Sabtu, 14 November 2015

Pendakian Terakhir

          “Kamu jadi berangkat besok?” tanyamu sambil memandangku penuh kekhawatiran. Matamu yang bulat indah dan biasanya bersinar terang, kali ini terlihat redup menyiratkan ketidakikhalsan melepasku pergi.
            Aku tersenyum, mengambil tanganmu dan mencium perlahan. Ada getaran kurasakan saat tangan halusmu kusentuh.
            “Al …please jangan pergi. Kali ini saja. ”
            “Ta, bukan kali ini saja aku pergi. Kenapa kamu setakut ini? Bukankah  selama ini semua baik-baik saja?”
            “Tapi, Al?” katamu dengan nada merajuk. Kali ini tanpa ada kemanjaaan, tetapi bertumpuk kekhawatiran.  “Firasatku tidak enak,” sambungnya lagi, lirih.
            “Sayang, pendakian ini sudah kami  rencanakan. Kamu juga tahu kalau aku harus berangkat. Anak-anak baru itu butuh pembimbing dan  ini sudah tanggungjawab kami,” tegasku menyakinkan Tata yang terus membujukku untuk membatalkan pendakian.
            Mata bulat itu meredup, penuh rasa putus asa. Tata tahu tidak mungkin bisa mencegah kepergianku kali ini.  Hati-hati, aku menunggumu kembali, akhirnya hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibirnya saat aku berpamitan pulang.



foto : gispalawordpress.com




**
            Bukan kali ini saja aku pergi, sudah puluhan kali kakiku lincah menapaki jalanan terjal  gunung. Semua kulakukan dengan rasa percaya diri dan kemantapan hati. Hobi yang kulakukan semenjak aku kuliah semester satu ini memang menjadi tantangan tersendiri buatku. Meskipun awalnya ibu melarang karena kebiasaanku itu membuatnya khawatir tetapi lambat laun ijinnya keluar juga.  Saat Tata menjadi kekasihku ia juga awalnya keberatan dan merasa yakin mampu mengubah hobiku. Tetapi aku selalu melaksanakan semua rencana pendakian dan akhirnya Tata juga merelakan  kepergianku. Toh selama lebih dari tiga tahun ini, lebih dari sepuluh   pendakianku semua berjalan lancar dan aku pulang dengan selamat.  Kali ini aku juga melakukan persiapan  sampai matang seperti biasanya, sehingga aku yakin semua akan berjalan dengan lancar. Seperti biasanya.

**
            “Semua sudah siap? Kali ini pendakian akan kita mulai. Jalur merapi butuh pendakian ekstra hati-hati. Semua harus waspada.“ teriak Galang sambil memandang rombongan pendakian kali ini. Galang sebagai pimpinan rombongan dan aku membantu tugasnya mengawasi anak-anak semester awal yang kali ini ikut bersama kami.
            “SIAP!” jawaban serentak itu membuat semangat kami bangkit.
Tak lama, kami melangkah perlahan, mendaki jalan yang semakin lama semakin terjal dan berbahaya.  Sesekali  aku membantu rombongan yang kesulitan untuk melangkah. 
            Pendakian semakin tinggi, jalanan semakin curam. Banyak jurang di kanan kiri jalan setapak yang kami lalui. Rasa was-was dan waspada bercampur ,menjadi satu. Tetapi kami cukup terhibur saat memandang pemandangan yang sangat elok. Sejauh mata memandang hanya hamparan hijau segar dengan rindang pohon yang terlihat. Semua menawarkan kesejukan dan kedamaian hati.  Kicau burung yang terdengar bersahut-sahutan mengalahkan musik yang kudengar dari MP3 ku. Kalau sudah seperti ini, aku pasti melepas  MP3 dan lebih memilih menikmati suara alam yang tidak terkalahkan.
            “Cukup, kita istirahat dulu,” suara Galang membuat langkahku berhenti.
            Semua orang duduk, melemaskan otot kaki dan melepas penat.
            Setelah minum beberapa teguk air, aku melihat pemandangan yang tak pernah membosankan  panca indraku. Meskipun sudah berkali-kali mendaki tetapi mataku selalu dahaga akan keindahan  alam yang menawarkan berjuta-juta kesegaran. Hidungku mengembang saat menghirup udara segar yang dengan cepat memenuhi paru-paruku. Hanya di tempat seperti inilah, paru-paru dan seluruh organ tubuhku mendapatkan kemanjaan setelah setiap hari terpaksa berkutat dengan udara yang bercampur dengan  asap knalpot, kepulan asap pabrik, kepulan rokok dan polusi udara lainnya.
            Kakiku  dengan lincah mendaki ke  lereng bukit, semakin memanjakan matanya yang  terus membujuk untuk mencari keindahan lainnya.
            Tanpa sengaja aku melihat bunga edelweis  yang  sedang mekar. Indahnya kelompak bunga yang menjadi simbol kegagahan para pendaki itu membuatku tertarik untuk mendekat. Entah mengapa nalarku terkalahkan dengan perasaanku yang campur aduk. Selama ini belum pernah sekalipun saat pulang mendaki aku membawakan edelweis untuk Tata. Berulangkali ia memintaku untuk mengambil bunga itu, tetapi aku selalu memberikan pengertian kalau itu larangan bagi kami. Biarkan bunga indah itu terus hidup dan berkembang dengan keindahnya. Kita tidak  berhak merusaknya, demikian aku selalu memberikan  alasan.
            Selain takut merusak keindahan bunga edelweis, dikalangan para pendaki sudah ada kesepakatan tidak tertulis untuk tidak mengambilnya. Kami cukup menikmati keindahannya di gunung  dan mengabadikan dengan  jepretan kamera, bukan membawanya pulang.
            Tetapi kali ini tanganku gatal ingin memberikan persembahan indah ini untuk Tataku. Kakiku melangkah dengan  ringan mendekati  bunga yang  gagah berdiri di tepi sebuah tebing. Sejenak aku berpikir akan kesulitan untuk memetiknya, tetapi setelah aku perhatian, tidaklah terlalu sulit. Aku hanya perlu berdiri ditepi tebing dan tanganku pasti mudah menjangkaunya.
            “Al, jangan lakukan itu,” suara keras Galang membuat kakiki berhenti melangkah.
Kulihat Galang memandangku dengan sorot mata tajam, tidak suka dengan rencana yang sudah ada dikepalaku.
            “Kenapa kamu  ini, Al?  Heran, belum pernah kamu gegabah seperti ini. Sejak kapan kamu berniat mengambil edelweis itu? “ tanyanya tajam.
            Aku hanya memandang Galang sejenak, termangu, tetapi cepat-cepat kualihkan pandangan kembali ke bunga yang seakan menantangku untuk mengambilnya.
            “Al! Jangan bodoh. Kita tidak pernah mengambil bunga itu. Tidak sekalipun. Ingat komitmen kita selama ini,” Galang mengingatku lagi.
            “Selama ini aku belum pernah mengambil bunga itu. Sekalipun belum pernah melanggar kesepakatan kita. Tetapi kali lini aku ingin sekali. “ jawabku acuh tak acuh tanpa memandang sahabatku ini.
            “Tidak! Sekali tidak, tetap tidak! Sekali kita membiarkan hati ini melanggarnya, pasti akan ada yang kedua kali dan seterusnya. Jangan lakukan,” pinta Galang kali ini tanpa kompromi.
            “Itu urusanku. “ degusku jengkel.
            “Kalau kamu lakukan itu, aku tidak mau mendaki lagi bersamamu,” lantang suara Galang mencegahku.
            “Bodo,” teriakku tak kalah lantang. Kakiku terus melangkah setapak demi setapak mendekati edelweis yang bergerak-gerak ditiup angin. “Mungkin ini pendakian kita yang terakir kalinya,” sungutku marah.
            Galang gusar mendengar jawabaku, “Al. Ingat, tempat ini terlalu wingit. Kamu tahu tak boleh sembarangan mengambil bunga. Tebing itu juga berbahaya.”
            Aku menutup telinggaku  rapat-rapat, tak memperdulikan peringatan Galang. Sejujurnya aku ingin sekali-kali mencoba melanggar peringatan  itu. Kabar yang berenbus kalau gunung yang kudaki kali ini wingit, penuh dengan misteri dan ada larangan keras merusak alam aku tahu sejak dulu. Tetapi aku setengah tidak percaya kalau larangan dilanggar bisa berakibat fatal. Kali ini aku ingin sekali mencobanya tanpa rasa takut.  Sekalian membawakan bunga yang belum pernah aku berikan kepada Tata.
            “Ali, STOP!” teriak Galang lagi, merangsek mencoba menahanku. Tetapi tidak berhasil karena aku terus melangkah, kali ini sudah di pinggit tebing.
            Tinggal satu jangkauan lagi, tanganku terus terulur, mengukur kemampuan untuk menjangkau bunga itu. Satu jejakan kaki lagi, batinku yakin. Aku menguatkan hati  untuk menjangkau bunga di tepi tebing. Segalanya terasa begitu mudah. Ya, tinggal satu gerakan lagi, tanganku akan menjangkaunya.
            Tanah dan batu-batu mulai bergerak, meluncur, longsor. Sempat membuatku bergidik. Ketika sebongkah batu yang tepat di bawah kaki meluncur dengan cepat, aku baru tersadar. Menatap ngeri jurang dibawah. Batu-batu tajam siap menampung tubunku jika tergelincir. Mataku nanar dengan pemandaangan mengerikan di bawah. Tetapi semua terlambat. Saat aku mencoba mengeser tubuh untuk membatalkan niatku, tubuhku bergeser sedemikian cepat. Keseimbangan tubuhnya hilang dan semua berjalan sangat cepat. Bagai angin, aku meluncur.
            “ALI…..”
Masih kudengar suara  pilu Galang saat melihatku terlepas dari pandangan matanya. Mataku terpejam erat, menantikan tubuh disambut batu cadas. Satu hal yang kusesali,  melanggar larangan pendakian ini. Seandainya aku tidak berniat mengambil edelweis itu….

                                                          *****




Jumat, 13 November 2015

Tip Bagi Jomblo Saat ditanya "Kapan Menikah?"

Saat usia sudah berjalan di angka tiga puluh, biasanya hati seorang perempuan lajang sudah mulai dag dig dug. Berdebaran tak karuan. Dag dig dug terus terusan sementara kepala mulai berdenyut dan hati merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat usia terbilang sudah matang tersebut belum juga ada pendamping hidup alias masih melajang. 

Meskipun saat ini bukan jaman nenek moyang kita, atau bukan jaman ayah dan ibu kita dahulu yang menikah di usia yang sangat muda bahkan masih 'bau kencur' , tapi tetap saja nggak nyaman saat belum juga menikah.

 Jaman nenek saya, sudah biasa menikah di usia belasan tahun, dua belasan sampai tujuh belasan tahun. Anak perempuan yang belum menikah di atas usia 15 tahun dianggap aneh dan dipandang dengan banyak pertanyaan. Anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, karena toh nanti hanya ngurus kasur ( Melayani suami) , sumur (mencuci, membersihkan/mengurus rumah), dapur (memasak) dan pupur (merias diri untuk menyenangkan suami). 

Di masa ibu saya (usia sekarang 75 th), pemikiran agak maju. Anak perempuan boleh menempuh pendidikan paling tidak sampai Sekolah Rakyat (SR) setara dengan SD sekarang, biasa sudah dinikahkan usia limabelas sampai duapuluh tahun, kebetulan ibu saya menikah di usia 19 tahun dan mempunyai anak 10 orang. 

Sekali lagi, meskipun sekarang kita hidup bukan di masa nenek dan ibu kita dahulu, tetapi rasanya perempuan tetap was-was bila usia menapaki angka 3 dan belum ada tanda-tanda mempunyai pasangan. 

Kebetulan teman-teman saya, satu tinggal di Jakarta, satu di kota Jogjakarta dan satu di luar negeri, sama -sama perempuan, dua sudah lebih dari 35 tahun dan satunya sudah lebih dari 40 tahun sampai sekarang belum juga mempunyai pasangan. Betapa galau hati mereka, bahkan saat kegaluan itu datang saat usia mereka memasuki angka 3. Berbagai curhatan mereka ceritakan, baik dalam bahasa candaan maupun secara serius. Dua teman perempuan saya tersebut dulu sempat satu kantor dengan saya. Disaat luang tak ada cerita atau keluhan lain selain betapa hati mereka galau saat tak juga ada pasangan yang siap menikah dengannya. Meskipun mereka sama-sama pernah berpacaran tetapi tidak sampai ke jenjang pernikahan alias gagal. 

Mereka mengaku merasa sedih saat seharusnya senang dengan acara kumpul keluarga terutama saat lebaran, selain sedih saat melihat teman, tetangga atau seorang perempuan dengan pasangannya. "Kapan aku seperti mereka ya?" "Senangnya punya suami," katanya sambil memandang pasangan yang sedang berduaan dengan tatapan tertarik. Tetap melajang saat usia 30 ke atas terkadang tidak terlalu masalah bagi yang bersangkutan, tetapi terkadang bagi orang lain terutama keluarga, teman, tetangga membuat galau dan cemas. Bagi keluarga, itu hal yang wajar karena pandangan masyarakat terkadang kurang positif terhadap perempuan matang yang belum juga mempunyai pasangan. Masyarakat mungkin berpikir, karena terlalu pilih-pilih, banyak pertimbangan atau tidak laku (maaf). 

Dari pengalaman teman-teman saya, meskipun galau tingkat tinggi tetapi sampai saat ini mereka bisa menjawab saat ditanya keluarga, tetangga atau orang terdekat dengan wajah menebarkan senyum (meskipun dengan hati menangis). 

Menurut mereka jawaban inilah yang membuat mereka 'diselamatkan' oleh belum ketemunya pasangan hidup,

 Saat ditanya "Sudah menikah belum?" , jawabnya adalah "sedang siap-siap " (ini bukan jawaban bohong karena memang mereka pada dasarnya sudah siap menikah sejak bertahun-tahun lalu tapi memang belum ada pasangannya saja)

 Saat ada pertanyaan " Kapan menikah?" , jawabannya adalah "Dalam waktu dekat" (jawaban yang tepat bukan? karena dalam waktu yang dekat entah kapan dia akan menikah kok) 

Saat ada yang tanya lagi, " Kok lama menikahnya, nunggu apa sih?" , jangan di jawab "nunggu suamimu menjadi duda atau nunggu kamu ceraikan istrimu" ya, tapi jawab saja, "Nggak lama nunggu kok, bagi saya waktu bukan ukuran tetapi jodoh yang tepat yang saya cari."

 "Kamu sudah mapan, nyari yang bagaimana lagi?" , jawaban simpelnya " Nggak nyari-nyari lagi kok, saya malah duduk manis nunggu saja".

 "Ku tunggu undangannya ya," , jawab saja ," Oke, pasti ku kirimkan segera dengan kilat khusus." 

"Anaknya berapa? " wah nyindir ya, nikah saja belum. Eh tapi jangan di jawab seperti itu, jawab saja, " Ada, rencana dua." (sambil membayangakan punya anak-anak manis dan imut).

Kira-kira itu seputaran pertanyaan yang ditujukan kepada perempuan lajang, matang yang belum menikah. Meskipun sedih tetapi jangan sampai kesedihan itu diperlihatkan secara langsung apalagi sampai marah. Biarkan saja, toh bagi mereka yang bertanya itu dianggap hal yang biasa. Dan anggap saja itu pertanyaan pertanda rasa sayang dan perhatian mereka kepada anda. Jadi jawab dengan senyum mengembang dan jawaban biasa saja seperti jawaban biasa lainnya (bukan soal jodoh). 

Tetaplah berusaha, jangan menyerah dan jangan putus asa. Percayalah jodoh, kematian, kelahiran, rejeki itu ditangan Tuhan. Asal tetap berusaha, insya allah suatu saat jodoh akan datang. Setiap orang dilahirkan dengan pasangannya masing-masing, hanya mungkin soal waktu saja. Teruslah tersenyum wahai teman perempuan lajang.***

Saat usia sudah berjalan di angka tiga puluh, biasanya hati seorang perempuan lajang sudah mulai dag dig dug. Berdebaran tak karuan. Dag dig dug terus terusan sementara kepala mulai berdenyut dan hati merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat usia terbilang sudah matang tersebut belum juga ada pendamping hidup alias masih melajang. Meskipun saat ini bukan jaman nenek moyang kita, atau bukan jaman ayah dan ibu kita dahulu yang menikah di usia yang sangat muda bahkan masih 'bau kencur' , tapi tetap saja nggak nyaman saat belum juga menikah. Jaman nenek saya, sudah biasa menikah di usia belasan tahun, dua belasan sampai tujuh belasan tahun. Anak perempuan yang belum menikah di atas usia 15 tahun dianggap aneh dan dipandang dengan banyak pertanyaan. Anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, karena toh nanti hanya ngurus kasur ( Melayani suami) , sumur (mencuci, membersihkan/mengurus rumah), dapur (memasak) dan pupur (merias diri untuk menyenangkan suami). Di masa ibu saya (usia sekarang 75 th), pemikiran agak maju. Anak perempuan boleh menempuh pendidikan paling tidak sampai Sekolah Rakyat (SR) setara dengan SD sekarang, biasa sudah dinikahkan usia limabelas sampai duapuluh tahun, kebetulan ibu saya menikah di usia 19 tahun dan mempunyai anak 10 orang. Sekali lagi, meskipun sekarang kita hidup bukan di masa nenek dan ibu kita dahulu, tetapi rasanya perempuan tetap was-was bila usia menapaki angka 3 dan belum ada tanda-tanda mempunyai pasangan. Kebetulan teman-teman saya, satu tinggal di Jakarta, satu di kota Jogjakarta dan satu di luar negeri, sama -sama perempuan, dua sudah lebih dari 35 tahun dan satunya sudah lebih dari 40 tahun sampai sekarang belum juga mempunyai pasangan. Betapa galau hati mereka, bahkan saat kegaluan itu datang saat usia mereka memasuki angka 3. Berbagai curhatan mereka ceritakan, baik dalam bahasa candaan maupun secara serius. Dua teman perempuan saya tersebut dulu sempat satu kantor dengan saya. Disaat luang tak ada cerita atau keluhan lain selain betapa hati mereka galau saat tak juga ada pasangan yang siap menikah dengannya. Meskipun mereka sama-sama pernah berpacaran tetapi tidak sampai ke jenjang pernikahan alias gagal. Mereka mengaku merasa sedih saat seharusnya senang dengan acara kumpul keluarga terutama saat lebaran, selain sedih saat melihat teman, tetangga atau seorang perempuan dengan pasangannya. "Kapan aku seperti mereka ya?" "Senangnya punya suami," katanya sambil memandang pasangan yang sedang berduaan dengan tatapan tertarik. Tetap melajang saat usia 30 ke atas terkadang tidak terlalu masalah bagi yang bersangkutan, tetapi terkadang bagi orang lain terutama keluarga, teman, tetangga membuat galau dan cemas. Bagi keluarga, itu hal yang wajar karena pandangan masyarakat terkadang kurang positif terhadap perempuan matang yang belum juga mempunyai pasangan. Masyarakat mungkin berpikir, karena terlalu pilih-pilih, banyak pertimbangan atau tidak laku (maaf). Dari pengalaman teman-teman saya, meskipun galau tingkat tinggi tetapi sampai saat ini mereka bisa menjawab saat ditanya keluarga, tetangga atau orang terdekat dengan wajah menebarkan senyum (meskipun dengan hati menangis). Menurut mereka jawaban inilah yang membuat mereka 'diselamatkan' oleh belum ketemunya pasangan hidup, Saat ditanya "Sudah menikah belum?" , jawabnya adalah "sedang siap-siap " (ini bukan jawaban bohong karena memang mereka pada dasarnya sudah siap menikah sejak bertahun-tahun lalu tapi memang belum ada pasangannya saja) Saat ada pertanyaan " Kapan menikah?" , jawabannya adalah "Dalam waktu dekat" (jawaban yang tepat bukan? karena dalam waktu yang dekat entah kapan dia akan menikah kok) Saat ada yang tanya lagi, " Kok lama menikahnya, nunggu apa sih?" , jangan di jawab "nunggu suamimu menjadi duda atau nunggu kamu ceraikan istrimu" ya, tapi jawab saja, "Nggak lama nunggu kok, bagi saya waktu bukan ukuran tetapi jodoh yang tepat yang saya cari." "Kamu sudah mapan, nyari yang bagaimana lagi?" , jawaban simpelnya " Nggak nyari-nyari lagi kok, saya malah duduk manis nunggu saja". "Ku tunggu undangannya ya," , jawab saja ," Oke, pasti ku kirimkan segera dengan kilat khusus." "Anaknya berapa? " wah nyindir ya, nikah saja belum. Eh tapi jangan di jawab seperti itu, jawab saja, " Ada, rencana dua." Kira-kira itu seputaran pertanyaan yang ditujukan kepada perempuan lajang, matang yang belum menikah. Meskipun sedih tetapi jangan sampai kesedihan itu diperlihatkan secara langsung apalagi sampai marah. Biarkan saja, toh bagi mereka yang bertanya itu dianggap hal yang biasa. Dan anggap saja itu pertanyaan pertanda rasa sayang dan perhatian mereka kepada anda. Jadi jawab dengan senyum mengembang dan jawaban biasa saja seperti jawaban biasa lainnya (bukan soal jodoh). Tetaplah berusaha, jangan menyerah dan jangan putus asa. Percayalah jodoh, kematian, kelahiran, rejeki itu ditangan Tuhan. Asal tetap berusaha, insya allah suatu saat jodoh akan datang. Setiap orang dilahirkan dengan pasangannya masing-masing, hanya mungkin soal waktu saja. Teruslah tersenyum wahai teman perempuan lajang.*** _Solo, 12 Agustus 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/galau-saat-ditanya-kapan-menikah_55cacb71f07a612705b91819
Saat usia sudah berjalan di angka tiga puluh, biasanya hati seorang perempuan lajang sudah mulai dag dig dug. Berdebaran tak karuan. Dag dig dug terus terusan sementara kepala mulai berdenyut dan hati merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat usia terbilang sudah matang tersebut belum juga ada pendamping hidup alias masih melajang. Meskipun saat ini bukan jaman nenek moyang kita, atau bukan jaman ayah dan ibu kita dahulu yang menikah di usia yang sangat muda bahkan masih 'bau kencur' , tapi tetap saja nggak nyaman saat belum juga menikah. Jaman nenek saya, sudah biasa menikah di usia belasan tahun, dua belasan sampai tujuh belasan tahun. Anak perempuan yang belum menikah di atas usia 15 tahun dianggap aneh dan dipandang dengan banyak pertanyaan. Anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, karena toh nanti hanya ngurus kasur ( Melayani suami) , sumur (mencuci, membersihkan/mengurus rumah), dapur (memasak) dan pupur (merias diri untuk menyenangkan suami). Di masa ibu saya (usia sekarang 75 th), pemikiran agak maju. Anak perempuan boleh menempuh pendidikan paling tidak sampai Sekolah Rakyat (SR) setara dengan SD sekarang, biasa sudah dinikahkan usia limabelas sampai duapuluh tahun, kebetulan ibu saya menikah di usia 19 tahun dan mempunyai anak 10 orang. Sekali lagi, meskipun sekarang kita hidup bukan di masa nenek dan ibu kita dahulu, tetapi rasanya perempuan tetap was-was bila usia menapaki angka 3 dan belum ada tanda-tanda mempunyai pasangan. Kebetulan teman-teman saya, satu tinggal di Jakarta, satu di kota Jogjakarta dan satu di luar negeri, sama -sama perempuan, dua sudah lebih dari 35 tahun dan satunya sudah lebih dari 40 tahun sampai sekarang belum juga mempunyai pasangan. Betapa galau hati mereka, bahkan saat kegaluan itu datang saat usia mereka memasuki angka 3. Berbagai curhatan mereka ceritakan, baik dalam bahasa candaan maupun secara serius. Dua teman perempuan saya tersebut dulu sempat satu kantor dengan saya. Disaat luang tak ada cerita atau keluhan lain selain betapa hati mereka galau saat tak juga ada pasangan yang siap menikah dengannya. Meskipun mereka sama-sama pernah berpacaran tetapi tidak sampai ke jenjang pernikahan alias gagal. Mereka mengaku merasa sedih saat seharusnya senang dengan acara kumpul keluarga terutama saat lebaran, selain sedih saat melihat teman, tetangga atau seorang perempuan dengan pasangannya. "Kapan aku seperti mereka ya?" "Senangnya punya suami," katanya sambil memandang pasangan yang sedang berduaan dengan tatapan tertarik. Tetap melajang saat usia 30 ke atas terkadang tidak terlalu masalah bagi yang bersangkutan, tetapi terkadang bagi orang lain terutama keluarga, teman, tetangga membuat galau dan cemas. Bagi keluarga, itu hal yang wajar karena pandangan masyarakat terkadang kurang positif terhadap perempuan matang yang belum juga mempunyai pasangan. Masyarakat mungkin berpikir, karena terlalu pilih-pilih, banyak pertimbangan atau tidak laku (maaf). Dari pengalaman teman-teman saya, meskipun galau tingkat tinggi tetapi sampai saat ini mereka bisa menjawab saat ditanya keluarga, tetangga atau orang terdekat dengan wajah menebarkan senyum (meskipun dengan hati menangis). Menurut mereka jawaban inilah yang membuat mereka 'diselamatkan' oleh belum ketemunya pasangan hidup, Saat ditanya "Sudah menikah belum?" , jawabnya adalah "sedang siap-siap " (ini bukan jawaban bohong karena memang mereka pada dasarnya sudah siap menikah sejak bertahun-tahun lalu tapi memang belum ada pasangannya saja) Saat ada pertanyaan " Kapan menikah?" , jawabannya adalah "Dalam waktu dekat" (jawaban yang tepat bukan? karena dalam waktu yang dekat entah kapan dia akan menikah kok) Saat ada yang tanya lagi, " Kok lama menikahnya, nunggu apa sih?" , jangan di jawab "nunggu suamimu menjadi duda atau nunggu kamu ceraikan istrimu" ya, tapi jawab saja, "Nggak lama nunggu kok, bagi saya waktu bukan ukuran tetapi jodoh yang tepat yang saya cari." "Kamu sudah mapan, nyari yang bagaimana lagi?" , jawaban simpelnya " Nggak nyari-nyari lagi kok, saya malah duduk manis nunggu saja". "Ku tunggu undangannya ya," , jawab saja ," Oke, pasti ku kirimkan segera dengan kilat khusus." "Anaknya berapa? " wah nyindir ya, nikah saja belum. Eh tapi jangan di jawab seperti itu, jawab saja, " Ada, rencana dua." Kira-kira itu seputaran pertanyaan yang ditujukan kepada perempuan lajang, matang yang belum menikah. Meskipun sedih tetapi jangan sampai kesedihan itu diperlihatkan secara langsung apalagi sampai marah. Biarkan saja, toh bagi mereka yang bertanya itu dianggap hal yang biasa. Dan anggap saja itu pertanyaan pertanda rasa sayang dan perhatian mereka kepada anda. Jadi jawab dengan senyum mengembang dan jawaban biasa saja seperti jawaban biasa lainnya (bukan soal jodoh). Tetaplah berusaha, jangan menyerah dan jangan putus asa. Percayalah jodoh, kematian, kelahiran, rejeki itu ditangan Tuhan. Asal tetap berusaha, insya allah suatu saat jodoh akan datang. Setiap orang dilahirkan dengan pasangannya masing-masing, hanya mungkin soal waktu saja. Teruslah tersenyum wahai teman perempuan lajang.*** _Solo, 12 Agustus 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/galau-saat-ditanya-kapan-menikah_55cacb71f07a612705b91819

Selasa, 10 November 2015

Keindahan Tenun NTT, Ada Tangan Licah Si Nona Manis

Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. 


Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. 

Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. 

Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. 


Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. 

Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. 

Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. 


_Solo, 9 November 2015_


Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554
Rasanya sulit menyembunyikan rasa kagum dan bangga melihat kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa tidak terkesima, puluhan motif tenun lahir dari tangan-tangan lembut para mama. Kerumitan dan lamanya proses menenun tak pernah dirasakan, pun tak pernah dikeluhkan. Tangan para mama dengan lincah menjalin satu persatu benang menjadi lembaran kain yang bernilai seni dan berharga tinggi. Di Kupang, sebagian besar para mama terlahir dengan bakat alami, mampu membuat kain tenun indah. Alam mengajarkan mereka mampu merajut setiap helai benang menjadi kain yang biasa mereka gunakan untuk upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Bahkan sejak mereka kecil, kebisaan menenun sudah ada. Bahkan menjadi sebuah keharusan, seorang nona sebelum menikah harus bisa menenun terlebih dahulu. Hal itu juga sebagai penanda Si Nona sudah siap dipersunting laki-laki. Hanya sayang, sekarang ini tidak semua nona-nona mempunyai kemampuan menenun. Kebiasaan baik yang puluhan tahun sudah menjadi tatanan sosial telah mengabur tergerus jaman. Tidak mudah menemukan remaja/nona-nona bisa menenun. Kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya membuat para nona tak lagi tertarik belajar menenun. Para nona rasanya lebih suka mengisi masa remajanya untuk hal-hal yang indah. Masa remaja adalah masa yang indah, rasanya mereka lebih menikmati masa tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk nona manis satu ini, Nona Lina. Orang bilang masa remaja, masa yang indah. Rasanya apa yang dibilang banyak orang tak bisa dinikmati nona yang satu ini. Nona Lina, lahir di Kabupaten Sabu, salah satu kabupaten di provinsi NTT, nyaris tak mengenal masa remaja yang indah karena sejak kecil ia sudah berkutat dengan kain tenun. Mengerti kondisi orang tuanya yang mempunyai banyak anak, Nona yang tak sampai lulus SD ini, memilih ikut tinggal bersama tantenya di kota Kupang, tepatnya di kelurahan Manutapen, kecamatan Alak. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya. tinggal bersama tantenya akan mengurangi beban hidup yang harus ditanggung orangtuanya. Nona Lina mengisi hari-harinya dengan menenun. Ia tak pernah sekolah tenun, tetapi sejak kecil sudah bisa menenun. Melihat mamanya sehari-hari berkutat dengan tenun, membuatnya bisa dengan sendirinya. Kemampuan alaminya tumbuh pesat. Saat ini , tak tanggung-tanggung, ia mulai siap merentangkan kakinya dan menopang kayu yang digunakan sebagai alat untuk menenun dari pagi sekitar jam 09.00 sampai malam sekitar jam 22.00. Lebih dari 12 jam ia bekerja keras, hanya diselingi makan dan sesekali mengistirahatkan punggungnya dengan merentangkan badan. Tak mudah untuk menenun dengan alat tenun bukan mesin, selain cukup capek dan pegal (terutama kaki dan punggung) ia juga harus bertenaga kuat saat menghentakkan kayu sebagai alat untuk merapatkan benang. Kurang kuat tangannya bekerja,kain akan lentur, benang tidak rapat sehingga kain menjadi tidak bernilai tinggi saat dijual. Selembar kain yang biasa ia tenun bermotif sabu itu biasanya ia kerjakan sekitar dua bulan, itupun dengan kerja keras, bukan kerja santai. Ia tidak pernah hitung-hitungan, tidak mengkomersilkan jasanya. Selama ini hidupnya ditanggung keluarga tantenya, sehingga uang jajan sekitar Rp 25 ribu untuk selembar kain tenun yang dijual sekitar Rp 400 rb, baginya sudah cukup. Tak..tak..sret..berulangkali tangannya bergerak lincah, kuat dan gemulai melempar benang yang diikat kemudian menghentakkan kayu panjang sebagai alat untuk merapatkan benang. Senyum ramah selalu menghiasi nona yang berusia 19 tahun ini. Tak pernah bosan untuk terus bekerja menciptakan karya seni yang indah. Matanya mengerjap bahagia saat benang yang dipintal sedikit demi sedikit sudah menjadi lembaran kain. _Solo, 9 November 2015_

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sucihistiraludin/tangan-lincah-si-nona-dibalik-kain-tenun-ntt_5640a8b2d47e615a0625d554

Rabu, 04 November 2015

Kemarau Panjang, Murid SD Hueknutu Kupang Bawa Air Ke Sekolah

Hari belum cukup siang , tetapi panas matahari sudah sangat menyengat. Kulit saya terasa panas dan gerah. Saya melihat jam tangan saya, baru pukul 10.30. Belum terlalu siang, kok sudah kelihatan siang sekali dan panas, batin saya sambil menghindari panas dengan berteduh di bawah pohon yang daunnya sudah hampir habis karena rontok akibat kemarau panjang.

Saya, Selasa(4/11/2015)  berada di  Desa Heuknutu, Kecamatan Takari,  Kabupaten Kupang. Bagi saya desa ini  cukup sepi. Jarak antar rumah yang cukup jauh dengan pekarangan dan halaman rumah yang cukup luas membuat desa cukup sepi. Tak banyak yang lalu lalang di jalan, kata Mama Ribka(salah seorang warga) warga ada yang dikebun dan sebgaian dirumah saja. Karena tidak banyak yang dilakukan di kebun/sawah, mereka memilih di rumah saja.



Debu dari jalan aspal yang di banyak tempat sudah rusak sesekali mengebul membuat mata harus terpincing kalau tidak mau kemasukan debu. Di mana-mana sejauh mata memandang hanya pemandangan panas, gersang yang terlihat.
Repotnya, saat kemarau seperti saat ini, warga kekurangan air bersih. Sumur tidak ada yang tersisa airnya, kering kerontang. Saya sendiri melihat ke sumur warga dan tak setesepun air yang masih tersisa di sumur yang kedalamannnya rata-rata diatas tujuh meter tersebut.



Kekurangan air menjadi masalah yang dialami warga desa Huekutu sejak bertahun-tahun yang lalu. Mereka harus berjalan ke sumber air sejauh 4 Km2 untuk mendapatkan air. Hanya satu dua sumur warga yang masih menyisakan air , dan menjadi tumpuan warga desa lainnya. Susahnya air membuat mereka harus berhemat air, hanya mengunakan air untuk hal yang penting seperti memasak. Mencuci baju dan mandi mereka terpaksa ke sumber air yang letaknya jauh.

Sekolah pun mengalami masalah yang sama, tidak ada air sama sekali. Tak mau kekurangan akal, para guru di SDN Hueknutu Kecamatan Takari meminta semua muridnya untuk membawa air satu derigen saat masuk sekolah. Tak ayal lagi anak-anak selalu mengambil air ke sumber air untuk dibawa ke sekolah. Menurut nona Grace, salah satu murid kelas 5 saat saya tanya, air yang dibawa akan dimasukkan ke bak mandi sekolah dan sebagian untuk menyiram bunga. Mereka merasa tidak keberatan karena tahu tidak ada air di sekolah sama seperti tidak air di rumah mereka.

Tapi tidak semua anak setiap hari membawa air. Seperti pengakuan Thomas dan beberapa teman lainnya.  Ia mengaku lupa membawa air karena kesingan masuk sekolah sehingga terburu-buru. Apakah murid yang lalai membawa air tidak dimarahi gurunya? “Iya, beta di marahi guru,” jawabnya sambil menyeka keringat di dahinya.

Thomas, Grace dan murid lainnya sangat bersemangat ke sekolah. "Banyak belajar. Kalau sonde sekolah, beta sonde pintar," ucapnya penuh semangat. Meskipun harus membawa air tetapi toh mereka senang saja. Jarak rumah dengan sekolah yang cukup jauh tetap dijalani meski dengan  berjalan kaki dibawah terik panas.

