Senin, 18 Januari 2016

Komentar Soal Ledakan Bom Sarinah, Jonru Sehat Jiwanya?

Pasca perostiwa ledakan bom dan penembakan di kawasan Sarinah, Kamis (14/1/2016) kemarin, kembali Si Jonru alias Si Jon Riah Ukuh Ginting membuat sensasi.

Beberapa saat  setelah ledakan,  ia membuat status di Facebook yang intinya  justru meragukan kinerja polisi yang cepat dan treginas dalam mengatasi peledakan dan penembakan.
Tidak ada kalimat yang mengucapkan duka mendalam, kesedihan apalagi mengutuk keras tindakan anarkis para pelaku. Ia justru seperti menyesal dan menyayangkan sikap polisi yang begitu cepat menghabisi para teroris.
Entah apa yang ada di pikirannya atau pertanyaan saya justru apakah Jonru itu sehat jiwanya?
Status Jonru diunggah hari Kamis, jam 1.23 dan seperti biasa dengan cepat di baca, dilike  puluhan ribu orang dan di share ribuan orang.   Parahnya karena ia berteman dengan  ribuan orang dan statusnya dibaca puluhan ribu orang, maka tak heran jika komentar langsung bermunculan yang sebagian besar orang-orang yang sepikiran dengannya yang mudah diracuni dengan status dan analisa ngawur nya.

Seperti inilah tulisan Jonru:

Kamis jam  1.23
Bomnya baru terjadi beberapa menit lalu, tiba-tiba polisi "sudah tahu" siapa pelakunya: ISIS.
Bisa ditebak, setelah ini ISIS akan diperangi dengan membabi-buta.
Saya bukan dalam posisi membela atau menentang ISIS (tentu ada di antara Anda yang masih ingat, beberapa waktu lalu saya bikin posting yang isinya justru membuat saya dibully oleh orang-orang ISIS).
Saya bukan dalam posisi mengatakan "ISIS Islam" atau "ISIS bukan Islam".
Terlepas siapapun ISIS, yang jelas selama ini mereka diidentikkan oleh banyak orang dengan Islam. Menuduh ISIS sebagai teroris, sedikit banyaknya akan membuat Islam kena getahnya.
Saya menyayangkan sikap aparat dan pemerintah kita ini, yang demikian 'SIGAP" dalam menindak para teroris yang "berbau" Islam.
Namun jika pelakunya nonmuslim, berita-beritanya pun segera berhenti, bahkan diundang makan di instana.
Begitulah...
NB: Terserah jika Anda menuduh opini saya ini rasis. Saya hanya berusaha meluapkan RASA PRIHATIN. Sebab sebagai umat Islam, saya merasa agama saya diperlakukan secara tidak adil.





Setidak sukanya ia dengan pemerintah sekarang, mestinya untuk soal-soal seperti ini, ia bisa mikir dan terketuk hatinya. Melihat orang-orang tak berdosa yang menjadi korban sesat pikir,kedangkalan dan sesat ideology sekelompok orang yang mengatasnamakan jihat  yang teriming-imingi surga, mestinya sebagai orang waras, muncul simpati dan empathy. Tetapi nyatanya?
Coba bayangkan kalau tindakan polisi tidak cepat, berapa korban jiwa yang akan berjatuhan, trauma para korban dan masyarakat yang menyaksikan. Juga korban harta benda?

Kembali ke pertanyaan  saya tadi, apakah kira-kira Jonru itu sehat Jiwanya? Silahkan jawab sendiri. Yang jelas, bagi Saya  ia tidak mempunyai rasa empathy sama sekali.

Rupanya Jonru belum benar-benar  kapok dan tobat setelah hampir dilaporkan  fotografer Presiden setelah  analisis ngawurnya mengenai foto Presiden di Rajaampat awal tahun kemarin, yang melecehkan integritas sang fotografer presiden. Ia tidak pernah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah sehingga memperbaiki sikap , tindakan dan statusnya yang seringkali asal jeplak dan menyudutkan presiden . 




Jumat, 08 Januari 2016

Angelina Sondakh Buka-bukaan Rahasia Kasus Nazaruddin

Entah apa  yang mempengaruhi pikiran Angelina Pingkan Sondakh (Angie) sehingga ia 'banyak bernyanyi'
saat menjadi saksi untuk terdakwa M Nazarudin, di Pegadilan tipikor, Rabu (6/1/2016) kemarin. Ya, Angie mulai berani membuka sejumlah hal . Kesaksian mantan putri Indonesia tersebut untuk kasus dugaan suap untuk memuluskan proyek untuk PT Duta Graha Indonesia dan PT Nindya Karya dengan terdakwa  mantan koleganya di DPR, M Nazarudin.


Hal baru yang  dibuka  Mantan Anggota Fraksi Partai Demokrat (PD) Angelina Sondakh adalah  terdapat pembagian jatah untuk fraksi partainya. Jatah yang didapatkan untuk partainya yaitu 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2009-2014. Sebanyak 20% tersebut tidak semua untuk PD tetapi  hanya 5 persen yang murni menjadi fee (komisi) untuk partai.
Angie mengaku mempunyai tugas untuk  meloloskan Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) yang ada pada rapat komisi, sebatas  mengurus proyek di Kemendiknas yaitu untuk pendidikan tinggi dan bukan proyek pendidikan dasar dan menengah.

Nyanyian Angie yang tampil cantik  dengan mengunakan hijab warna pink kemarin terus berlanjut, ia bahkan bertutur kalau  perintah Nazar merupakan perpanjangan instruksi dari pejabat partai di teras atas. Perintah  Ketua Umum, Anas Urbaningrum dan izin dari Pangeran.
Apa yang disampikan Angie tersebut sontak membuat tanda tanya. Kenapa sekarang ia  berani menyebut dan membuka semua itu? Saat dicecar jaksa penuntut dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Jaksa lantas mempertanyakan kembali siapa sosok 'pangeran' yang dimaksud Angie, ia mengatakan kalau pangeran itu adalah Ibas alias Edhi Baskoro Yudhoyono. Dherrrrrr…….

Kenapa seorang Angie begitu berani dan percaya diri membuka rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat, pun saat proses persidangan ia tidak mau membukanya?

Tidak ada yang mengetahuai secara pasti, tetapi bisa jadi inilah yang telah terjadi,
Pertama, selama ini ia mendapatkan janji-janji kosong dari koleganya di PD. Semasa ia ditangkap dan menjalani proses pengadilan, Angie mendapatkan semacam janji manis untuk disegerakan dikeluarkan dari penjara, karena koleganya di PD merasa pasti masih punya kaki dan mampu mempengaruhi  kekuasaan. Selama proses persidangan beberapa tahun lalu hingga vonis dijatuhkan pada Janurai 2013, Angie terkesan diam-diam, menutup banyak informasi dan menutupi sesuatu yang besar. Ia  rela menjadi bemper bagi partainya. Tetapi ternyta janji tinggal janji. Koleganya tak mampu berbuat banyak karena ternyata di bawah pemerintahan Jokowi, tidak mudah untuk membuat yang merah menjadi putih, pun sebaliknya. Mau tidak mau Angie meratap dan merasa di khianati.

Kedua, Bisa jadi karena ia lama mendekam di penjara sehingga  proses tersebut membuat ia lebih berpikir matang, intropeksi diri dan lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah. Seperti diketahui Angie dijatuhi  hukuman 12 tahun penjara dalam kasus korupsi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Awalnya oleh Pengadilan tingkat pertama, yaitu majeliss Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menguatkan vonis dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, ia  dijatuhi hukuman 4,5 tahun penjara. Malangnya, saat banding, majelis kasasi menerapkan pasal 12 A UU Tipikor. Anggie, dinilai aktif meminta imbalan uang ataupun fee kepada Mindo Rosalina Manulang sebesar 7 persen dari nilai proyek dan disepakati 5 persen. Dan harusnya sudah diberikan ke terdakwa 50 persen pada saat pembahasan anggaran dan 50 persen setelah Dipa turun.  Ia dinyatakan secara sah terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut dengan menerima hadiah atau janji terkait dengan jabatannya dengan terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 64 ayat 1 KUHP.
Selain menambah hukuman , ia juga harus mengembalikan uang suap sebesar Rp12,58 miliar ditambah 2,350 juta dolar AS yang sudah diterimanya, jika tidak dibayar maka harus diganti dengan kurungan selama 5 tahun.

Ketiga, Keringanan hukuman yang ia  terima beberapa waktu yang lalu, saat Mahkamah Agung(MA) mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang ia ajukan , membuatnya membuka diri sebagai  whistle blower, memberikan informasi kepada penegak hukum terkait tindak pidana korupsi. MA memberikan keringanan hukuman kepada Angie, hukuman 12 tahun menjadi 10 tahun . Dan denda uang pengganti dari Rp 12,58 M dan USD 2,35 juta menjadi Rp 2 M dan USD 1 juta.

Keempat, ia tahu pemerintahan Jokowi sulit di tembus dengan cara-cara belakang. Kredibilitas Jokowi tidak mudah  dipermainkan hukum, komitmennya untuk melakukan penegakan hukum di Indonesia dan memberikan hukum seberatnya  pelaku korupsi, telah memupuskan harapan akan kebebasan yang lebih cepat.

Kelima, Kerinduan untuk menjadi orang bebas merdeka, bertemu kembali dengan anak dan keluarganya. Setelah dua tahun merasakan menjadi orang yang tidak bebas merdeka, dibatasi segala  haknya, ia tentunya memendam kerinduan yang dalam untuk berkumpul kembali dengan anak semata wayangnya hasil perkawinan dengan Ajie Masaid.  Segala upaya mestinya akan dilakukannya demi untuk meraih kebebasan secepatnya. Ia tentunya tak mau saat keluar dari penjara anaknaya sudah besar, ia tak mau melewatkan kesempatan mengasuh buah hatinya .

Itu sih pendapat saya pribadi, yg tahu sebenarnya ya Angie.

_Solo, 8 Januari 2016_ 

foto. JPPN.com


Anak Presiden Kok Rela Berdiri Kepanasan????

Benar, saya nggak berniat untuk memuji keluarga Jokowi, maunya diam saja, tapi, sungguh terlalu kalau saya memendam rasa saya.


Sebenarnya saya tidak bermaksud untuk menyanjung Mbak Kahiyang Ayu dan adiknya Mas Kaesang Pangarep. Tetapi saya terus terang tidak bisa menahan diri untuk kagum sekaligus salut. Lha gimana lagi, lha wong anak-anak presiden kok sederhana dan nrimo-nya seperti mereka berdua.

 Saya sampai geleng-geleng kepala, tak habis pikir melihat sikap mereka yang bagi saya jarang ada duanya. Kenapa? Saat penanaman kapsul waktu di Kota Merauke beberapa waktu yang lalu, kedua putra Jokowi santai saja, rela berpanas-panasan, berbaur dengan para tamu undangan yang lain. Kapsul waktu berisi mimpi dan harapan putra/putri Indonesia 70 tahun kedepan, yang akan dibuka tahun 2085. Keren dan mantap karena mereka berdua rela berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.Terlihat di foto, Mbak Kahiyang dan Mas Kaesang berdiri bersama tamu undangan yang tidak mendapatkan tempat duduk. Mereka tidak ditempel ketat oleh pengawal, terlihat biasa saja dan terlihat tidak merasa keberatan untuk berdiri.



