Rabu, 18 Januari 2017

Lika- Liku Kenaikan Harga BBM Bersubsidi di Indonesia Dari Waktu ke Waktu

Melihat kembali lika-liku kenaikan harga BBM premium/bersubsidi di Indonesia dari waktu ke waktu memang menarik. Kita jadi tahu era pemerintahan siapa, BBM benar-benar naik sehingga tidak asal protes dan marah. 

Presiden Soeharto tercatat tertinggi menaikkan harga BBM bersubsidi yaitu sampai sebesar 700%, disusul SBY yang menaikkan harga BBM sampai 259,11%. Di era Gus Dur kenaikan harga BBM sebesar 45%, sementara era Megawati sebesar 24,82%. Hanya pada era BJ Habibie harga BBM turun sampai sebesar 16,66%. Sementara saat ini, Jokowi menaikkan harga BBM bersubsidi per Januari 2017 tidak sampai 1% hanya sebesar 0, 76%. Yang menarik, di era Jokowi, harga BBM di Papua yang selama ini berkisar Rp 40.000-70.000/liter menjadi sama dengan harga BBM di Pulau Jawa.



Berikut ini adalah perubahan harga BBM bersubsidi, yang dalam hal ini Premium per liter, sejak era Soeharto hingga  Jokowi :

Presiden Soeharto (naik 700%)
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200
Rp 1.200 – Rp 150 = Rp 1.050
Rp 1.050: Rp 150 = Rp 7 (700%)

Presiden BJ Habibie (turun -16,66 %)
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000

Presiden  Abdurrahman Wahid (naik 45%)
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450

Presiden Megawati Soekarnoputri (naik 24,82%)
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550
2003: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810

Presiden SBY (naik 259,11%)
2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500
2014 : Rp 6.500 (BBM Langka)

Presiden  Jokowi (Naik 0,76%)
2014 : Rp 6.500
2017 (januari ) : Rp 6.550
Era Jokowi : harga BBM di Papua dari Rp 40.000-70.000/liter menjadi harga sama seperti di P Jawa.


Tidak ada komentar: