Jujur..jujur...jujur....kalimat yang mudah diucapkan tetapi tidak gampang dilakukan.
“HP yang selalu ditenteng dan tidak pernah tergeletak di dalam rumah adalah HP yg mencurigakan…
WaSPadaLah!!!!!” Kalimat tersebut saya copy dari wall FB teman.
Saya hanya merasakan ada ketidaknyamanan dari salah satu pasangan dengan
sikap pasangannya. Saya pikir ada kecurigaan, dan itu tentunya tidak
datang dengan tiba-tiba, tetapi pasti ada alasan tertentu sehingga
muncul statment seperti itu.
Jika memang jujur kepada pasangan dan tidak ada yang disembunyikan,
kenapa marah dan tidak terima ketika HP dan barang pribadi di buka
pasangan?
Kalimat tersebut seringkali menjadi perdebatan antara pasangan. Yang
merasa marah disebabkan karena merasa privasinya terganggu. Meskipun
sudah menjadi pasangan bahkan pasangan suami istri tetapi masing-masing
pihak merasa tetap berhak mempunyai privasi. Dompet, HP, email, tas
menjadi wilayah pribadi yang tak seorang pun boleh membukanya, tak
terkecuali pasangan.
Di pihak lain, merasa bahwa sudah menjadi pasangan , kenapa harus
punya rahasia? Bukannya setiap pasangan mestinya saling terbuka, jujur,
tidak menyimpan rahasia dan urusanmu menjadi urusanku?
Masing-masing mempunyai alasan tersendiri, merasa argumentasinya
benar. Dan saya rasa tak ada yang berhak menyalahkan, karena itu
menjadi urusan pasangan tersebut. Artinya terserah pasangan tersebut,
apakah merasa nyaman dengan hal itu atau tidak. Apakah akan bersikap
seperti itu terus atau tidak. Apakah pihak yang marah akan membiarkan
pasangan atau memberikan ultimatum atau tidak.
Membuka HP, dompet, email, pasangan bukan berarti tidak percaya diri
atau menyimpan ketidak percayaan kepada pasangan. Bisa jadi karena
memang ada alasan kuat sehingga pasangan berbuat seperti itu misalnya
memergoki pasangan yang ketahuan tidak setia dan itu sudah berulang kali terjadi sehingga memang perlu sesekali di cek isi HP nya.
Kalau memang jujur, menurut saya tidak ada salahnya pasangan mengetahui
isi HP, dompet, tas, email kita. Dengan mempersilahkan pasangan
mengetahui barang-barang pribadi kita, bisa menambah rasa percaya
pasangan terhadap kita.
Kalau memang jujur, kenapa takut??????
Jumat, 25 April 2014
Kampanye Terbuka Menyesatkan Anak-Anak
Kampanye terbuka menjadi salah satu cara untuk meraih simpati
dan dukungan massa. Biasanya berbagai acara dilakukan dalam ajang
kampanye terbuka, dari acara inti seperti orasi, penyampaian visi misi
parpol, ajakan untuk tidak lupa mencoblos parpol yang bersangkutan,
sampai acara tambahan seperti pembagian doorprize dan hiburan. Kemasan
hiburan dibuat semenarik mungkin, sekali lagi untuk menarik simpati
massa. Biasanya parpol mengundang penyanyi band sampai penyangi dangdut
untuk memeriahkan acara kampanye terbuka. Untuk urusan hiburan,
dangdutan lebih ramai dan lebih laku dibandingkan aliran musik lainnya.
Hiburan dangdutan memang diharapan mampu menarik perhatian massa
sehingga massa mau bergabung untuk bersenang-senang. Tidak peduli massa
calon pemilih yang sesungguhnya atau hanya massa bohong-bohongan.
Hampir semua parpol peserta pemilu 2014 ini mengundang penyanyi dangdut pada saat kampanye terbuka. Parpol tersebut mengundang penyanyi dangdut ke kampanye terbuka tanpa memikirkan massa yang mendatangi acaranya. Ada sejumlah parpol yang (entah segaja atau tidak) melibatkan anak-anak kecil tutur dalam kampanye terbuka. Dari anak kecil yang diajak orangtuanya dengan alasan terpaksa di ajak karena tidak ada yang mengasuh, sampai anak kecil yang datang sendiri karena tertarik dengan hiburan gratis.
Keterlibatan anak-anak di bawah umur ini nampaknya tidak didasari betul oleh Parpol ybs, sehingga hiburan dangdut yang disajikan tidak memikirkan dampak bagi anak-anak tersebut. Pakaian yang dipakai penyanyi dangdut biasanya mencolok, seksi (cenderung seronok), pendek, memperlihatkan sebagian anggota auratnya, dan mirisnya dengan pakaian yang serba minim tersebut mereka bergoyang dengan seksi dan seronok. Tak terlihat risih, malu, sungkan karena tidak hanya di tonton oleh petinggi Parpol tetapi juga masyarakat dan anak-anak kecil. Bahkan sejumlah penyanyi dangdut tak canggung turun panggung dan mengajak massa bergoyang. Sekali lagi dengan goyangan yahud dan menantang.
Kampanye terbuka yang dilakukan Parpol dengan melibatkan penyanyi dangdut (tanpa larangan berpakaian seksi dan bergoyang seronok) adalah pendidikan politik yang tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mestinya kampanye terbuka menjadi ajang pendidikan politik yang baik untuk masyarakat. Parpol mempunyai tanggungjawab untuk ikut mencerdaskan dan mendewasakan masyarakatnya, bukan malah menyesatkan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tidak pantas di cekoki dengan hiburan erotis yang tidak ada manfaatnya. Kalau memang mau memasang artis berpenampilan seksi dan bergoyang yahud dalam kampanye terbuka, mestinya Parpol melakukan langkah untuk melarang anak-anak terlibat dalam kampanye tersebut. Itu baru langkah cerdas dan mendidik.**
Hampir semua parpol peserta pemilu 2014 ini mengundang penyanyi dangdut pada saat kampanye terbuka. Parpol tersebut mengundang penyanyi dangdut ke kampanye terbuka tanpa memikirkan massa yang mendatangi acaranya. Ada sejumlah parpol yang (entah segaja atau tidak) melibatkan anak-anak kecil tutur dalam kampanye terbuka. Dari anak kecil yang diajak orangtuanya dengan alasan terpaksa di ajak karena tidak ada yang mengasuh, sampai anak kecil yang datang sendiri karena tertarik dengan hiburan gratis.
Keterlibatan anak-anak di bawah umur ini nampaknya tidak didasari betul oleh Parpol ybs, sehingga hiburan dangdut yang disajikan tidak memikirkan dampak bagi anak-anak tersebut. Pakaian yang dipakai penyanyi dangdut biasanya mencolok, seksi (cenderung seronok), pendek, memperlihatkan sebagian anggota auratnya, dan mirisnya dengan pakaian yang serba minim tersebut mereka bergoyang dengan seksi dan seronok. Tak terlihat risih, malu, sungkan karena tidak hanya di tonton oleh petinggi Parpol tetapi juga masyarakat dan anak-anak kecil. Bahkan sejumlah penyanyi dangdut tak canggung turun panggung dan mengajak massa bergoyang. Sekali lagi dengan goyangan yahud dan menantang.
Kampanye terbuka yang dilakukan Parpol dengan melibatkan penyanyi dangdut (tanpa larangan berpakaian seksi dan bergoyang seronok) adalah pendidikan politik yang tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mestinya kampanye terbuka menjadi ajang pendidikan politik yang baik untuk masyarakat. Parpol mempunyai tanggungjawab untuk ikut mencerdaskan dan mendewasakan masyarakatnya, bukan malah menyesatkan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tidak pantas di cekoki dengan hiburan erotis yang tidak ada manfaatnya. Kalau memang mau memasang artis berpenampilan seksi dan bergoyang yahud dalam kampanye terbuka, mestinya Parpol melakukan langkah untuk melarang anak-anak terlibat dalam kampanye tersebut. Itu baru langkah cerdas dan mendidik.**
Selasa, 12 November 2013
Magnet Mencegah Bengkak Akibat Gigitan Serangga
Pernah di sengat lebah ? Wow, jangan di
tanya bagaimana rasanya. Pedih, sebut-senut, gatal dan membuat badan
meriang, panas dan dingin, terkadang kepala ikut pusing.
Lebah merupakan sekelompok besar serangga yang dikenal karena hidupnya
berkelompok meskipun sebenarnya tidak semua lebah bersifat demikian.
Sebagai serangga, ia mempunyai tiga pasang kaki dan dua pasang sayap.
Biasanya lebah membuat sarangnya di atas bukit, di pohon kayu dan
pada atap rumah.
Kelihatannnya sepele, hanya digigit seekor lebah kecil
yang tak sampai sejempol tangan besarnya. Tetapi kalau sudah kena
gigitannya, wadehhhhhh di jamin akan lebih berhati-hati lagi ketika
bertemu lebah. Beberapa hari yang lalu, tangan
anak saya tanpa segaja di sengat lebah. Tentu saja anak saya yang baru
berumur 4 tahun menangis menjerit-jerit. Saya percaya, pasti sakit
sekali, karena beberapa bulan sebelumya,suami saya juga di sengat lebah
dan luar biasa dampaknya. Selain bengkak memarah, badan suami meriang,
pusing dan semalaman tidak bisa tidur karena merasakan badan yang tidak
enak.
Atas saran dari saudara saya, sebuah magnet ditempelkan tepat
pada tangan bengkak anak saya. Dan luar biasa, saya melihat sendiri,
tangan anak saya tak sembap bengkak, hanya sedikit memerah. Rasanya masuk akal juga, karena selama ini magnet atau yang disebut besi berani ternyata tidak hanya berguna untuk kompas dan industri manufaktur saja. Ternyata magnet memiliki manfaat lain untuk membantu menyembuhkan beberapa penyakit. Dan dipasaran sudah banyak produk kesehatan yang mengatasnamakan magnet sebagai alat penyembuh.
Sebuah
penelitian oleh University of Virginia membuktikan bahwa magnet dapat
mengurangi pembengkakan. Ilmuwan menemukan bahwa magnet statis mampu
mengurangi pembengkakan kaki belakang tikus hingga 50 persen. Teorinya
adalah daerah yang terkena kalsium dalam sel otot menyebabkan pelebaran
pembuluh darah arteri. Dengan memaparkan magnet, pelebaran tersebut
dapat dikurangi.
Dari pengalaman saya, tak ada salahnya mencoba mengurangi bengkak akibat gigitan serangga/lebah dengan mengunakan magnet.
Suami Pilihan
“Bunda, ayah mana? Kerja di mana? Dekat apa? Kapan ayah pulang? “ Masih
banyak pertanyaan lain dari mulut mungil Rama. Mata beningnya menatapku
penuh pertanyaan. Tak mampu aku memberikan jawaban dari serangkaian
pertanyaan yang terus di ulang-ulang , ku rengkuh badan anak bungsuku,
kuciumi dengan rasa bangga, tanpa terasa air mata yang tak mampu ku bendung .
Selalu saja pertanyaan polos dari Rama membuat hatiku bahagia. Kecerdasan si bungsu ini sudah terlihat sejak kecil. Bocah
berusia 3 tahun ini hampir setiap saat menanyakan keberadaan ayahnya,
meskipun sudah ku berikan penjelasan tentang ayahnya. Kerinduan kepada
ayahnya sudah tak terbendung, membuatnya selalu tak puas dengan jawabanku.
Rama tak hanya bertanya padaku, tetapi juga kepada kedua kakaknya, Satrio dan Lintang. Kalau kakaknya terlihat
bosan menjawab , seringkali dengan nada bercanda mengatakan ayahnya tak
akan pulang, membuat Rama menjerit marah. Satrio tertawa senang dengan kegusaran Rama. Lintang sesekali dengan sabar menjelaskan, tetapi karena Rama terus bertanya, Lintang dengan kesal menjawab tanya bunda saja. Pada akhirnya aku yang harus menjelaskan.
Sudah lima bulan ini, mas Bayu terpaksa harus bekerja di luar pulau untuk mengejar kebutuhan yang sangat penting bagi kami. Kenapa
terpaksa? Karena sudah menjadi kesepakatan kami untuk bekerja di kota
saja, kalaupun bekerja di luar kota yang bisa terjangkau dengan tempat
tinggal kami. Setidaknya bisa
setiap hari pulang atau kalau terpaksa seminggu sekali masih bisa
berkumpul dengan keluarga. Mas Bayu sangat memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak-anak, sehingga kami sepakat untuk selalu bersama.
Hanya saja, takdir berkehendak lain, sejak setengah tahun yang
lalu, kami mulai risau dengan rumah yang kami tempati. Sejak menikah 8
tahun lalu, kami hanya bisa mengontrak rumah, penghasilan mas Bayu yang
bekerja sendirian belum mampu untuk membeli rumah. Meskipun mas Bayu bekerja membanting tulang dan mengambil lemburan
untuk mewujudkan impian kami, tetapi impian kami belum bisa tercapai.
Tabungan yang disisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli rumah, habis digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak.
Sebagai istri, sudah berulang kali kutawarkan untuk
membantu bekerja. Tetapi mas Bayu belum mengijinkan, dengan alasan
anak-anak butuh bimbingan langsung dari bundanya. Terpaksa aku hanya membantu dengan hasil yang tak seberapa, menjual makanan kecil yang ku titipkan di warung dan kantin.
Enam bulan yang lalu ada tawaran dari perusahaan yang sedang berkembang di luar pulau Jawa. Setelah kami berunding, sekitar sebulan kemudian dengan terpaksa mas Bayu meninggalkan kami dengan harapan akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar sehingga kami lebih cepat mempunyai rumah idaman.
“Bunda, ayah mana? “ pertanyaan Rama memutus lamunanku . “Kok nggak jawab? Ayah kerja di mana?”
“Ayah kerja jauh di Papua sayang. “
“Papua itu mana? “ tatapnya lagi sambil memainkan ujung bajuku.
Dengan
sayang ku gandeng tangan mungil Rama menuju kamar Satrio. Buku atlas
bersampul merah yang ku ambil dari meja belajar, ku buka lebar di lantai
kamar. Setelah kutemukan lembaran peta Papua, ku jelaskan secara perlahan ke Rama.
“Khan deket
tu, hanya segini. Kok ayah ngga pulang? Nih tinggal gini aja..” suara
cadel Rama membuatku hampir tertawa. Rama tetap nyakin kalau ayahnya hanya kerja di dekat rumah saja. Tangan mungilnya menunjuk peta Jawa dan Papua berulang -ulang.” Nich, nik..inik..inik…dekat khan bun?”
“Iya sayang, kalau di gambar ini memang dekat. Tapi jauh lho. Kalau ayah naik pesawat hampir seharian baru sampai. “
“Naik
pesawat? Ngeng…ngeng….ngeennnnnnnnnnn…..”Rama sudah lupa dengan
ayahnya. Pensil yang ku pakai untuk menjelaskan pulau Papua sudah
beralih fungsi menjadi pesawat. Sesaat kemudian anak bungsuku itu sudah
asyik dengan permainannya.
Setahun berlalu , mas Bayu belum bisa pulang. Kontrak dengan perusahaan hanya memberikan kesempatan cuti sekali dalam setahun. Selama
ini komunikasi dengan mas Bayu ku lakukan melalui telpon, SMS, email
dan chating. Untung saja jaman semakin maju, tehnologi semakin canggih.
Meskipun tak bisa bertemu setiap hari, tetapi setiap hari rasanya sudah
bertemu paling tidak lewat SMS. Tanpa absen, mas Bayu selalu menyapa
anak-anak lewat telpon. Meskipun berjauhan, tugas sebagai seorang ayah
dengan mengikuti perkembangan anak-anak tak pernah dilewatkan.
Kerinduan
sudah membuncah di dada, kami tak terbiasa berpisah jauh dan lama.
Meskipun sudah setahun, mas Bayu belum pulang karena bulan depan sudah bulan ramadhan. Tanggung kalau harus pulang sekarang, karena biaya perjalanan mahal . Menunda pulang 2 bulan lagi akan lebih membahagiakan karena bisa berlebaran bersama. Kami sepakat untuk
menunda rasa kangen yang mendalam. Mas Bayu sebenarnya sudah tidak
sabar lagi untuk bertemu denganku, terlebih dengan anak-anak, terutama
dengan Rama. Setahun yang lalu, Rama belum suka bermain bola, mas Bayu sering mengajari bermain bola dengan tendangan dan sundulan. Dan sekarang Rama sudah pandai menendang bola sambil berlari ke sana kemari.
Anak-anak sudah ingin sekali bertemu dengan ayahnya, rupanya kerinduan
dengan sosok ayah yang selama ini menemani mereka tiap hari sudah
sedemikian besar. Awalnya mereka protes keras, bahkan Lintang sempat
ngambek ketika tahu ayahnya menunda kepulangan. Dia mengurung diri di
kamar dan mogok bicara dan makan. Setelah mas Bayu ikut membujuk lewat telpon, barulah Lintang mau makan.
Untuk kesekian kalinya aku tertawa mendengar celoteh dan candaan suamiku dengan anak-anak. Rasanya tak pernah bosan Satrio, Lintang dan Rama mengelitik ketiak ayahnya. Dengan cepat dan tangkas, mas Bayu menangkap dan mengunci tangan anak-anak. Kedua tangan Satrio di kunci dengan paha kanan, tangan Rama dengan paha kiri dan tangan Lintang di pegang kuat . Ketiga anak-anak tak mampu lagi melepaskan diri, terlebih Satrio yang terus tertawa terbahak-bahak sehingga rasanya tenaga sudah terkuras habis. Jeritan riuh membuat rumah kami ramai dan penuh kebahagiaan, setelah setahun belakangan sepi.
Ku pandangi mereka berempat dengan
rasa haru yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Ingin rasanya
menyaksikan kebersamaan mereka setiap hari. Sebuah keutuhan keluarga yang tak bisa di tukar dengan materi apapun.
“Bunda, lagi memikirkan apa? “ tanpa ku sadari mas Bayu sudah di dekatku. Anak-anak lagi asyik mencoba tablet 7 inci yang dibelikan mas Bayu kemarin sebagai oleh-oleh.
“Bunda senang melihat anak-anak bahagia. Rasanya lama sekali rumah ini sepi tanpa tawa lepas mereka
, Yah.” Kusandarkan kepalaku di dada mas Bayu. Tangan lembut mas Bayu
membelai rambutku. Dengan rasa sayang kecupan hangat mendarat di pipiku.
“
Ayah ingin selalu bersama Bun. Ayah harus menahan sepi, rindu dan rasa
sakit mendalam karena selalu teringat kalian. Ingin rasanya meninggalkan
pekerjaan dan kembali ke rumah. Tetapi kalau teringat setiap tahun kita
harus membayar kontrakan dan terkadang kesana kemari mencari rumah kontrakan, ayah mencoba bertahan. Sedih sekali Bun, kalau ingat kita harus pindah-pindah.”
Ku genggam erat tangan suamiku, kupandangi matanya yang telah dialiri dua sungai bening. “
Ayah, bunda juga merasa berat. Amanah mendidik anak-anak juga sulit
untuk dilakukan sendirian. Tetapi demi cita-cita kita ke depan, bunda
harus ikhlas melepas ayah.”
Mas
Bayu mencium tanganku, membuatku semakin terharu. Betapa bahagianya
mempunyai pahlawan keluarga yang pemurah, pengasih dan rela berkorban
untuk keluarga. Betapa bersyukurnya diriku dikaruniai seorang imam
keluarga yang luar biasa dan sholeh.
Allohu Akbar…Allohu Akbar…………………………… terdengar lantunan adzan magrib dari masjid dekat rumah. Alhamdulillah, puasa kami berakhir hari ini. Besok, kami merayakan hari kemenangan bersama-sama. Mas Bayu merangkul pundakku berjalan ke ruang makan, mengikuti anak-anak yang berlarian dengan jeritan syukur mereka.
Bibirku membentuk senyuman, aku nyakin ini senyum paling manis dari senyumanku selama ini.
***
(Mawar VI, akhir Okt 2013, teruntuk suamiku tercinta)
Penyesalan Mimi
[Kita harus belajar untuk bisa menerima kenyataan
Harus di hadapi, jangan sampai di sesali ]
Mimi membuang
nasi dan lauk buatan ibu. Mukanya cemberut, wajahnya masam tanda tak senang.
Dengan kesal kakinya menendang kue yang telah jatuh dilantai. Tak dihiraukan
wajah sedih ibu yang telah bersusah payah menyediakan masakan. Bahkan kekesalan
Mimi dilanjutkan dengan menendang pintu kamarnya.
“Mimi, jangan begitu nak. Tak baik kelakukan kamu seperti itu,” tutur
ibu , tangannya mengambil nasi dan lauk
yang berserakan di lantai.
“Huh, tiap hari makan nasi thiwul dan ikan kering.
Apakah tak ada lauk lainnya? Sesekali beli ayam, daging , susu, nasi putih.
Thiwul lagi, ikan kering lagi, air putih, huh bosan. “ sembur Mimi marah.
Ibu memandang anak semata wayangnya dengan sorot mata
sedih,” Ibu tidak ada uang, nak. Hanya ini yang mampu kita makan. Kita harus
bersyukur karena masih bisa makan meskipun sederhana seperti ini. “
“NGGAK MAU !! Mimi nggak mau makan kalau hanya
seperti ini terus. BOSAN! Lama-lama Mimi bisa muntah.”teriak Mimi bertambah
kesal.
“Mimi sayang, ibu janji kalau ada rejeki akan
membelikan ayam, daging, susu seperti keinginan kamu,” janji ibu meredakan
amarah Mimi.
“NGGAK, pokoknya kalau nggak ada ayam, Mimi nggak mau
MAKAN, TITIK !”
BRAAAAAAAAAAAAAK, pintu di banting keras. Mimi
berjalan keluar dengan luapan amarah.
Ibu hanya bisa mengelus dada, tak didasari ada buliran air mata yang menetes di
pipi tuanya. Ada sejumput penyesalan karena tidak mampu mendidik Mimi dengan
baik. Sejak ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu, Mimi berubah menjadi anak yang
sulit di atur, pemalas dan suka menang sendiri . Segala keinginannya harus
dipenuhi. Mimi akan marah kalau ibunya tak bisa memenuhi permintaan.
Tak pernah mau membantu ibu, justru selalu merepotkan. Padahal ibu sudah
bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Ibu hanya mampu menyediakan nasi thiwul yang
terbuat dari singkong. Nasi putih menjadi makanan yang mewah bagi mereka.
**
Matahari bersinar cukup terik mengantarkan panas yang
terasa menyengat di kulit. Angin siang tak berhembus seakan enggan berhadapan
dengan Sang Surya.
Mimi menyeret kakinya tak tentu arah. Badannya mulai
gerah, bahkan di beberapa bagian sudah mulai basah karena keringat. Perutnya
sudah keroncongan dari tadi karena sejak pagi belum ada sebutir nasipun masuk perut.
Kerongkongan juga sudah kering dari tadi, bahkan ludahpun terasa tak ada
lagi. Langkah kakinya mulai pelan dan terseok-seok. Karena tak bisa menahan capek dan lapar, Mimi
memutuskan untuk berhenti di sebuah pohon besar di pinggir desa. Sepertinya
pohon itu rindang sekali, aku akan beristirahat dulu,batin Mimi. Benar saja, di
bawah pohon besar dan rindang itu, Mimi bisa melepas lelah. Perutnya semakin
sakit karena terasa di remas-remas. Sebersit penyesalan melintas di pikiran
Mimi karena telah menolak masakan ibu. Padahal ibu sudah berbaik hati setipa
hari mneyediakan makanan . Apakah aku pulang saja? Ach tidak, aku bosan dengan makana itu itu saja. Lebih baik
aku pergi saja, kata Mimi dalam hati.
Meskipun kelaparan, angin sepoi-sepoi yang berhembus mampu mengantarkan kantuk.
Matanya terasa berat dan tak lama kemudian Mimi tertidur. Tiba-tiba ada seorang
nenek bertubuh gemuk mendatanginya. Mimi terkejut dengan kehadiran orang yang
tak dikenalnya.
“Anak, kenapa kamu
tidur di sini?”
‘” Saya...saya....emh saya sedang istirahat , nek,”
sahut Mimi terbata-bata.
“Ehm, kamu kabur dari rumah ya?memangnya
kenapa?”tanya nenek itu seakan tahu apa yang telah terjadi.
Mimi tersipu
malu,” Iya nek, saya kesal karena ibu tidak menyediakan makanan yang enak-enak.
Setiap hari hanya nasi thiwul dan ikan asin saja,” gerutu Mimi kesal.
“Hhehehehehe, nama kamu siapa?”
“Mimi,Nek”
“Baiklah Mimi, kalau kamu mau makanan yang enak , ayo
ikut nenek saja.”
Mimi memandang nenek tak percaya,” Apakah nenek bisa
memberikan makanan yang enak-enak?”
“Nggak hanya makanan, kamu juga bisa mendapatkan
baju-baju bagus dan perhiasan,”terang nenek menyakinkan.
Mimi tertarik dengan ajakan nenek yang baru
dikenalnya. Mimi tak ingat lagi pesan ibu kalau harus berhati-hati dengan orang
yang baru dikenalnya. Mimi hanya membayangkan mendapatkan makanan lezat dan
pakaian bagus seperti yang selama ini diharapkan.
Tak berapa lama kemudian, Mimi dan nenek sudah sampai
di sebuah rumah yang besar, mewah dengan halaman luas. Banyak perabotan mewah
yang menghiasi rumah besat itu. Mimi
semakin kagum ketika di meja makan tersedia makana yang enak dan banyak sekali,
Ada ayam goreng, opor ayam, daging empal, sate kambing, ikan bakar, dan
buah-buahan. Semua nampak lezat dan
membangkitkan selera. Nampak beberapa
orang anak sebaya Mimi sedang bersiap makan juga. Setelah dipersilahkan , Mimi
segara menyantap semua hidangan yang tersedia. Rasanya perut Mimi tak bisa kenyang sehingga semua makanan di masuk
ke perut. Setelah semua kenyang, Mimi dan anak sebayanya di bawa ke sebuah
kamar yang luas dan penuh dengan perabotan mahal. Tanpa di minta, Mimi sudah
meloncat ke tempat tidur empuk yang
membangkitkan kantuknya.
“Eh nggak boleh tidur. Enak saja, sudah kenyang kok
lanagsung tidur. Ayo kalian semua ikut ke belakang. Banyak pekerjaan yang harus
dikerjakan,” perintah nenek dengan suara keras, tegas dan marah. Mimi menatap
heran perubahan sikap nenek, tak ada lagi keramahan dan kesabaran yang sempat
Mimi lihat.
Sejak saat itu Mimi dan teman-temannya dipaksa
bekerja keras siang dan malam. Tak ada
makanan lezat dan berlimpah lagi, hanya ada sedkit makanan dengan lauk garam
yang dicampur oarutan kelapa. Tak ada tempat tidur mewah, mereka hanya tidur di
ruang belakang sambil berdesak-desakan.
