Minggu, 21 Februari 2016

Kami di Desa Biasa Mencetak Batu Bata Sebelum Membangun Rumah

Batu bata menjadi salah satu bahan bangunan yang digunakan untuk membangun sebuah rumah. Meskipun fungsinya bisa digantikan dengan batako, tetapi sebagian besar masyarakat masih menjadikan batu bata sebagai pilihan pertama.
Kenapa?
Menurut beberapa orang, dinding dengan baru bata lebih terasa nyaman, adem, mengurangi hawa panas, rapat, lebih teruji kekuatannya dan lebih mudah dalam mencarinya.

Di desa tempat tinggal orangtua saya, saat musim kemarau tiba, ada beberapa  warga yang membuat batu bata. Membuatnya di halaman  rumah sendiri, pinggir jalan besar, dan mencetaknya di areal persawahan juga di pinggiran sungai yang mengering. Maka tidak mengherankan, jika saat musim kemarau, banyak batu bata yang tercetak di areal persawahan.

Biasanya, warga di desa saya, mencetak batubata untuk digunakan sendiri. Terkadang, di saat tidak lagi mengurus sawah, karena belum masanya panen, ada banyak waktu yang tersisa sehingga warga memanfaatkannya untuk membuat batu bata.  Mereka suka menyimpan batu bata yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk keperluan membangun rumah. Atau sesekali juga di jual jika ada tetangga yang membutuhkan.

 Mencetak batu bata
Saya sendiri sewaktu kecil senang melihat-lihat tetangga mencetak batu bata. Sesekali saya juga pernah mencoba untuk ikut mencetak, merasakan  lembutnya lempung (tanah liat) yang terlebih dahulu di haluskan dan dicetak ke dalam cetakan batu bata.

Tanah liat yang digunakan juga tidak  sembarang, karena di pilih tanah liat yang bagus, biasanya warga mengambil dari sawah yang digali. Warga biasanya  mengali dan mengumpulkan tanah liat yang diambil disawah dan menumpuknya di rumah(kalau mencetak batu bata di rumah). Tetapi kalau mencetak batu bata di sawah, tinggal mengumpulkan gumpalan tanah liat di pinggir sawah.

Proses membuatnya terbilang sederhana meskipun butuh tenaga besar. Tanah liat pertama-tama di haluskan dengan  air secukupnya sampai membentuk  adonan tanah yang bisa dicetak dengan mudah. Kemudian cetakan dari kayu dengan ukuran  23x17x5 terlebih dahulu direndam dalam air.  Dalam keadaan basah, cetakan di letakkan di tanah yang permukaanya  sudah diratakan. Hal ini dimaksudkan  agar hasil cetakan batubata menjadi rata dan halus. Tanah liat yang  lembut kemudian di cetak ke dalam cetakan batu bata. Saat meletakkan tanah liat sambil di padatkan, setelah itu cetakan baru diangkat. Setiap kali mencetak batu bata, cetakan harus di celupkan air terlebih dahulu agar tanah liat tidak melekat lengket di cetakan.

Proses selanjutnya menunggu sampai batu bata menjadi kering. Dalam cuaca yang panas, dalam dua hari, batu bata sudah  hampir kering dan bisa di ambil dan diratakan pinggir-pinggirnya dengan  pisau. Setelah itu di tata dengan di susun   sekaligus dijemur sampai benar-benar kering  sampai siap untuk  dibakar (ngobong boto).

Sunduk  Lombok melengkapi pembakaran batu bata
Saat membakar batu bata, tumpukan batu bata disusun sedemikian rupa agar api tetap menjangkau semua batu bata.kemudian di bagiab luar akan di lapisi/ditutup  dengan lumpur.  Pembakaran batu bata membutuhkan waktu yang lama, paling tidak sehari semalam dengan nyala api yang terus menerus.  Untuk menghemat kayu bakar, biasanya warga membakar batu bata saat sudah terkumpul banyak, paling tidak sampai sepuluh ribuan biji.

 Uniknya, sebelum  proses pembakaran batu bata,  warga  biasanya mengadakan  ‘upacara’ khusus yaitu dengan menyajikan  nasi tumpeng dengan sajian lauk beraneka macam  dan mengelar  berdoa agar  diberikan kelancaran dalam pembakaran batu bata.  Tak lupa ada sajian  sundut Lombok, mirip sesajen yaitu cabe  besar dan bawang merah yang  di tusuk lidi, di susun memanjang dan ditancapkan di empat pinggiran susunan bata bata.


Ari-ari, Saudara Kembar Bayi, dan Cara Merawatnya

Setipa bayi yang lahir, bersamaan itu plasenta yang menyertai bayi. Plasenta tersebut biasanya keluar tak lama setelah bayi dilahirkan. Biasanya, plasenta akan dibersihkan dan dikubur begitu saja  tanpa embel-embel prosesi/ritual tertentu.


Tetapi, bagi orang Jawa,  dalam merawat plasenta/ari-ari,  masih kental merawatnya dengan  ritual adat Jawa. Tidak hanya untuk orang-orang Jawa kuno, tetapi sampai saat inipun masih banyak yang melakukan ritual tersebut.  Saya salah satunya yang merawat ari-ari anak-anak saya dengan ritual jawa, meskipun yang melakukan ritual tersebbut orangtua  saya. 

Ari-ari , bagi orang Jawa sering disebut dengan aruman atau embing-embing. Karena ada di Rahim ibu dan lahir setelah/bersamaan dengan bayi yang dilahirkan, maka tak heran jika sering disebut dengan sedulur kembar/ saudara kembar bayi tersebut.  Ari-ari ini  bagian penghubung antara ibu dengan Si Bayi, selayaknya saudara bayi sendiri. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ari-ari yang keluar juga di rawat /diramut dengan baik, tak ubahnya seorang bayi yang baru dilahirkan. 

Ritual Merawat Ari-Ari/Plasenta
Biasanya menjelang  babaran/melahirkan, keluarga sudah menyiapkan kendil kecil /panci dari tanah liat. Kendhil tersebut akan digunakan untuk meletakkan ari-ari setelah di ramut/dirawat oleh sesepuh dari ibu yang melahirkan. Saat ke Rumah Sakit/Rumah Bersalin, selain ibu, kendhil juga tak pula dibawa serta.  

 Tetapi sekarang , banyak RS yang sudah menyiapkan kendhil tersebut, karena sudah setiap ibu membutuhkan kendhil untuk ari-ari. Setelah proses babaran, dan ari-ari keluar, biasanya perawat sudah paham dan meletakkan ari-ari tersebut ke dalam kendhil. Oleh pihak keluarga, ari-ari tersebut  dibawa pulang ke rumah. Jadi ada orang yanag ditugasi khusus untuk merawat ari-ari. Karena kami tinggal diperumahan yang sempit dan nyaris tanah sudah tidak ada, ibu saya membawa ari-ari tersebut pulang ke rumah di desa. 

Pertama-tama, ari-ari di cuci dengan hati-hati sampai bersih. Setelah itu, dikembalikan ke dalam kendhil dan dibawa ke tempat yang akan dijadikan penguburan ari-ari. Biasanya kuburan ari-ari diletakkan di depan rumah/teras atau samping rumah, bahkan di dalam rumah. Jarang sekali yang mengubur  ari-ari di belakang rumah. Karena ari-ari memang diibaratkan saudara bayi itu sendiri sehingga ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat dan terjaga dengan baik.

Bersamaan dengan ari-ari yang dikubur, diletakkan pula serangkaian barang yang menjadi  symbol harapan bagi keluarga terhadap bayinya kelak. Misalnya orangtua bayi menginginkan anaknya menjadi anak yang pintar, maka dikubur pula pensil, bolpen, buku. Misalnya menginginkan anaknya kelak menjadi olahragawan, maka di kuburkan barang-barang alat olahraga misalnya bola, raket, dll. Misalnya pingin jadi artis, ya dikuburkan make up, perhiasan, dll.

Setelah tanah ditimbun, diatasnya ditaburi kembang setaman/bunga warna-warni (mawar, melati, kenangga). Tak lupa pula sekitar kuburan di berikan pagar atau ditutupi dengan keranjang/kukusan/tenggok, yang intinya terhindar dari binatang buas yang mungkin akan mengendus dan mengali ari-ari yang masih berbau amis tersebut. Diatas kuburan juga diberikan lampu sebagai penerangan. Kalau jaman dahulu, mengunakan lampu teplok atau ting, sementara sekarang mengunakan bohlam listrik  dengan watt kecil. Intinya, ari-ari yang ditanam selalu terang benderang siang dan malam. Lampu akan dipasang sampai selapan dino atau selama 35 hari.

Lampu juga harus dijaga jangan sampai padam, kalau padam harus segera dinyalakan kembali.
Setelah selapan dino, orangtua akan memplester kuburan airi-ari tersebut kemudian akan diberikan penanda tulisan, ari-ari si anak (nama anak).
Jadi, sampai sekarang di rumah orangtua saya di desa, berjejer kuburan ari-ari cucu-cucu yang ari-arinya di kubur di rumah. Masing-masing ada inisialnya, sehingga mudah untuk mengingat dimana kuburan ari-ari masing-masing  anak kami.

_Solo, 9 Februari 2016_





Senin, 08 Februari 2016

Menyimak Harapan Rakyat dalam Buku #Presidenku Jokowi

Gambar terkadang mampu mewakili kata-kata, lebih jitu mengungkapkan isi hati. Apalagi gambar yang dikemas menarik, seakan menyampaikan pesan dari pembuatnya dan menyimpan berjuta makna.

 Begitu juga dengan gambar yang dituangkan dalam selembar poster.  Tidak hanya melulu sebagai media untuk mempromosikan , tetapi juga sudah menjadi pilihan untuk komunikasi visual yang menginformasikan  suatu hal. Kalau dulu lebih banyak untuk promosi produk, tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini sudah akrab juga di dunia politik. Untuk membranding dan menyampaikan pesan dari tokoh tertentu.
Banyak orang yang hatinya lebih ‘kena’ dengan melihat sekilas sebuah poster, sehingga lebih mengena , dibandingkan dengan membaca sebuah buku yang butuh waktu, kekuatan persuasinya memang tidak main-main.

Beragam poster yang menarik, sarat makna, penuh harapan kepada  Presiden Joko Widodo(Jokowi) , yang  dikumpulkan dari karya para pemenang lomba poster #Presidenku Jokowi, menjadi sebuah buku katalog. Buku yang diterbitkan Seknas Jokowi, memuat beragam poster Jokowi dalam berbagai tema 

Saat itu, sosok Jokowi  sebagai  calon presiden, ditampilkan dalam berbagai pesan visual oleh para relawan dan seniman poster sebagai "a significant diferentiator" dg lawan politiknya pd Pilpres 2014 lalu.
Di halaman depan, terdapat sambutan presiden dan pengatar dari Seknas jokowi, yang isinya tentang rasa terimakasih atas kerja relawan juga.

Selain memuat sejumlah karya para pemenang lomba poster #Presidenku Jokowi, dlm berbagai kategori, buku ini juga menyajikan kata sambutan dari sang tokoh dlm poster yg kini telah menjadi presiden, Presiden Joko Widodo, yg mengapresiasi terbitnya buku katalog ini dg harapan bisa menjadi dokumentasi sekaligus pengingat betapa besarnya harapan rakyat ttg Indonesia yg sejahtera dan berkeadilan.

Selain memuat sambutan presiden dan pengantar dari Seknas Jokowi, Dalam buku ini juga tersaji  tulisan dari Eko Sulistyo, anggota  Tim Nasional Kampanye  Jokowi-Jusuf Kalla (2014) yang saat ini menjabat sebagai  Deputi  IV Bidang Komunikasi Politik dan Desiminasi  Informasi , Kantor Staf Presiden .   Ia menulis gaya kepemimpinan Jokowi yg Out of The Box yg muncul dari lingkar sosial rakyat kebanyakan. Karakter dan kebiasaan  Presiden Jokowi dalam melakukan  "blusukan" bertemu rakyat biasa merupakan cemistri  yang ada dalam darah daging politiknya. Dengan atau tanpa liputan media, "blusukan" sebagai  metode/cara mendengar aspirasi sebagai  masukan dalam mengambil keputusan akan terus dijalankan oleh sang presiden. Krn spt pernah dismapaikannya sendiri dlm sebuah kesempatan, bhw "demokrasi adalah mendengar suara rakyat."

Kurator, Angga Cipta,  juga memberikan apresiasi, ia menilai lomba poster ini merupakan sebuah bentuk "propaganda massal inisiatif" dlm memberi makna dan apresiasi terhadap kejujuran, kesederhanaan maupun seorg rakyat biasa yg bernama Jokowi.
Buku terbitan seknas Jokowi  ini tergolong mewah karena  dicetak dalam kertas art paper dan hard cover berwarna dengan jumlah halaman 238, ukuran buku 21 cm x 29,7 cm. Bisa didapatkan di toko buku atau  bisa pesan langsung ke alamat Seknas Jokowi yang beralamat  di Jl. Cirebon No. 23 Menten, Jakarta Pusat.seknasjokowipusat@gmail.com, www.seknasjokowi.org, Telp. 021-3919649; Fax. 021-31900516.

_Solo, 6 Februari 2016_

Daun Mangkokan Redakan Radang Payudara

Sebagaimana anak kecil pada umumnya, saya senang sekali bermain masak-masakan dan pasaran. Tidak perlu membutuhkan mainan yang berharga mahal, cukup dengan botol bekas, pecahan genting, daun-daunan yang banyak sekali tertanam di halaman rumah.
Maklum di desa, tanah orangtua kami luas dan penuh dengan tanaman bunga.


Daun-daun segar dan hijau menjadi bahan kami untuk bermain masak-masakan, salah satunya daun mangkokan. Hampir semua rumah menanam daun mangkokan , karena selain menjadi pagar halaman juga mempunyai beragam manafaat.

Daun mengkokan berbentuk bulat besar sebesar telapak tangan orang dewasa, dengan galur-galur lembut di setiap lembar daunnya. Di sebut mangkokan karena daunnya lebar berbentuk mangkok dan bisa digunakan juga untuk alas makanan.

 Mangkokan (daun mangkokan) dengan  nama ilmiah Polyscias scutellaria, meskipun kami di Jawa menamakan mangkokan, tetapi didaerah lain penyebutan berlainan. Misalnya di Sunda  biasa disebut mamanuka, di Sumatera  bisa disebut memangkokan atau  pohon mangkok, sementara di Ambon biasa menyebutnya dengan  daun papeda atau  daun koin.

Mungkin tidak ada yang cukup mengetahui kalau daun mangkokan tidak hanya berfungsi sebagai pagar halaman, tetapi ternyata enak juga digunakan sebagai lalapan. Maka tak heran jika kambing juga suka dengan daun mangkokan tersebut. Tak heran jika saat daunnya lebat menjadi incaran kambing dan sapi.
Saat saya kecil, daun mangkokan banyak dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan , meskipun barangkali saat itu para orangtua  dan tetangga kami di desa tidak mengetahui jika ada penelitian manfaat dari daun mangkokan.
 Menurut penelitian, daun mangkokan mengandung zat-zat seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Selain itu daun mangkokan juga memiliki alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol

Melancarkan Buang Air Kecil
 Sesekali   kami pernah mengalai kencing yang berulang tetapi sedikit atau biasa di sebut anyang-anyangen.  Resep sederhana kami, selain mengikat jempol kaki dengan karet gelang, juga  membuat ramuan dari daun mangkokan.  Caranya mudahm beberapa lembar daun mangkokan yang masih segar dan cuci bersih, direndamlah dengan air panas secukupnya. Kemudian rendaman daun mangkokan tersebut  digunakan untuk mengompres  perut bagian bawah.

Mengatasi kerontokan  rambut
Saat saya kecil, jarang sekali mengenal sampho buatan pabrik yang khusus digunakan untuk mengatasi rambut rontok atau menghitamkan rambut. Biasanya yapakai sampho biasa yang tanpa embel-embel khusus untuk manfaat tertentu. Misalnya saat itu mengunakan sampho bubuk, merk lupa. Nah, saat rambut mengalami kerontokan, atau ingin menghitamkan rambut, gampang saja, pakai daun mangkokan. Gampang, daun mangkokan tinggal di cuci  dan dilumatkan. Nah, perasan airnya bisa digunakan untuk memijit kulit kepala. Bila dilakukan secara rutin, insya allah rambut akan tumbuh lebat dan subur serta hitam. 

Mengobati luka baru
Saat jatuh dan tergores luka,  cukup di balur dengan lumatan daun mangkokan . Kulit akan terasa dingin sehingga efek perih dan sakit lebih berkurang. Lakukan beberapa kali hingga luka mnegering dan sembuh.

Obat  Radang Payudara
Nah, ini resep bagi ibu-ibu yang menyusui. Terkadang saat menyusui, payudara mengalami luka lecet. Sat inilah, saat yang tidak mengenakan dan ditakuti para ibu. Kalau mau berhenti menyusui anak kok sayang sekali karena ASI terbuang percuma dan mengurangi hak anak mendapatkan ASI. Tetapi kalau mau diteruskan rasanya luar biasa perih dan sakit. Jangan khawatir, tidak perlu risau. Cukup mengambil daun  mangkokan, setelah di cuci bersih lalu dilumatkan dan ditambahkan munyak kelapa dan parutan kunyit. Hangatkan aiatasi sebentar biarkan hangat, kemudian oleskan di bagian payudara yang membengkak. Insya allah jika rutin bisa mengurangi peradangan dan rasa perih. Dan yang jelas, ibu

Mengobati sariawan
Saat sariawan menyerang, taka da salahnya mencoba menguyah daun mangkokan. Karena mengandung vitamin C, maka bisa juga menyembuhkan sariawan

Oya, pohon mangkokan mudah sekali menanamnya, tinggal potong (patahkan langsung karena batangnya mudah patah)  dan tancapkan di tanah. Dah, gitu saja, tunggu beberapa hari, batang akana berdiri tegak dan tumbuh dengan sempurna. Sangat mudah.

Semoga bermanfaat sayang.

_Solo, 26 Januari 2016_

Kerudung Halal? Jadi Ada Dong Kerudung Haram

Mendadak ada ayang aneh dalam urusan halal dan haram. Kalau selama ini urusan tersebut berkisar untuk makanan/minuman, obat-obatan, produk kosmetik, sekarang beredar kabar ada produk kerudung halal.

Tak tanggung-tanggung, produk halal tersebut disematkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk  salah satu produk  retailer besar  dengan merk  Zoya. Produk yang diberikan sertifikasi halal adalah kerudung.  
Seperti  cuitan Zoya dalam akun Instagram resmi dari Zoya, @zoyalovers, terdapat poster pengumuman yang bertuliskan, "Kerudung bersertifikat halal pertama di Indonesia. Tahukah Anda? yang membedakan antara kain yang halal dan haram adalah penggunaan emuslifer pada saat pencucian kain tersebut, untuk produk halal bahan pembuatan emuslifernya menggunakan tumbuhan sedangkan untuk yang tidak halal emuslifernya menggunakan gelatin babi."
Untuk meyakinkan  konsumen, selain mengaet  brand ambassador artis cantik terkenal yang berhijab, Laudya Cinthya Bella saja,  Zoya juga memasang reklame iklan raksasa di kota-kota besar dengan tagline “Yakin Hijab Yang Kita Gunakan Halal?”.

Saya tenger-tenger (otak  dan pandangan kososng, badan lemas) membacanya. Kenapa? Lha kalau memang benar MUI telah memberikan sertifikat halal untuk produk kerudung Zoya, bagaimana dengan kerudung paris saya yang merk-nya ach embuh, seharga Rp 9.000-an ini? Ada setumpuk kerudung berwarna-warni yang selama ini saya pakai, alamat haramkah?

Hadeh?  Apakah MUI benar-benar memberikan sertifikat halal  untuk kerudung Zoya tersebut,  saya penasaran. Kemudian saya coba telp kantor MUI di 021-31902666 tapi nggak ada yang angkat. 

Saya telpon no satunya di 021-3917853. Oleh petugas yang bernama pak A (nama singkatan) dia  meminta  minta saya buka web www.halalmui.org  untuk mencari tahu. Tetapi setelah saya buka ada ribuan nama  produk yang terbagi dalam beberapa kategori seperti kelompok minuman, daging, ikan dan produk olahan ikan, kosmetik, obat-obatan, restaurant, kelompok lainnya,dan masih banyak lagi. Saya coba pelototi satu persatu untuk mencari produk kerudung tetapi kok belum ketemu. Kemudian saya telpon kembali dan  ia mengatakan tidak tahu menahu dan baru dengar kalau ada kerudung halal. Dia bilang , mungkin dari bahan pembuatnya , sehingga saya disarankan untuk mencari bahan-bahan yang digunakan. Saya mencoba lagi, tetapi nama produk tersebut belum ketemu juga. 

Bisa jadi soal halal tersebut karena dilihat  dari penggunaan emuslifer  yang digunakan untuk mencuci kerudung Zoya yang diklaim  mengunakan tumbuhan, bukan yang mengandung gelatin babi  itulah yang kemudian diklaim produk halal.

Terlepas dari benar atau tidak yang Zoya promosikan tersebut, bagaimana nasib kerudung rumahan yang harganya hanya sekitar  Rp 9000 itu? Jadi kerudung haramkan? Kerduung  murah meriah, sederhana, terjangkau kantong perempuan berhijab yang kantongnya pas-pasan seperti saya ini?  Yang tidak meng-iklankan telah diberikan sertifikat halal MUI?  Haram?

Apakah itu hanya siasat dagang dari retailer besar yang ingin  barang dagangannya  laku keras.  Yang ingin memperluas jangakauan pelanggan dan menyakinkan orang-orang berduit yang menjangkau kerudung  merk tersebut.Yang berpotensi mematikan industry rumahan yang memproduksi kerudung merk ‘ach embuh’ yang  harganya murah meriah? 
Ach embuhlah

_Solo, 4 Februari 2016_