Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2015

Melupakanmu Butuh Waktu

              “Kamu serius?”
            Tegar menganggukkan kepala menyakinkanku.
            Sejenak aku terdiam, tidak mampu merangkai kata-kata. Sebongkah batu terasa menganjal tenggorokanku.
            “Mel, aku serius. Sangat serius,” ucap Tegar sambil meremas tanganku. Dalam dan lembut.
            Ku tatap mata elangnya. Tapi tak lama, aku justru yang menunduk tatkala matamu menatapku dengan lembut. Penuh keseriusan, harapan dan menawarkan masa depan.
            Please, kamu  mau khan?” tanyanya mendesak, tak sabaran.
            Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam, kelu. Tegar minta aku datang mendampinginya? Apakah ini bukan sebuah kenekatan? Siapa yang berani bertemu dengan keluarga besar Tegar  yang keturunan nigrat itu? Mereka  orang-orang kaya, berwibawa, berpangkat dan yang jelas mempunyai  selera yang tinggi  dalam menilai seseorang. 
            Aku? Apakah aku ini, hanya perempuan biasa. Rakyat jelata. Berkali-kali aku berusaha menyadarkan Tegar tentang kondisiku. Aku tidak mau terjebak terlalu dalam yang kelak aku yakin hanya akan bertambah menyakiti hati.
Tanpa segaja aku pernah bertemu dengan ibunya saat di kampus. Pertemuan pertama yang teramat tidak menyenangkan. Tatapan mata menghina, uluran tangan terpaksa dan sapaan yang tajam menusuk sukma. Tegar pernah memaksaku untuk datang saat  perayaan ulangtahun adiknya. Itu saat aku bertemu kedua kalinya dengan mamanya. Sekali lagi aku hanya menjadi tontonan yang menyedihkan. Hampir seluruh keluarga besarnya tidak ada yang  sudi menyapaku meskipun hanya sekedar basa-basi. Tatapan mata sinis bahkan kudapatkan dari  adik-adiknya. Terang-terangan mereka mengamit dan memamerkan seorang perempuan cantik yang belakangan aku tahu bernama Raden Ayu Wulansari. Perempuan bangsawan itu seperti segaja mengenalkan diri sebagai tunangan Tegar. Terang-terangan bermaksud menyakitiku.
            “Aku Raden Ayu Wulansari. Putri Raden Cokro, pengusaha batik dan pemilik Rahma Hotel. Aku tunangan Tegar dan akan menikah setelah lulus kuliah,” katanya dengan kalimat penekanan pada semua ucapannya, tanpa mengulurkan tangan. Sungguh tanpa ada sopan santun sedikitpun.
            “Saya Melati, teman kuliah Tegar,” ucapku sambil mengulurkan tangan.  Berusaha menebar senyum, menyamarkan rasa terhinaku.
            “Jangan coba-coba mendekati Tegar apalagi berharap menjadi pacarnya. Kamu tidak sepadan. Kami sudah dijodohkan sejak kecil. Dan keluarga Tegar hanya akan menerima orang dari keluarga yang sederajat dengan mereka. Bukan orang biasa yang tidak diketahui bobot, bebet dan bibitnya,” tegas Wulan tanpa menerima uluran tanganku, meninggalkan aku berdiri termangu.
            Rasanya aku ingin menangis karena dipermalukan pada saat acara keluarga seperti itu. Apalagi saat tidak kulihat Tegar. Entah kemana tega membiarkan aku dipermalukan.
            Semua keluarga besarnya tidak ada yang mengangapku ada, selain satu orang. Ya hanya satu orang yang begitu perhatian denganku. Mas Setyo, kakak laki-laki Tegar yang menyapaku dengan sopan, mengajakku bicara bahkan mau menemaniku saat tidak ada seorangpun yang ingat akan kehadiranku.
            “Maaf, Mel. Tegar menjadi orang penting saat ini. Ayah dan ibu membutuhkan tenaganya. Ia seperti sandera,” kata Mas Setyo mencoba  melucu untuk menghiburku.
            Aku hanya melempar senyum tipis. Tak apalah, aku lihat sendiri Tegar bolak-balik ke sana kemari tak ada habisnya. Aku cukup beruntung sesekali Tegar menemuiku meskipun hanya mengucapkan kata maaf karena tidak bisa menemaniku.
            “Iya, Mas. Saya tahu kok.“ jawabku mencoba tidak terusik dengan keadaan yang diam-diam telah merontokkan sebagian rasa percaya diriku.


            “Mel, datang ya,” bujuk Tegar lagi.
            “Buat apa, Gar? Dipermalukan lagi di depan keluarga besarmu?” jawabku keras. Aku benar-benar kesal telah diperlakukan sebagai orang yang tidak berguna.
            “Mel, please. Aku sudah minta ma’af atas semua yang telah terjadi. Itu semua bukan keinginanku. Tapi kali ini acaraku. Aku yang berhak menentukan siapa yang diundang dan menemaniku,” kata Tegar lagi. Merajuk. Membujuk.
            Aku mengeleng kuat-kuat. “Buat apa lagi? Cukuplah. Aku tidak sanggup melihat tunanganmu itu. Aku juga tidak kuat menerima penolakan dari keluargamu. Aku tidak setegar  itu bisa bertahan dan sabar dengan perlakuan mereka,” tegasku lagi.
            “Tapi Mel. ..”
            “Maafkan aku Tegar.  Semula aku pikir bisa bertahan dan mengambil hati keluargamu. Tetapi rasanya kali ini aku tidak sanggup lagi. Memang benar kata Wulan. Aku tidak pantas untukmu. Aku tidak sederajat dengan kalian,” ucapku lagi diiringi isak tangis.
            “Tidak Mel. Tidak. Kamu jangan pernah mengatakan hal itu. Sekalipun aku tidak pernah memikirkan latar belakang kita. Tidak sekalipun aku mempermasalahkan hal itu. Tolonglah. Datanglah ke perayaan kelulusanku. Tolonglah. Apapun yang terjadi aku teramat mencintaimu,” pinta Tegar menghiba dengan penuh harap.
            Aku tidak mengiyakan sampai Tegar meninggalkan undangan biru untuk acara besok malam. Tegar khusus mengirimkan undangan biru itu. Warna kesukaanku.
Kubuka undangan itu sepeninggal  Tegar. Perayaan kelulusan Sarjana Arsitektur. Aku ikut bangga atas prestasi Tegar, lulus clum laude dengan nilai terbaik di fakultasnya. Tegar akan meneruskan cita-citanya membangun sebuah apartemen bagus tanpa meninggalkan konsep asli Indonesia dengan harga terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Keinginannya sungguh mulia, agar masyarakat kurang mampu bisa menikmati tempat tinggal yang biasanya hanya bisa dijangkau orang-orang kaya. Sejak semula aku selalu mendukung semua impian dan cita-cita Tegar.
Lebih dari setahun mempunyai hubungan dekat aku sangat paham dengan keinginan dan impiannya. Kemauan dan semangatnya sangat tinggi. Dalam beberapa pembicaraan bahkan ia sudah mengatakan akan melanjutkan kuliah S2 ke luar negri. Ia menargetkan selesai dalam waktu cepat dan akan kembali untuk membangun apartemen impiannnya. Saat kembali itulah ia juga akan mewujudkan impiannya, impian kami berdua merenda masa depan bersama.  Meskipun aku hanya menanggapi dengan bercanda karena tahu persis penolakan keluarganya.
**

            Aku berjalan pelan memasuki gedung tempat pesta Tegar.  Banyak sekali tamu undangan yang datang. Mobil mewah keluaran terbaru berderet-deret  di depan menandakan tingkat sosial tamu yang hadir. Beberapa kali aku menyapa teman-teman Tegar yang sebagian besar aku kenal baik. Sejauh ini aku belum melihatnya. Aku nyakin Tegar tengah bersama keluarganya.
            Butuh waktu beberapa hari untuk memutuskan kepergianku. Bahkan keputusan untuk datang baru tadi pagi, saat ibu membujukku. Apapun yang akan terjadi lebih baik segera terjadi. Tak ada gunanya terus menunda. Biarkan semua jelas sehingga kalian bisa memutuskan yang terbaik. Agar rasa sakit itu tidak terus ada dihatimu, jelas ibu yang membuatku bisa mengambil keputusan. Dan disinilah saat ini aku berada. Mungkin kedatanganku malam ini bisa membantu mengambil keputusan tegas sekaligus membuat Tegar  lebih mengerti.
            “Melati. Aku senang sekali kamu datang,” kata Tegar membuatku kaget sambil memelukku dengan erat.
            CES.. hatiku terasa melebur dalam kebahagiaan. Kurasakan kasih sayangnya  tidak berubah bahkan rasa itu semakin dalam. Jurang yang memisahkan kami sekejap lenyap.  Aku lupa  harus menjauhi Tegar dan hanya menjaga pertemanan saat kata cinta yang dibisikkan Tegar membuatku melayang. Sayang sekali kalau semua yang telah terajut harus lenyap dalam sekejap hanya karena aku tidak dilahirkan dari keluarga ningrat.
            “Kak Tegar, acara akan dimulai. Ayah mencarimu,” sebuah suara membuat pelukan Tegar terlepas.
Aku tergagap melihat Dewi, adik Tegar memandang kami dengan tatapan mata marah.  Ku coba tersenyum tetapi  disambut tatapan sinis Dewi.
“Maaf Mel. Aku  harus ke sana dulu. Ayo,” ajak Tegar sambil menarik tanganku dengan lembut.
Sekali lagi aku tergagap. Tidak menyangka Tegar akan mengajakku.
“Tapi…” tolakku halus.
Tegar terus menarikku bahkan kali ini membimbingku berjalan dengan sabar.
“Kak.?” Protes Dewi tidak senang melihat Tegar mengandeng tanganku. “Ayah tidak akan mengijinkan,” kata Dewi mengingatkan.
Tegar tidak mau mendengarkan kalimat Dewi, terus mengajakku berjalan melewati banyak tamu yang sesekali disapanya dengan ramah.
“Tegar, aku..”
“Sssttt, tenang saja. Bersikaplah biasa ya,” bisik Tegar.
“Tapi..aku..”
“Kamu sangat cantik, anggun. Percayalah,” ucapnya lagi memompa rasa percaya diriku yang merambat turun.
Aku tidak kuasa menolak berusaha mengimbangi langkah Tegar dengan hati tak karuan.
Tiba-tiba langkah kaki kami berhenti saat sebuah tangan menarik bahu Tegar. Tatapan matanya tajam memandangku. Tegar tidak kuasa melawannya, kakinya mengikuti langkah ayahnya naik ke atas panggung meninggalkan diriku tanpa sempat mengucapkan sepatah katapun, selain tatapan penuh penyesalan. Sekali lagi aku terluka tetapi tidak berdaya. Beruntung para tamu undangan sibuk dengan obrolan dan makanan  yang melimpah sehingga tidak tahu kejadian yang menimpaku.
“Perhatian ..perhatian.. Selamat malam. Terimakasih atas kehadiran tamu undangan. Malam ini kami mengundang bapak dan ibu serta saudara sekalian untuk menghadiri syukuran kelulusan putra kedua kami. Tegar Prasetyo, ST yang lulus dengan peringkat sangat memuaskan. ..”
Tepuk tangan membahana  saat ayah Tegar memberikan sambutan. Di atas panggung keluarga itu berkumpul. Ayah, ibu, Mas Setyo, Tegar dan kedua adiknya. Mereka kelihatan harmonis dan bahagia. Cantik dan ganteng. Sangat serasi dan mempesona.
Aku terdiam memperhatikan mereka dan diam-diam menyingkir ke tempat yang tidak mudah dilihat tamu undangan. Entah mengapa perasaanku tidak enak sejak ayah Tegar mengajaknya ke panggung. Lebih baik tidak ada yang mengenaliku.
“….dan malam ini juga kami sekalian memperkenalkan calon keluarga besar kami. Silahkan Raden Ayu Wulan dan keluarga. Inilah  calon istri Tegar. Tiga bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan…..”
TAP. Kepalaku seakan dipukul sebuah kayu. Seketika pening dan sakit sekali. Meskipun sudah tahu kalau mereka tidak menyukaiku dan lebih memilih Wulan, tetapi aku tetap tidak siap menerima kenyataan ini. Hatiku terasa diiris sembilu melihat Wulan naik kepanggung dan berdiri tepat disebelah Tegar. Wulan sangat cantik, anggun, glamour dan tentu saja mempesona. Sekali lagi terdengar tempik sorak membahana, berbagai pujian bermunculan dari tamu yang hadir. Semua memuji kecantikan, ketampanan dan keserasian calon mempelai.
Aku sedih melihat Tegar tidak mampu berbuat apa-apa selain memandang ayahnya dengan sorot mata tidak terima. Tatapan mata tajam ayahnya tidak mampu membuat Tegar mengambil sikap. Aku tersenyum kecut mengejek diriku sendiri. Memandang Wulan sejenak dan membayangkan diriku sendiri. Bagaikan bumi dengan langit. Sangat berbeda dan benar-benar tidak sepadan dengan mereka.
Ku hapus air bening dari sudut mataku. Salahku sendiri tidak pernah belajar dari pengalaman yang telah lalu. Beberapa kali dipermalukan dan tersakiti tetapi masih saja menaruh kepercayaan dan harapan. Kuputuskan untuk meninggalkan Tegar dan semua kenangan yang telah terajut bersama.  Tidak ada gunanya lagi mempertaruhkan sekeping hati ini kepada sebuah harapan yang tidak akan berujung.  Aku tidak akan bisa bahagia dengan laki-laki yang tidak mempunyai sikap dan pendirian. Cukup. Cukuplah ini yang terakhir kalinya. Aku tidak mungkin membiarkan hatiku terluka lagi.
Ku tatap Tegar untuk yang terakhir kalinya. Ia masih di sana tanpa berdaya di bawah kekuasaan keluarganya dan perempuan itu. Ku terus melangkah, kali ini tanpa beban sedikitpun. Aku yakin  ini sulit.  Tetapi aku memilih untuk melupakanmu meskipun butuh waktu. *****

































Seindah Mata Ibu, Berjuta Cinta di Sana

           Jantungku berdetak kencang. Hatiku diliputi   rasa khawatir sekaligus senang. Kegelapan yang menyelimutiku selama hampir sepuluh tahun sebentar lagi tak akan melingkupi hidupku. Sinar terang, warna warni keindahan dunia beserta seisinya yang sempat kukecap selama empat tahun akan kunikmati kembali. Wajah orang-orang yang selama ini menyanyangiku dan hanya bisa kudengar suaranya, akan kupandangi sepuas hatiku.


Tanganku gemetar saat tangan dokter Hari, perlahan membuka perban yang menutupi kedua bola mataku. Kesabaran yang selama sepuluh tahun ini setia menemaniku seakan menguap entah kemana. Betapa inginnya aku segera membuka mata dan meninggalkan kegelapan. Banyak hal yang sudah kurencanakan akan kulakukan.  Mengenal keluarga, berjalan-jalan, bertemu sahabat, meneruskan sekolahku yang tertunda dan berpuluh rencana lainnya. Aku juga tidak akan merasa rendah diri lagi, bisa bergaul dengan teman-teman yang mempunyai fisik sempurna. Lapisan terakhir dibuka perlahan
“Coba, buka mata dengan perlahan,” suara lembut dokter Hari membuatku tersadar  dari lamunan.
Dengan ragu, kulakukan perintah dokter Hari. Perlahan aku mengerakkan kedua kelopak mataku. Terasa berat, lengket dan perih.  Semangatku untuk keluar dari kegelapan membuatku terus menahan perih. Sesuai petunjuk dokter Hari, aku mencoba kembali. Suara lembut mama terus memompa semangatku.
Semburat bayangan  mulai melintas di mataku. Semula terlihat samar dan jauh. Lambat laun saat kedua kelopak mataku terbuka dengan sempurna, aku bisa melihat dengan lebih jelas. Berkali-kali dokter memintaku untuk mengerjapkan mata. Dan sekarang semua terlihat jelas dan sempurna.
“Mama….Papa…” bisikku diliputi rasa keharuan yang menyesakkan dada. Kedua orangtua itu memelukku dengan hangat. Bahkan mama sempat mengusap air mata bening yang terlanjur hadir si sudut matanya. Berkali-kali mama mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan operasi yang kujalani.
***
Tak bosan-bosannya aku memandang kagum seisi rumah. Selama ini aku tidak pernah melihat langsung kemewahan yang kurasakan selama sepuluh tahun. Aku hanya selalu menyesali telah hidup dalam kegelapan. Masa kanak-kanakku dengan penuh keindahan hanya mampu kukecap selama 4 tahun. Sekarang saatnya menikmati hidup yang sebenarnya, batinku senang.
Tetapi ada yang kurasakan tidak lengkap. Ada rasa yang  hilang dari hatiku.
Ku pandangai Mama, Papa, Mang Ujang, sopir yang setia mengantaku, Mbak Sri pembantuku yang mengurus rumah ini. Ke mana Mbok Yati? Perempuan yang selama ini setia menyediakan semua kebutuhan hidupku. Sekaligus yang tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap amarah kala aku meledak-ledak dan menumpahkan semua emosi kepadanya.  Bahkan aku pernah dengan marah melemparkan gelas yang mengenai badannya.
“Ma, mana Mbok Yati?”
Mama menundukkan muka. Tak menjawab pertanyaanku.
Hatiku mendadak diliputi kecemasan. Meskipun ia hanya perempuan tua yang terkadang membuatku jengkel dengan nasehatnya tetapi ia tetap orang yang selama ini dekat denganku sekaligus menjadi pelampiasan emosiku.
“Ma..?” tanyaku menuntut jawaban Mama.
Tiba-tiba aku teringat. Tiga hari yang lalu dengan emosi yang meluap-luap aku melempari Mbok Yati buku-buku dan mengusirnya dari rumah. Saat itu perempuan itu tanpa disegaja merusakkan buku musikku. Padahal aku sudah bersusah payah membuat lagu dari huruf braille. Dan buku musik itu penting untuk ikut dalam sebuah kompetisi para penyandang tunanetra.
Masih kudengar suaran tangisan Mbok Yati meminta maaf dan memohon untuk tetap tinggal. Tanpa rasa kasihan secuilpun aku justru terus memaki-maki Mbok Yati dan mengusirnya.
Baru kusadari betapa kejamku aku ini. Mbok Yati sudah menjagaku sejak aku tidak mampu melihat lagi dan aku membalasnya dengan tindakan diluar batas.
“Ma’afkan Sheila, Ma. Sheila salah telah mengusir Mbok Yati. Sheila emosi.” kataku tak bisa menahan tetesan air mata.
Mama mendekapku dengan rasa haru.
“Di mana Mbok Yati sekarang, Ma? Sheila ingin bertemu dan minta ma’af.”
“Sudahlah, Sheila. Tidak usah dipikirkan. Mama nyakin Mbok Yati sudah mema’afkan kamu.” ucap Mama dengan mata berkaca-kaca.
Aku mengeleng dengan kuat. Entah mengapa dorongan hatiku begitu kuat untuk bertemu dengan Mbok Yati.
“Please, Ma.”
Mama memandang Papa meminta persetujuan. Setelah melihat Papa menganggukan kepala, Mama meraih tanganku dan menatapku dengan rasa sayang.
“Sheila, saat ini rasanya waktu yang tepat untuk menceritakan semua.”
Aku memandang Mama dengan sorot mata tidak mengerti.
“Sheila,  kamu ingat kecelakaan yang menimpamu saat umurmu 4 tahun?”
Aku tertegun. Kugelengkan kepala pelan-pelan. Aku benar-benar tidak ingat apa-apa. hanya samar-samar masih mengingat waktu kecil berlarian di sawah dengan seorang perempuan. Bahkan aku sempat sekolah dan mempunyai banyak teman-teman. Suatu hari didepan sekolah aku berlarian ingin melihat kereta kelinci yang melintas.  Dan saat itu tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku hanya tahu kalau aku tidak bisa melihat lagi dan diasuh oleh Mbok Yati dari kecil sampai saat ini.
“Waktu itu kamu tertabrak mobil yang melintas. Dan sejak saat itu kedua matamu buta. Penabraknya adalah….orang yang selama ini kamu…kamu panggil papa. Ma’afkan kami, Nak.” kata Mama tersendat.
Aku tersentak. Kepingan masa lalu segera terangkai kembali dengan susah payah. Dulu rasanya aku hanya memiliki seorang ibu saja. Ayahku meninggal sejak aku masih bayi. Kecelakaan, kata nenekku. Tetapi sejak aku buta, aku mempunyai papa dan mama. Kenapa baru saat ini aku pikirkan?
“Jadi…jadi…Sheila anak angkat, Ma?” tanyaku terpukul.
Mama mengangguk. “Sejak saat itu, kami mengangkatmu menjadi anak. Kebetulan kami tidak mempunyai anak. Kami merawatmu seolah anak kandung kami sendiri. Dan Mbok Yati yang kami minta untuk menjagamu. Terkadang Mama sedih melihatmu bersikap kasar kepada Mbok Yati. Berkali-kali Mama mengingatkan, tetapi kamu masih saja bersikap keterlaluan.”
Aku mengusap anak sungai yang mengalir di kedua pipiku. “Jadi, siapa orangtua kandung Sheila, Ma?”
Bibir Mama bergetar saat mengucapkan sebuah nama dengan susah payah. ” Ibu kandungmu…..Mbok Yati.”
TAP.  Seakan kepalaku tertampar. Seketika pandangan mataku berkunang-kunang. Untuk kesekian kalinya aku terpukul mendengar kenyataan ini. Mataku luruh dan kabur tertutup buliran air mata yang tak bisa kubendung. Penyesalan menderaku.
“Sheila ingin bertemu Mbok Yati, Ma. Tolong beritahu dimana Mbok Yati berada.” pintaku diantara sedu sedan.
“Yang tabah, Nak. Saat pergi meninggalkan rumah, Mbok Yati mengalami kecelakaan. Ia meninggal.” lirih suara Mama, tetapi bagiku laksana suara geledek.
“Dimana kuburannya, Ma?” tanyaku dengan hati hancur.
***

Tanah kuburan masih lembab. Kutaburkan bunga mawar dengan hati mengharubiru. Dengan takzim kupanjatkan do’a untuk ibu yang telah melahirkan dan merawatku dengan tulus. Berjuta penyesalan terus memenuhi jiwaku. 
 Kubaca sebuah puisi pendek yang kubuat saat dalam perjalanan ke kuburan.

Ibu, kau laksana air yang terus memberikan kehidupan bagi anakku.
Kau tak pernah lelah untuk terus merawat dan mendidikku.
tanpa pernah putus asa, kau bersikap lembut dan memberikan berjuta kasih sayang saat aku bersikap kasar dan kurangajar.
Bahkan kau hanya terus tersenyum dan tak sekalipun menunjukkan amarah.

Ibu, bagiku tidak ada yang lebih besar dari cinta kasihmu.
Bagiku tidak ada yang seindah dirimu dalam hidupku.
Bagiku tidak ada yang paling terang menerangi hidupku selain dirimu.

Ibu, tenanglah kau dalam peristirahatan panjangmu yang abadi.
Aroma surga dengan segala keindahannya akan menyambutmyu disana.
Bagi perempuan yang tanpa pamrih selalu memberikan cinta untuk putrinya.

Kututup kertasku yang basah oleh air mata. Kupandangi sekali lagi tanah lembab tempat ibuku berbaring. Aku berjanji tidak akan pernah menyiakan hidup ini.  Meskipun ibu jauh disana, tetapi beliau selalu menemaniku setiap saat.  Di seluruh jiwa dan ragaku. Tidak hanya  lewat  kedua mata indah penuh kasih sayang milik ibuku ini. I Love U, ibu. *****


Sabtu, 14 November 2015

Pendakian Terakhir

          “Kamu jadi berangkat besok?” tanyamu sambil memandangku penuh kekhawatiran. Matamu yang bulat indah dan biasanya bersinar terang, kali ini terlihat redup menyiratkan ketidakikhalsan melepasku pergi.
            Aku tersenyum, mengambil tanganmu dan mencium perlahan. Ada getaran kurasakan saat tangan halusmu kusentuh.
            “Al …please jangan pergi. Kali ini saja. ”
            “Ta, bukan kali ini saja aku pergi. Kenapa kamu setakut ini? Bukankah  selama ini semua baik-baik saja?”
            “Tapi, Al?” katamu dengan nada merajuk. Kali ini tanpa ada kemanjaaan, tetapi bertumpuk kekhawatiran.  “Firasatku tidak enak,” sambungnya lagi, lirih.
            “Sayang, pendakian ini sudah kami  rencanakan. Kamu juga tahu kalau aku harus berangkat. Anak-anak baru itu butuh pembimbing dan  ini sudah tanggungjawab kami,” tegasku menyakinkan Tata yang terus membujukku untuk membatalkan pendakian.
            Mata bulat itu meredup, penuh rasa putus asa. Tata tahu tidak mungkin bisa mencegah kepergianku kali ini.  Hati-hati, aku menunggumu kembali, akhirnya hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibirnya saat aku berpamitan pulang.



foto : gispalawordpress.com




**
            Bukan kali ini saja aku pergi, sudah puluhan kali kakiku lincah menapaki jalanan terjal  gunung. Semua kulakukan dengan rasa percaya diri dan kemantapan hati. Hobi yang kulakukan semenjak aku kuliah semester satu ini memang menjadi tantangan tersendiri buatku. Meskipun awalnya ibu melarang karena kebiasaanku itu membuatnya khawatir tetapi lambat laun ijinnya keluar juga.  Saat Tata menjadi kekasihku ia juga awalnya keberatan dan merasa yakin mampu mengubah hobiku. Tetapi aku selalu melaksanakan semua rencana pendakian dan akhirnya Tata juga merelakan  kepergianku. Toh selama lebih dari tiga tahun ini, lebih dari sepuluh   pendakianku semua berjalan lancar dan aku pulang dengan selamat.  Kali ini aku juga melakukan persiapan  sampai matang seperti biasanya, sehingga aku yakin semua akan berjalan dengan lancar. Seperti biasanya.

**
            “Semua sudah siap? Kali ini pendakian akan kita mulai. Jalur merapi butuh pendakian ekstra hati-hati. Semua harus waspada.“ teriak Galang sambil memandang rombongan pendakian kali ini. Galang sebagai pimpinan rombongan dan aku membantu tugasnya mengawasi anak-anak semester awal yang kali ini ikut bersama kami.
            “SIAP!” jawaban serentak itu membuat semangat kami bangkit.
Tak lama, kami melangkah perlahan, mendaki jalan yang semakin lama semakin terjal dan berbahaya.  Sesekali  aku membantu rombongan yang kesulitan untuk melangkah. 
            Pendakian semakin tinggi, jalanan semakin curam. Banyak jurang di kanan kiri jalan setapak yang kami lalui. Rasa was-was dan waspada bercampur ,menjadi satu. Tetapi kami cukup terhibur saat memandang pemandangan yang sangat elok. Sejauh mata memandang hanya hamparan hijau segar dengan rindang pohon yang terlihat. Semua menawarkan kesejukan dan kedamaian hati.  Kicau burung yang terdengar bersahut-sahutan mengalahkan musik yang kudengar dari MP3 ku. Kalau sudah seperti ini, aku pasti melepas  MP3 dan lebih memilih menikmati suara alam yang tidak terkalahkan.
            “Cukup, kita istirahat dulu,” suara Galang membuat langkahku berhenti.
            Semua orang duduk, melemaskan otot kaki dan melepas penat.
            Setelah minum beberapa teguk air, aku melihat pemandangan yang tak pernah membosankan  panca indraku. Meskipun sudah berkali-kali mendaki tetapi mataku selalu dahaga akan keindahan  alam yang menawarkan berjuta-juta kesegaran. Hidungku mengembang saat menghirup udara segar yang dengan cepat memenuhi paru-paruku. Hanya di tempat seperti inilah, paru-paru dan seluruh organ tubuhku mendapatkan kemanjaan setelah setiap hari terpaksa berkutat dengan udara yang bercampur dengan  asap knalpot, kepulan asap pabrik, kepulan rokok dan polusi udara lainnya.
            Kakiku  dengan lincah mendaki ke  lereng bukit, semakin memanjakan matanya yang  terus membujuk untuk mencari keindahan lainnya.
            Tanpa sengaja aku melihat bunga edelweis  yang  sedang mekar. Indahnya kelompak bunga yang menjadi simbol kegagahan para pendaki itu membuatku tertarik untuk mendekat. Entah mengapa nalarku terkalahkan dengan perasaanku yang campur aduk. Selama ini belum pernah sekalipun saat pulang mendaki aku membawakan edelweis untuk Tata. Berulangkali ia memintaku untuk mengambil bunga itu, tetapi aku selalu memberikan pengertian kalau itu larangan bagi kami. Biarkan bunga indah itu terus hidup dan berkembang dengan keindahnya. Kita tidak  berhak merusaknya, demikian aku selalu memberikan  alasan.
            Selain takut merusak keindahan bunga edelweis, dikalangan para pendaki sudah ada kesepakatan tidak tertulis untuk tidak mengambilnya. Kami cukup menikmati keindahannya di gunung  dan mengabadikan dengan  jepretan kamera, bukan membawanya pulang.
            Tetapi kali ini tanganku gatal ingin memberikan persembahan indah ini untuk Tataku. Kakiku melangkah dengan  ringan mendekati  bunga yang  gagah berdiri di tepi sebuah tebing. Sejenak aku berpikir akan kesulitan untuk memetiknya, tetapi setelah aku perhatian, tidaklah terlalu sulit. Aku hanya perlu berdiri ditepi tebing dan tanganku pasti mudah menjangkaunya.
            “Al, jangan lakukan itu,” suara keras Galang membuat kakiki berhenti melangkah.
Kulihat Galang memandangku dengan sorot mata tajam, tidak suka dengan rencana yang sudah ada dikepalaku.
            “Kenapa kamu  ini, Al?  Heran, belum pernah kamu gegabah seperti ini. Sejak kapan kamu berniat mengambil edelweis itu? “ tanyanya tajam.
            Aku hanya memandang Galang sejenak, termangu, tetapi cepat-cepat kualihkan pandangan kembali ke bunga yang seakan menantangku untuk mengambilnya.
            “Al! Jangan bodoh. Kita tidak pernah mengambil bunga itu. Tidak sekalipun. Ingat komitmen kita selama ini,” Galang mengingatku lagi.
            “Selama ini aku belum pernah mengambil bunga itu. Sekalipun belum pernah melanggar kesepakatan kita. Tetapi kali lini aku ingin sekali. “ jawabku acuh tak acuh tanpa memandang sahabatku ini.
            “Tidak! Sekali tidak, tetap tidak! Sekali kita membiarkan hati ini melanggarnya, pasti akan ada yang kedua kali dan seterusnya. Jangan lakukan,” pinta Galang kali ini tanpa kompromi.
            “Itu urusanku. “ degusku jengkel.
            “Kalau kamu lakukan itu, aku tidak mau mendaki lagi bersamamu,” lantang suara Galang mencegahku.
            “Bodo,” teriakku tak kalah lantang. Kakiku terus melangkah setapak demi setapak mendekati edelweis yang bergerak-gerak ditiup angin. “Mungkin ini pendakian kita yang terakir kalinya,” sungutku marah.
            Galang gusar mendengar jawabaku, “Al. Ingat, tempat ini terlalu wingit. Kamu tahu tak boleh sembarangan mengambil bunga. Tebing itu juga berbahaya.”
            Aku menutup telinggaku  rapat-rapat, tak memperdulikan peringatan Galang. Sejujurnya aku ingin sekali-kali mencoba melanggar peringatan  itu. Kabar yang berenbus kalau gunung yang kudaki kali ini wingit, penuh dengan misteri dan ada larangan keras merusak alam aku tahu sejak dulu. Tetapi aku setengah tidak percaya kalau larangan dilanggar bisa berakibat fatal. Kali ini aku ingin sekali mencobanya tanpa rasa takut.  Sekalian membawakan bunga yang belum pernah aku berikan kepada Tata.
            “Ali, STOP!” teriak Galang lagi, merangsek mencoba menahanku. Tetapi tidak berhasil karena aku terus melangkah, kali ini sudah di pinggit tebing.
            Tinggal satu jangkauan lagi, tanganku terus terulur, mengukur kemampuan untuk menjangkau bunga itu. Satu jejakan kaki lagi, batinku yakin. Aku menguatkan hati  untuk menjangkau bunga di tepi tebing. Segalanya terasa begitu mudah. Ya, tinggal satu gerakan lagi, tanganku akan menjangkaunya.
            Tanah dan batu-batu mulai bergerak, meluncur, longsor. Sempat membuatku bergidik. Ketika sebongkah batu yang tepat di bawah kaki meluncur dengan cepat, aku baru tersadar. Menatap ngeri jurang dibawah. Batu-batu tajam siap menampung tubunku jika tergelincir. Mataku nanar dengan pemandaangan mengerikan di bawah. Tetapi semua terlambat. Saat aku mencoba mengeser tubuh untuk membatalkan niatku, tubuhku bergeser sedemikian cepat. Keseimbangan tubuhnya hilang dan semua berjalan sangat cepat. Bagai angin, aku meluncur.
            “ALI…..”
Masih kudengar suara  pilu Galang saat melihatku terlepas dari pandangan matanya. Mataku terpejam erat, menantikan tubuh disambut batu cadas. Satu hal yang kusesali,  melanggar larangan pendakian ini. Seandainya aku tidak berniat mengambil edelweis itu….

