami juga  diajak jalan-jalan ke Banjar baru .Kota Banjarbaru adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Banjarbaru merupakan sebuah kota yang baru dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,30 km² (37.130 ha) atau 3,8 x luas Banjarmasin atau ½ luas Jakarta.  Di kota ini ada ada pusat perbelanjaan yang cukup megah dan menjadi pusat belanja dan wisata masyarakat. Meski ramai, untuk ukuran kota Solo tentunya masih jauh. Barangkali  keramaian kota Banjarbaru  masih setengahnya keramaian di kota Solo.
Taman di depan pusat pertokoan Martapura

Kami juga tak lupa berjalan-jalan ke pusat intan di Kalsel yaitu ke Martapura. Martapura adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini terkenal sebagai kota santri di Kalimantan, karena terdapat pesantren Darussalam. Kota Martapura (Metapoora) jaraknya sekitar 10 mil dari Kayu Tangi (Caytonge atau Cotatengah).[Martapura merupakan ibukota Kesultanan Banjar (terakhir pada masa pemerintahan Sultan Adam). Ulama Banjar yang terkenal Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari penulis Kitab Sabilal Muhtadin berasal dari kota ini..
Martapura sering juga disebut sebagai kota Serambi Makkah karena di kota ini banyak sekali santri-santri yang berpakaian putih-putih yang hilir mudik untuk menuntut ilmu agama dan selain itu juga kota ini terkenal sebagai kota yang agamis
Kota ini juga terkenal dan sering dikunjungi wisatawan karena merupakan pusat transaksi penjualan intan dan tempat penggosokan intan utama di Kalimantan dan menyediakan banyak cenderamata batu mulia. Banyaknya Intan dan permata lainnya serta cendra mata batu aji/muliadi Kota Martapura dikarenakan adanya penggalian intan seperti di desa Cempaka serta adanya  penggosokan intan,yang konon ceritanya, cara penggalian intan dan penggosokannya di kerjakan  secara tradisional dan merupakan salah satu pekerjaan utama masyarakat Kota Martapura. Di sini kita bisa memilih barang dari emas berbagai karat , intan maupun permata lainnya , yang harganya bervariasi.
Di pusat pertokoan ini, tak lupa saya membeli beberapa barang cinderamata untuk oleh-oleh keluarga dan teman di Solo.(19.4.12)

0 komentar: