Kamis, 27 September 2012

Pantai Karangria kota Manado

Dalam beberapa kali saya mengunjungi kota Manado Sulawesi Utara, salah satu tempat yang berkesan bagi saya adalah keindahan pantai Karangria. Pantai Karangria  terletak di kelurahan Karangria Kecamatan Molas Kota Manado. Pantai ini sangat luas dan indah sekali pemandangannya terutama kala senja datang, dimana terlihat matahari mulai terbenam ke peraduan dengan sinarnya yang berwarna merah kuning keemasan. Sungguh sangat indah di pandang mata. Sejauh mata memandang ke arah arah lepas pantai, terlihat hamparn air laut yang bergulung dengan riak-riak kecil seakan mengucapkan selamat tinggal kepada siang hari dan menyapa senja hari yang akan datang. Tetapi melihat ke kanan dan kiri laut, memang tak tampak lagi hamparan air laut karena terhalang oleh pandangan batu-batu besar untuk penimbunan laut. Keindahan pantai, berkurang dengan timbunan batu yang membentuk daratan baru di sepanjang pantai.Di tepian rumah penduduk memang terbangun jalan aspal yang kelihatan masih baru dan masih ada sebagian yang belum jadi alias masih berupa pasir pantai.Penimbunan laut atau reklamasi menjadi bagian yang banyak dilakukan di kota Manado, mengurangi keindahan pantai untuk kepentingan lainnya.


Reklamasi adalah suatu proses membuat daratan baru pada suatu daerah perairan/pesisir pantai atau daerah rawa. Hal ini umumya dilatarbelakangi oleh semakin tingginya tingkat populasi manusia, khususnya di kawasan pesisir, yang menyebabkan lahan untuk pembangunan semakin sempit.  Kota Manado mempunyai permasalahan bidang transportasi yaitu semakin padatnya lalulintas jalan, sehingga salah  satu solusinya membangun jalan boulevard yang  direncanakan sepanjang jalan tugu Boboca  sampai ke pulau Menado tua sekitar  12 km.
Jalan yang belum selesai di bangun di pantai Karangria
Pantai Karangria, dahulu kala sebelum ada reklamasi pantai untuk membangun jalan, merupakan pantai yang indah dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dan mampu memenuhi kebutuhan hidup para nelayan yang mengantungkan hidup dari penjualan hasil laut di Karangria.
Karena kota Manado mempunyai permasalahan transportasi, kemudian membangun jalan boulevard yang salah satu ruas jalannya melewati pantai Karangria. Menurut   pemerintah, boulevard  ini untuk mengatasi abrasi  dan memperlancar transportasi tetapi pembangunan tanpa memikirkan nasib nelayan yang mengantungkan hidupnya dari pantai ini. Nasib nelayan  terancam karena boulevard akan mengancam pemukiman nelayan  dan  hilangnya mata pencaharian nelayan serta  keselamatan nelayan ketika melaut . Bahkan keselamatan 600 orang nelayan  dipertaruhkan dengan pembangunan boulevard ini.  Kapal terancam pecah  jika badai datang menghantam dan nelayan terancam tewas.
Pemecah ombak hasil perjuangan nelayan
Nelayan bersatu  dalam Himpunan Masyarakat Nelayan Bitung Karangria (HMNBK) untuk menentang penimbunan pantai. Beberapa waktu yang lalu, karena merasa terancam  dengan pembangunan boulevard , nelayan di pantai Karangria di dukung Asosiasi Nelayan Tradisional (ANTRA) Sulut  melakukan konsolidasi untuk menentang . Tidak mudah untuk mengajak  600 orang nelayan, 200  nelayan memiliki perahu sendiri dan 400 nelayan lainnya menumpang perahu nelayan lainnya, yang belum pernah mempunyai pengalaman  menolak kebijakan pemerintah.  Konsolidasi anggota dilakukan terus menerus  sehingga  muncul kesepakatan untuk melakukan  langkah- langkah  advokasi salah satunya dengan dialog.  Dialog  dengan pemangku kebijakan seperti  dengan pihak kecamatan, dilanjutkan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU)  kota , Walikota , Dinas PU Provinsi  bahkan  sampai dialog dengan  Gubernur Sulawesi Utara. Beberapa tawaran dari pemerintah daerah sempat muncul  pada saat dialog dilakukan.  Pembangunan boulevard akan di teruskan dengan   pemberian kompensasi  berupa uang,bahkan rumah kepada nelayan .   Tetapi HMNBK menolak kompensasi yang di tawarkan Pemda. HMNBK  menghindari perpecahan di organisasi ,belajar dari pengalaman nelayan di kelompok lain yang  tidak solid karena menerima kompensasi dari Pemda. Organisasi yang tidak di dukung sepenuhnya oleh anggota akan sulit dalam mengalang dukungan dan kekuatan  dalam menuntut hak-haknya. Upaya yang dilakukan membuahkan hasil, Pemkot  mengabulkan tuntutan nelayan dengan membangun tambatan untuk perahu, bahkan pemecah ombak juga ada.  Keberhasilan HMNBK ini tidak bisa di lepaskan dari upaya untuk mengedepankan dialog-diaog dengan pemerintah daerah selain anggota harus bersatu dan solid ,punya  kesamaan visi, mempunyai pendamping  untuk mendapatkan support dukungan , tidak bersedia menerima kompensasi dan tentu saja ada dukungan media.  Dengan beberapa hal yang dilakukan tersebut, tuntutan HMNBK untuk menambah luas tambatan perahu  terealisasi, bahkan karena dirasakan tambatan aman dan mencukupi untuk menambah perahu, sekarang  anggota bisa menambah perahu sekitar 20 buah perahu.
Keindahan sore hari di pantai , kala anak-anak bercanda menunggu malam datang

Saat ini meski luas pantai sudah berkurang, tetapi nelayan masih bisa mencari nafkah di pantai Karangria. Tambatan perahu hasil perjuangan nelayan, bisa membantu untuk menambatkan perahu meskipun tak senyaman ketika pantai masih mempunyai hamparan pasir untuk tambatan. Anak-anak juga masih bisa memanfaatkan pantai untuk mandi dan bermain air di sore hari,  duduk-duduk bercengkrama sambil menunggu malam menjemput siang.


Tidak ada komentar: