Minggu, 18 Oktober 2015

Yang Hilang Dari Stasiun dan Gerbong KA

Saya salah satu orang yang suka melakukan perjalanan dengan Kereta Api. Seringkali bepergian mengunakan moda transportasi yang murah, nyaman dan bebas macet. Bahkan beberapatahun yang lalu saya menjadi pelanggan Kereta Api (KA) karena harus bolak balik kerja Solo-Yogya pulang pergi.

Beberapa tahun yang lalu, fasilitas Kereta Api tidak senyaman saat ini, hanya KA dengan bandrol bisnis dan eksekutif yang menawarkan kenyamanan penumpangnya. KA bisnis agak lumayan,sementara yang eksekutif memang nyaman. Tak heran karena harga tiket juga cukup mahal dibandingkan dengan KA kelas ekonomi. Ibaratnya, ada kenyamanan  maka keluar uang lebih banyak.

Dahulu, untuk menghemat biaya, saat perjalanan jauh dengan anggota keluarga, KA ekonomi menjadi pilihan karena bisa berhemat atau paling tidak naik KA bisnis. Hanya sesekali naik KA eksekutif , itupun kalau ada urusan kantor, jadi tidak bayar pakai uang sendiri. Selain alasan lebih berhemat naik KA ekonomi, yang membuat selalu kangen adalah naik KA ekonomi itu nggak akan kekurangan makanan alias kelaparan. Tidak usah memikirkan bawa banyak bekal, cukup membeli di KA saja, dijamin nggak bakalan kelaparan. Ya, terlalu banyak penjual atau pedagang asongan yang menjajakan dagangan di KA ekonomi, baik di dalam kereta sendiri juga di stasiun-stasiun.
Rasanya semua makanan ala rakyat yang sederhana, murah dan cocok dilidah tersedia. Masih terekam kuat dalam ingatan setiap perjalanan ke barat (arah Jakarta) selalu saja pedagang asongan nyaring meneriakkan barang dagangan.

“Pecel…Pecel… mendoan..arem-arem..tahu-tahu…nasi—nasi…aqua..aqua…..kopi...”
Saat di stasiun Purwokerto dan sekitarnya pasti teriakan ini terdengar, “ lanting…lanting…pisang sale..pisang sale….”



Silih berganti pedagang membawa dagangan yang disusun diatas baskom besar berjalan ke sana kemari menawarkan dagangannya tanpa mengenal lelah.
Satu hal yang membuat saya angkat keempat jempol saya,mereka rata-rata tidak muda lagi tetapi semangat dan tenaganya luarbiasa. Meskipun tidak selalu laku tetapi mereka pantang menyerah,gigih memberikan pilihan menu makanan dan terkadang merayu calon pembelinya dengan wajah penuh harap. Tak kenal waktu, sampai tengah malampun tak kunjung menyerah sampai dagangan terbeli.

Di satu sisi, meskipun memberikan kemudahan untuk mencari makanan, banyak penumpang yang mengeluh karena merasa terganggu dengan pedagang asongan di KA. Mereka rata-rata tidak terlalu nyaman saat terkantuk-kantuk terpaksa bangun karena teriakan pedagang atau jengkel saat tangan pedagang mencolek badan mereka untuk menawarkan dagangan.

Rupanya salah satu keluhan penumpang tersebut yang menjadi dasar bagi PT KA untuk membuat penumpang lebih nyaman. Alasan lainnya saya tidak tahu. Pada akhirnya ada Intruksi Direksi PT KAI nomor 2/LL-066/LA-2012 tanggal 12 Januari 2012 yang berisi tentang Penertiban Pedagang Asongan , Penumpang Liar dan Larangan Penumpang Merokok diatas KA. Sejak saat itulah pedagang asongan dilarang berjualan di atas KA. Bahkan pada akhirnya pedagang sama sekali tidak boleh dijualan di area stasiun. PT KAI benar-benar ‘membersihkan’ pedangan asongan dari stasiun KA. Berbagai protes keras dan perlawanan dari pedagang tidak digubris dan tidak mempan,toh pedagang tetap tidak bisa jualan lagi.

Sebagai penumpang, saya merasakan kenyamanan di stasiun dan di dalam KA karena PT KAI serius memberikan fasilitas yang membuat penumpang nyaman. Area stasiun benar-benar bersih, terawat dengan baik, teratur, bebas asap rokok. Di dalam KA juga nyaman, bersih, bebas dari pedagang asongan. Bahkan hampir semua kereta api ekonomi dipasang AC, hanya sebagian kecil yang belum nyaman. Misalnya KA Pramek Solo-Yogya p/p yang bertiket Rp 8000, masih terasa panas apalagi saat musim kemarau seperti sekarang.

Menurut saya, kenyamanan penumpang diatas KA harus dibayar mahal dengan tidak adanya pedagang asongan yang menjajakan dagangannya karena mau tidak mau penumpang harus merogoh kocek lebih dalam saat membeli makanan/minuman di restorasi KA yang harganya berlipat-lipat. Saat kepepet (lupa bawa makanan/minuman atau bekal dari rumah habis sementara lapar tak bisa ditunda) , ya itulah pilihannya.

_Solo, 17 Oktober 2015_
sumber foto : www.sinarngawi.com

Tidak ada komentar: