Selasa, 20 September 2016

Inilah Alasan Arcandra Tahar Layak Jabat Menteri ESDM Lagi

Beredar kabar bahwa Arcandra Tahar (AT) akan diangkat kembali menjadi Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Kabar tersebut santer beredar di media sosial (medsos) dan diangkat oleh media massa juga.
AT, mnejabat menjadi Menteri ESDM mengantikan Sudirman Said (SS) dalam waktu yang super singkat yaitu hanya 20 hari saja. Karena ada masalah kewarganegaraan ganda, tanggal 15 Agustus 2016 lalu, ia diberhentikan dengan hormat oleh Presiden joko Widodo (Jokowi).


Selepas kekosongan Menteri ESDM, jabatan tersebut di rangkap oleh Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.  Jokowi  kelihatan  tenang-tenang saja, belum ada tanda-tanda Jokowi akan menunjuk  Menteri ESDM definitive.

Tetapi saat ini sinyal AT di butuhkan kembali dan kemungkinan besar kembali dipanggil untuk diberikan amanah menjadi Menteri ESDM menguat kembali. Sinyal itu sudah terlihat sejak Jokowi memberhentikan AT dengan hormat, seperti yang saya tulis di sini http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/jokowi-akan-panggil-arcandra-tahar-kembali_57b56151337a6126129ed248

Perkiraan saya tersebut,  bahwa AT akan di panggil kembali untuk menjabat menjadi Menteri ESDM agaknya mulai kelihatan mendekati kebenaran.
Dan tantangan Jokowi mengangkat AT semakin besar . Banyak pihak yang  khawatir, ketakutan, dan belum-belum sudah panas dingin. 

Bukan rahasia lagi, jika jabatan Menteri ESDM memang mengiurkan, mempesona, mempunyai daya tarik tinggi melebihi  kementerian lainnya. Lahan basah dan penuh dan penuh dengan tambang uang sangat strategis dan  berpeluang besar untuk menghidupi dan membesarkan parpol . Maka semua parpol mengincar dan kemecer ingin menduduki  jabatan sebagai Menteri ESDM.
Meskipun banyak menuai kritik dan sinyal pengangkatan AT menjadi menteri ESDM menjadi bulan-bulanan pesohor negeri ini (terutama parpol), tetapi kita nampaknya harus mempercayakan pengisian jabatan Menteri ESDM kepada presiden. Tidak hanya karena alasan mengangkat menteri adalah hak prerogative presiden tetapi karena yakinlah presiden sudah mempertimbangkan secara mendalam.

Alasan lainnya adalah
Pertama, AT sudah membuktikan  nasionalismenya.  Pilihan melepas kewarganegaraan AS  sudah membuktikan rasa cintanya yang besar kepada Indonesia. Sejatinya AT  selalu mencintai Indonesia  tanah tumpah darahnya sejak lahir sampai detik ini. AT belum pernah sekalipun melep[askan kewarganegaraan Indonesia meskipun sudah 20  tahun tinggal si Amerika. 

Kedua, masalah kewarganegaraan ganda yang membuat ia diberhentikan dengan hormat sudah selesai. Terhitung sejak tanggal  1 September 2016 , AT   resmi menjadi WNI. Artinya tidak ada masalah lagi status kewargenegaraannya.

Ketiga, prestasi gemilang saat menjabat Menteri ESDM. Meskipun hanya dalam hitungan  20 hari menjabat Menteri ESDM mengantikan Sudirman Said (SS), tetapi AT sudah menorehkan sejumlah prestasi. Antara lain di bidang anggaran berhasil melakukan percepatan/akselerasi realisasi anggaran 2016: target >90%. Kemudian juga melakukan rasionalisasi perjalanan dinas (15%) RKAL 2017.
Untuk penghematan sejumlah proyek juga dilakukan misalanya untuk kasus Masela, AT berhasil menurunkan biaya dari angka USD 20 miliar menjadi USD 15 miliar. Penghematannya mencapai US$ 4,5 – 6,5 milyar (sekitar Rp 58 -84,5 trilyun).
Dengan kata lain, AT sukses melakukan penghematan di sejumlah proyek ESDM.
Selain itu, AT juga   mampu  mengoptimalkan sumur existing (sumur tua) minyak . Padahal dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tidak ada temuan pemboran eksplorasi yang signifikan di Indonesia. Upaya  optimalisasi sumur tua untuk meningkatkan produksi minyak karena  produksi minyak nasional dalam 10 tahun terakhir tinggal sekitar 350 barrell per hari. Yang angka tersebut masih jauh dari harapan.

Keempat,  soal kapasitas menjabat menteri ESDM tidak diragukan lagi.  Kepakaran dan kemapuan AT dalam  bidang ESDM tidak diragukan lagi. Segudang pengalaman di AS sudah membuktikan hal tersebut. Hal itu juga diperkuat saat AT dipanggil dan dilantik menteri ESDM oleh presiden Jokowi. Tidak mungkin presiden memilih orang yang tidak mempunyai kapsitas untuk menangani ESDM

Kelima, AT juga relative netral , tidak membawa kepentingan parpol tertentu. AT seorang profesional, ia bekerja secara profesional. Ia tidak terikat, tidak mempunyai hutang budi dengan parpol manapun. Sebagai orang non parpol, AT akan bekerja tanpa beban harus ikut menghidupi parpol yang menaunginya. Ia tidak akan sungkan-sungkan mengambil kebijakan , meluruskan kebijakan yang belum tepat di masa lalu, sekaligus menyikat habis mafia migas yang selama ini rakus mengeruk aset bangsa. AT tidak akan pandangbulu, hanya kerja dan kerja demi kepentingan bangsa dan Negara.

Maka,  pilihan Jokowi untuk memberikan jabatan Menteri ESDM kepada AT sudah tepat. Biarkan parpol  terus berteriak  marah dan menyebarkan intrik, pak Jokowi  tidak usah pedulikan. Jangan sampai  putra bangsa  potensial seperti AT justru dihargai dan dimanfaatkan oleh pihak di luar bangsa Indonesia.  Selamat datang kembali ke Kementerian ESDM pak AT. **

_Solo, 10 September 2016_


Tidak ada komentar: