Sabtu, 16 Maret 2013

Program kesehatan Pro Rakyat, Jokowi tinggalkan program kesehatan di Solo

Siapa yang tak kenal Joko Widodo atau akrab di panggil Jokowi? Ehm, tentunya sulit mencari orang yang tak kenal beliau. Sejak menjabat Walikota Solo sampai sekarang menjadi Gubernur DKI gebrakan kebijakan dan kiprahnya menjadi sorotan masyarakat. Di Kota Solo, kebijakan yang fenomenal dan seakan masih menyisaakan perasaan kagum, heroik dan membuat acungan jempol adalah kebijakan merelokasi 989 orang PKL dari monumen 45 Banjarsari ke lokasi baru yang diperuntukkan untuk PKl yaitu di pasar Klitikan Nitiharjo Semanggi. Reolkasi PKL yang dilakukan tanpa kekerasan dan sulit dilakukan di kota/kabupaten/provinsi lainnya, menjadikan sosok laki-laki yang awalnya berprofesi sebagai pengusaha kayu ini semakin moncer.

Gebrakan lainnya adalah peluncuran program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat kota Surakarta atau PKMS.

Program  PKMS  merupakan suatu Program Pemeliharaan Kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kesehatan kepada masyarakat Kota Suarkarta; yang berwujud bantuan pengobatan rawat jalan di Puskesmas dan RSD Surakarta, maupun rawat inap di Puskesmas rawat inap RSD Surakarta dan Rumah sakit yang ditunjuk. Program ini juga merupakan pemberian pemeliharaan pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diberikan kepada masyarakat Surakarta pemegang kartu berobat berlangganan.
 Tujuannya adalah untuk Melindungi kesehatan masyarakat, Mengimplementasikan dan mengembangkan sistim jaminan kesehatan, Menjamin keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang bermutudan Memberdayakan masyarakat bersama pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Program yang digulirkan sejak tahun 2008 ini dengan peserta semua  penduduk yang berdomisili di daerah  yg memenuhi persyaratan  bukan peserta Jamkesmas, bukan peserta Askes PNS, bukan peserta askes sosial lainnya,  mempunyai  KK Surakarta , mempunyai kartu tanda penduduk (KTP)  Surakarta , bertempat tinggal dan berdomisili di daerah
selama 3 tahun berturut-turut yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kelurahan. Untuk membedakan besaran proteksi  jaminan kesehatan dibagi menjadi 2 yaitu kartu Gold dan Silver , Gold  dengan proteksi bebas biaya  perawatan sepenuhnya diberikan kepada semua
warga miskin, sementara silver di berikan kepada semua warga dengan besaranh proteksi Rp 2 juta sekali berobat.


Banyak pihak yang mengakui PKMS sebagai salah satu program Pemerintah Kota Surakarta yang berhasil. Dari sisi kebijakan, PKMS merupakan kebijakan yang pro poor. Dari sisi implementasi kalangan keluarga miskin terbantu dalam mendapatkan akses layanan kesehatannya.

Hanya saja, keberhasilan program ini lebih terasa pada aspek rehabilitatif-nya daripada aspek lain dalam pemeliharaan kesehatan yakni aspek promotif, preventif atau pun kuratif. Padahal PKMS sebenarnya merupakan program untuk pemeliharaan pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.  Kenyataan itu dapat dilihat dari besaran anggaran yang disalurkan bentuk bantuan pengobatan baik rawat jalan maupun rawat inap terutama rumah sakit.

Di bagian lain, sesuai dengan KEPMENKES R.I No. 128/MENKES/SK/II/2004, Puskesmas merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan yang meliputi berbagai aspek.  Skema PKMS juga menempatkan Puskesmas sebagai salah satu unit pelaksana pelayanan program tersebut. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan Puskesmas seperti penyediaan fasilitas rawat inap, mobil ambulance, dokter spesialis dan sebagainya termasuk di dalamnya adalah standar pelayanan yang merujuk pada standar ISO.

