Jumat, 11 Desember 2015

Bila Waktu Telah Tiba

penggalan di Novel ' Bila Waktu Telah Tiba'...

“Suatu saat kita bisa pergi bersama. Ibu janji sama Rizal untuk mengajak kita semua jalan-jalan lagi, kan? Rizal masih ingin melakukan itu semua,“ Rizal merasakan kepalanya berputar semakin cepat, sakit sekali  seperti dipukul kencang. Tapi ia bertekad untuk melanjutkan kalimatku. Rizal harus kuat dan mampu  bertahan. “Tapi Rizal tidak bisa lagi melakukan semua itu. Tidak mungkin lagi.”
Tes, tes.
Kali ini darah mengalir  deras dari mulut Rizal. Lelehannya membasahi pipi dan merambat ke leher.Ibu tak kuasa lagi menahan sedan, tangisnya benar-benar tumpah.
“Jangan teruskan, Le. Kamu harus istirahat. Kamu harus sembuh,” sela ibu.
Tes, tes,tes.
Rizal merasakan darah kali ini keluar dari lubang telinga.
“Ya Allah, Pak, Rizal, Rizal, Pak. Kita bawa ke dokter. Cepat, Pak,” seru ibu sambil menangis histeris.
Bapak menatap Rizal dengan berkaca-kaca, dia mempunyai firasat kalau anak keduanya tidak mungkin ketemu dokter kali ini.
Rizal menahan tangan ibu, “Tidak usah, Bu. Rizal hanya ingin bersama ibu dan semuanya sebelum pergi. Rizal benar-benar minta maaf. Ma-af-kan,” kalimat itu meluncur dengan susah payah.
“Mas Rizal jahat!” teriak Nabila marah. Nabila menghambur  sambil menguncang-guncang bahu Rizal dengan rasa sayang dan marah bercampur menjadi satu. ”Mas Rizal sudah berjanji akan membuatkan layang-layang untuk Nabila. Mas Rizal belum menepati janji. Mas Rizal harus pulang. Pulang! Nggak boleh pergi!”teriak Nabila sambil berlinang air mata. Bahunya terguncang-guncang.
Mas Arif terisak lirih.
“Nabila, sini,” panggil Rizal dibatas kesadarannya yang semakin lemah.
Nabila ngambek, tidak mau mendekati. Saat bapak memaksanya mengulurkan tangan dia kelihatan marah dengan muka merah berlapis sedu sedan.
“Maafkan, Mas. Be-lum bi-sa me-ne-pa-ti-jan-ji,” ucap Rizal tersengal-segal. Dadanya semakin sesak dan kepala bertambah berat. Ya Allah, tolong berikan Rizal sedikit waktu. “Mas-sa-yang- Na-bi-la.”
“Tidak! Mas bisa menepati janji. Nabila tahu Mas selalu menepati janji. Kita pulang dan Mas buatkan Nabila layang-layang. Ayo pulang, Nabila janji  tidak akan  ngambek lagi, tidak akan teriak-teriak kalau mas menganggu Nabila, tidak akan menyembunyikan barang-barang lagi,” isak Nabila sambil memegang erat tanganku.
Rizal sangat sedih, tak kuat melihat adik semata wayangnya terguncang demikian hebatnya. Tetapi ia juga tidak kuat lagi menahan sakit.
“Rizal, ayo Le, kamu bertahan ya, kamu harus kuat. Sadar Le,” bisikkan lembut ibu selalu terdengar bagaikan angin yang berembus, menyejukkan.
Rizal melihat seberkas sinar matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Sinarnya terlihat lembut dan hangat. Kicau burang terdengar semakin lama semakin ramai dengan suaranya yang memenuhi pagi. Perlahan mentari keluar dan semakin terlihat sempurna. Semakin kelihatan jelas dan besar.
Kepak burung membumbung tinggi di awan. Seakan mengajak Rizal untuk terbang mengikutinya. Rizal memuaskan dahaga matanya dengan memandangi  kawanan burung itu, sampai semakin menjauh dan terlihat samar. Segumpal awan tiba-tiba hadir dan turun semakin rendah. Awan itu menggapainya dengan lembut. Tangannya terangkat dan seluruh tubuh Rizal ikut  terbawa awan biru yang bergulung perlahan. Rizal merasakan tubuhnya menghangat dan terbuai dalam ayunan awan yang membumbung semakin tinggi. Rasa sakit yang mendera tak lagi terasa. Semua hilang, hanya rasa nyaman yang ada.
Tepat saat mentari beralih semakin tinggi, tubuhnya terbawa ke langit diantara awan hangat dan melayang-layang. Semakin tinggi dan ia hanya mampu melihat ibu, bapak, Mas Arif dan Nabila di bawah sana menatapnya tak percaya. Ingin sekali ia turun untuk mengucapkan selamat tinggal dan minta maaf untuk yang terakhir kalinya, merasakan ciuman ibu di kening dan mencium tangan bapak dan ibu. Tetapi tidak mungkin, dekapan ibu dari rumah sampai ke rumah sakit adalah dekapan terakhir yang masih bisa ia rasakan kelembutannya. 


Saat tubuh Rizal membumbung tinggi, ia melihat dibawah sana bapak, ibu, Mas Arif melambaikan tangan dengan derai air mata. Agak dibelakang Nabila dengan terisak ikut melambaikan tangan. Mereka seakan sudah tahu jika anggota keluarganya akan pergi jauh.
Ringan tangan Rizal saat membalas lambaian tangan mereka, bibirnya membentuk bulan sabit. Perasaan Rizal terasa lebih ringan, dadanya dirambati kelegaan, dan kepalanya sudah tidak merasakan sakit lagi. Awan biru membungkus tubuh dan membawanya semakin menjauh dari orang-orang yang ia cintai. Saat Rizal  melihat ke depan, nun jauh di sana ada selarik cahaya terang benderang yang sempat membuat matanya silau. Saat matanya sudah terbiasa melihat cahaya itu, ia melihat di depan ada lorong panjang yang bersinar terang. Rizal tahu, ke sanalah ia akan pergi. Awan biru membawanya masuk ke lorong cahaya itu yang dalam sekejap tubuh Rizal tertelan di dalamnya. Jauh, perjalanan Rizal sangat jauh . Tetapi ia dengan ringan memasuki lorong tersebut.
........................

Melupakanmu Butuh Waktu

              “Kamu serius?”
            Tegar menganggukkan kepala menyakinkanku.
            Sejenak aku terdiam, tidak mampu merangkai kata-kata. Sebongkah batu terasa menganjal tenggorokanku.
            “Mel, aku serius. Sangat serius,” ucap Tegar sambil meremas tanganku. Dalam dan lembut.
            Ku tatap mata elangnya. Tapi tak lama, aku justru yang menunduk tatkala matamu menatapku dengan lembut. Penuh keseriusan, harapan dan menawarkan masa depan.
            Please, kamu  mau khan?” tanyanya mendesak, tak sabaran.
            Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam, kelu. Tegar minta aku datang mendampinginya? Apakah ini bukan sebuah kenekatan? Siapa yang berani bertemu dengan keluarga besar Tegar  yang keturunan nigrat itu? Mereka  orang-orang kaya, berwibawa, berpangkat dan yang jelas mempunyai  selera yang tinggi  dalam menilai seseorang. 
            Aku? Apakah aku ini, hanya perempuan biasa. Rakyat jelata. Berkali-kali aku berusaha menyadarkan Tegar tentang kondisiku. Aku tidak mau terjebak terlalu dalam yang kelak aku yakin hanya akan bertambah menyakiti hati.
Tanpa segaja aku pernah bertemu dengan ibunya saat di kampus. Pertemuan pertama yang teramat tidak menyenangkan. Tatapan mata menghina, uluran tangan terpaksa dan sapaan yang tajam menusuk sukma. Tegar pernah memaksaku untuk datang saat  perayaan ulangtahun adiknya. Itu saat aku bertemu kedua kalinya dengan mamanya. Sekali lagi aku hanya menjadi tontonan yang menyedihkan. Hampir seluruh keluarga besarnya tidak ada yang  sudi menyapaku meskipun hanya sekedar basa-basi. Tatapan mata sinis bahkan kudapatkan dari  adik-adiknya. Terang-terangan mereka mengamit dan memamerkan seorang perempuan cantik yang belakangan aku tahu bernama Raden Ayu Wulansari. Perempuan bangsawan itu seperti segaja mengenalkan diri sebagai tunangan Tegar. Terang-terangan bermaksud menyakitiku.
            “Aku Raden Ayu Wulansari. Putri Raden Cokro, pengusaha batik dan pemilik Rahma Hotel. Aku tunangan Tegar dan akan menikah setelah lulus kuliah,” katanya dengan kalimat penekanan pada semua ucapannya, tanpa mengulurkan tangan. Sungguh tanpa ada sopan santun sedikitpun.
            “Saya Melati, teman kuliah Tegar,” ucapku sambil mengulurkan tangan.  Berusaha menebar senyum, menyamarkan rasa terhinaku.
            “Jangan coba-coba mendekati Tegar apalagi berharap menjadi pacarnya. Kamu tidak sepadan. Kami sudah dijodohkan sejak kecil. Dan keluarga Tegar hanya akan menerima orang dari keluarga yang sederajat dengan mereka. Bukan orang biasa yang tidak diketahui bobot, bebet dan bibitnya,” tegas Wulan tanpa menerima uluran tanganku, meninggalkan aku berdiri termangu.
            Rasanya aku ingin menangis karena dipermalukan pada saat acara keluarga seperti itu. Apalagi saat tidak kulihat Tegar. Entah kemana tega membiarkan aku dipermalukan.
            Semua keluarga besarnya tidak ada yang mengangapku ada, selain satu orang. Ya hanya satu orang yang begitu perhatian denganku. Mas Setyo, kakak laki-laki Tegar yang menyapaku dengan sopan, mengajakku bicara bahkan mau menemaniku saat tidak ada seorangpun yang ingat akan kehadiranku.
            “Maaf, Mel. Tegar menjadi orang penting saat ini. Ayah dan ibu membutuhkan tenaganya. Ia seperti sandera,” kata Mas Setyo mencoba  melucu untuk menghiburku.
            Aku hanya melempar senyum tipis. Tak apalah, aku lihat sendiri Tegar bolak-balik ke sana kemari tak ada habisnya. Aku cukup beruntung sesekali Tegar menemuiku meskipun hanya mengucapkan kata maaf karena tidak bisa menemaniku.
            “Iya, Mas. Saya tahu kok.“ jawabku mencoba tidak terusik dengan keadaan yang diam-diam telah merontokkan sebagian rasa percaya diriku.


            “Mel, datang ya,” bujuk Tegar lagi.
            “Buat apa, Gar? Dipermalukan lagi di depan keluarga besarmu?” jawabku keras. Aku benar-benar kesal telah diperlakukan sebagai orang yang tidak berguna.
            “Mel, please. Aku sudah minta ma’af atas semua yang telah terjadi. Itu semua bukan keinginanku. Tapi kali ini acaraku. Aku yang berhak menentukan siapa yang diundang dan menemaniku,” kata Tegar lagi. Merajuk. Membujuk.
            Aku mengeleng kuat-kuat. “Buat apa lagi? Cukuplah. Aku tidak sanggup melihat tunanganmu itu. Aku juga tidak kuat menerima penolakan dari keluargamu. Aku tidak setegar  itu bisa bertahan dan sabar dengan perlakuan mereka,” tegasku lagi.
            “Tapi Mel. ..”
            “Maafkan aku Tegar.  Semula aku pikir bisa bertahan dan mengambil hati keluargamu. Tetapi rasanya kali ini aku tidak sanggup lagi. Memang benar kata Wulan. Aku tidak pantas untukmu. Aku tidak sederajat dengan kalian,” ucapku lagi diiringi isak tangis.
            “Tidak Mel. Tidak. Kamu jangan pernah mengatakan hal itu. Sekalipun aku tidak pernah memikirkan latar belakang kita. Tidak sekalipun aku mempermasalahkan hal itu. Tolonglah. Datanglah ke perayaan kelulusanku. Tolonglah. Apapun yang terjadi aku teramat mencintaimu,” pinta Tegar menghiba dengan penuh harap.
            Aku tidak mengiyakan sampai Tegar meninggalkan undangan biru untuk acara besok malam. Tegar khusus mengirimkan undangan biru itu. Warna kesukaanku.
Kubuka undangan itu sepeninggal  Tegar. Perayaan kelulusan Sarjana Arsitektur. Aku ikut bangga atas prestasi Tegar, lulus clum laude dengan nilai terbaik di fakultasnya. Tegar akan meneruskan cita-citanya membangun sebuah apartemen bagus tanpa meninggalkan konsep asli Indonesia dengan harga terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Keinginannya sungguh mulia, agar masyarakat kurang mampu bisa menikmati tempat tinggal yang biasanya hanya bisa dijangkau orang-orang kaya. Sejak semula aku selalu mendukung semua impian dan cita-cita Tegar.
Lebih dari setahun mempunyai hubungan dekat aku sangat paham dengan keinginan dan impiannya. Kemauan dan semangatnya sangat tinggi. Dalam beberapa pembicaraan bahkan ia sudah mengatakan akan melanjutkan kuliah S2 ke luar negri. Ia menargetkan selesai dalam waktu cepat dan akan kembali untuk membangun apartemen impiannnya. Saat kembali itulah ia juga akan mewujudkan impiannya, impian kami berdua merenda masa depan bersama.  Meskipun aku hanya menanggapi dengan bercanda karena tahu persis penolakan keluarganya.
**

            Aku berjalan pelan memasuki gedung tempat pesta Tegar.  Banyak sekali tamu undangan yang datang. Mobil mewah keluaran terbaru berderet-deret  di depan menandakan tingkat sosial tamu yang hadir. Beberapa kali aku menyapa teman-teman Tegar yang sebagian besar aku kenal baik. Sejauh ini aku belum melihatnya. Aku nyakin Tegar tengah bersama keluarganya.
            Butuh waktu beberapa hari untuk memutuskan kepergianku. Bahkan keputusan untuk datang baru tadi pagi, saat ibu membujukku. Apapun yang akan terjadi lebih baik segera terjadi. Tak ada gunanya terus menunda. Biarkan semua jelas sehingga kalian bisa memutuskan yang terbaik. Agar rasa sakit itu tidak terus ada dihatimu, jelas ibu yang membuatku bisa mengambil keputusan. Dan disinilah saat ini aku berada. Mungkin kedatanganku malam ini bisa membantu mengambil keputusan tegas sekaligus membuat Tegar  lebih mengerti.
            “Melati. Aku senang sekali kamu datang,” kata Tegar membuatku kaget sambil memelukku dengan erat.
            CES.. hatiku terasa melebur dalam kebahagiaan. Kurasakan kasih sayangnya  tidak berubah bahkan rasa itu semakin dalam. Jurang yang memisahkan kami sekejap lenyap.  Aku lupa  harus menjauhi Tegar dan hanya menjaga pertemanan saat kata cinta yang dibisikkan Tegar membuatku melayang. Sayang sekali kalau semua yang telah terajut harus lenyap dalam sekejap hanya karena aku tidak dilahirkan dari keluarga ningrat.
            “Kak Tegar, acara akan dimulai. Ayah mencarimu,” sebuah suara membuat pelukan Tegar terlepas.
Aku tergagap melihat Dewi, adik Tegar memandang kami dengan tatapan mata marah.  Ku coba tersenyum tetapi  disambut tatapan sinis Dewi.
“Maaf Mel. Aku  harus ke sana dulu. Ayo,” ajak Tegar sambil menarik tanganku dengan lembut.
Sekali lagi aku tergagap. Tidak menyangka Tegar akan mengajakku.
“Tapi…” tolakku halus.
Tegar terus menarikku bahkan kali ini membimbingku berjalan dengan sabar.
“Kak.?” Protes Dewi tidak senang melihat Tegar mengandeng tanganku. “Ayah tidak akan mengijinkan,” kata Dewi mengingatkan.
Tegar tidak mau mendengarkan kalimat Dewi, terus mengajakku berjalan melewati banyak tamu yang sesekali disapanya dengan ramah.
“Tegar, aku..”
“Sssttt, tenang saja. Bersikaplah biasa ya,” bisik Tegar.
“Tapi..aku..”
“Kamu sangat cantik, anggun. Percayalah,” ucapnya lagi memompa rasa percaya diriku yang merambat turun.
Aku tidak kuasa menolak berusaha mengimbangi langkah Tegar dengan hati tak karuan.
Tiba-tiba langkah kaki kami berhenti saat sebuah tangan menarik bahu Tegar. Tatapan matanya tajam memandangku. Tegar tidak kuasa melawannya, kakinya mengikuti langkah ayahnya naik ke atas panggung meninggalkan diriku tanpa sempat mengucapkan sepatah katapun, selain tatapan penuh penyesalan. Sekali lagi aku terluka tetapi tidak berdaya. Beruntung para tamu undangan sibuk dengan obrolan dan makanan  yang melimpah sehingga tidak tahu kejadian yang menimpaku.
“Perhatian ..perhatian.. Selamat malam. Terimakasih atas kehadiran tamu undangan. Malam ini kami mengundang bapak dan ibu serta saudara sekalian untuk menghadiri syukuran kelulusan putra kedua kami. Tegar Prasetyo, ST yang lulus dengan peringkat sangat memuaskan. ..”
Tepuk tangan membahana  saat ayah Tegar memberikan sambutan. Di atas panggung keluarga itu berkumpul. Ayah, ibu, Mas Setyo, Tegar dan kedua adiknya. Mereka kelihatan harmonis dan bahagia. Cantik dan ganteng. Sangat serasi dan mempesona.
Aku terdiam memperhatikan mereka dan diam-diam menyingkir ke tempat yang tidak mudah dilihat tamu undangan. Entah mengapa perasaanku tidak enak sejak ayah Tegar mengajaknya ke panggung. Lebih baik tidak ada yang mengenaliku.
“….dan malam ini juga kami sekalian memperkenalkan calon keluarga besar kami. Silahkan Raden Ayu Wulan dan keluarga. Inilah  calon istri Tegar. Tiga bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan…..”
TAP. Kepalaku seakan dipukul sebuah kayu. Seketika pening dan sakit sekali. Meskipun sudah tahu kalau mereka tidak menyukaiku dan lebih memilih Wulan, tetapi aku tetap tidak siap menerima kenyataan ini. Hatiku terasa diiris sembilu melihat Wulan naik kepanggung dan berdiri tepat disebelah Tegar. Wulan sangat cantik, anggun, glamour dan tentu saja mempesona. Sekali lagi terdengar tempik sorak membahana, berbagai pujian bermunculan dari tamu yang hadir. Semua memuji kecantikan, ketampanan dan keserasian calon mempelai.
Aku sedih melihat Tegar tidak mampu berbuat apa-apa selain memandang ayahnya dengan sorot mata tidak terima. Tatapan mata tajam ayahnya tidak mampu membuat Tegar mengambil sikap. Aku tersenyum kecut mengejek diriku sendiri. Memandang Wulan sejenak dan membayangkan diriku sendiri. Bagaikan bumi dengan langit. Sangat berbeda dan benar-benar tidak sepadan dengan mereka.
Ku hapus air bening dari sudut mataku. Salahku sendiri tidak pernah belajar dari pengalaman yang telah lalu. Beberapa kali dipermalukan dan tersakiti tetapi masih saja menaruh kepercayaan dan harapan. Kuputuskan untuk meninggalkan Tegar dan semua kenangan yang telah terajut bersama.  Tidak ada gunanya lagi mempertaruhkan sekeping hati ini kepada sebuah harapan yang tidak akan berujung.  Aku tidak akan bisa bahagia dengan laki-laki yang tidak mempunyai sikap dan pendirian. Cukup. Cukuplah ini yang terakhir kalinya. Aku tidak mungkin membiarkan hatiku terluka lagi.
Ku tatap Tegar untuk yang terakhir kalinya. Ia masih di sana tanpa berdaya di bawah kekuasaan keluarganya dan perempuan itu. Ku terus melangkah, kali ini tanpa beban sedikitpun. Aku yakin  ini sulit.  Tetapi aku memilih untuk melupakanmu meskipun butuh waktu. *****

































Seindah Mata Ibu, Berjuta Cinta di Sana

           Jantungku berdetak kencang. Hatiku diliputi   rasa khawatir sekaligus senang. Kegelapan yang menyelimutiku selama hampir sepuluh tahun sebentar lagi tak akan melingkupi hidupku. Sinar terang, warna warni keindahan dunia beserta seisinya yang sempat kukecap selama empat tahun akan kunikmati kembali. Wajah orang-orang yang selama ini menyanyangiku dan hanya bisa kudengar suaranya, akan kupandangi sepuas hatiku.


Tanganku gemetar saat tangan dokter Hari, perlahan membuka perban yang menutupi kedua bola mataku. Kesabaran yang selama sepuluh tahun ini setia menemaniku seakan menguap entah kemana. Betapa inginnya aku segera membuka mata dan meninggalkan kegelapan. Banyak hal yang sudah kurencanakan akan kulakukan.  Mengenal keluarga, berjalan-jalan, bertemu sahabat, meneruskan sekolahku yang tertunda dan berpuluh rencana lainnya. Aku juga tidak akan merasa rendah diri lagi, bisa bergaul dengan teman-teman yang mempunyai fisik sempurna. Lapisan terakhir dibuka perlahan
“Coba, buka mata dengan perlahan,” suara lembut dokter Hari membuatku tersadar  dari lamunan.
Dengan ragu, kulakukan perintah dokter Hari. Perlahan aku mengerakkan kedua kelopak mataku. Terasa berat, lengket dan perih.  Semangatku untuk keluar dari kegelapan membuatku terus menahan perih. Sesuai petunjuk dokter Hari, aku mencoba kembali. Suara lembut mama terus memompa semangatku.
Semburat bayangan  mulai melintas di mataku. Semula terlihat samar dan jauh. Lambat laun saat kedua kelopak mataku terbuka dengan sempurna, aku bisa melihat dengan lebih jelas. Berkali-kali dokter memintaku untuk mengerjapkan mata. Dan sekarang semua terlihat jelas dan sempurna.
“Mama….Papa…” bisikku diliputi rasa keharuan yang menyesakkan dada. Kedua orangtua itu memelukku dengan hangat. Bahkan mama sempat mengusap air mata bening yang terlanjur hadir si sudut matanya. Berkali-kali mama mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan operasi yang kujalani.
***
Tak bosan-bosannya aku memandang kagum seisi rumah. Selama ini aku tidak pernah melihat langsung kemewahan yang kurasakan selama sepuluh tahun. Aku hanya selalu menyesali telah hidup dalam kegelapan. Masa kanak-kanakku dengan penuh keindahan hanya mampu kukecap selama 4 tahun. Sekarang saatnya menikmati hidup yang sebenarnya, batinku senang.
Tetapi ada yang kurasakan tidak lengkap. Ada rasa yang  hilang dari hatiku.
Ku pandangai Mama, Papa, Mang Ujang, sopir yang setia mengantaku, Mbak Sri pembantuku yang mengurus rumah ini. Ke mana Mbok Yati? Perempuan yang selama ini setia menyediakan semua kebutuhan hidupku. Sekaligus yang tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap amarah kala aku meledak-ledak dan menumpahkan semua emosi kepadanya.  Bahkan aku pernah dengan marah melemparkan gelas yang mengenai badannya.
“Ma, mana Mbok Yati?”
Mama menundukkan muka. Tak menjawab pertanyaanku.
Hatiku mendadak diliputi kecemasan. Meskipun ia hanya perempuan tua yang terkadang membuatku jengkel dengan nasehatnya tetapi ia tetap orang yang selama ini dekat denganku sekaligus menjadi pelampiasan emosiku.
“Ma..?” tanyaku menuntut jawaban Mama.
Tiba-tiba aku teringat. Tiga hari yang lalu dengan emosi yang meluap-luap aku melempari Mbok Yati buku-buku dan mengusirnya dari rumah. Saat itu perempuan itu tanpa disegaja merusakkan buku musikku. Padahal aku sudah bersusah payah membuat lagu dari huruf braille. Dan buku musik itu penting untuk ikut dalam sebuah kompetisi para penyandang tunanetra.
Masih kudengar suaran tangisan Mbok Yati meminta maaf dan memohon untuk tetap tinggal. Tanpa rasa kasihan secuilpun aku justru terus memaki-maki Mbok Yati dan mengusirnya.
Baru kusadari betapa kejamku aku ini. Mbok Yati sudah menjagaku sejak aku tidak mampu melihat lagi dan aku membalasnya dengan tindakan diluar batas.
“Ma’afkan Sheila, Ma. Sheila salah telah mengusir Mbok Yati. Sheila emosi.” kataku tak bisa menahan tetesan air mata.
Mama mendekapku dengan rasa haru.
“Di mana Mbok Yati sekarang, Ma? Sheila ingin bertemu dan minta ma’af.”
“Sudahlah, Sheila. Tidak usah dipikirkan. Mama nyakin Mbok Yati sudah mema’afkan kamu.” ucap Mama dengan mata berkaca-kaca.
Aku mengeleng dengan kuat. Entah mengapa dorongan hatiku begitu kuat untuk bertemu dengan Mbok Yati.
“Please, Ma.”
Mama memandang Papa meminta persetujuan. Setelah melihat Papa menganggukan kepala, Mama meraih tanganku dan menatapku dengan rasa sayang.
“Sheila, saat ini rasanya waktu yang tepat untuk menceritakan semua.”
Aku memandang Mama dengan sorot mata tidak mengerti.
“Sheila,  kamu ingat kecelakaan yang menimpamu saat umurmu 4 tahun?”
Aku tertegun. Kugelengkan kepala pelan-pelan. Aku benar-benar tidak ingat apa-apa. hanya samar-samar masih mengingat waktu kecil berlarian di sawah dengan seorang perempuan. Bahkan aku sempat sekolah dan mempunyai banyak teman-teman. Suatu hari didepan sekolah aku berlarian ingin melihat kereta kelinci yang melintas.  Dan saat itu tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku hanya tahu kalau aku tidak bisa melihat lagi dan diasuh oleh Mbok Yati dari kecil sampai saat ini.
“Waktu itu kamu tertabrak mobil yang melintas. Dan sejak saat itu kedua matamu buta. Penabraknya adalah….orang yang selama ini kamu…kamu panggil papa. Ma’afkan kami, Nak.” kata Mama tersendat.
Aku tersentak. Kepingan masa lalu segera terangkai kembali dengan susah payah. Dulu rasanya aku hanya memiliki seorang ibu saja. Ayahku meninggal sejak aku masih bayi. Kecelakaan, kata nenekku. Tetapi sejak aku buta, aku mempunyai papa dan mama. Kenapa baru saat ini aku pikirkan?
“Jadi…jadi…Sheila anak angkat, Ma?” tanyaku terpukul.
Mama mengangguk. “Sejak saat itu, kami mengangkatmu menjadi anak. Kebetulan kami tidak mempunyai anak. Kami merawatmu seolah anak kandung kami sendiri. Dan Mbok Yati yang kami minta untuk menjagamu. Terkadang Mama sedih melihatmu bersikap kasar kepada Mbok Yati. Berkali-kali Mama mengingatkan, tetapi kamu masih saja bersikap keterlaluan.”
Aku mengusap anak sungai yang mengalir di kedua pipiku. “Jadi, siapa orangtua kandung Sheila, Ma?”
Bibir Mama bergetar saat mengucapkan sebuah nama dengan susah payah. ” Ibu kandungmu…..Mbok Yati.”
TAP.  Seakan kepalaku tertampar. Seketika pandangan mataku berkunang-kunang. Untuk kesekian kalinya aku terpukul mendengar kenyataan ini. Mataku luruh dan kabur tertutup buliran air mata yang tak bisa kubendung. Penyesalan menderaku.
“Sheila ingin bertemu Mbok Yati, Ma. Tolong beritahu dimana Mbok Yati berada.” pintaku diantara sedu sedan.
“Yang tabah, Nak. Saat pergi meninggalkan rumah, Mbok Yati mengalami kecelakaan. Ia meninggal.” lirih suara Mama, tetapi bagiku laksana suara geledek.
“Dimana kuburannya, Ma?” tanyaku dengan hati hancur.
***

Tanah kuburan masih lembab. Kutaburkan bunga mawar dengan hati mengharubiru. Dengan takzim kupanjatkan do’a untuk ibu yang telah melahirkan dan merawatku dengan tulus. Berjuta penyesalan terus memenuhi jiwaku. 
 Kubaca sebuah puisi pendek yang kubuat saat dalam perjalanan ke kuburan.

Ibu, kau laksana air yang terus memberikan kehidupan bagi anakku.
Kau tak pernah lelah untuk terus merawat dan mendidikku.
tanpa pernah putus asa, kau bersikap lembut dan memberikan berjuta kasih sayang saat aku bersikap kasar dan kurangajar.
Bahkan kau hanya terus tersenyum dan tak sekalipun menunjukkan amarah.

Ibu, bagiku tidak ada yang lebih besar dari cinta kasihmu.
Bagiku tidak ada yang seindah dirimu dalam hidupku.
Bagiku tidak ada yang paling terang menerangi hidupku selain dirimu.

Ibu, tenanglah kau dalam peristirahatan panjangmu yang abadi.
Aroma surga dengan segala keindahannya akan menyambutmyu disana.
Bagi perempuan yang tanpa pamrih selalu memberikan cinta untuk putrinya.

Kututup kertasku yang basah oleh air mata. Kupandangi sekali lagi tanah lembab tempat ibuku berbaring. Aku berjanji tidak akan pernah menyiakan hidup ini.  Meskipun ibu jauh disana, tetapi beliau selalu menemaniku setiap saat.  Di seluruh jiwa dan ragaku. Tidak hanya  lewat  kedua mata indah penuh kasih sayang milik ibuku ini. I Love U, ibu. *****


Jumat, 20 November 2015

Kuburan di Kupang, Tempat Asyik untuk Gobrol

Bagi kami orang Jawa (terutama Jawa Tengah), kuburan itu tempat yang menyeramkan. Kenapa?
Karena ada mayat yang dikubur di sana. Kesan seram, horor itu ditanamkan sejak kecil. Orang yang telah meninggal dianggap seram. Oleh karena itu, kuburan biasanya terletak jauh dari perkampungan penduduk.

Bahkan di tempat asal Saya, salah satu kabupaten di Jawa Tengah, kuburan terletak di atas bukit yang cukup tinggi dan terjal. Meskipun ada tangga beton bertingkat, tetapi orang enggan kalau hanya sekedar iseng-iseng ke kuburan, biasanya hanya orang yang berniat ziarah saja yang ke sana. kuburan di Kupang, dihalaman depan rumah, tak ada kesan seram sama sekali.

 Kembali ke kesan horor, sejak kecil stigma kuburan menyeramkan memang sudah ditanaamkan orang-orang tua. Bahkan untuk menakut-nakuti anak-anak cukup efektif. Saat kecil, Saya biasa mendengar larangan "jangan bermain-main di kuburan", " jangan dekat-dekat dengan kuburan", atau kalimat larangan lainnya seperti " awas kena sawan" , "awas ketempelan" dll yang intinya membuat anak-anak tidak berani mendekat ke kuburan. Saat tak segaja menginjak kuburan saja takutnya setengah mati, berkali-kali disuruh minta maaf (aneh ya?) 

kuburan di Kupang, di halaman rumah, biasa untuk tempat gobrol (dok. Suci)



Tetapi kesan kuburan menyeramkan tidak saya temui di Kupang. Justru di Kupang, agar tetap dekat dengan almarhum, tetap ingat dan selalu dekat dengan almarhum, kuburan segaja di letakkan di dekat rumah, di halaman depan/samping. Dari penjelasan teman saya yang berasal di Kupang, mereka tidak mau berjauhan dengan almarhum. Meskipun sudah meninggal tetapi roh almarhum selalu ada di hati dan selalu menemani keluarganya. 

Maka tak heran jika kuburan di Kupang biasanya dibangun sedemikian bagus, bahkan tak jarang lebih mewah di banding dengan rumahnya. Biasanya kuburan di bangun lebar, minimal 1 meter di keramik dan dibuat senyaman mungkin. Tak ada kesan seram sama sekali. Bahkan saya sering melihat anak-anak kecil bermain di atas kuburan. Ada yang bercanda, duduk-duduk santai juga sambil membaca. Seolah-olah duduk di atas kursi biasa saja, bukan diatas kuburan. Bahkan mereka biasa juga begadang sambil minum kopi, makan snack diatas kuburan. Kalau kami di Jawa biasa duduk di buk (jembatan) sambil ngobrol. Tetapi bagi orang Kupang , gobrolnya diatas kuburan. 

Saya juga merasakan kuburan disana sama sekali tidak seram. Ya, seperti bangunan lainnya. Mereka nyaman saja duduk di atas kuburan. Kalau kami hiiiiiiiiiiiii nggak berani sama sekali. Jangankan duduk diatasnya, melangkah diatas kuburan saja dianggap pamali, bisa kualat. 

kuburan di Solo, jauh dari pemukiman penduduk (foto. www.solopos.com)




Selama di Kupang, Saya santai saja melihat kuburan, tapi saat kembali ke Solo, saat melewati kuburan , bulu kuduk jadi merinding. Tetap saja kesan seram bersarang di pikiran Saya. Susah menghilangkan ingatan horor yang tertanam sejak kecil. Padahal kelak di lokasi itulah tempat peristirahatan panjang kita ya.

 _Solo, 19 November 2015_