Senin, 06 Juli 2015

Asal Mula Kota Jakarta

                Di sebuah desa kecil di Pulau Jawa, tinggallah empat bersaudara, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka adalah Jaya, Karta, Tama dan Wulan.
              Sejak kecil mereka berempat sdah hidup sebatang kara karena kedua orangtuanya sudah meninggal.


            Keempat bersaudara itu melanjutkan hidup dengan serba pas-pasan karena orangtua mereka tidak meninggalkan harta benda yang bisa dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketiga anak laki-laki bekerja sebagai buruh tani ditanah pertanian tetangga.  Sementara Wulan, satu-satunya saudara perempuan dirumah bertugas membersihkan rumah, mencuci, dan  memasak. Sesekali Wulan ke pinggir hutan untuk mencari kayu bakar dan sayuran  yang bisa dijual sekedar untuk menambah membeli  beras dan lauk. 
dok suci

            Syahdan, kemarau panjang melanda desa mereka, tak ada air, semua tanaman kering kerontang. Sawah tak bisa ditanami lagi, penduduk dilanda kelaparan. Banyak yang mulai meninggalkan desa untuk mencari sumber makanan di tempat lain.
            “Adik, kita tidak bisa seperti ini terus. Tak mungkin bertahan di desa sini.  Aku akan merantau untuk mencari  pekerjaan,“ Jaya dilanda kesedihan mendalam.         
            “Kakak mau pergi ke mana? “ tanya Tama.
            “Belum tahu. Entah kemana kaki akan melangkah, kakak hanya akan berusaha,” jawab Jaya. Sebenarnya dia juga  binggung mau pergi ke mana.
            “Sepertinya semua desa mengalami paceklik seperti desa kita. Tak mungkin ke desa terdekat, harus pergi ke kota, Kak,” Karta ikut menimpali.
            “Kalau ke kota, kita tak mungkin bekerja di sawah. Artinya kita  harus bekerja selain menjadi petani,” sahut Tama.
            Jaya mengangguk setuju dengan penjelasan Tama. Tak mungkin di kota ada pekerjaan seperti di desa mereka. “Kira-kira apa yang bisa kakak kerjakan ya?”
            “Engggggggg, Kak, bukankah kakak bisa main alat musik? Kakak bertiga  mahir sekali meniup seruling, menabuh kendang. Bagaimana kalau kita mencari uang dengan menghibur? “ Wulan dengan antusias mengingatkan ketiga kakaknya.
            “Wahhhhhh, kamu hebat, Dik. Benar katamu, kita semua punya kemampuan itu. Ditambah suara kamu yang merdu. Di kota pasti  akan lebih mudah mencari uang dengan menghibur penduduk daripada bekerja seperti di desa,” Jaya, Karya dan Tama nampak senang dengan ide Wulan.
            Akhirnya keempat bersaudara tersebut sepakat untuk pergi bersama ke kota.  Meskipun dengan berat hati, rumah sederhana yang selama ini menyimpan banyak kenangan dan memberikan   tempat bernaung mereka tinggalkan.
**


            Beberapa hari kemudian keempat saudara tersebut sudah  tiba di sebuah   kota  yang ramai penduduknya. Orang –orang  biasa menyebut   kota Jamama.  Penduduknya lumayan padat dengan berbagai macam pekerjaan.  Dengan berbekal  kendang dan  suling  mereka berempat mulai bekerja. Dari rumah ke rumah dan dari jalan ke jalan mereka rajin mengumpulkan uang rupiah demi rupiah. Tak kenal lelah hanya untuk mengumpulkan uang dan berharap bisa kembali ke desa tanah kelahiran mereka.
            Sebulan dua bulan, dan tak terasa sudah setahun mereka hidup mengembara dari kota ke kota. Hingga mereka sampai di sebuah kota besar. Pada saat itu musim penghujan telah tiba. Hampir setiap hari hujan turun dan banjir melanda di beberapa tempat. Jaya dan ketiga adiknya harus lebih berhati-hati mencari tempat  tinggal untuk melepas penat. Jembatan dan emperan toko tak begitu aman jika musim penghujan.
            Suatu hari, hujan turun lebat sekali, Jaya dan ketiga adiknya masih sibuk mengemasi barang-barang mereka yang tidak seberapa. Mereka bermaksud mengungsi ke tempat lain karena  kalau hujan turun dengan lebat kemungkinan besar sungai akan banjir.
            Saat itu tanpa disadari, tiba-tiba air bah datang  dengan gelombang tinggi. Jaya, Karta dan Tama tak sempat menyelamatkan diri dan terbawa air. Kejadiannya begitu cepat, hanya Wulan yang saat itu berada di atas jembatan yang tak terbawa air bah.  Wulan hanya bisa menangis sejadi-jadinya melihat ketiga kakaknya hanyut .
            “Kakak.....Kak Jaya, Kak Karta, Kak Tama................................” Dengan histeris dan dilanda kesedihan yang dalam, Wulan mencari kakaknya. Ke sana kemari Wulan tak pernah lelah mencari. Setiap saat Wulan meneriakkan nama ketiga kakaknya. Jaya, Karta, Tama dengan berlinang air mata. Orang-orang yang bersimpati sudah berusaha membantu mencarikan ketiganya tetapi hasilnya nihil.  Jasad ketiga kakak beradik itu tak ditemukan.
            Berbulan-bulan tanpa mengenal lelah, Wulan selalu mencari dengan memanggil nama  kakaknya. Lama kelamaan orang-orang semakin terbiasa dengan kata-kata yang diteriakkan Wulan yaitu, Jaya, Karta dan Tama. Konon kabarnya, lama kelamaan bertahun-tahun kemudian  kota tempat hanyutnya kakak Wulan di sebut  dengan Jayakartatama, singkatan dari Jaya, Karta dan Tama. Dan sekarang biasa di sebut  dengan kota Jakarta.***


           
           

Tidak ada komentar: