Senin, 06 Juli 2015

Joko Kendil dan Nyi Randa

             Pada suatu masa, hiduplah seorang janda tua bernama Nyi Randa. Ia hidup miskin dan sebatang kara. Setipa hari ia bekerja keras untuk mencukupi hidupnya. Tetapi hidupnya serba kekurangan. Kerja kerasnya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Terpaksa Nyi Randa hanya makan seadanya saja, bahkan sesekali ia tidak makan karena tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli makanan.



Dok. Suci
Kemiskinannya membuat Nyi Randa terlihat lebih cepat tua dari usianya. Semakin hari ia semakin tua dan tubuhnya mudah lelah. Sebenarnya Nyi Randa ingin mempunyai seorang anak laki-laki yang bisa membantunya sehingga ia bisa istirahat. Dia ingin suatu ketika bisa beristirahat saat tubuhnya sudah tidak mampu bekerja lagi. Oleh karena itu setiap hari ia tidak pernah lelah berdoa agar Tuhan memberinya anak.
            Suatu hari, saat pulang kerja tanpa segaja Nyi Randa menemukan sebuah kendil[1]  tergeletak di jalan. Ia membawanya pulang. Lumayan, masih bisa digunakan untuk memasak, batin Nyi Randa sambil meletakkan kendil di dapur. Tiba-tiba Wusssss…. Sebuah asap putih  mengepul dari kendil itu dan berubah  wujud. Tiba-tiba kendil itu berdiri dan berubah menjadi seorang anak laki-laki yang pendek, kecil dan bermuka hitam seperti kendil.
Alangkah suka citanya Nyi Randa mendapatkan seorang anak laki-laki, yang telah lama diharapkannya. Nyi Randa riang gembira karena do’anya terkabul. Anak laki-laki itu dinyakininya merupakan titipan Yang Maha Kuasa sehingga harus dirawatnya dengan baik. Meskipun berwajah buruk tetapi Nyi Randa tetap bersyukur. Ia merasa Tuhan telah mendengarkan do’anya. Ia memanggil anak itu dengan nama Joko Kendil.
Joko Kendil tumbuh menjadi anak yang periang, rajin dan suka menurut apa yang dikatakan Nyi Randa. Selain itu dia  juga tidak kenal lelah bekerja membantu Nyi Randa. Meskipun tubuhnya kecil, tetapi kekuatannya besar dan rasanya tidak kenal lelah.
            “Simbok di rumah saja, istirahat. Kendil akan mencari makan,” kata Joko Kendil.
            “Kamu akan kemana?” tanya Nyi Randa menatap cemas anaknya. Dengan tinggi kurang dari satu meter, pekerjaan apa yang bisa dikerjakan Kendil? Batinya cemas. Selama ini dia selalu menemani Kendil kemanapun pergi. Nyi Randa bekerja dengan dibantu anaknya. Kalau hanya pergi sendiri, dia menjadi cemas.
            “Do’akan saja ya, Mbok.” Jawab Kendil berpamitan. Dia tidak tega melihat Nyi Randa yang semakin tua tetap bekerja. Joko Kendil bertekad untuk membuat Nyi Randa nyaman di rumah.
**
           
Joko Kendil pergi ke sebuah rumah yang sedang mempersiapkan mengelar pesta pernikahan. Dia pergi ke dapur melihat berbagai macam kesibukan. Orang-orang tampak sibuk memasak berbagai macam masakan untuk hidangan para tamu yang datang.  Joko Kendil duduk diam sambil memperhatikan mereka. Selama ini dia belum pernah melihat orang sibuk masak seperti itu.
            “Hei, Yu, daging ini mau ditaruh di mana? Aku kehabisan kendil,” teriak salah satu ibu sambil membawa daging sapi yang akan dimasak.
            “Coba kamu cari disitu. Mungkin masih ada kendilnya,” jawab ibu yang lainnya. Semua saling sibukm tak sempat memperhatikan dengan baim apa yang ada di dapur. Ketika melihat kendil yang hitam tetapi tidak ada isinya, ibu itu memasukkan daging ke dalamnya. Dia tidak menyangka kalau kendil itu adalah Joko Kendil yang sedang duduk. Joko Kendil memang unik, setiap saat tubuhnya bisa berubah menjadi kendil sehingga orang pasti akan menyangka ia sebuah kendil.
            “Ini Yu. Untung saja ada kendil kosong disini,” kata ibu tadi lega melihat dagingnya sudah mendapatkan tempat.
            Joko Kendil melonggo tidak tahu mesti berbuat apa. Dia terpaksa hanya diam saja menunggu ibu tadi mengambil daging yang ada ditubuhnya. Tetapi sampai menjelang siang, ibu tadi belum juga mengambil daging karena sibuk memasak lainnya.
Karena capek, terpaksa Joko Kendil pulang ke rumah sambil membawa daging yang cukup banyak. Dia tidak bermaksud mencuri tetapi dia tidak bisa mengalihkan daging yang bertumpuk itu.
            Saat pulang, Nyi Randa terkejut melihat Joko Kendil membawa makanan. Dia senang sekaligus cemas melihat anaknya pulang dengan selamat.
            Sejak saat itu  setiap harinya Joko Kendil selalu pulang membawa makanan yang enak-enak. Sejak saat itu Nyi Randa tidak usah bekerja keras karena Joko Kendil telah mengambil alih pekerjaanya. Meskipun ia hanya anak pungut dan badannya kecil serta jelek tetapi ia anak yang berbakti dan selalu meringankan pekerjaan ibunya.
**
           
Suatu ketika, ada sebuah perjamuan yang diadakan Raja di istananya. Semua rakyat diundang oleh raja karena itu perjamuan  pesta rakyat. Sudah bertahun-tahun Raja mengadakan acara serupa.  Nyi Randa dan Joko Kendil tidak lupa ikut berbaur dengan rakyat lainnya menikmati pesta rakyat. Dimana-mana makanan dan minuman melimpah ruah. Semua rakyat senang karena kebagian makanan dan menikmati berbagai pertunjukan hiburan. Rasanya tidak ada yang tidak senang dengan acar tersebut.
            Saat Nyi Randa asyik menikmati berbagai hiburan dan merasakan semua makanan yang dihidangkan para pelayan, Joko Kendil menyelinap masuk ke dapur. Seperti biasanya, dia duduk diam. Saat itu, entah kenapa ada seorang juru masak yang berteriak membutuhkan tempat untuk masakannya.  Semua kendil telah penuh. Juru masak binggung, dia harus segera menyelesaikan masakan kalau tidak mau dihukum  kepala dapur.
Joko Kendil hanya diam saja tidak beranjak dari tempatnya semula. Juru masak melihat kendil hitam jelek dan tampak usang yang tak lain adalah tubuh Joko Kendil, berteriak senang.  Bagi dia disaat yang seperti itu, tidak masalah mengambil kendil jelek untuk tempat masakannya.
            “Biarin saja, jelek nggak masalah. Aku sangat membutuhkan kamu. Masakan ini harus segera siap dihidangkan. Aku bersyukur bisa menemukanmu,” kata juru masak pelan sambil meraih kendil.  “Berkat kamu aku terhindar dari hukuman kepala dapur,” batin juru masak sambil tersenyum lega. Saat itu tiba-tiba saja kendil yang diambil juru masak menghilang dan berubah menjadi  pangeran tampan yang tersenyum sambil menjura memberi hormat.
            Juru masak terkejut dan berkali-kali mengucek matanya untuk menyakinkan kalau sedang bermimpi.
            “Paman tidak sedang bermimpi. Terimakasih paman. Karena paman membutuhkan saya, maka kutukan jahat yang bertahun-tahun menimpa saaya telah lenyap. Saya seorang pangeran dari negri sebrang,” kata pangeran tampan sambil tersenyum.
            Juru masak senang setelah mendengar penjelasan singkat pangeran tersebut.  Setelah berterimakasih, pangeran jelmaan Joko Kendil mencari Nyi Randa. Alangkah terkejutnya Nyi Randa mendengar kisah Joko Kendil yang ternyata pangeran tampan bernama Raden Handaka. Maka Nyi Randa diajak Pangeran Handaka untuk tinggal di istananya. Sejak saat itu hidup Nyi Randa menjadi bahagia sampai akhir hayatnya. ***


[1] panci  di jawa yang terbuat dari tanah liat

Tidak ada komentar: