Jumat, 26 Juni 2015

Reuni? Datang atau Tidak Ya?

Puasa baru lewat seminggu, belum genap sepuluh hari pertama alias baru menjalani delapan hari. Lebaran masih lama, seitar duapuluh hari lagi, tetapi rencana reuni sudah lama dibicarakan bahkan undangan reuni sudah  mulai beredar. Informasi dengan cepat bisa ditanggapi melalui medsos.

Seperti biasanya, reuni lebih mudah di lakukan saat sesudah  Hari  Raya Idul Fitri, saat hampir semua orang berkumpul kembali, pulang  untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar di tempat kelahiran masing-masing.

Manfaatkan reuni sebagai ajang silaturahmi (dok. Suci)

Ajang reuni menjadi ajang berkumpulnya kembali, bersatunya kembali teman-teman yang  puluhan tahun tercerai berai, menapaki kehidupan di tempat tinggalnya sekarang.

Beragam cerita biasa terdengar di sini, terutama cerita-cerita masa-masa lalu yang dulu pernah dilalui bersama tatkala masih di bangku sekolah dengan seragam putih biru atau putih abu-abu.

Reuni  juga dimaksudkan sebagai ajang untuk saling menjalin silaturahmi setelah lama putus komunikasi dan diharapkan kelak setelah reuni tali silaturahmi bisa terjalin kembali.

Tujuan reuni memang bagus, bermanfaat, tetapi tidak semua orang suka dengan acara reuni bahkan berusaha menghindar. Kenapa? Berdasarkan pengalaman dari beberapa teman, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Pertama, belum ketemu saja lewat dumay (dunia maya) sudah ada kesan saling 'memamerkan' diri sendiri. Status sosial, jabatan, kekayaan, pekerjaan yang mapan, dll. Mungkin tidak ada maksud dari ybs untuk 'pamer' tetapi tanpa disadari apa yang dilakukan bisa membuat ' minder' teman lain yang kondisi ekonomi, status sosial kurang beruntung.

Kedua, sebagian ada yang mulai 'nyentil-nyentil' kenangan lama saat dibangku sekolah. Siapa yang tidak punya kenangan masa-masa indah di SMA? Rasanya jarang yang melewatkan kesempatan itu. Nah, ada yang mulai nyentil entah bermaksud untuk bercanda atau serius yang jelas kondisi ini bisa tidak mengenakkan pihak tertentu. Apalagi yang pernah punya sejarah cinta monyet yang bersegi-segi( lebih dari satu pasangan). Celakanya, hal ini tidak diperhatikan, bagaimana kalau sampai pasangan yang sekarang cemburu karena menganggap itu serius? Habis reuni malah bisa berantem.

Ketiga,  ada aroma untuk saling 'membalas dendam' antar pihak-pihak tertentu. Gejala tersebut bisa diamati lewat komentar 'silaturahmi' lewat medsos yang mulai terjalin dengan baik menjelang reuni dilakukan. Entah hanya sekedar 'guyunan' atau sungguhan, tetap ada yang merasa kurang nyaman.

Bermanfaat atau tidak, silahkan menilai sendiri, hanya anda yang tahu apakah ajang reuni bermanfaat atau  justru membawa masalah kelak dikemudian hari.

Menurut saya, tidak perlu memikirkan terlalu serius. Kalau mau hadir dan kebetulan waktunya tepat, silahkan rundingkan dulu dengan pasangan masing-masing. Apalagi kalau reuni tidak mengijinkan membawa pasangannya, maka beritahu dulu kemungkinan yang terjadi, misalnya bertemu dengan mantan. Kalau pasangan keberatan ya jangan paksakan untuk hadir.

Kalau memutuskan untuk hadir,  ambil sisi positif dari reuni misalnya:
Pertama, jadikan reuni sebagai ajang silaturahmi. Benar-benar untuk silaturahmi bukan untuk maksud lain. Misalnya pamer kekayaan, jabatan, dll. Jadi jangan berlebihan saat bercerita, jangan berlebihan mengunakan pakaian, perhiasan,dll

Kedua, reuni anggap saja sebagai nostalgia dengan teman-teman. Ya sekedar mengingat-ingat masa lalu baik yang menyenangkan atau tidak.  Tidak usah terlalu berlebihan nostalgianya, sampai harus berbunga-bunga saat ketemu mantannya. Ingat itu hanya masa lalu, sekedar cinta monyet saja. Anda hidup di masa sekarang bersama keluarga anda,bukan hidup di masa lalu dengan teman-teman bau kencur itu.

Ketiga, Manfaatkan untuk membuat jaringan. Jangan lupa tanya-tanya pekerjaannya apa, dimana, ada peluang pengembangannya atau nggak, dll. Siapa tahu kelak bisa menjalin kerjasama. Jadi ngiras-ngirus (jawa), sekali mendayung tiga pulau terlampaui.

Keempat, sebagai pemacu semangat kita. Siapa tahu kita bisa bertukar pikiran, dan bisa belajar banyak dari teman-teman yang sukses sehingga kita terpacu lebih sukses. Atau belajar dari teman-teman yang  kurang beruntung, sehingga kita bisa lebih mensyukuri hidup ini, bersyukur atas karunia Yang Maha Kuasa.

Jadi, monggo, mau datang ke reuni atau tidak sekali lagi putuskan dengan pasangan anda.
Siap-siap reuni SMP nich.***

_Solo, 26 JUni 2015_

Kamis, 25 Juni 2015

Gagasan Sampah 'Naik Kelas' Ala Jokowi

Sampah biasa terbaikan, tidak diperhatikan. Selama ini tak banyak yang mau 'melirik' sampah dan mengelolanya dengan baik.
Kedepan, sampah akan menjadi priorotas, kedepan rupanya akan menjadi bahasan menarik dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.


Pasalnya, Selasa (23/6) saat rapat terbatas di Kantor Presiden membicarakan perihal pengelolaan sampah. Dan rapat itu langsung di pimpin oleh Presiden Joko Widodo.
 
Saya kira ini hal yang tidak biasa, karena isu sampah dan pengelolaannya biasanya menjadi urusan dan tanggung jawab pemerintah daerah. Cukup sampai di sana, tidak sampai masuk ke istana.
Belum banyak pemerintah daerah yang menganggap sampah sebagai bagian dari potensi ekonomi yang bisa dikelola secara baik sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). Sampah cenderung dianggap ya haanya sekedar sampah yang tidak berguna sehingga tak heran jika diabaikan begitu saja.
 
Sampah di TPA Putri Cempo Solo belum terkelola secara baik ( dok. Suci)
Jokowi rupanya banyak ‘kepikiran’ untuk membicarakan pentingnya mengelola sampah karena pernah punya pengalaman merencanakan pengelolaan sampah di kota Solo , saat menjabat sebagai Walikota Solo.
Dorongan pengelolaan sampah saat itu (di Kota Solo) dilakukan saat Jokowi menjadi walikota Solo. Volume smapah di Kota Solo dari tahuan ke tahun mengalami peningkatan. Tercatat tahun 2007 sebanyak 265 ton/hari, tahun 2011 sudah mencapai 300 ton/ hari.
Sementara itu, selama ini pengelolaan sampah di kota Solo masih menggunakan cara yang konvensional, yakni sistem pembuangan terbuka atau open dumping, dimana sampah dibuang ke tanah yang sudah di gali. Setelah beberapa waktu tumpukan sampah itu ditutup dengan tanah kembali. Cara tersebut terbukti tidak efektif karena areal yang digunakan untuk menampung sampah suatu saat akan mengalami keterbatasan daya tampung atau overload
Tempat Pembuangan Akhir(TPA) Putri Cempo seluas 17 hektare sudah mulai ‘kewalahan’ menampung sampah di Kota Solo, bahkan sampah mulai meluber di jalanan.

Berbekal berbagai persoalan sampah yang tidak terkelola dengan baik tersebut, Solo merencanakan pengelolaan sampah yanag dimulai dari rmah tangga dengan pemilhan sampah organic dan anorganik, kemudian berantai sampai di TPA akan dipilah dan diolah dengan baik.
Sayangnya sampai Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta dan terpilih menjadi Presiden, pengelolaan sampah di Kota Solo belum teralisasi dengan baik. Sejauh ini belum ada investor yang benar-benar tertarik mengelola sampah di Solo.
 
Beberapa warga mulai mengantungkan sampah sebagai pendapatan keluarga (dok. Suci)
Di beberapa daerah sudah ada contoh keberhasilan pengelolaan sampah. Banyak  kelompok masyarakat yang sebagian besar kelompok perempuan  mampu  mengelola sampah secara baik. Mereka melakukan pemilahan sampah dari sampah dan mengolah sampah organik menjadi pupuk tanaman, sampah an organik menjadi beragam barang-barang kerajinan yang bernilai jual cukup tinggi.
Artinya, gagasan pengelolaan sampah bukan barang baru dan lebih mudah diterima dan diimplementasikan.

Gagasan Jokowi  sebenarnya sederhana yaitu agar sampah bisa di kelola secara baik,  terpadu dan bersistem, mulai dari level masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. 

Jika gagasan tersebut terealisasi, bukan hal yang mustahil jika sampah nantinya menjadi barang yang berharga lagi tidak lagi menjadi ‘sampah’ yang dibuang, disingkirkan dan disia-siakan.
Bahkan bisa jadi barang rebutan, karena mempunyai nilai ekonomis tinggi. Semoga.!!!



Rabu, 24 Juni 2015

Rahasia Simbok #4

Ku pilih kursi dekat jendela, nomer tiga dari depan. Tas ransel kuletakkan di bawah kursi. Tas palstik yang kutenteng berisi makanan yang simbok bawakan kutarus di depanku, dijaring plastik yang terletak di belakang semua kursi.


Mataku menjelajah isi bis,  waktu terasa berjalan amta lamban.
Teriakan  calo bis terus mengema tak putus asa mencari penumpang yang tertarik dengan bisnya. Berulangkali meneriakaan tujuan bis dan bujukan dengan dalih bis segera berangkat.
Aku memperbaiki duduk, mencoba menunggu bis berangkat dengan sabar.

Satu persatu penumpang mulai naik, mengisi kursi-kursi yang masih kosong menunggu diduduki.
"Mbak, kursi ini kosong?" seorang ibu berdandan cukup menyolok bertanya padaku.
"IYa, bu, silahkan," jawabku sambil tersenyum menyilakan.
"Jangan panggil bu. Panggil saja Mbak atau Jeng," katanya sambil meletakkan barang bawaan sebuah tas baju di bagasi yang terletak dibawah atap bis.

Aku tersenyum memandang ibu itu dan menganggukkan kepala. Kutaksir usianya sekitar empatpuluhan tahun. Dandanannya terlalu berani, terkesan menor. Make-up tebal dengan warna menyolok, lisptik merah menyala. Rambutnya diwarnai kemerahan dibairakan tergerai. Rok merahnya terlalu tinggi diatas lutut memperlihatkan kulitnya yang putih. Blousenya  merah muda , tipis dari bahan syfon tak mampu menyamarkan lekuk tubuhnya.

"Mau ke Jakarta?" tanyanya lagi sambil duduk, tanpa risi saat roknya terangkat.
"Iya," jawabku singkat.
"Saya Indah," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Sekar," Aku menerima uluran tangannya sambil menyebutan namaku.
"Kerja atau mau main saja?"
"Ke rumah saudara," jawabku lagi.
"Jakartanya mana?"
Aku terdiam, mengingat alamat orang yang harus ku panggil bapak dan menyebutkan sebuah alamat.
"Oohhhhhh. " ia tidak berkomentar, kemudian sibuk dengan ponselnya.

Aku bernafas lega, tidak banyak ditanya oleh orang yang baru kukenal. Hati-hati, jangan mudah percaya  dengan orang yang baru kamu kenal. Pesan pakde tergiang di telinggaku. (bersambung)

Selasa, 23 Juni 2015

Geliat Dari Kaki Bukit

          Lastri mempercepat langkah kakinya. Sesekali kepalanya melihat ke langit. Memastikan. Semakin lama langit berwarna abu-abu gelap, pertanda hujan akan segera turun.
         Sebenarnya jarak yang ditempuh tidak terlaly jauh, tak lebih dari setengah kilometer. Tapi terasa lebih lama karena jalanan menuju bukit menanjak.



                Bukit itu terletak di sebelah selatan Desa Pencil, biasa digunakan warga untuk berbagai keperluan seperti untuk menjemur hasil panenan. Kalau musim panen padi, lereng bukit digunakan untuk menjemur padi. Tapi sekarang ini, lereng bukit dipakai untuk menjemur singkong yang akan diolah menjadi gaplek[1].
                Di sekitar bukit ada sawah kering milik warga, menjadi satu-satunya harapan untuk menanam padi dan tanaman lainnya. Biasanya warga memanen tanamannya, kemudian sekalian menjemurnya di bukit. Hal itu mempermudah dan mempersingkat pekerjaan warga, karena hasil panenan sudah bersih saat dibawa pulang .
                “Ayo cepat, Lek[2]. Sebentar lagi hujan,” kata Yu Sipon, bergegas naik ke bukit seperti Lastri.
                “Iya. Ayo, Yu,” sahut Lastri sambil mempercepat langkahnya.
                Bagi Lastri, waktu sangat berarti. Dia harus berpacu dengan waktu untuk mendahului turunnya hujan. Kalau sampai gapleknya kehujanan, Lastri harus bersusah payah mencuci kembali dan menjemur dari awal. Semua proses itu butuh waktu cukup lama. Lastri agak menyesal, kenapa tadi di rumah cukup lama. Biasanya Lastri hanya pulang sebentar untuk sholat dan makan, setelah itu kembali ke bukit untuk menjemur gaplek. Tapi, hari ini perutnya mulas. Ia terpaksa harus bolak balik turun untuk buang air besar.
                Lastri melihat beberapa tetangganya sudah mengumpulkan gaplek. Dengan cepat, Yati mengambil sekop dan tak lama kemudian dia sudah sibuk mengumpulkan gaplek.  Hanya saja Yati dan tetangganya tidak beruntung. Belum sempat menyelesaikan pekerjaan, hujan turun dengan deras.  Beberapa perempuan saling membantu untuk memindahkan gaplek yang sudah dimasukkan ke karung, dan sebagian lagi tetap mengumpulkan gaplek. Hujan deras tak dihiraukan lagi. Gaplek harus segera diambil dan diselamatkan, kalau dibiarkan terkena hujan tidak akan kering dan rasanya tidak enak. Gaplek seperti ini biasanya tidak laku dijual, sehingga terpaksa dimasak dan diberikan kepada kambing atau sapi. Jika beruntung, sapi dan kambing mau memakannya. Tapi lebih sering, ternak-ternak itu tidak mau menyentuhnya. Jadi terpaksa twihul[3] di buang dengan percuma.
                Baju Lastri basah kuyup saat semua gaplek sudah berhasil dikumpulkan. Dengan tubuh lelah, Lastri duduk berdesakan dengan tetangganya di gubuk yang selama ini digunakan sebagai gudang dan tempat beristirahat bagi petani di Desa Pencil.
                “Susah, kalau sering turun hujan,” gerutu Mbah Darmi.
                “Hujan kok selalu tiba-tiba. Tadi saja panas sekali, sampai kepalaku mau pecah, saking panasnya. Eh, tanpa diduga, tiba-tiba langit gelap. Hujan kok nggak bisa di perkirakan datangnya,” sambung Yu Sipon tanpa bisa menyembunyikan rasa jengkelnya.
                Lastri menyeka wajahnya yang masih basah. Tetes-tetes air hujan turun dari rambutnya. Pandangan matanya lesu melihat tumpukan gaplek yang basah. Meskipun semua tetanggga mengalami nasib yang sama, tetapi Lastri tampak paling nelangsa.
                “Rasanya kita akan merugi terus kalau seperti ini, Yu,” kata Ningsih. Sesekali dia mengubah posisi duduknya untuk mengurangi rasa penat.
                Yu Sipon mengangguk.
                “Besok kalau tidak ada panas, ya nasib buruk buat kita. Gapleknya nggak bakalan kering lagi, Nduk4,” kata Mbah Darmi.
                Yu, kita memang tidak bisa terus-terusan mengandalkan panas. Sudah berkali-kali kita kerepotan karena gaplek kehujanan,” tukas Lastri.
                “Maksudmu apa, Lek? Kalau menjemur gaplek ya harus mengandalkan panas, tho,” Yu Sipon menatap Lastri dengan pandangan tak mengerti.
                “Kalau seperti ini terus, kita kan rugi, Yu,” gumam Lastri, lirih.
Yu Sipon  menghela napas.
                “Ya, gimana lagi, Nduk? Memang nasib kita,”  Mbah Darmi ikut menimpali, tampak pasrah.
                Lastri terdiam. Pikirannya menerawang jauh seakan ingin menembus hujan yang tak juga reda. Penghasilan sebagai petani kecil seperti dirinya memang tidak bisa diandalkan. Sepetak sawah warisan orang tua, merupakan satu-satunya penopang hidup. Dari sawah itulah, Lastri bisa menyekolahkan  Banyu, anak semata wayangnya. Karman, suaminya, bekerja di kota. Hanya sebulan sekali pulang untuk memberikan nafkah yang jumlahnya tidak seberapa. Penghasilan  bersih Karman sebagai  penjual  sego kucing[4] tidak sampai seratus ribu perbulan.
                Desa Pencil terletak di kaki bukit Sambeng, lumayan jauh dari kota. Sebagian besar penduduknya mengandalkan hidup dari sawah tadah hujan yang hasilnya tidak menentu. Warga hidup dalam kondisi kekurangan. Hampir semua kepala keluarga merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Sawah di rumah terpaksa diolah oleh para istri sambil merawat anak-anak mereka.

***

                Mbok[5].
                “Apa, Le[6]?”
                Lastri menyelesaikan jahitan terakhirnya. Baju lengan panjang yang biasa dipakai saat menjemur gaplek kemarin sobek.
                “Banyu belum membayar uang buku. Bu guru pesan untuk segera dibayar,” kata Banyu, lirih.
                Lastri menghela napas. Ia sebenarnya tidak sampai hati untuk mengecewakan anaknya. Tetapi Lastri tidak mempunyai pilihan lain.
                “Iya. Simbok ngerti, Le.  Mudah-mudahan besok panas, biar gapleknya cepat kering, bisa dijual ke pasar. “
                Banyu mengangguk. Meskipun baru kelas IV, tetapi dia tahu kesulitan orang tuanya. Ini bukan kejadian pertama ibunya tidak bisa membayar buku dan iuran lainnya. Meskipun SPP gratis karena sudah ada BOS, tetapi Banyu masih harus membayar uang buku dan iuran kegiatan sekolah. Untung saja guru-guru di sekolahnya bisa memaklumi keadaan orang tuanya. Mereka selalu memberikan kelonggaran. Tetapi sekarang sudah empat bulan, ibunya belum mampu melunasi. Banyu binggung, sekaligus kasihan dengan ibunya. Gaplek sudah tidak bisa lagi dijadikan andalan untuk mencukupi kebutuhan hidup.           
Lastri tercenung memikirkan hidupnya yang semakin sulit. Sebenarnya hasil panen singkong  sedang bagus dan cukup melimpah jumlahnya. Tetapi seringkali Lastri tidak mampu mendapat  sejumlah uang untuk mencukupi kebutuhannya. Harga jual singkong amat rendah, sehingga Lastri dan petani lainnya biasa membuat gaplek dari sebagian hasil panen. Harga jual gaplek lebih tinggi. Tetapi cuaca menjadi kendala tersendiri, karena beberapa tahun ini keadaan cuaca tidak menentu. Mestinya masuk musim kemarau, tapi tetap saja ada hujan. Demikian juga sebaliknya. Yang jelas, sulit untuk menebak cuaca lagi.
                Mbok…. Ehm….”
                “Kenapa, Le?”
                “Gimana kalau kita mencoba membuat makanan lain selain membuat gaplek?” usul Banyu.
                Lastri memandang  Banyu. “Maksudnya?”
                Ehm, simbok susah membuat gaplek karena panas dan hujan tidak bisa dipastikan. Sementara kalau tidak segera di jemur gapleknya bakalan rusak berjamur. Ehm…. Bagaimana kalau kita mencoba membuat makanan ringan dari singkong?”
                “Mau dibuat apa, Le?”
                “Bisa dibuat gethuk. Ehm…. Atau mungkin tape,” jawab Banyu cepat sambil menguyah kripik singkong.
                “Gethuk dan tape nggak bisa bertahan lama, Le,” jawab Lastri.
                “Mungkin simbok ada ide lain?” tanya Banyu.
                Lastri memutar otak, tapi matanya tertuju ke tangan Banyu. Bocah laki-laki itu menggenggam bungkusan berisi kripik singkong.
                “Ng… kalau dibuat kripik, gimana, Le?”
                Banyu menghentikan kunyahannya.
“Betul!” seru Banyu kegirangan. “Kalau kripik kan bisa lebih awet, Mbok. Bisa disimpan sampai berbulan-bulan dan nggak akan busuk, tambah Banyu, menyakinkan ibunya.
                “Ehm…. Gimana, ya?”
                “Nanti Banyu pasti bantu simbok kok. Banyu bisa bantu ngupas dan motong-motong singkongnya. Kalau perlu, Banyu ikut mengorengnya.”
                “Benar juga,” gumam Lastri setelah berpikir beberapa saat. “Membuat kripik singkong bisa menyelamatkan hasil panen kita. Syukur-syukur kalau harganya lebih bagus, kita pasti tidak akan rugi besar seperti selama ini.”
                “Jadi, simbok setuju?” tanya Banyu antusias.
                Lastri tersenyum senang.



***

Tiga bulan berikutnya….

                Mbok, sepertinya kita kekurangan barang. Pesanan dari Solo masih kurang sepuluh kilogram lagi. Belum yang dari Kudus. Padahal semua harus dikirim dua hari lagi.” Karman memperlihatkan daftar pesanan yang harus mereka kirim.
                “Iya, Pak. Mereka menambah stok untuk lebaran. Nanti kita ambil saja dari Yu Sipon, Pak. Kalau kurang, minta Ningsih. Jadi, kurangnya tiga puluh lima kilo.”
                Lastri memeriksa daftar pesanan dan menuliskan pesanan kripik singkong, sambil sesekali melihat ponsel. Sekarang semua pesanan bisa lewat SMS dan telpon. Semua serba mudah dan cepat.
                Setelah Lastri memeriksa barang dagangan, ia menyusul suaminya ke dapur. Sebulan yang lalu, dapur rumahnya diperluas. Ada empat tungku besar yang digunakan untuk membuat kripik singkong. Selain dibantu oleh suaminya, Lastri juga mempunyai lima orang pekerja. Sekarang Lastri tidak perlu ke sawah untuk menjemur singkong. Setelah panen, semua singkong dibawa pulang dan diolah menjadi kripik singkong.
                “Syukurlah. Semua lancar, ya, Mbok. Rejeki kita juga semakin lancar,” kata Karman, memandang   istrinya dengan bangga.
                Alhamdulillah, Pak. Banyu tidak kesulitan membeli buku dan membayar iuran sekolah. Kita juga bisa berkumpul kembali,” sahut Lastri.
                Simbok memang luar biasa. Berkat usaha ini, kita dan tetangga  tidak perlu susah memikirkan hasil panen yang membusuk. Anak-anak bisa sekolah lagi.”
                Lastri tersenyum lagi. Semua usaha yang dirintis selama berbulan-bulan sudah terlihat hasilnya. Bahkan Lastri sudah bisa mengambil kembali perhiasan yang digadaikan untuk modal usaha. Karman dan para suami yang lainnya tidak perlu jauh-jauh untuk bekerja. Di desa mereka lapangan pekerjaan sudah tersedia. Tidak perlu lagi setiap hari merasa cemas karena memikirkan hasil panen yang membusuk.

                Semilir angin sore mengalir lembut meniupkan kesejukan di Desa Pencil. Di pojok desa, tampak sebidang papan putih berdiri gagah, menyiratkan perjuangan tak kenal lelah yang dilakukan oleh sekelompok warga. Papan itu bertuliskan: KELOMPOK PEREMPUAN GUYUB RUKUN, SENTRA KRIPIK SINGKONG  DESA PENCIL.



[1] Bahan makanan yang terbuat dari ketela pohon, proses pembuatan dari ketela pohon yang dikupas, dibersihkan, dijemur, kemudian dibuat menjadi tepung. Dari tepung ini diolah menjadi makanan pengganti nasi yang disebut thiwul.
[2] Sebutan untuk paman/bibi
[3] Gaplek yang sudah di masak
[4] Nasi yang bungkus dengan lauk bandeng dan sambal. Biasa di sebut nasi hik (Hidangan Istimewa Kampung)
[5] Panggilan lain untuk Ibu, dari kata Simbok
[6] Sebutan untuk anak laki-laki

Mulutmu Harimaumu, Salah Mengeluh Berujung Hujatan

Bekerja memberikan pelayanan kepada masyarakat memang gampang-gamapang susah. Bisa dibilang gampang kalau mempunyai kesadarn tinggi akan tugas dan tanggungjawabnya sehingga bekerja tanpa banyak mengeluh, ikhlas lahir dan batin.
Dibilang susah kalau dirasakan berat dan merasa tugasnya itu sebuah beban. Tidak dilandasi rasa ikhlas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.



