Minggu, 25 Maret 2012

BBM Naik, Ibu di Desa Resah


BBM Naik, ibu di desa resah

 Hari Jum’at kemarin, libur nasional hari raya Nyepi, saya bersama suami dan anak saya yang terkecil pulang ke desa  silaturhmi dengan bapak dan ibu. Sudah sebulan lebih, kami belum pulang dan kerinduan sudah mulai muncul, kerinduan untuk bertemu dengan ibu bapak kami yang sudah sepuh , kerinduan akan bau sawah dan semilir udara desa yang selama 17 tahun saya hidup, tumbuh dan belajar dari alam dan lingkungan. Sebuah desa  di kecamatan Cawas kabupaten Klaten.  Belakang rumah kami terbentang sawah berpetak-petak yang di sisinya terdapat  sungai kecil dan di sebelah utara terbenatang sungai yang cukup besar. Dari sungai tersebut, biasanya air di pergunakan untuk mengaliri  sawah petani di  desa kami.
Ketiga anak saya di salah satu sudut desa tempat saya dilahirkan

Sepanjang perjalanan, hampir di setiap jalan desa yang kami lalui, nampak para ibu-ibu dan bapak sedang sibuk menanam padi di sawah. Memang, bulan-bulan ini setelah panen pada bulan yang lalu, petani  kembali sibuk dengan bibit padi yang di semai dan setelah mencapai ketinggian tertentu siap di tanam di sawah mereka. Ehm.... luar biasa menyaksikan para petani yang sibuk, giat dan nampak sangat menikmati aktivitas menanam padi, menyediakan pangan lokal yang sangat di butuhkan oleh warga di desa maupun di kota. Dua minggu yang lalu, ibu juga mengirimkan hasil panennya ke rumah, sebanyak satu sak (sekitar 30 kilo) untuk bahan makanan kami, setelah selama setahun yang lalu ibu tak bisa mengirimkan beras kepada anak-anaknya karena tidak panen. Tahun yang lalu memang masa suram bagi petani karena banyak hama wereng yang  tidak bisa terasi oleh petani. Hampir di banyak tempat , petani sama sekali tidak panen. Begitu juga dengan  3 petak sawah milik ibu/bapak dan sawah tetangga yang lain di daerah Klaten.  Mau tidak mau, ibu tidak bisa mengirimkan beras kepada anak-anaknya (setiap bulan ibu rutin mengirimkan beras kepada anak-anaknya di Cilacap, Semin, Yogja, Solo, sementara yang di Jakarta hanya sesekali kalau pas ibu tilik cucu dan anaknya. Mas di Kalsel tidak di kirimi). Alhamdullilah, tahun ini hasil panennya bagus sehingga membuat para  petani senang.
Saya dan ibu tersayang

Sekitar satu jam, kami sampai di rumah sederhana kami. Bapak dan ibu nampak sehat seperti biasanya. Bapak yang sekarang menginjak usia  80 tahun, masih sangat sehat, kuat tetap bersemangat, hanya kali ini pipinya nampak  bengkak  karena  kemarin pasang gigi palsu tetapi karena tukang giginya  bukan langganan yang biasanya, gigi  jadi bengkak. Bapak memang luar biasa, meski sudah pensiun tetapi tidak mau istrirahat dan diam saja di rumah.  Banyak sekali kegiatannya yang dilakukan, dari rapat PWRI, rapat RT, rapat kelurahan, pengajian, dll. Walah kadang kami sampai capek sendiri kalau melihat kesibukan bapak. Ibu, dengan usianya yang 75 tahun juga nampak selalu sehat dan tetap tetap semangat ketika menceritakan perkembangan situasi di desa dan ketika menanyakan kabar cucu-cucunya.

Kabar di desa, dari cerita ibu, saat ini masyarakat terutama ibu-ibu sibuk  rasan-rasan tentang rencana kenaikan BBM bulan April nanti. Ibu-ibu  di desa meski belum merasakan sekali dampak rencana kenaikan BBM(kemungkinan karena di desa biasanya menanam sayur sendiri untuk diolah menjadi bahan makanan, sehingga belum terasa kenaikan BBM) tetapi sudah merasakan dampak kenaikan BBM yang di alami oleh buruh pabrik dan orang-orang di kota.  Informasi di TV ternyata sangat berpengaruh bagi ibu-ibu. Mereka merasakan simpati  yang luar biasa terhadap kesusahan yang akan di alami para buruh yang bergaji pas-pasan. Kalau di desa barangkali dengan sikap gotong royong dan solidaritas yang tinggi antar tetangga, jika tidak punya uang untuk makan, masih ada tetangga yang peduli. Tetapi kalau di kota , butuh dengan gaji yang tidak terlalu besar, akan kesulitan untuk makan, dan sulit untuk minta ke tetangga.
“Ada yang bunuh diri karena tidak bisa makan itu sangat mengerikan dan kasihan sekali. Ternyata hidup mereka sangat susah sampai putus asa ,” komentar ibu menganggapi berita di TV yang seringkali menanyangkan berita dari seantero nusantara. Ibu dan para tetangga resah dan gelisah ,ikut merasakan penderitaaan dan kesusahan yang pasti akan dialami masyarakat terutama di kota pasca kenaikan BBM bulan depan. Dalam bincang-bincangnya, tak lupa ibu selalu berpesan agar saya tak pernah lupa untuk bersedekah dan berbagi rejeki dengan oarang yang kurang beruntung di sekitar tempat tinggal saya. “ Kalau ada beras juga jangan lupa membagi kepada yang butuh ya nduk, mereka lebih butuh.” Ibu selalu wanti-wanti kepada saya.(  25.3.12)

Tidak ada komentar: