Senin, 06 Juli 2015

Bola Perak Zola

              Wusssssssssssssssssssss......
               Bola kecil jatuh dari langit, perlahan membesar dengan diselimuti asap putih. Tak sampai sepukuh menit, besarnya sudah mencapi dua meter. Samar-samar asap putihnya memudar dan perlahan hilang tertiup angin.
           Alma memandang takjub, matanya tidak berkedip.  Ia melihat semua keajaiban di depan matanya.


Dari bola kecil menjadi bola raksasa dan sekarang yang tampak didepan matanya sebuah benda yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bola raksasa itu berwarna perak , mempunyai tiang penyangga dan diujungnya ada antena kecil. Belum hilang rasa takjubnya, tiba-tiba benda aneh itu mengeluarkan sinar menyilaukan dan perlahan ada sebuah pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Dari dalam bola aneh itu munculkan seorang  anak perempuan cantik. Ia memakai baju setelan warna perak dan sepatu warna senada. Rambutnya yang panjang di kucir tinggi dengan mengunakan  kucir warna perak.  Tinggi anak perempuan itu tidak terlalu  berbeda jauh dengan Alma. Kemungkinan usia mereka juga sebaya.
            
Gambar :https://www.google.co.id/search?q=Gambar+makhluk+luar+angkasa+kartun&biw
               Alma menatap heran dan lagi-lagi takjub. Siapakah gerangan anak perempuan ini? Darimana asalnya? Pasti ini anak dari planet lain yang dikirim ke bumi untuk membantu manusia, batin Alma senang.
            “Hei, kamu, sini. Jangan sembunyi di balik pohon,” suara anak itu cukup keras sehingga membuat Alma kaget.
            Tidak ada siapa-siapa. Anak itu bicara dengan siapa?” tanya Alma dalam hati.
            “Hei, kamu. Anak yang berbaju merah. Kenapa tidak segera keluar?”
            Alma terkesiap memandang bajunya yang berwarna merah.  Tidak salah lagi, anak perempuan itu memanggilnya. Rupanya ia tahu kalau aku sembunyi di sini, batin Alma sambil keluar dengan ragu-ragu.
            Alma terbelalak, persis dihadapannya Si Anak Perempuan itu tersenyum  sambil mengulurkan tangan.
            “Namaku Zoya. Siapa namamu?”
            “Alma,” jawab Alma masih diliputi  rasa terkejut.
            “Hai, Alma. Kenapa dari tadi sembunyi di sini? Kamu takut melihatku?”
            Alma mengelengkan kepala.
            “Tidak. Tapi aku terkejut melihat kedatanganmu. Ehm, Zoya, kamu dari mana?”
            Zoya tersenyum. Tanpa berkata apa-apa ditariknya tangan Alma. Meskipun badan Zoya sebesar dirinya, tetapi tarikan tangannya sangat kuat. Alma hanya bisa mengikuti langkah kaki Zoya dengan pasrah. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain mengikuti kaki teman yang baru dikenalnya.
Mereka masuk ke dalam bola perak aneh  yang tadi digunakan Zoya untuk keluar. Berulangkali Alma berdecak kagum  melihat isi bola perak  milik Zoya. Ada dua ruangan besar, satu berisi alat-alat kemudi semacam ruang kemudi pesawat yang sangat canggih . Satu ruangan lagi berisi perlengkapan bermain yang dilengkapi dengan sebuah layar monitor besar. Zoya mengajak Alma duduk di kursi sofa yang sangat lembut.  Hanya dengan menjentikkan jari, muncullah robot kecil yang mengantarkan minuman dingin dan makanan kecil.  Sambil minum, Zoya menyentuh sebuah tombol yang membuka layar monitor besar. Banyak sekali kejadian di bumi yang bisa dilihat dari layar monitor. Bahkan Alma bisa melihat ayah dan ibunya sedang mencari kayu bakar di ladang. Selain itu orang-orang di kampung dan diberbagai belahan bumi tampak terlihat semua dengan jelasnya. Zoya memencet  sebuah tombol dan terlihat kegiatan Alma yang tadi dilakukannya. Semua teraekam jelas.  Ehm, pantas saja Zoya tahu kalau aku sembunyi di balik pohon, kata Alma dalam hati.
            “Aku berasal dari planet Venus. Aku datang ke bumi  karena mendengar bumi sedang mengalami kekeringan. “
            “Planet Venus?”
            Zoya mengangguk.
            “Apakah kamu bisa membantu kami?” tanya Alma penuh harapan.
            Hahahaha. Zoya tertawa sambil memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan putih. “Dengan alat ini, aku bisa membantu manusia di bumi. Aku sedih melihat kalian kekeringan dan bahkan banyak yang kelaparan. Percayalah, aku akan membantu kalian untuk mengatasi kekeringan.”
            Alma tertawa girang. Ia senang ada makluk dari planet lain yang peduli dengan manusia di bumi. Tanpa banyak pertimbangan, Alma mengikuti Zoya terbang tinggi di awan dan membantu Zoya mengumpulkan bulir-bulir awan biru.
Beberapa saat kemudian Zoya menebarkan awan biru  dari langit dan disusul tebaran biji-biji berbagai tanaman. Zoya mengajak Alma duduk melihat hasil kerja  mereka dari layar monitor. Betapa takjubnya Alma ketika melihat hujan turun di seluruh bumi dengan derasnya. Saat titik air hujan membasahi bumi, disusul dengan ribuan pohon, bunga, benih tanaman padi, jagung, ketela, kacang, sagu dan tanaman pangan lainnya yang tumbuh dengan cepat  dan sarat dengan bunga dan buah. Alma melihat semua penduduk bumi bersuka ria, tertawa bersama sambil memanen biji-biji yang ranum dan segar. Wajah mereka berseri-seri penuh rasa syukur. Kekeringan yang melanda selama hampir  dua tahun dan telah menghilangkan banyak nyawa karena kelaparan sudah menjauh dari mereka. Tidak ada lagi pohon yang mengering dan tumbang. Tanah gersang dan debu-debu yang selalu menyelimuti hari demi hari hilang sudah. Wajah-wajah pucat dan tak bersemangat sudah berganti dengan wajah segar, ceria dan penuh gairah kehidupan.
            “Terima…….ka…sih…”ucapan Alma tertahan ditenggorokan. Zoya melambaikan tangan didepan pintu bola perak-nya yang terus membumbung tinggi. Entah sejak kapan Alma berada di bumi, ia tidak tahu. Setahunya ia masih didalam bola perak Zoya setelah melihat bumi seisinya kembali berseri. Alma membalas lambaian tangan Zoya dengan penuh rasa syukur. Terimakasih sahabat, katanya lirih. Dan bola perak Zoya-pun hilang tak berbekas. ***

Permainan terakhir

                Hamparan tanah luas yang terletak di pinggir desa itu tampak ramai, tak seperti hari-hari sebelumnya. Sudah beberapa hari ini ada beberapa truk keluar masuk desa mengangkut bahan-bahan bangunan. Mondar- mandir kleuar masuk menurunkan pasir, semen, batubata, batu kali, kerikil, besi dan bahan bangunan lainnya.


            Debu mengepul dari roda truk pengangkut yang berasal dari kota. Suara roda truk ribut membelah keheningan desa. Kambing, sapi, kerbau yang biasa  merumput di tepi jalan, tampak panik dan menepi. Kehadiran  truk itu pasti menganggu ketenangan mereka.  Beberapa orang desa tampak terheran-heran, sebagian besar dengan penasaran mengikuti  kemana truk itu berhenti. Anak-anak pengembala ternak nampak tertarik dengan kesibukan truk, ada rasa senang melihat keramaian. Maklum di desa mereka sangat jarang  mobil, truk lewat. Dengan muka senang anak-anak mengejar truk tanpa menghiraukan debu yang beterbangan terhirup hidung.
            Truk berhenti di hamparan tanah luas yang sudah bertahun-tahun tak dirawat oleh pemiliknya. Tanah  seluas 3 hektar tersebut   kabarnya milik seseorang yang tinggal di kota besar. 
               Beberapa tahun yang lalu tanah di beli dari penduduk desa, tetapi kemudian tidak dipergunakan untuk apapun. Anak-anak memanfaatkan tanah kosong itu untuk bermain sepak bola dan permainan lainnya dan sebagian untuk merumput sapi, kerbau dan kambing. Sungguh beruntung, karena di desa tidak ada lapangan sepakbola.   
Anak-anak riang bermain (dok. Suci)

            Beberapa orang nampak sibuk menurun kan barang-barang  dari dalam truk. Sebagian lagi memasukan semen, besi ke dalam rumah yang terbuat dari triplek dan kayu. Rupanya rumah yang dibuat mendadak itu  semacam gudang yang dipergunakan untuk menyimpan bahan bangunan.  Puluhan orang lainnya nampak sibuk dengan beragam kegiatan, ada yang membuat galian di tanah, mengaduk semen dan pasir, membuat pondasi dari batu dan semen. Selain truk,  ada sebuah mobil  bagus parkir di bawah pohon jati. Tampak seorang laki-laki berpakaian bagus, bersih  memberikan perintah sana sini kepada sekumpulan laki-laki yang menurunkan barang dari truk. Tangannya menunjuk sana sini sambil sesekali berkacak pinggang.
            Sekar termangu memandang semua keramaian yang tak pernah dia lihat sebelumnya. 
            Di Desa Banyu Bening, tempat tinggal Sekar, jarang sekali ada truk yang datang dari kota membawa barang-barang seperti yang dia lihat. Desa Banyu Bening terletak di pelosok kabupaten, sekitar 5 km dari kota kecamatan dan 25 km dari kota kabupaten. 
             Untuk menuju desa kecil yang masih asri tersebut harus ditempuh dengan kendaraan pribadi atau ojek yang biasa mangkal di desa sebelah. Tak ada angkutan umum yang melintas desa, sehingga jasa ojek menjadi pilihan warga desa. Meski harus membayar uang ojek yang mahal tetapi warga yang tidak mau kecapekan sampai di rumah mengunakan jasa ojek. Bagi warga yang hidup pas-pasan terpaksa harus jalan kaki menembus jalanan berbatu atau mengunakan sepeda.
            Suara keras laki-laki berpakaian bagus itu saat menegur pekerjanya mengangetkan Sekar. Tas sekolahnya hampir terlepas dari bahunya. Dengan  hati-hati Sekar beringsut  agak menjauh dari kesibukan orang-orang kota. Sekar tidak tahu persis orang-orang itu mau mengerjakan apa, tetapi yang jelas seperti sedang membuat  sebuah bangunan. Sekar bergegas pulang ketika mendengar adzan dhudhur berkumandang. Berarti sudah hampir 1 jam Sekar berada di tempat itu, mestinya Sekar sudah di rumah. Setengah berlari Sekar membelah siang dengan menutupi kepalanya dengan tas sekolahnya. Mudah-mudahan ibu tidak marah karena Sekar pulang terlambat, doa Sekar dalam hati.
**
            Setiap sore hari setelah sholat ashar, bapak dan ibu biasa duduk-duduk  diteras rumah sambil melepas lelah setelah bekerja seharian di sawah. Mereka terbiasa membicarakan berbagai hal yang terjadi hari itu sembari menunggu adzan magrib berkumandang. Sekar dan Satrio adiknya tak mau ketinggalan, terkadang ikut duduk-duduk, tetapi tak jarang Satrio asyik bermain mobil-mobilan sendirian.
            Bapak tampak asyik mengisap rokok tengwe, tampak asap tebal bergulung  dari  rokok yang biasa di hisap warga desa. Tak perlu membeli rokok ke warung, bapak dan sebagian warga desa lainnya sudah terbiasa meracik rokok sendiri, rokok tengwe. Hanya butuh tembakau, klobot pembungkus dari lapisan jagung, dan sedikit cengkeh.  Tak perlu keahlian khusus untuk membuatnya, Sekar pun bisa membuat rokok tengwe, hanya butuh tembakau  yang  ditaburi sedikit cengkeh kemudian di gulung dengan klobot.
            Ibu duduk di kursi panjang sambil membersihkan beras, ada beberapa kerikil yang tercampur dengan beras. Kalau ibu tak sempat memilah kerikil, sesekali kerikil bisa ikut dalam suapan karena bercampur dengan nasi yang sudah di masak.
            “Pak, tanah di pojok desa itu mau dibangun apa ya?” Sekar duduk mendekati bapak, tangannya menutup hidung karena tak  tahan dengan bau tembakau yang cukup mneyengat. Meskipun Sekar sudah beberapa kali mengingatkan bapak untuk mengurangi merokok, tetapi Sekar tetap senang membantu melintingkan rokok buat bapaknya.
            “Memang kenapa?”tanya bapak heran dengan pertanyaan Sekar. Setelah terbatuk-batuk sebentar, bapak menyelesaikan hisapan terakhir rokok tengwe-nya. Rokok yang tersisa di matikan dengan menyentuhkan pada kursi , kemudian di lempar ke halaman. Satu kebiasan yang tak disukai Sekar, tetapi tetap saaja dilakukan bapak. Dengan bersungut-sungut Sekar memungut puntung rokok dan di buang ke tempat sampah di dekat teras.
            “Sekar melihat banyak truk datang membawa bahan bangunan. Ada juga yang mulai membuat lobang, membuat bangunan dari triplek . Pokoknya banyak keramaian di sana pak,”
            “Kabarnya memang mau dibangun tempat untuk penginapan. “ jawab bapak datar.
            Sekar mengerutkan keningnya, tak begitu paham dengan penjelasan bapak. “Buat apa dibangun penginapan pak? Memang siapa yang akan menyewa? “
            Bapak tak segera menjawab, tangannya meraih gelas berisi segelas kopi kental di meja. Sekali teguk setengah kopi kental panas sudah tandas. Nampak kepuasan di wajah bapak setelah rokok dan kopi ludes  dalam waktu yang cepat.
            “Pak...?” Sekar terus mendesak penjelasan bapak. Satu kebiasaan Sekar yang terkadang membuat bapak tak mampu menjawabnya. Meskipun Sekar baru kelas V tetapi rasa ingin tahunya sedemikian besar. Banyak hal yang sering ditanyakan ke bapak dan ibu, tetapi kadang-kadang  kedua orangtuanya tak mampu untuk memberi penjelasan yang memuaskan. Meskipun hanya bekerja sebagai petani , bapak cukup pintar dan punya banyak pengalaman. Tetapi untuk menjawab semua rasa ingin tahu anak sulungnya, kemampuan bapak tak cukup memadai. “ Ya bapak belum tahu banyak. Coba kapan-kapan bapak tanyakan ke pak Lurah kalau ketemu ya.” Jawaban bapak cukup memuaskan Sekar, karena dia tahu bapaknya biasa menghadiri pertemuan pengurus  RW yang terkadang di hadiri pak Lurah. Sekar berharap pak Lurah akan memberikan penjelasan yang dia butuhkan.
**

            Sekar asyik bermain air dengan Satrio dan teman-temannya di sungai pojok desa. Sungai itu dialiri air yang jernih, dan melimpah. Selain dipergunakan untuk mandi, berendam, mencuci baju  juga sebagai arena permaian anak-anak. Meskipun cukup dalam, tetapi batu-batu besar dan kecil  terlihat dengan jelas dari permukaan sungai. Di bagian pinggir ibu-ibu biasa mencuci baju, sedangkan ditengah dipergunakan untuk permainan arum jeram, mengunakan ban bekas. Arus yang cukup deras dengan terjalan batu membuat permainan arum jeram mengasyikkan. Hampir semua anak di desa  sudah pernah merasakan permainan yang tak membutuhkan biaya serupiahpun.
            Sekar tertawa melihat teman-temannya menjerit kesenangan karena ban yang di naiki terbalik. Bagi mereka, permainan itu asyik dan sangat berharga. Untuk ukuran warga desa, tak mudah menikmati permainan, sehingga bermain di sungai itu menjadi satu-satunya hiburan yang dapat dinikmati anak-anak.
            Pandangan Sekar terpaku pada kesibukan para pekerja di lahan pojok desa. Pandangan matanya sesekali berhenti pada keasyikan teman-temannya di sungai. Jarak bangunan dan sungai  tak lebih dari 100 meter, sehingga semua nampak jelas dari sungai. Sudah sekitar 3 bulan, puluhan pekerja tak henti menyelesaikan berbagai bangunan yang sekarang sudah nampak bentuknya. Puluhan kamar-kamar, bangunan besar seperti  rumah makan, ruang pertemuan dalam proses penyelesaian.   
               Bapak belum menjawab pertanyaan Sekar tempo hari, karena belum dijawab juga oleh pak Lurah. Kata bapak, pak Lurah belum bisa memberikan kepastian. Hanya saja bangunan itu milik orang kota yang telah membeli lahan pekarangan dari pemilik sebelumnya. Tetapi Sekar sebenarnya sudah mengetahui semua bangunan itu dari para pekerja bangunan. Rasa penasaran Sekar yang dalam mendorongnya mencari informasi  sendiri. Dan Sekar tahu kalau bangunan itu akan dijadikan penginapan  dengan berbagai fasilitas lainnya seperti rumah makan dan ruang pertemuan. Pemilik penginapan  itu akan mendorong sungai yang biasa dipergunakan warga  menjadi tempat wisata arum jeram.   Kabarnya  akan dilengkapi sarana permainan lainnya seperti flying fox, tempat outbond, dll. Penginapan dan restouran untuk mendukung tempat wisata tersebut. Yang membuat Sekar terkejut karena sungai dan lahan disekitarnya sudah dibeli oleh orang kota itu.
            Sekar termangu untuk sekian kalinya. Kalau semua ini sudah dibeli, berarti tak akan ada lagi tempat permaianan gratis yang selama ini dipergunakan anak-anak desa. Kemana lagi Sekar dan teman-temannya akan bermain? Sekar tergagap oleh teriakan Sri, temannya yang mengajak Sekar segera turun ke sungai. Rupanya Sekar melamun cukup lama. Tak ingin mnegecewakan Sri, Sekar segera menyusul Sri naik ke ban yang segera meluncur. Sekar tertawa-tawa mengiringi tawa riang teman-temannya. Tinggal menghitung hari mereka semua masih bisa menikmati permainana itu, batin Sekar sedih.***
           

Kamis, 02 Juli 2015

Merajut Impian di Sudut Rel Kereta Api

             Gerimis turun dengan rintik air hujan yang semakin lama  membesar. Beberapa penguna sepeda motor yang awalnya tak menghiraukan hujan yang membasahi tubuh mereka mulai menepi, mencaro emperan toko. Sebagian berteduh dibawah pohon untuk memakai jas hujan.


Para pengayuh becak berhenti membuka jas hujan tipis yang biasanya tak mampu menutupi seluruh tubuhnya, hanya bagian kepala dan badan saja tertutup plastic tipis yang sebenarnya tak layak digunakan sebagai jas hujan karena terlalu tipis.
            Ku pacu sepeda motorku menembus rinai hujan, mencoba tak pedulikan hujan. Satu hal yang kusesali, aku lupa memasukkan kembali jas hujan ke jok motor setelah kemarin kujemur. Hampir setiap hari hujan turun, jas hujan menjadi sangat bermanfaat. Tetapi kalau sampai lupa seperti hari ini, ya terpaksa harus rela berhujan-hujanan. Tak mungkin aku berteduh, sementara  ada kegiatan penting yang harus aku lakukan. Mudah-mudahan jaket kulit yang ku pakai mampu melindungi tubuhku dari air hujan yang akan menembus pakaianku, doaku sepanjang perjalanan.
Gambar :https://www.google.co.id/search?q=gambar+rel+kereta+api+kartun&biw=1350&bih=627&tbm

            Kususuri jalan Slamet Riyadi dengan tetap memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Beruntung hujan semakin reda, sepertinya hujan deras sudah berlalu sehingga tinggal gerimis  kecil yang masih tersisa. Meskipun  tinggal rintik-rintik, tetapi  hari   kelihatan gelap karena mendung tebal masih terlihat bergelantung di langit. Padahal belum terlalu sore, kulihat jam tanganku baru pukul 15.30.
Motor ku belokkan kearah jalan Sam Ratulangi dan berbelok menyusuri  gang-gang kecil. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kuberhenti tepat di  tepi jalan  depan warung  kecil. Kulihat Bu Warni sedang membuka penutup plastik yang digunakan untuk menghalangi air hujan yang bisa  membasahi dagangannya.
            “Kehujanan mbak? “ Sapa bu Warni ramah seperti biasanya.
            Setelah memarkir motor dan membuka helm, ku sisir  rambut tebalku  yang terlihat tak rapi lagi. Kucir kudaku  nyaris sudah tak berbentuk karena melorot. Ku buka jaket kulitku  yang sebagian besar basah karena  menahan hujan, lumayan kaosku tak sampai basah tertembus hujan, meskipun celana jeansku lumayan lembab.
” Iya bu, lupa nggak bawa jas hujan. Dagangan laris ?” kuhampiri bu Warni dan menjabat tangannya seperti biasa kalau bertemu.
            “Lumayan mbak, musim hujan begini tak terlalu mengharapkan  dagangan laku. “ujarnya.
Ku lihat masih cukup banyak dagangan di meja kecil. Ada beberapa toples buah nanas, ager-ager, kolang-kaling, janggelan dan buah melon yang digunakan untuk es buah. Gorengan tahu, tempe , ubi juga terlihat masih menumpuk. Mestinya kalau musim hujan Bu Warni menganti jenis dagangan menyesuaikan musim. Es buah tak bisa diharapkan menjadi menu menarik di musim seperti ini.
            “Siti sudah kumpul di markas bu? “ tanyaku ketika kulihat di rumah bu Warni sepi.
            “Sudah tu mbak, sejak habis  sholat ashar tadi sudah pergi. Ngga tahu ke markas atau ke rumah Kiki .” jawab bu Warni lagi. Tangannya mengeringkan toples barisi jajanan anak-anak.
            “Gorengan komplit, ya bu,” ku angsurakan uang Rp 5.000.
Bu Warni menangguk senang dan tangannya dengan cekatan mengambil  tempe, tahu, ubi goreng.
            “Nanti tehnya saya antar, ya mbak.”
            “Nggak usah, bu. Saya sudah bawa air putih. “ jawabku singkat sambil menerima plastik kecil berisi gorengan. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membawa sekedar makanan kecil untuk anak-anak. Karena hujan, aku tergesa-gesa sehingga lupa mampir toko. Untung saja dagangan bu Warni masih ada.
            “Nitip motor bu. Saya jalan dulu, bu,”
            “Yuk mbak..”

Kulihat di markas hanya ada Agus yang sedang asyik bermain kereta api yang terbuat dari kayu balok yang di di gandeng. Mainan sederhana yang di hasilkan dari tangan –tangan mugil anak-anak yang tinggal di bantaran rel  Kereta Api.
            “Halo, Gus, temannnya yang lain mana?” ku hampiri Agus yang tersenyum ceria melihat kedatanganku. Tangannya mengelayut manja sambil mendekapku. Kebiasaan Agus dan teman-temannya kalau ketemu denganku di markas. Tempat yang biasa di sebut markas oleh anak-anak ini sebenarnya hanya  sebuah gudang bekas yang disudah lama tak dipergunakan  lagi si empunya, PT Kereta Api.
Dahulu sebelum digunakan untuk tempat bermain dan belajar anak-anak, markas ini begitu kumuh dan banyak sampah berserakan. Beberapa pengamen dan pemulung biasa mengunakan untuk berteduh atau sekedar untuk melepas lelah. Sekitar setahun yang lalu setelah aku ketemu dengan anak-anak dan setiap seminggu sekali mengumpulkan mereka di tepian rel kereta api mengajarkan mereka belajar, ketua RT dan bapak-bapak menawarkan gudang kosong untuk tempat belajar.  Rupanya mereka kasihan melihat anak-anaknya belajar di tepi rel kereta api yang lumayan bising, terlebih kalau musim hujan kegiatan tak bisa dilakukan lantaran kehujanan.
Setelah bergotong royong membersihkan gudang, ‘markas’ sudah bisa dipergunakan. Tak ada barang berharga, kecuali hanya beberapa buku-buku bekas yang ku beli dari pasar buku bekas dan dari sumbangan teman-teman yang peduli, beberapa set alat tulis dan pensil warna serta mainan dari barang-barang bekas.
            “Belum pada datang mbak, dari siang hujan sih,” jawab Agus sambil melepaskan dekapan tangan. Agus menarik tanganku dan memperlihatkan gambar yang dibuat. Sebuah gambar bangunan rumah yang di depannnya ada beberapa anak-anak.
“Ini sekolah mbak, dan ini Agus sama teman-teman,” tanpa ku tanya mulut mugilnya sibuk berceloteh sambil menceritakan imajinasinya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh sekaligus trenyuh mendengar keinginan  yang besar dari Agus.
Rata-rata anak-anak penghuni rumah di bantaran ini berusia 4-6 tahun dan belum  bersekolah. Ada beberapa anak yang bahkan sudah berusia diatas 7 tahun tetapi belum disekolahkan. Keterbatasan kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan orangtua mereka yang pekerjaannya menjadi pemulung dan pengamen tak mampu menyekolahkan.  Alasan itupula yang mendorongku untuk sekedar berbagi pengalaman dengan membantu anak-anak belajar dan bermain.
Seminggu dua kali, hari Selasa dan Sabtu sore biasanya aku menemani mereka untuk sekedar belajar  membaca, menulis, berhitung, mengambar dan bernyanyi.  Sesekali aku juga mengajak mereka untuk membuat mainan sederhana  dari barang-barang bekas yang diperoleh dari orangtua mereka. Mendorong mereka kreatif dengan memanfaatkan barang yang tak terpakai lagi sehingga mereka mampu menghargai hasil kerja keras orangtua  dari bekerja  mengumpulkan barang bekas tersebut.
            Sekitar 15 menit kemudian, nampak Lusi, Kiki dan  Siti datang. Mereka bertiga membawa mainan kapal-kapalan dari kertas koran bekas. Rok kumal Kiki basah di bagaian bawah. Setelah bersalaman, mereka segera bergabung dengan Agus yang tampak antusias memperlihatkan gambar sekolah impiannnya. Terdengar tawa dari mulut mereka  yang sesekali ditimpali celoteh riang. Tanpa di minta ketiga anak perempuan tersebut segera mengambil selembar kertas HVS yang bertumpuk di dalam kardus. Tidak semua kertas itu baru, sebagian besar kertas bekas yang dimanfaatkan di belakang. Aku segaja membawakan kertas-kertas bekas yang kuminta dari teman-teman, baik kertas bekas  skripsi  yang tidak jadi, maupun tugas kuliah lainnya. Temanku juga senang tak perlu repot membuang kertas, karena sudah aku ambil secara rutin.
Dengan pensil yang tak lagi panjang, mereka tampak asyik mengambar.  Pensil-pensil yang mereka gunakan sebagian besar berasal dari pensil hotel. Ketika mengikuti seminar atau kegiatan  yang diselenggarakan berbagai lembaga  di hotel, biasanya aku mengumpulkan pensil tersebut. Jarang orang mau mengunakan pensil hotel yang tidak terlalu tebal  dan bagus kualitasnya sehingga aku manfaatkan untuk anak-anak.
Aku tersenyum mengamati kesibukan mereka . Hari ini anak anak memang belajar mengambar, ku biarkan mereka menuangkan imajinasinya, sambil menunggu anak-anak yang lain datang. Biasanya ada sekitar 10 anak yang ikut belajar di markas.
“Assalamu’aluikum…”
“Waalaikum salam, “jawabku. Kulihat  pak RT di depan pintu masih lengkap dengan payung warna birunya.
“Mbak Sekar…”
“Iya, pak RT?” ku hampiri pak RT. Setelah bersalaman, terpaksa aku berdiri sambil berbicara. Pak RT tidak mau masuk dan memilih berdiri, masih di posisi semula, di depan pintu.
“Maaf, ya mbak. Saya terpaksa mengabarkan berita ini…” pak RT tampak ragu, diam sejenak.
Aku menatap pak RT penuh pertanyaan.
“Sebenarnya saya tidak enak menyampaikan hal ini. Tetapi sebagai RT yang bertanggungjawab ketertiban dan kenyamanan lingkungan di sini, saya dengan berat hati mengatakan semua ini.”
“Maksud bapak?” Aku agak tak sabar menunggu penjelasan pak RT. Tidak biasanya pak RT mengunjungi markas kami, entah mengapa sore ini saat hujan dia datang.
“Begini, mbak….” Pak RT mengantung kalimatnya.
Aku mengangguk, menyakinkan pak RT bahwa aku siap menunggu berita yang dia bawa.
“Beberapa hari yang lalu pihak PT KAI datang ke rumah saya dan menyampaikan berita , eh…maksud saya mereka minta eng……” Pak RT memandang kearah anak-anak yang masih sibuk dengan gambaran mereka, tak terusik dengan kedatangan pak RT. “ Mereka akan mengunakan gudang ini kembali. Jadi mereka…mereka…. minta gudang ini untuk di kosongkan, “pak RT mengakhiri kalimatnya dengan gugup.
“Maksud bapak, gudang ini tidak boleh digunakan anak-anak lagi?”tanyaku tanpa bisa mneyembunyikan keterkejutan.
Pak RT hanya mengangguk dengan sungkan.
“Tapi..tapi…pak, bukankah dulu bapak juga tahu kalau gudang ini kosong dan dimanfaatkan anak-anak untuk belajar?” tanyaku lagi dengan gusar. Setelah bertahun tahun gudang ini kosong dan kotor, warga membersihkan dan mengatur ruangan sederhana ini untuk tempat belajar. Anak-anak memanfaatkan selama setahun lebih dan merasa sudah  merasa nyaman dan sangat membutuhkan markas mereka. Sekarang kenapa seenaknya  di minta kembali?
“Ya, begitulah, mbak. “ jawab pak RT pendek.
“Apakah bapak tidak menjelaskan fungsi gudang ini sekarang? Apakah bapak tidak minta ijin mereka?” tanyaku bertubi-tubi.
“Saya sudah berusaha mbak. Tapi ya, gimana lagi. Gudang ini milik mereka, dan anak-anak hanya memakai atau meminjam saja.Lha kalau diminta yang punya, mau tidak mau ya harus dikembalikan tho?” jawab Pak RT tegas. Kali ini tidak ada nada gugup dalam kalimatnya. Rupanya pak RT menemukan alasan yang tepat untuk menyakinkan diriku bahwa tempat ini memang hak mereka.
“Tapi, pak…?”
“Tidak ada tapi-tapian, mbak. Mereka tidak mau kompromi,”potong pak RT cepat.
Aku memandang anak-anak dengan sedih. Kesenangan mereka tidak akan bertahan lama lagi. Aku mengeluh dalam hati. Kasian sekali nasib anak-anak ini.
“Warga sudah tahu hal ini, pak?”
Pak RT menggelengkan kepala,”Tak perlu tahu. Ini urusan PT KAI . “
“Kapan mereka memberikan waktu?”
“Paling lambat hari Minggu, gudang ini sudah harus di kosongkan.Mereka akan datang hari Senin membawa tukang dan memperbaiki gudang ini.” Jawab pak RT. Setelah diam sejenak, pak RT permisi pulang. Tak ada pembicaraan lagi, tak ada kompromi.
Kenapa pak RT tidak berusaha maximal untuk minta ijin pengunaan gudang ini? Bukankah pak RT mestinya mengayomi warga dan mestinya mengajak bicara warga terutama yang dulu bergotong royong membersihkan gudang ini. Bukankah warga dan anak-anak harus tahu semua ini? Batinku kesal.
Kupandangi lagi anak-anak dari  depan pintu, ke mana lagi anak-anak akan mendapatkan tempat untuk belajar? Saat pemerintah  yang seharusnya  berkewajiban memberikan kesejahteraan dan pendidikan yang layak bagi warganya alpa, kemana mereka harus mengadu?
“Mbak Sekar kenapa menangis?” Tak kusadari Siti sudah di dekatku sambil memeluk pinggangku dengan rasa sayang.
Ku hapus air mataku, ku coba tersenyum.
“Nggak apa-apa, mata mbak hanya kemasukan debu saja,” jawabku berdusta.
“Ooo, kirain kenapa, mbak. “
“Mbak, gambarku sudah jadi, nich,” kata Agus sambil berlari  dan memamerkan gambarnya.
“Wow, bagus sekali. Kamu memang pintar dan berbakat, Gus,” kataku tulus.
“Hehehehe….” Jawab Agus pendek. Kemudian berlari dan kembali menekuni gambarnya.
“Mbak, tolong bantu Kiki, yach,” seru Kiki sambil melambaikan kertas gambarnya.
Aku tersenyum dan menghampiri Kiki . Tak lama kemudian anak-anak sudah terbuai dengan cita-cita meraka yang dituangkan dalam selembar kertas bekas ini. Aku tak kuasa untuk menatap wajah polos mereka. Begitu banyak harapan yang mereka impikan. Bagaimana aku harus menyampaikan berita buruk ini?  Aku harus menemui warga, setelah itu terserah bagaimana warga akan mempertahankan tempat ini, tekadku.  Yang jelas aku  akan membantu Agus dan teman-temannya untuk mengembangkan impian mereka, bahkan mungkin untuk meraih cita-cita mereka, meskipun tak ada lagi markas kecil ini. ***