Namun hal itu sepertinya belum cukup memadai. Masyarakat belum memanfaatkan fungsi Puskesmas untuk mendapatkan layanan kesehatan strata pertama sebelum ke pihak lain seperti rumah sakit. Meski mekanisme penggunaan kartu PKMS baik dalam bentuk silver maupun gold mensyaratkan agar Puskesmas sebagai akses layanan pertama namun hal itu nampaknya baru sebatas administratif. Masyarakat mendatangi Puskesmas bukan untuk memanfaatkan layanan fasilitas kesehatan yang ada tetapi sekadar mendapatkan surat rujukan yang disyaratkan rumah sakit.

Kuret pilihan menyedihkan.........

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah...........



Tidak ada seorangpun terutama bagi seorang ibu yang menginginkan anaknya 'hilang' atau harus melakukan proses kuret. Barangkali suamipun/bapak  juga  tidak mudah setuju dengan  proses kehilangan calon  buah hatinya. Menurut bahasa medis Kuret  atau kuretase merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa jaringan dari dalam rahim dengan fungsi diagnostik atau terapetik. Jaringan bisa berupa janin yang mengalami abortus, endometriosis, atau sisa plasenta yang tertinggal seusai persalinan. Kuret perlu dilakukan supaya rahim bersih dari jaringan yang tidak semestinya berada bahkan tumbuh di dalamnya. Jika tidak dibersihkan, akan memunculkan gangguan seperti nyeri dan perdarahan. 
Arti lain dari Kuretase adalah tindakan untuk melepaskan jaringan yang melekat pada dinding rahim (kavum uteri), dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrumen berupa sendok kuret ke dalam dinding rahim. Sendok kuret akan melepaskan jaringan tersebut dengan teknik pengerokan secara sistematik.

Tindakan kuret merupakan pilihan pahit, menyakitkan dan tak mudah di hilangkan dari ingatan, bahkan selalu saja menghantui. Kuret biasanya terpaksa dilakukan karena berbagai alasan, seperti karena kecelakaan, janin tidak berkembang , akibat tindakan abortus, dll. Tetapi terkadang tak ada pilihan lain yang lebih baik lagi.

Dua tahun  yang lalu yaitu tahun 2011, saya pernah mengalami sendiri harus di kuret karena janin yang saya kandung tidak berkembang dengan baik sebagaimana mestinya. Untungnya (masih sedikit beruntung meskipun sedih kehilangan) janin yang saya kandung calon anak ke -4 saya. Memang, sebenarnya si calon buah hati kami tidak kami rencanakan, artinya kami tidak berencana mempunyai  anak lagi pada saat itu.

Saat janin saya berusia menginjak 7 minggu, saya baru mengetahui kalau saya sedang hamil. Saya tidak terlalu perhatian mengalami keterlambatan bulan karena siklus mentruasi saya memang tidak selalu teratur. Kebetulan pada waktu itu, kami juga mengunakan kontrasepsi kondom, sehingga tidak pernah kepikiran kalau akan hamil lagi.
Singkatnya, iseng-iseng suatu pagi saya melakukan test pack dan ternyata hasilnya positif. Berbekal  itu saya dan suami pergi konsultasi ke dr kandungan langganan kami, dan saat itu berdasarkan hasil pemeriksaan, saya positif hamil dan usia janin sekitar 7 minggu. Tetapi yang membuat saya semakin kaget karena kondisi janin yang saya kandung tidak begitu baik, dalam usia janin yang 7 minggu ternyata janin tidak sebesar usia yang seharusnya. Dr memberi pilihan untuk melihat dalam waktu 1 munggu untuk observasi dan kalau tidak berkembang ,opsinya janin haraus di kuret.
Soal informasi kehamilan sebenarnya pada saat itu, kami belum siap, karena anak ketiga kami baru berumur setahun lebih. Kami agak trauma dengan kelahiran anak pertama dan kedua kami yang hanya berselang 15 bulan , pada waktu itu kami sangat kerepotan.  Bahkan dalam kondisi hidup yang masih belum teratur, kami harus mengambil dua asisten rumah tangga untuk mnegasuh kedua anak kami yang masih bayi. Tak ada pilihan lain, karena kami berdua bekerja. 

Tetapi  mendapatkan rejeki amanah anak juga sebuah keberuntungan, sehingga 'akan' kehilangan seorang anak juga membuat kami galau. 

Singkatnya, dari observasi, kami memutuskan untuk mengambil janin dan itu kemudian  dilakukan  oleh dr kandungan langganan kami yang juga bertugas di beberapa RS dan membuka klikin bersalin di rumahnya.

Proses menunggu kuret, selain membuat perasaan tidak nyaman, galau, deg-degan juga resah. Saya masuk ke rumah bersalin pagi sesuai jadwal kuret. Karena kuret akan dilakukan dengan pembiusan total, maka saya diminta untuk berpuasa. 

Sebelum kuret, ada obat berupa pil yang dimasukkan ke jalan lahir( maaf ) untuk melenturkan jalan lahir. Nah, yang bikin deg-degan dan kuatir karena menunggu ini lama sekali. Saya masuk, baru siangnya kondisi jalan lahir lentur dan kuret siap untuk dikerjakan. Kuret ini menurut saya layaknya sebuah  proses operasi besar , karena melalui  proses pembiusan total.  Ada dua dokter yang menangani yaitu dr kandungan dan dr anastesi.

Setelah masuk ke ruang operasi, saya  mengunakan baju operasi dan siap di meja operasi. Dokter kandungan  mengajak saya berbincang untuk memberikan support dan menanyakan kesiapan mental saya,  dokter anastesi  memberikan sebuah suntikan. 

Sesaat kemudian dr kandungan meminta saya untuk mengucapkan Allohuakbar 6 x, dan saya ingat betul baru dua kali mengucapkan  Allohuakbar selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. 

Saya terbangun ketika mendengar sayup-sayup suara anak kedua dan suami saya  yang memanggil nama saya,” mama..mama..mama.....” Saat itu saya ingin sekali membuka mata dan mengerakkan tangan, kaki, badan saya. Tetapi ternyata saya sama sekali tidak mampu untuk melakukan itu, meskipun hanya  sekedar mengerakkan jari. Meski dengan sekuat tenaga, saya tak mampu melakukannya. Saya hanya mampu bicara dengan lemah,”Pa, apakah sudah selasai kuretnya?’
“Sudah ma,” jawab suami saya
“Aduh mama lemas sekali, mau membuka mata tidak bisa,”keluh saya.
“Mama jangan  membuka mata dulu nanti pusing, pesan dokter jangan membuka mata dan jangan bergerak dulu, nanti bisa m untah,”tambah suami
“Aduh, lemasnya...”keluh saya lagi. Saya penasaran karena terus terang takut kalau tiba-tiba lumpuh, karena benar-benar tidak mampu  mengangkat jari . Dengan sekuat tenaga saya membuka mata, dan memang bisa. 

Saya lihat suami tersayang dan putri kami sedang duduk di samping saya. Putri kami memijat-mijat tangan saya, dan memanggil, mama ..mama...
“Duh, mama khan nggak boleh membuka mata dulu,” kata suami.
Dan benar, tiba-tiba saya perut saya mual sekali, keinginan untuk muntah tidak bisa saya bendung lagi, dengan cekatan suami memberikan  wadah untuk muntahan setelah saya minta. Saya benar-benar muntah dan badan terasa semakin lema, kepala pusing berkunang-kunang.  Saya mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan  rasa pusing dan kepala yang berputar-putar. Sekitar 15 menit kemudian saya baru merasa lebih enak, dan badan mulai bisa digerakkan. Sekitar 15 menitan kemudian saya baru merasa benar-benar sadar, dan setelah istirahat di meja operasi , saya minta diantar ke kamar untuk proses pemulihan.

Menurut informasi suami saya, proses kuret berlangsung singkat sekitar 15 menit, yang lama adalah menungu proses saya sadar kembali yaitu sekitar 1 jam. Setelah proses pemulihan, saya sorenya minta pulang untuk istirahat di rumah saja. Sebenranya saya bisa beriistirahat sampai besok, tetapi saya pilih pulang saja karena merasa lebih baik dan harus di rumah bersalin. Jadi saya melakukan proses kuret tidak sampai menginap di rumah bersalin. Di rmahpun, setelah istirahat sebentar saya bisa beraktivitas kembali. Biaya kuret  waktu itu lumayan  yaitu Rp  2.250.000.

Meskipun proses kuret berjalan lancar dan tidak ada masalah kesehatan selanjutnya, tetapi sampai saat ini sebenarnya perasaan kehilngan ‘anak’itu masih ada, apalagi kalau anak2 kami  mengatakan  kepada kami kalau pingin punya adik lagi***



Selasa, 05 Februari 2013

Novel ARE YOU OK,GRANDMA?

Novel kedua putri kami, buku keempatnya berjudul ARE YOU OK, GRANDMA? terbitan Bentang Belia, januari 2013.

Sinopsisnya :
“Assalamualikum...Halo Nek! Ap...”sapa Risma ceria. Tapi tiba-tiba sebuah peristiwa memotong perkataannya dengan suara berdebam yang keras. “Nenek! Apa yang terjadi?”Risma panik. Terdengar suara keras Duk!. Suara itu disertai dengan suara ribut yang tak jelas. Setengah detik kemudian ... Plak! Setelah itu sambungan terputus. Risma terkejut. Ia mencoba untuk menelepon nenek. Tapi yang didengarnya hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang sibuk.......

Novel berjudul "Are You Ok, Grandma ?" terbitan Bentang Belia , buku ke-4 putri kami Anugrah Rawiyah Salma,

Cocok untuk alternatif hadiah/oleh-oleh bagi putra putri/adik/ponakan/tetangga/ sahabat usia SD-SMP. BIsa di beli di penerbit langsung, atau toko buku Gramedia, Toga Mas atau menghubungi penulisnya.

Novel The Little Queens...........

Ini novel pertama putri kami, sekaligus buku ketiganya
THE LITTLE QUEENS

Penulis: Anugrah Rawiyah Salma
ISBN: 978-602-9498-72-1
Tebal: 168 halaman
Harga: Rp 28.000,-

SINOPSIS
Wuih, asyik, Dinda mendapatkan beasiswa kursus drama selama sebulan di Jakarta Theater School! Tinggal di asrama bersama murid-murid lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seru banget pastinya.
Bersama tiga teman barunya, Dinda langsung membentuk geng The Little Queen. Mereka mengalami berbagai kejadian seru dan berkesan. Dari nekad membuat pesta kejutan di tengah malam untuk teman yang berulang tahun, menyelidiki anak yang membuat Miss Lala marah, sampai menjadi pemeran inti dalam kisah Putri Cinderella di saat perpisahan.
Ssst ... ada yang cemburu pada Dinda yang sukses memainkan peran Cinderella, lho. Siapa dia, ya? Baca saja kisah lengkapnya di novel keren ini!
 


Tentang Penulis

Halo, Teman-Teman! Bagaimana dengan cerita yang aku buat? Kamu suka, kan? Oh iya, kenalan dulu, yuk.

Namaku Anugrah Rawiyah Salma, biasa dipanggil Alma. Aku lahir di Klaten, 27 November 2001. Ayahku bernama Muhammad Histiraludin dan ibuku bernama Suci Handayani. Aku anak kedua dari tiga bersuara.

Hobiku membaca, menulis cerita, bermain internet, bersepeda, dan membuat kerajinan tangan dari kain flanel.

Novel The Little Queen ini adalah buku ketigaku. Doakan ya, semoga aku tetap produktif menulis buku. ^__^