Pada dasarnya semua pekerjaan gampang atau susah itu tergantung pada diri sendiri.  Sesusah apapun kalau niatnya sudah mantap, tulus dan ikhlas, insyaallah akan jadi gampang. Kebalikannya meski gampang kalau nggak tulus, banyak gerundel ya pasti akan terasa susah dan berat.
 
Kalaupun merasa susah dan berat dalam bekerja (menghadapi orang banyak) jangan sesekali mengeluh di media sosial. Maksud hati ingin mencari simpati dengan mengurangi uneg-uneg tetapi bisa jadi nggak dapat simpati, tetapi malah mendapat hujatan banyak orang, dan lebih celaka kalau malah diperkarakan.

Beberapa hari lalu, di akun facebook atas nama Dewi Ade Dewi menjadi pembicaraan hangat dunia maya, pasalnya yang bersangkutan menulis status yang menurut saya kurang pas. Statusnya tentang keluhan dalam melayani pasien BPJS kesehatan.


Dari  statusnya, kemungkinan besar Dewi Ade Dewi adalah petugas medis, entah di mana tempatnya.  Rupanya ia sedang menghadapi pasien penguna BPJS Kesehatan yang mungkin kurang paham atas prosedur pasien BPJS  atau protes terhadap layanan BPJS.

“……..Bayar gak seberapa tapi mau pelayanan eksekutif dan ngomel2,,,, naik kereta saja kalau mau yg eksekutif” , demikian penggalan status yang ditulisnya.

Rupanya si pemilik akun lupa atau tidak nyadar kalau para pasien BPJS juga membayar iuran bulanan untuk mendapatkan layanan kesehatan. Premi yang dibayarkan memang bisa dibilang tidak terlalu tinggi, untuk kelas 3 sebulan Rp 25.500/orang , kelas 2 Rp 42.500/orang/bulan, dan kelas 1 Rp 59.500/orang/bulan.  Tetapi premi tersebut bisa dibilang tinggi untuk warga yang tidak mampu. Bahkan
Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) telah mengajukan kenaikan iuran dari peserta mandiri, yakni sebesar Rp10.000, sehingga  kalau jadi naik nantinya iuran wajib untuk layanan rawat inap kelas 3  menjadi Rp35.500 per orang/bulan , kelas 2 naik  menjadi Rp52.500/orang/bulan, dan kelas 1nya  menjadi  Rp 69.500/orang/bulan.

Pemilik akun  tersebut juga lupa kalau menjadi peserta BPJS Kesehatan menjadi kewajiban semua warga hingga akhir tahun ini, artinya tidak ada pilihan lain bagi warga negara Indonesia, mau tidak mau harus mendaftar menjadi peserta. Meskipun mungkin ada yang trepaksa, karena dengan berbagai peryimbangan seperti sudah mempunyai asuransi kesehatan di tempat lain, tahu repotnya mendapatkan pelayanan anggota BPJS , dan alasan lainnya.

Maka, entah karena sedang kesal,capek, mungkin lelah karena sedang berpuasa dan masih melayani banyak pasien, atau alasan lainnya, tak elok jika menumpahkan kekesalan dengan menulis status seperti itu.  Lebih baik kalau memang jengkel dengan pasien, ya dipendam sebentar kemudian nanti ditumpahkan uneg-unegnya kepada keluarga sendiri atau kalau mau aman tumpahkan ke tulisan diary  yang memungkinkan tidak terbaca orang lain.  Apalagi kalau memang benar ybs adalah petugas medis yang tentunya di bayar jasanya untuk salah satunya memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Status tersebut mendapat tanggapan banyak nitizen, rata-rata mengecam dan menyayangkan status ybs yang dinilai kurang pas.
 
Mulutmu harimaumu, seyogyanya si pemilik akun dan siapapun selalu ingat peribahasa itu. Karena apa yang diucapkan bisa jadi menjadi bumerang  yang akan merugikan diri sendiri. Maka lebih baik diak daripada mengatakan/menulis sesuatu yang tidak bermanfaat.

Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua, amin YA.