Sekitar seminggu kemudian Mimi sudah tidak tahan
lagi. Badannya terasa remuk dan sakit
sekali. Beberapa kali nenek itu memukulnya karena dianggap pemalas dan tidak
becus bekerja. Tiba-tiba penyesalan muncul di hatinya. Mimi sangat menyesal
telah menyakiti hati ibu. Kerinduan
untuk bertemu ibu dan menikmati masakannya semakin kuat hadir di
hatinya. Mimi menangsi sedih ingin bertemu dan minta maaf kepada ibu.
Tiba-tiba..Aduhhhhhhhhhhhhhhhhhh, Mimi terbangun saat
sebuah ranting pohon jatuh dan menimpa kepalanya. Matanya tampak kebinggungan, pandangan diarahkan ke kanan
dan kiri. Mimi baru tersadar kalau dia tertidur dan bermimpi. Mimi kemudian
menyadari kalau dia hanya bermimpi. Syukurlah , semu ini hanya mimpi. Tak ada orang sebaik ibu dan tak ada rumah seindah rumah sendiri. Ibu , Mimi minta maaf,
Mimi akan makan semua masakan ibu, tekad
Mimi sambil bergegas pulang ke rumah***
Kami Sayang Pusy
(Buat Mas Afin, Mbak Alma, dek Adhan)
Adhan menguap
lebar, matanya masih terasa berat. Semalam Adhan sulit tidur, suara meong-meong di luar
membuatnya tak bisa memincingkan mata. Entah kucing siapa yang tersesat di luar
rumah, saat hujan deras menguyur bumi. Meskipun Adhan berusaha mencari suara
kucing tersebut, tetapi tidak juga ditemukan. Hujan semakin deras membuat Adhan
tak melanjutkan mencari kucing, ibu
minta anak bungsunya untuk segera masuk
karena khawatir sakit. Dengan berat hati Adhan masuk , dia berjanji akan
mencari kucing itu besok pagi.
Adhan meloncat
bangun teringat kucing tadi malam, seketika lenyaplah kantuk yang tadi dirasakan. Setengah berlari, Adhan keluar lewat
pintu belakang. Karena tergesa-gesa,
hampir saja nasi goreng buatan ibu tumpah tersenggol.
“Maaf bu, saya tergesa-gesa,” Ibu geleng-geleng
kepala melihat kelakukan Adhan.
“Mau ke mana? Sudah siang, nanti terlambat ke
sekolah,”
“Sebentar saja bu, nanti saya segera mandi,”
Mata Adhan celigukan mencari kucing di sela-sela
tanaman di teras dan halaman.
“Pus...pus....pus.....ck...ck....ck....ck....ck......pus....” Hampir
semua tanaman sudah di sibakkan, tetapi tak ada sosok si Pus yang tadi malam
terdengar di luar. Adhan melangkah ke depan rumah, kembali memanggil si Pus.
“Pus..........pus.................”
“Adhan...adhan....cepat mandi, nanti terlambat,”
terdengar suara ibu memanggil.
“Iya bu, sebentar lagi,” jawab Adhan sambil beranjak
. Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara lemah mengeong ..meong....meong......
Mata Adhan celigukan mencari sumber suara, dan sesaat kemudian Adhan tersenyum
senang melihat kucing kecil yang duduk meringkuk seperti kedinginan di samping
pot besar pohon mangga. Bulunya berwarna
putih bercampur hitam, basah oleh air hujan dan
ekornya pendek nampak bergerak dengan lamah. Matanya yang besar nampak
lesu. Adhan langsung senang sekaligus
iba dengan kucing kecil itu, tangannya mengangkat badan yang basah karena
kehujanan tadi malam. Tak ada penolakan dari si Pus, dengan mata berbinar
lidahnya menjilat tangan Adhan. “ Emh,
aku nggak tahu namamu, ku panggil si Pusy saja ya? “. Si Kucing kecil nampaknya
mengerti pembicaraan pincang. Adhan, dengan susah payah bangkit dan
mencoba berjalan. Ya Alloh, ternyata
kaki depan sebelah kanan si Pusy
pincang. Kasian sekali, apakah tidak ada yang memelihara kamu? Aku akan
membawamu pulang, tapi apakah ibu mengijinkan ya, batin Adhan. Dengan agak
ragu, Adhan membawa si Pusy ke rumah, dia harus minta ijin kepada ibu sebelum
memelihara kucing.
“Bu, eng.....”
“Hah, apa itu? Kucing? Itu kucing yang tadi malam?”
tanya ibu.
Adhan mengangguk, dengan rasa sayang dielusnya
bulu si Pusy yang masih terasa lembab,” iya bu, kasihan
sekali badannya basah. Pasti tadi malam kehujanan. Emh...bu, bolehkan si Pusy
di sini? sepertinya Pusy sendirian,”
“Memang Pusy ngga ada yang punya? “ tanya ibu.
“Lagipula melihara binatang itu tidak gampang. Kamu
harus memberi makan, membersihkan badannya dan membuat si pus jadi binatang
penurut, tidak merusak. Nggak hanya ngajak main saja. Emangnya kamu sanggup?”
Alma, kakak Adhan menyahut saat keluar dari kamar mandi.
Adhan meleletkan lidahnya, “ Keciiiiiiiiiiiiiiiiil ,
masak gitu saja nggak sanggup , kak,”
“Wek, nggak nyakin. Ngak usaha saja bu, ntar juga aku
yang repot suruh ngasih makan,” sahut Alma lagi, sambil berlari masuk kamar
menghindari cubitan adiknya.
“Huh KAKAK
JELEK...........,” gerutu Adhan karena tidak berhasil mengejar kakaknya.
“Nanti Adhan akan tanyakan ke teman-teman dan
tetangga . Tetapi kalau nggak ada yang punya, Adhan boleh memeliharanya ya Bu?”
tanya Adhan penuh harap.
Ibu rupanya tak tega menolak keinginan Adhan setelah
berjanji akan merawat si Pussy. Adhan segera mencari lap kain kering untuk
mengeringkan bulu Pusy, kemudian memberinya susu di piring kecil. Si Pusy
nampak lahap, dalam sekejap sepiring
susu kentak tandas tak tersisa. Dengan senang Adhan memberikan nasi dicampur
ikan kering. Sebenarnya Adhan masih ingin bermain dengan Pusy, tetapi ibu sudah
tak sabar lagi dan minta Adhan segera mandi dan sarapan.
Beberapa hari kemudian Adhan baru tahu kalau Pusy itu
milik Roni yang tinggal di komplek sebelah. Roni segaja membuang Pusy karena
pincang dan tak mau merawatnya. Dengan senang hati Roni memberikan ke Adhan.
Sebenarnya Adhan tidak suka dengan sikap Roni yang membuang binatang karena
alasan pincang. Meskipun pincang , toh Pusy juga binatang yang berhak di sayang
dan di rawat dengan baik.
**
Sebulan berlalu, si Pusy badannya gemuk, bulunya
tebal. Kalau berjalan badannya bergoyang-goyang
karena kegendutan dan kaki depan sebelah kanan lebih pendek. Adhan dan Alma suka bermain
dengan Pussy. Tak lupa setiap hari memberikan makanan yang cukup. Untuk menjaga kebersihan
bulu, seminggu sekali Pusy di mandikan. Meskipun pincang tetapi mereka berdua sayang Pusy. Ibu dan ayah juga sayang Pusy karena sejak
saat itu tikus-tikus jarang berkeliaran di rumah.
Rok Putih Buat Lely
Teruntuk anak-anak saya, mas Afin, mbak Alma, dik Adhan
(mawar VI, Okt 2013)
(mawar VI, Okt 2013)
Lely
tersenyum malu dengan pujian dari bu Tenti, guru seni suara disekolahnya.
Berkali-kali dihadapan teman-teman, bu guru bertepuk tangan ketika Lely selesai
menyanyikan sebuah lagu. Ya, siang ini anak kelas IV dan V sedang
mengikuti seleksi terakhir untuk
bergabung menjadi group paduan suara yang akan mewakili SD Mekarsari
dalam perlombaan menyanyi tingkat
kecamatan. Perlombaan paduan suara sudah berlangsung selama tiga tahun, dan
selama ini SD Mekarsari belum pernah mendapatkan juara. Kali ini semua guru dan
murid berharap akan memenangkan perlombaan dan berhak mendapatkan piala
bergilir dari pak camat.
“ Baiklah anak-anak, ibu sudah
memutuskan untuk memilih 10 anak diantara kalian. Pilihan ibu ini sudah dipertimbangkan
dengan baik, dengan melihat kemampuan kalian dalam bernyanyi. Bagi yang belum
terpilih, ibu harap tidak berkecil hati. Mungkin saat ini belum berhasil
mewakili sekolah kita, tetapi bukan berari kalian tidak bagus dalam bernyanyi.
Tetapi karena hanya ada 10 anak yang mewakili sekolah, jadi mohon maaf kalau
diantara kalian ada yang tidak terpilih. Nama-nama yang masuk ke tim paduan
suara adalah Rina, Ika, Wati, Hana, Salsa, Alma, Zahra, Elisa, Dila
dan....Lely..... Selamat untuk kalian yang terpilih”
Lely seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Namanya masuk dalam tim paduan suara. Sungguh Lely tak menyangka, karena banyak
teman-temannya yang bersuara bagus dan layak terpilih. Dicubitnya tangan kanan
untuk menyakinkan pendengarannya tak salah. Rasa sakit dan warna merah di
tangan membuat Lely nyakin kalau dia memang
berhak mewakili paduan suara SD Mekarsari. Sorakan dan jeritan
senang teman-temannya juga menyadarkan
Lely kalau apa yang diinginkan selama ini terwujud. Selama ini, diam-diam Lely
sangat berharap bisa masuk ke tim paduan suara. Dengan bekal suara yang menurut
ibunya cukup bagus, Lely menjadi percaya diri untuk menunjukan kemampuan dalam
olah vokal. Hampir seminggu setelah bu guru memberikan pengumuman seleksi tim paduan suara, Lely tak kenal lelah untuk berlatih menghapalkan lagu.
Sambil membantu ibunya membuat kue, Lely selalu bersenandung. Baginya waktu
sangat berharga, karena Lely ingin menunjukan
kemampuannya.
“Anak-anak, selain suara bagus dan
kompak, dewan juri juga menilai kekompakan seragam kalian. Ibu
dan guru-guru lainnya sudah memutuskan tim paduan suara akan memakai baju putih
putih dan sepatu hitam. Untuk itu tolong kalian persiapkan seragam yang
dibutuhkan ya. Masih ada waktu 2 minggu lagi . Sekian, dan terimakasih. Jangan
lupa setiap hari sepulang sekolah kita akan berlatih
bersama............................”
Lely termangu mendengarkan
penjelasan bu Tenti, tiba-tiba wajah cerianya berubah menjadi murung.
Seandainya tak memakai seragam apakah
aku bisa mengikuti paduan suara ? Batin Lely sedih. Harapan untuk terlibat
dalam paduan suara sudah membumbung tinggi. Tetapi kalau tidak memakai seragam
akan terlihat lucu dan tidak kompak. Kasian teman-teman yang lain.
“Lel? Kamu kok tiba-tiba murung,
kenapa?” suara Ika, teman sebangku Lely menyadarkan lamunannya. Lely hanya
tersenyum sambil mengelengkan kepala.
“Waduh aku tidak punya rok putih.
Nanti aku akan minta mamaku untuk membelikan,”sambung Ika lagi. Wajahnya ceria
dan nampak gembira sekali. Tak ada raut kecemasan . Lely nyakin kalau semua
kebutuhan Ika akan dipenuhi oleh orangtuanya karena mereka mampu. Lain dengan
Lely yang hidup serba kekurangan. Tidak mudah mengharapkan sesuatu dari ibunya,
meskipun untuk kebutuhan sekolah. “Kamu gimana Lel? Sudah punya rok putih
belum?”
Lely mengelengkan kepalanya, “ Belum
Ka.”
“Trus gimana? Masak kamu tidak pakai
seragam? Eh, cari pinjaman saja gimana? “
“Iya. Coba saja nanti. Kalau nggak
ada pinjaman, ya gimana lagi...” jawab Lely lemah.
“Ayolah, kamu harus semangat dong.
Suara kamu bagus, sayang kalau kamu tak bisa memperkuat tim kita,” Ika
mendorong semangat sahabatnya.
Lely tersenyum dipaksakan, dia tak
nyakin bisa mempunyai rok putih yang dibutuhkan. Tak sampai hati untuk minta
ibu membelikan rok itu. Tetapi apakah Lely rela untuk tidak mengikuti paduan
suara di perlombaan nanti? Bukankah selama ini dia sudah berusaha untuk lolos
seleksi? Alangkah sayangnya kalau langkahnya harus terhenti karena tidak
mempunyai rok putih. Lely bertekad dalam hati untuk mendapatkan rok putih. “Iya, insya alloh aku
akan berusaha Ka,” jawab Lely disambut senyuman hangat Ika.
**
Seperti biasanya sepulang sekolah
Lely mengambil tempat kue yang dititipkan di kantin sekolah dan beberapa kantin
sekolah lainnya. Sore sebelum sholat maghrib, Lely mengambil
tempat kue di beberapa warung. Pekerjaan membantu ibu sudah dilakukan sejak duduk di kelas
II SD. Setiap hari setelah adzan subuh,
Lely membantu ibu membuat kue-kue yang akan dititipkan di warung dan kantin
sekolah. Sejak bapak meninggal karena kecelakaan ketika Lely kelas 1 SD, tulang
punggung keluarga terpaksa di pundak
ibu. Kerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan keluarga di
jalani ibu tanpa mengenal lelah. Hampir setiap hari siang dan malam waktu ibu
habis untuk bekerja. Sebelum tidur malam ibu sudah meracik bahan-bahan untuk
membuat kue, dan sekitar jam 02.00 ibu bangun untuk memasak beraneka ragam kue.
Pagi sekitar jam 05.30, semua kue sudah
siap . Dengan di bantu Lely, ibu akan mengatur kue-kue, sebagaian di bawa ibu
ke pasar, sebaghian lain akan dititipkan ke warung-warung dan kantin sekolah.
Jam 06.00 semua kue sudah siap, ibu berangkat ke pasar dan Lely mengantar kue
ke warung dan kantin sekalian berangkat
sekolah. Sebenarnya Lely ingin membantu ibu memasak kue, tetapi ibu melarang
karena khawatir Lely akan mengantuk kalau harus bangun lebih dini.
“Assalamualaikum.............”
“
Wa’alaikumsalam........................ sudah pulang Lely?” terdengar jawaban
ibu dari dapur. Lely langsung menemui ibu,
setelah meletakkan tas sekolah di meja dapur yang menjadi satu dengan rungan
tengah dan sekaligus tempat Lley belajar setiap harinya. Setelah meletakkan kotak tempat kue di ember,
Lely mencium tangan ibu.”Alhamdulillah, semua kue hari ini habis terjual bu,”
sejumlah uang dari kantin sekolah diberikan ke ibu. Sambil terus membersihkan
sayur bayam, ibu menerima uang pemberian Lely. Tampak senyum puas terbalut
letih dari bibir ibu. Tak ada kebahagiaan bagi ibu dan anak tersebut selain
dagangan laku terjual. Setelah menghitung uang, selembar uang Rp 5.000 di
masukkan ke celengan gajah yang terbuat dari tanah liat. Ibu sudah terbiasa
menyisihkan sebagian uang dari penjualan kue. Besarnya tidak pasti, terkadang
Rp 1.000, kalau kebetulan semua jualan laku bisa sampai Rp 5.000. Untuk
keperluan mendadak dan kelak bisa digunakan membiayai sekolah Lely , demikian
kata ibu.
“Kamu sudah lapar nak? Ibu baru mau
masak .”
“Sayur bayam sama tempe goreng bu?
Ehm, enak sekali. “ Lely berdecap membayangkan sayur bayam hangat dan tempe
yang menjadi menu makan siangnya. Lely anak yang penurut dan tak banyak
menuntut. Dia mau memahami kondisi ibu, semua sajian yang dimasak ibunya selalu
di makan. Meskipun setiap hari terbiasa
dengan lauk pauk sederhana, tetapi Lely sudah sangat bersyukur.
Lely minta ijin untuk menganti baju
seragam, setelah 10 menit kemudian nampak tangannya sibuk membantu ibu memasak.
Aroma tempe yang di goreng memenuhi dapur sederhana itu.”Bu, alhamdulillah Lely
masuk ke tim paduan suara,”
“Alhamdulillah, kerja kerasmu tak
sia-sia nak. Ibu bangga padamu. Kamu harus berlatih lebih baik lagi agar tak
memalukan sekolahmu ya,”
“Iya bu. Tapi.......eng............”
“Kenapa nak? “
“Itu bu...Lely....” melihat raut
wajah kelelahan ibunya, tak sampai hati Lely untuk mengatakan soal rok putih
yang harus digunakan untuk paduan suara. Meskipun hampir setiap hari ibu
menabung dari menyisihkan sedikit laba berjualan kue, tetapi uang itu akan
digunakan untuk hal-hal penting lainnya.
“Kenapa Lel?”tanya ibunya lagi
“ Nggak apa-apa kok bu. Lely bantu
bikin sambal ya bu. Ehm...baunya enak sekali, pasti tempe ini sedap.” Lely
mengalihkan pembicaraan. Tangannya sibuk melumatkan cabe, bawang putih, terasi
dan garam. Ibu tak mendesak dan menyelesaikan memasak sayur bayam. Semua
masakan hampir selesai,sebentar lagi mereka akan menikmati makan siang.
**
Semua uang simpanan Lely sudah
dikumpulkan, tetapi tak sampai Rp 25.000. Hanya ada 15 lembar seribuan, 10 koin
limaratusan , dan uang receh duaratusan , yang total semua hanya Rp 24.500.
Lely sudah mengeluarkan semua ‘harta’nya tetapi tetap saja tak ada lagi. Dengan
lesu Lely mengumpulkan semua uang yang
berserakan di kasur tipis kamarnya, kemudian di masukkan ke cangkir bekas air
mineral. Lely berpikir keras untuk menambah simpanan uangnya. Aku harus bisa
membeli rok putih, tekad Lely. Berapa harga rok putih? Apakah mahal sekali?
Jangan-jangan aku tidak mampu mengumpulkan uang sampai lomba paduan suara
nanti, batin Lely khawatir.
“Lely....Lely.....”ketukan pintu
membuyarkan lamunan Lely.
“Iya, sebentar bu,” tak sampai 2 menit Lely sudah berdiri di
depan ibu.
“Bu Gito tadi ke sini. Dia butuh
teman untuk membersihkan halaman rumahnya. Kalau kamu mau, sore ini bisa membantu
bu Gito,” jelas ibu. Lely hanya menganggukkan kepala, tiba-tiba dia ingat
tentang rok putihnya. Mudah-mudahan ada jalan untuk menambah uang simpanannya,
batin Lely.
Setelah minta ijin, Lely segera
berangkat ke rumah bu Gito yang berjarak sekitar 1 km dari rumahnya. Rumah bu
Gito besar, tetapi halaman rumah kelihatan kotor dan kurang terawat. Maklum bu
Gito hanya tinggal bersama suaminya, karena semua anaknya sudah kerja dan
tinggal di kota lain. Setelah pensiun pak Gito dan istrinya lebih sering di
luar kota untuk mengunjungi anak-anaknya.
Mereka tidak mempunyai pembantu rumah tangga, hanya sesekali memanggil
mbok Yati untuk membersihkan rumah. Tetapi sudah seminggu ini mbok Yati sakit
sehingga rumah bu Gito kelihatan kotor.
“Syukurlah kamu bisa datang Lely. Rumah
ibu sudah kotor sekali. Mbok Yati masih sakit. “ jelas bu Gito sambil
memberikan penjelasan apa yang harus Lely kerjakan. Dengan senang hati Lely
segera mengambil sapu. Tak lama kemudian Lely sudah kelihatan asyik membersihkan
rumah, halaman rumah dan kebun belakang. Setelah semua di sapu, Lely
segera membersihkan semua debu yang menempel di perabotan rumah dan mengepel
lantai. Peluh nampak bercucuran di
dahi, tetapi Lely tetap bersemangat. Baginya membersihkan rumah sudah hal yang
biasa, tak sedikitpun Lely merasa keberatan meskipun rumah bu Gito besar.
Saat adzan magrib berkumandang,
semua pekerjaan sudah selesai dilakukan. Rumah nampak rapi, bersih dan enak di
pandang mata. Bu Gito tersenyum puas melihat hasil kerja Lely, demikian juga
Lely nampak gembira karena semua tugas sudah diselesaikan. Yang lebih membuat
Lely bahagia karena bu Gito memberikan upah yang cukup besar. Selembar uang Rp
20.000 sudah berpindah tangan masuk ke saku baju Lely.
“ Maaf bu, apakah ibu masih
membutuhkan tenaga saya? “ tanya Lely ragu-ragu.
Bu Gito menatap Lely sambil
tersenyum,” Memang kenapa nak?”
“Eng, kalau mbok Yati belum bisa
bekerja, saya masih bersedia untuk mengantikan. Tetapi setelah pulang sekolah
bu.”
“O..begitu. Ya, boleh saja. 2 hari
lagi kamu ke sini lagi ya. Rumah ibu
memang tidak setiap hari dibersihkan,
cukup 2 hari sekali saja. Tetapi kalau mbok Yati sudah berangkat kerja,
sepertinya ibu tidak membutuhkan tenagamu, nak“
Setelah mengucapkan terimakasih Lely segera
berpamitan.
**
Pulang sekolah Lely segaja berhenti di toko pakaian di dekat kecamatan.
Dengan memberanikan diri Lely bertanya kepada penjaga toko harga rok putih.
Harga rok putih Rp 65.000, uang simpanan Lely belum mencukupi. Masih
kurang Rp 20.500 lagi. Masih ada
waktu 5 hari untuk mengumpulkan uang,
batin Lely bersemangat. Setiap selesai latihan
paduan suara disekolah, Lely segera pulang dan membantu ibu membereskan
peralatan memasak kue. Kemarin Lely ke
rumah Bu Gito, tetapi ternyata mbok Yati
sudah berangkat. Jadi Lely tidak jadi membantu membersihkan rumah. Meskipun
agak kecewa, tetapi Lely senang melihat mbok Yati sudah sembuh.
Saat masuk ke rumah, Lely agak heran
karena ibu tidak menjawab salamnya. Lely segera masuk kamar dan sangat terkejut
melihat ibu terbaring lemah. Badannya panas, wajahnya pucat. Ibu hanya
tersenyum lemah tanpa menjawab sepatah katapun. Lely segera membuatkan teh
panas, setelah itu memasak sayur bayam kesukaan ibu.
“Ibu, makan dulu ya. Lely suapi.”
Dengan penuh kasih sayang Lely menyuapi ibu. Lely sangat khawatir kalau ibu
sakit keras, karena meskipun badannya panas tetapi badan ibu menginggil
kedinginan. Dua lembar selimut tak mampu memberikan kehangatan.
“Nanti sore kita ke dokter ya bu. “
“Jangan Lely. Tidak usah. Besok ibu
juga sembuh. Paling juga hanya demam”
“Tidak bu, badan ibu panas sekali.
Lely takut kalau ibu sakit berat. Nanti
sore ke dokter Herman ya.”
Sorenya Lely memanggil becak dan
mengantar ibu periksa ke praktek dokter Hari. Semua uang simpanan yang akan digunakan untuk membeli rok putih di
bawa. Ibu juga membawa uang tabungan, jumlahnya tak begitu besar, hanya Rp 135.000.
Di tambah dengan uang Lely, jumlahnya Rp 179.500. Lely berharap semua uang yang
di bawa cukup untuk membayar biaya pengobatan ibu.
Dokter Hari mengatakan kalau ibu
terserang tipes sehingga harus beristirahat beberapa hari. Ibu tidak
diperbolehkan melakukan pekerjaan berat, harus beristirahat total di rumah.
Lely sedih sekali melihat kondisi
ibunya. Setelah membayar jasa dokter, membeli obat di apotik dan membayar
ongkos becak, hanya tersisa uang Rp 5000. Sisa uang terakhir dibelikan buah
pisang dan bubur. Lenyap sudah harapan Lely untuk membeli rok putih yang
diidamkan. Meskipun sedih, tetapi Lely lebih memikirkan kesehatan ibu. Tak
apalah tidak jadi ikut paduan suara, yang penting ibu sembuh, tekad Lely ikhlas.
Selama ibu sakit, tidak ada
pemasukan sama sekali, sehingga uang modal membuat kue dipergunakan untuk
kebutuhan sehari-hari. Lely minta ijin selama
2 hari untuk tidak mengikuti latihan paduan suara karena harus merawat ibu,
untung saja bu Tenti mau mengerti.
Kurang dua hari sebelum pementasan,
sore itu Lely singgah ke rumah bu Gito yang mengijinkan Lely untuk membantu
mbok Yati membersihkan rumah dan
memasak. Bu Gito mendengar kabar kalau ibu Lely sakit sehingga tidak bisa
bekerja. Dengan iba, bu Gito memberikan sejumlah uang untuk membantu Lely. Sebelum minta ijin pulang, bu Gito
memanggilnya,”Lely, ibu dengar kamu mau ikut paduan suara ya? “
Lely
terkejut karena bu Gito bisa tahu. “ Tadi mbok Yati cerita ke ibu. Kamu
juga berusaha bekerja keras mengumpulkan uang
untuk membeli rok putih ya? Hanya saja uang yang kamu kumpulkan untuk
membayar pengobatan ibumu.” Lely hanya
mengangguk, tak terasa air matanya mengalir di pipi. Lely teringat usahanya
selama ini untuk mengumpulkan uang dan teringat ibunya yang masih sakit.
“Ibu punya rok putih, dulu ini
kepunyaan anak ibu. Kebetulan masih ibu
simpan. Kalau kamu mau, bisa di pakai untuk ikut paduan suara.” Bu Gito
mengulurkan sebuah rok yang terbungkus rapi dalam plastik. Lely hampir tak
percaya dengan penglihatannya, sebuah rok putih yang selama ini diharapkan
sudah ada di depan mata. Dengan gemetar dan tak hentinya mengucapkan
terimakasih, Lely menerima rok yang masih berwarna putih bersih. Tak kelihatan
seperti rok bekas, karena masih rapi, wangi dan warnanya belum pudar.
Lely bertambah bahagia karena ibu
sudah mulai bisa duduk dan berjalan. Rok yang diberikan bu Gito juga pas sekali
di tubuh Lely. Rasanya kebahagiaan Lely berlipat-lipat. Mulai besok Lely bisa
berlatih lagi dan bisa mengikuti tim paduan suara karena sudah mempunyai rok putih. Terimakasih
ibu, bu Gito, ucap Lely penuh rasa syukur.***
Langganan:
Postingan (Atom)