 Sikap yang seperti ini menurut saya jarang ada. Sebagaimana kita ketahui bersama, biasanya saat ada pejabat, keluarga pejabat menghadiri acara, mereka biasanya minta diperlakukan dengan istimewa. Di sambut dengan meriah, penuh penghormatan, diberikan tempat duduk yang istimewa, paling depan bahkan tak jarang yang tempat duduknya dibedakan dengan para tamu undangan lainnya. Misalnya tamu undangan duduk di kursi lipat biasa, pejabat dan keluarganya pakai kursi sofa. Tidak hanya pejabat tinggi dari pemerintah kabupaten, provinsi, pusat, terkadang pejabat dari tingkat kecamatan, desa saja minta diperlakukan istimewa kok.




Mestinya kedua putra/i presiden tersebut minta diperlakukan istimewa , ditempatkan di kursi terdepan yang empuk dan mahal harganya, di suguhi makanan dan minuman dingin dan segar, tak lupa disediakan kipas angin besar agar tidak keringetan. Biar gampang dilihat tamu undangan, biar terlihat istimewa, biar wartawan mudah mengambil fotonya, biar tidak capek berdiri. Kemudian di kawal sejumlah pengawal.

 Mbak Kahiyang dan Mas Kaesang ‘ngowah-owahi adat’ (diluar kebiasaan, lain daripada yang lain). Agaknya mereka lebih memilih bersikap, 'berdiri sama tinggi, duduk sama rendah'. Mereka terbiasa tidak membeda-bedakan orang lain, tidak jumawa dengan keistimewaan yang mereka rasakan, merasa biasa saja sebagaimana rakyat jelata lainnya. Tidak jaim kalau kulitnya kepanasan, keringat bercucuran. Jadi akhirnya rela berdiri kepanasan tanpa payung lagi.

 Pilihan untuk diperlakukan sama dengan masyarakat biasa tidak lepas dari pengaruh sikap bapak dan ibunya yang memang apa adanya. Saya tahu, tidak mudah mendidik anak menjadi seperti mereka. Hanya keteladanan yang bisa membentuk sikap anak-anaknya mengikuti sikap orangtuanya.


_Solo, 6 Januari 2016_


Sumber foto. Bintang.com

Senin, 04 Januari 2016

Saat Presiden Memilih Pelihara Kodok, dibandingkan Kuda

Sosok sederhana, merakyat dan apa adanya tak lepas dari diri Joko Widodo (Jokowi) meskipun ia sudah menjabat sebagai presiden.
Meskipun terkadang orang menilainya 'ndeso' atau kampungan tetapi ia tetap saja dengan apa yang sudah melekat dan menjadi kekhasannya, tak risih dengan tudingan ndeso dan tidak pernah berubah menjadi jaim.

Salah satu kebiasaan yang tidak pernah berubah adalah kesukaannya memelihara katak/kodok. Sejak belum menjabat sebagai Walikota Solo, ia memang suka dengan kodok. Memang rasanya tak biasa, karena tidak banyak orang yang suka memelihara kodok, bahkan terkadang orang gilo (jijik) dan merinding melihat sosok kodok. 

Bagi orang kota, sangat jarang bahkan bisa dibilang kesulitan mendengar, melihat kodok karena memang kodok jarang berada di kota yang jarang ada sawahnya. Tetapi bagi orang desa, cukup mudah untuk melihat, mendengar suara kodok terutama saat musim penghujan karena binatang itu akan banyak berkeliaran di sawah saat musim hujan tiba. 

Meski tak biasa, Pak Jokowi justru menyukai kodok karena suaranya yang khas sehingga suasana rumah menjadi seakan seperti di desa saja. Kung kong..kung..kong.... sepertinya Pak Jokowi merasakan kenyamanan saat mendengar kodok yang dipeliharanya mulai mendengarkan suaranya. Barangkali itu menjadi salah satu hiburan dari kepenatan dari segala aktvitasnya yang sangat padat.

 Hobi memelihara kodok tidak membutuhkan banyak biaya, menurut informasi, sekilo kodok dewasa tak lebih dari Rp 100.000 saja , bahkan ada yang menjual di bawah Rp 50.000. sehingga saat puluhan bahkan ratusan kodok dipelihara tak membutuhkan banyak biaya. Selain harga bibitnya murah, juga tidak harus diberikan makanan, karena kodok bisa mencari makanan sendiri di habitatnya. 


Saking hobinya, setelah melepas 190 ekor burung di Kebun Raya Bogor, kemarin (3/1), Presiden juga melepas kodok di kolam yang berada di halaman depan komplek Istana Bogor. Hal itu terlihat dari cuitan Kaesang Pangarep lewat akun twitrernya @kaesangp, putra bungsu presiden. "Terimakasih pak presiden @jokowi karena melepas banyak kodok. Dengan begini, bakal lebih banyak #kecebong," disertai foto Pak Jokowi sedang berjongkok sambil memperhatikan kodok yang dilepaskannya.

Kodok-kodok yang dilepaskan Pak Jokowi diharapkan akan terus berkembang dan semakin banyak melahirkan kecebong dan nantinya menjadi kodok dewasa. 

Beruntung presiden hanya memelihara kodok yang tidak membutuhkan banyak biaya dalam pembelian bibit dan perawatannya, tidak seperti kuda misalnya yang harganya jutaan, puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. 

Saya tidak membayangkan kalau presiden hobi pelihara kuda, pasti akan banyak haters yang mencibir, mencaci maki, dengan mengatainya punya hobi yang boros, tidak merakyat, tidak peka terhadap kesulitan masyarakat dll. Memelihara kodok, hobi yang dilakukan Pak Jokowi karena memang sudah dari sononya. Ia senang, hobi, bukan karena pencitraan atau sejenisnya. Sekali lagi setahu saya itu memang hobinya sejak dulu. Bukan hobi yang muncul saat menjabat sebagai presiden.

 Kung..kong..kung..kong...suara kodok akan menyambut tamu yang datang ke Istana Bogor.

 _Solo, 4 Januari 2016_ 

Sumber foto : twitter@kaesangp

Minggu, 03 Januari 2016

Ketika Haters Kesandung Fotografer Presiden

Jika kita biasa mendengar pepatah, ‘Mulutmu harimaumu’ , di jaman serba medos ini, rasanya lebih tepat jika mengunakan pepatah ‘ Tulisanmu, Harimaumu’. Entah sudah berapa banyak orang yang mengingatkan kita semua untuk tidak asal jeplak/ngawur, asal nulis saja. Atau kalau di Jawa biasa dibilang ‘ojo waton ngomong’ (jangan asal bicara) tetapi ‘ngomongo nganggo waton’ (bicara pakai tatanan).


Kalimat bijak tersebut rasanya cukup mengulik-ulik pikiran dan mestinya mampu menahan keinginan untuk asal ngomong/nulis. karena sudah ada kejadian yang tidak mengenakkan karena tulisan yang asal tersebut sehingga berujung pada pidana. Namun demikian, banyak orang yang tak bisa bijak dalam bersikap dan menulis. Tidak belajar dari pengalaman yang sudah ada. Mereka tetap saja asal bicara/nulis tanpa berpikir resikonya. Kalau menulis hal biasa saja, ya tak masalah. Tetapi kalau nulis hal-hal yang menyudutkan pihak lain bahkan cenderung ke arah fitnah, nah apakah sudah siap dengan resikonya? Barangkali ini yang dianggap sepele sehingga terus saja ada orang yang suka mengumbar hasrat untuk menulis di medsos dengan tanpa berpikir panjang. Intinya adalah jangan mengumbar hasrat untuk terus meneruskan kebencian dengan menuliskan hal yang tidak benar, karena urusan hukum bisa menantinya.



Kali ini, ada pelajaran penting dari salah satu nitizen yang memberikan reaksi terhadap foto Presiden Joko Widodo(Jokowi). Si Jon Riah Ukuh Ginting atau biasa di panggil Jonru (J) menulis status di Facebooknya menanggapi foto Jokowi di awal tahun saat berada di dermaga Waiwo Raja Ampat Papua. Seperti diketahui, Jum’at (1/1/2015), Jokowi mengunggah foto dan cuitan di Twitter resminya, @jokowi, dengan kalimat "Fajar perdana 2016 di dermaga Waiwo, Raja Ampat, tempat terbaik di dunia untuk snorkeling," . Diatas tulisan tersebut nampak foto Jokowi sedang duduk santai di dermaga kayu.






 Jonru agaknya meragukan foto Jokowi tersebut bukan foto asli, seperti dalam kalimatnya : "Gaya Jokowi Nikmati Sunrise Perdana 2016 di Raja Ampat" Itulah judul berita dari sebuah media ( http://news.liputan6.com/…/gaya-jokowi-nikmati-sunrise-perd… ), untuk menjelaskan gambar berikut ini. Tak ada yang salah dengan beritanya. Yang membuat saya heran adalah FOTONYA: Sinar matahari dari belakang, tepat di bagian punggung. Namun kenapa di bagian punggung justru ada bayangan? Kenapa bagian punggung justru lebih gelap dibanding bagian depan, padahal cahaya matahari berasal dari belakang? Silahkan bagi teman2 yang pintar Photoshop untuk membuat analisis. Jika ternyata foto ini asli, bukan editan, maka status ini akan saya hapus segera. Namun jika ternyata ini foto editan, PERTANYAAN BESARNYA adalah: Untuk apa bikin foto editan? Apa relevansinya? Wallahualam (smile emoticon)


Mungkin karena kurang jeli atau sok tahu yang cukup besar atau karena memang si J ini sudah kelewat nggak suka dengan Pak Jokowi, ia sampai meragukan foto hasil bidikan Pak Agus Suparto, fotografer presiden.



Akhirnya, Si J itu menepati janjinya, minta maaf hari ini, Sabtu (2/1/2015) seperti yang tertulis di statusnya : “Sesuai janji saya, foto Jokowi tentang Sunrise di Raja Ampat tadi telah saya hapus. Sebab dari hasil komentar sejumlah teman, saya mengambil kesimpulan: 1. Itu foto asli (terbukti dari beredarnya sejumlah foto lain di tempat yang sama dengan pose yang berbeda, dan tanpa efek apapun) 2. Foto yang terlihat seperti tempelan, mungkin karena efek pemakaian flash saat memotret. 3. Oleh desainer (bukan fotografer), foto itu diedit dengan Photoshop. Namun editannya BUKAN dalam bentuk montase (tempelan), melainkan editing berupa efek2 cahaya saja. Mungkin agar fotonya terlihat lebih jelas dan dramatis. Kalau editan yang seperti ini sih, tentu tidak ada masalah. Dengan penghapusan status tersebut, saya minta maaf kepada teman2 sekalian jika ada kekhilafan dari pihak saya. Sebab saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Dan dari kesalahan, kita bisa belajar banyak hal. Termasuk belajar menganalisis keaslian foto smile emoticon Terima kasih, salam sukses selalu!”


 Mmm, benarkah cukup dengan minta maaf saja? Rasanya kok sederhana sekali, enak benar (penakmen) setelah bikin status yang kemungkinan sudah di baca bahkan dishare ke ratusan/ribuan orang (biasanya kalau si J ini bikin status yang baca, komentar, share banyak sampai sekian ratus bahkan sekian K), ia hanya cukup minta maaf saja?

Seandainya Pak Agus Suparto, fotografer istana, memberikan efek jera dengan melaporkan Si J ini, bagi saya itu wajar saja. Karena setahu saya, bukan sekali di Si J bikin status yang isinya menjurus fitnah. Integritas pak Agus Suparto sebagai fotografer senior yang sudah lama melalang buana di jagad fotografi seenaknya diragukan. Padahal beliaunya ini benar-benar selalu menyertai dan mengabadikan kegiatan Presiden Joko Widodo. Rasanya, kita harus lebih hati-hati, terutama kalau di medsos berteman dengan sekian K orang, mempunyai sekian K followers dan status kita sering dishare dan menjadi rujukan.

Seseorang tidak akan menjadi besar dengan kebohongan yang selalu disampaikan. Suatu ketika ia akan jatuh oleh ulahnya sendiri.’


 _Solo, 2 Desember 2015_

Cara Cerdas Putra Jokowi Tanggapi Haters

Gaya cuek dan nggak peduli ala Mas Gibran, putra sulung pak Joko Widodo (Jokowi) rupanya memang membuatnya 'lebih nyaman' untuk meneruskan 'hidupnya'. Daripada mikir para haters yang sejak bapaknya terpilih menjadi Presiden semakin santer dan menyakitkan, rupanya Mas Gibran lebih baik nggak nganggep, mungkin dipikirannya bilang 'mbokben' ' raurus' , 'sak-sakmu' , 'terserah kalian' atau 'mboh...'. Gaya cueknya sepertinya memang sudah dari sononya. Alias sudah begitulah karakter suami dari Mbak Selvi Ananda ini.

Melihat gencarnya haters yang tak juga mereda untuk mencela, memfitnah, mencaci keluarga Pak Jokowi, kalau di pikir memang hanya menembah beban pikiran saja. Bisa jadi kalau digagas terus, para putra/putri Pak Jokowi malah sibuk ngurus dan mikir hal-hal yang tak penting tersebut, alhasil bisa menghambat aktivitas mereka.

 Menyimak tweet Mas Gibran dalam twetternya CHILLI PARI CATERING @Chilli_Pari, kecuekan dan sikap santai dibalut kekocakan tetapi sarat dengan sindiran terlihat dari tulisannya. Putra sulung Pak Jokowi tersebut rupanya tidak mau terlalu mikir serius ulah orang-orang yang selama ini terus menebarkan fitnah dan kebencian. Ia lebih suka membawanya happy saja dilihat dari guyonan dari tweet-nya.


Salah satu yang mengelitik dan mestinya cukup menohok para hater adalah tweetnya akhir tahun 2015 lalu. Kalimat sederhana yang kalau dimaknai sarat makna yaitu "Yuk makan siang dulu. Ngeshare berita kebencian juga butuh asupan gizi lho" dengan gambar salah satu menu andalan warung martabak Markobar miliknya yaitu martabak 8 rasa. Dalam gambar tersebut terlihat dua orang sedang duduk, dihadapkan sebuah meja yang berisi martabak. Salah satu bagian martabak sudah berpindah di sebuah piring kecil dan dipotong dengan sendok, siap di santap.

Mas Gibran tak mau ambil pusing dengan ulah para hater terutama diakhir tahun saat ada yang mempertanyakan soal acara mitoni istrinya yang dinilai belum menikah genap 7 bulan tetapi sudah mengelar acara Mitoni(acara syukuran peringatan saat hamil tujuh bulan). Dengan cerdiknya, pebisnis muda ini menuliskan kalimat sindiran tetapi juga sambil mempromosikan martabak andalan warungnya. Masih banyak tweet dari @Chilli_Pari yang mengelitik, misalnya dengan kalimat sederhana untuk menjawab komentar miring tentang dirinya yang sederhana , misalnya dengan kalimat : "Dan ini salah satu orang kampung yang menikah di graha saba" dengan foto pernikahan Mas Gibran-Mbak Selvi dengan latar belakang gedung graha saba, gedung milik Pak Jokowi sekaligus tempatnya menikah bulan Juni lalu.


Gaya santai, cuek dan jenaka Mas Gibran adalah gaya khasnya, meskipun diawal kemunculannya banyak menuai cibiran dan banyak yang menilainya sombong. Tetapi dengan apa yang dia lakukan tersebut, membuatnya tetap santai dan nyaman menjalani hari-harinya, kegiatannya, bisnisnya. Yang jelas juga mampu membuatnya semakin kuat dari terpaan gosip, fitnah yang sangat mungkin akan semakin berat menderanya sepanjang perjalanan bapaknya sebagai orang nomor satu di negri ini.


_Solo, 2 Januari 2016_

sumber foto : @Chilli_Pari