                                                          *****




Sabtu, 17 Oktober 2015

Bisikan Kucing Hitam

Hus..hus..hus….
Kucing hitam itu hanya memandang tak berkedip, seperti tak terusik sama sekali. Ia tetap duduk dengan posisi semula.
Hus..hus… Buk!
Meong!

Dayat mengusir kucing itu dengan jengkel. Kali ini sebuah tepukan kasar dari sapu ijuk mendarat di punggung kucing hitam yang mengaduh sambil memelototi Si Empunya Sapu. Pandangan matanya galak, menantang. Tubuhnya berdiri tegak dengan ekor menjulang, bersiap untuk menerjang. Sesekali taringnya yang tajam diperlihatkan.
Jerih juga Dayat di pandang kucing yang kalap itu. Ada sebersit penyesalan mengelayuti hatinya, tetapi cepat dibuangnya jauh-jauh. Huh, itu hanya seekor kucing kampung yang menjengkelkan, katanya sambil membanting pintu. Lega. Ia terhindar dari mata tajam itu, setidaknya untuk beberapa saat.
                                                                                                  **
Sudah seminggu ini kucing hitam itu terus duduk di teras rumah Dayat. Tenang, tak bergeming tetapi kelihatan waspada. Meskipun kucing itu tidak masuk rumah dan tidak mencuri makanan, tetapi ia tak nyaman juga. Berulangkali ia mencoba mengusir tetapi kucing itu hanya pergi sebentar dan kemudian entah dari mana datangnya makluk berbulu itu  kembali duduk tenang di teras. Sepertinya kucing itu sengaja duduk di teras rumahnya untuk menterornya. Jelas itu. Dayat yakin karena melihat mata kucing itu menyiratkan kebencian sangat padanya. Ia jelas sengaja membuat hidupnya tidak tentram. Dan kucing sialan itu berhasil. Ya sangat berhasil membuatnya  tidurnya tidak nyenyak lagi.

Dayat tinggal sendirian, menyewa sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya, hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai kantornya yang berada di pusat kota. Meskipun sederhan, tetapi Dayat cukup puas karena lingkungan rumahnya masih asri. Perumahan lama tetapi masih banyak tanah kosong yang belum dibangun. Udaranya sejuk karena banyak pohon rindang di tepi jalan sepanjang perumahan. Sudah hampir  setahun lebih Dayat tinggal di situ dan ia meresa betah.

Oahem…. Berulang kali ia menguap, kantuk sudah sedari tadi menghampirinya tetapi matanya tak juga terpejam. Ingatan pada kucing hitam itu membuatnya terus dilanda kekhawatiran. Dayat mencoba mengingat-ingat maklum berkumis itu. Kenapa ia senang duduk di teras rumah? Sepertinya sedang mengawasi sesuatu, atau menunggu sesuatu? Ach entahlah.

Meong…meong…meong….
Suara itu terdengar sayup-sayup tetapi perlahan jelas sekali tertangkap telingganya. Terdengar mirip jeritan ditingkahi kesedihan yang memilukan . Dayat bergidik, seluruh kuduknya berdiri. Perlahan tetapi pasti suara kucing itu mengiris hati, kesakitan dan berlumuran derita.
Dayat…Dayat….Dayat….
Bisikan itu terdengar perlahan mirip desahan angin, tetapi terus berdeging di telingga Dayat. Amat jelas sehingga membuatnya terus berjaga. Berkali-kali ia dilanda keresahan, menutup telingganya dengan bantal berharap suara itu menghilang. Tetapi tetap saja rintih kucing itu terdengar jelas.
Beberapa lamanya ia berkutat dengan bantal, sampai kemudian ia memutuskan untuk mengusir kucing hitam itu. Dengan marah Dayat memegang sapu dan menyalakan lampu teras.
Byar! Tak ada siapa-siapa. Tak ada sosok kucing hitam itu. Hanya desau angin yang terdengar lembut berayun membuat dinginnya malam semakin terasa.
Dayat beranjak dengan kesal, kembali ke kamar dan berusaha untuk tidur.
                                                                                                  **
Kring…kring….
“Ya, halo..”
“Sudah mau berangkat kerja, Mas?” suara Ndari dari seberang sana terdengar begitu jernih. Sejak setahun yang lalu ia hidup terpisah, karena bekerja di luar kota. Dua minggu  sekali Dayat pulang untuk menemui istrinya yang masih tinggal bersama mertuanya. Rencananya kalau Ndari sudah melahirkan, ia akan memboyong istri dan anaknya ke sini.
“Iya, sudah siap-siap.”jawab Dayat sambil mengikat tali sepatunya.
“Sudah minum teh, Mas?”
“Belum sempat, bangun kesiangan. Nanti sekalian saja sarapan,” jelas Dayat. Menjelang dini hari matanya baru bisa terpejam setelah berusaha menghilangkan suara kucing dari telingganya. Ia bangun kesiangan dan tidak sempat membuat teh. Selama di kontrakan, setiap pagi ia hanya minum teh panas untuk penghangat perut, baru sarapan di warung dekat kantornya.
“Gimana anakku? Sehat saja, Dik?” tanya Dayat antusias. Ia selalu senang mendengarkan perkembangan janin yang lima bulan lagi akan lahir.
“Iya, baik, sehat. Mas hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut. Ingat jangan sampai menabrak kucing,” pesan Ndari serius.
Deg. Hati Dayat bergetar. Kucing? Kenapa Ndari bicara soal kucing?
“Mas?”
“Eh, iya, iya. Mas berangkat dulu ya. Kamu juga harus hati-hati. Jaga anak kita ya, Dik,” pesan Dayat sambil mengucapkan kecupan untuk istri dan anaknya.
“Daggg.”
                                                                                               **
“Wajahmu kok burem gitu, Yat. Matamu merah lagi,” tegur Anton, teman sekantor Dayat tak berpaling dari papan laptopnya. Tangannya menari-nari dengan lincah.
“Iya, aku kurang tidur,” jawab Dayat tanpa semangat. Seharian ia sudah bersusah payah menahan kantuk dengan berbagai cara. Minum kopi, menghisap rokok, bolak balik ke kamar mandi untuk mencuci muka, tetapi berkali-kali mulutnya toh tetap menguap . Meskipun tidak sampai satu jam lagi waktunya pulang, tetapi Dayat sudah tidak sabar lagi. Matanya sudah ingin di pejamkan rapat-rapat. Bayangan kasur empuk menari-nari di pelupuk matanya. Tidur, hanya itu yang ia harapkan.
“Nglembur?”
Dayat mengeleng.
“Mikirin apa sampai kurang tidur?” Kali ini Anton menatapnya. Menghentikan gerakan jemarinya.
“Nggak bisa tidur. Semalam ada suara kucing berisik. “ sungut Dayat kesal. Sekali lagi ia menutup mulutnya saat tak bisa menahan diri untuk menguap.
“Hahahaha, ya usir saja, suruh pergi,” kata Anton enteng.
“Masalahnya kucing itu nggak mau pergi. “ Dayat sengaja berbohong tidak mengatakan kalau sebenarnya tidak ada kucing semalam saat ia mencarinya di teras. Ia khawatir Anton mentertawakannya.
“Ya, usir dengan saja. Tapi jangan kasar. Kasihan,” tambah Anton lagi.
Hoahemm..
Dayat membenahi kertas kerja dan laptopnya.
Syukurlah, batinnya lega saat jam menunjukkan pukul 17.00. Ia bisa segera pulang dan bebas membayar tidur yang belum terpuaskan tadi malam.
“Aku pulang dulu, Ton. Sudah tidak tahan ngantuk,” teriaknya sambil keluar dari kantor.
“Iya, hati-hati. Jangan ngebut, kamu ngantuk. “
“Sip,” jawab Dayat sambil mengacungkan jempolnya.
“Eh, Yat. Jangan sampai nabrak kucing ya. Ingat pamali,” teriak Anton saat tinggal melihat punggung temannya.
“Oke,” balasnya sambil bergegas. Kucing lagi..kucing lagi, rutuknya sebal. Kenapa seharian kucing menjadi pembicaraan penting?
Dayat menjalankan motornya dengan cepat.
                                                                                                  ***
Citttttttttttttttttttt!
Brak!
Meong…meong…
Kucing hitam itu mengeong pelan dua kali. Matanya melotot ke arah Dayat. Setelah bergerak-gerak tak karuan beberapa kali, ia mengeong lemah menahan sakit kemudian diam tidak bergerak.
Dayat memucat, menahan jerih. Meskipun ia tidak suka dengan kucing tetapi melihat kucing mati dengan usus terburai membuat perutnya mulas.
Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, ia bergegas memacu sepeda motornya. Itu bukan salahnya, kucing itu menyeberang dengan sembarangan. Tidak melihat motor melintas dan Dayat tidak sempat menghindarinya.
Sepanjang perjalanan hati Dayat terus berkecamuk. Ia mengutuk sifat pengecutnya, tidak berani mengambil kucing itu dan menguburnya dengan baik. Kenapa ia membiarkan kucing itu tergeletak begitu saja? Seharusnya kucing itu dirawatnya dengan layak. Tapi itu bukan kesalahnnya. Kucing itu yang salah. Ach, itu hanya kucing, pasti tidak ada yang kehilangan, seru sisi hatinya yang lain.
                                                                                      ***
“Awas… ada kereta .” Terdengar teriakan panjang dan keras dari beberapa orang.
Dayat terbeliak, moncong kereta sudah mendekatinya. Ia lupa kalau melewati palang kereta api tanpa penjaga. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan laju motornya, tetapi kesadarannya terlambat datang.
BRAK!
DUAR!

Tubuhnya terpental jatuh tepat di depan moncong kereta, berlawanan dengan motornya yang terpental di seberang rel. Dayat menjerit ngeri saat roda besi itu beberapa centi di depannya , siap melumat habis tubuhnya. Saat itu ia mendengar lamat-lamat bunyi kucing mengeong persis di telingganya. Bayangan kucing hitam berkelebat dengan cepat sebelum ia menutup mata.***

 _Solo, 8 September 2015_


gambar:www.kaskus.co.id