Biasanya sepulang sekolah, mereka  tidak langsung pulang, karena jarak rumah yang cukup jauh mendorong mereka untuk berhenti istirahat duduk di tepi jalan untuk melepas lelah. Sesekali mereka juga berhenti saat ada satu dua mobil melintas. Derigen yang dipergunakan untuk membawa air tergeletak di pinggir jalan, diambil. “Ada oto bagus,” bisik salah seorang teman Grace sambil tersenyum malu-malu kepada kami. Pun saat kami tawari untuk menumpang mengantar mereka pulang. Wajah letih berganti menjadi senyum sumrigah dibalut malu-malu. Mereka tertib naik ke mobil dan terus berbisik-bisik saat di dalam mobil. Tak kurang dari 3 Km2 satu persatu mereka turun setelah mengucapkan terimakasih sambil menenteng derigen yang akan mereka gunakan membawa air esok dan esak harinya lagi. “Sampai ketemu lagi, adik, nona.

_Kupang, 4 November 2015_

Rejeki di balik Tumpukan Sampah

Matahari belum juga muncul, gelap masih menyelimuti dukuh yang terletak persis di sebelah barat, ujung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo Jawa Tengah. Dukuh Jengglong masuk dalam wilayah dusun Tunggulrejo, Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar memang terletak di sebelah TPA Putri Cempo Mojosongo. Akses jalan raya dari Balai Desa Plesungan masuk ke timur kemudian masuk ke gang dusun. Jika dari TPA Putri Cempo, terletak persis di ujung lahan TPA tersebut. Hanya dibatasi jembatan kecil yang menghubungkan dukuh dengan TPA.

Beberapa warga sudah terbangun sejak Subuh, melakukan aktivitas rumah tangga , kemudian bersiap untuk bekerja. Demikian juga dengan sebut saja Bu Gino, usai menyelesaikan urusan memasak dan menyiapkan anaknya sekolah, ia tidak lantas berleha. Bu Gino harus bergegas untuk ke tempat kerjanya, di lahan TPA yang berusia puluhan tahun. Ia berganti kostum kerjanya, pakaian sederhana yang terdiri dari baju lengan panjang dan celana panjang yang sudah ratusan kali ia gunakan untuk ‘menyambung hidup’ keluarganya. Sebuah topi lebar dari bambu atau biasa di sebut caping menjadi salah satu ‘properti’ yang ia gunakan. Tak lupa sepatu boot plastik yang sudah mulai usang dan kaos tangan yang usianya sudah lebih dari tiga tahun melengkapi pakaian kerjanya. Keranjang besar yang teranyam dari bambu dan pengait dari besi menjadi alat utama yang harus di bawa. Seperti warga lainnya yang bekerja seperti dia, menjadi pemulung, kebanyakan mengunakan kain kecil sebagai masker yang akan melindunginya dari bau yang sangat menyengat.



Bu Gino menjadi pemulung barang bekas seperti tas kresek/platik bekas yang ia pungut dari TPA Putri Cempo. Ia tidak sendiri, puluhan tetangganya bekerja seperti dirinya Pun dari dukuh tetangga juga bekerja sepertinya.

Ia dan para pemulung sudah terbiasa menapaki TPA yang luas wilayahnya 17 hektare. Tidak semua lahan digunakan sebagi tempat pembuangan sampah. Lahan seluas itu dipergunakan untuk berbagai sarana dan prasarana TPA, seperti bangunan kantor dan parkir Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) seluas 1 hektare; IPLT (instalansi Pengolahan Lumpur dan Tinja) yang dikelola oleh PDAM namun lama mangkrak, seluas 2 hektare; dan petilasan Putri Cempo 1 hektare. Sisanya seluas 13 hektare dipergunakan untuk tempat pembuangan sampah.



Ibu yang sudah tidak muda lagi itu, tak kenal lelah,  biasa bekerja dari jam 07.30 sampai sore hari sekitar jam 17.00. Ia berangkat pagi sebelum truk DKP yang membawa muatan sampah datang. Sekitar jam 08.00 puluhan truk membawa sampah hilir mudik dan menurunkan di lahan TPA. Kalau tidak datang lebih awal, ia dipastikan kesulitan mendapatkan sampah yang berarti tidak akan banyak rupiah yang ia bawa pulang. Bukan karena berebut dengan para pemulung saja, tetapi sapi-sapi juga berebut merangsek ingin mencari sampah yang masih bisa dimakan. Gerak sapi inilah yang terkadang membuatnya kurang cepat karena terhalang puluhan sapi yang menanti sampah datang seperti dirinya.



Meski rata-rata hanya Rp 30.000/hari ia dapatkan dari penjualan sampah, tetapi ia selalu bersyukur karena masih diberikan kemurahan rejeki dari Tuhan. Ia tak pantang menyerah, terus dengan sabar dan telaten memilah sampah yang masih layak jual. Hidungnya sudah terlalu kebal dengan bau, meski tanpa masker saat memilah sampah, tak mengapa.

Saat senja mulai turun, perlahan ia melangkah terseok, membawa sisa sampah yang akan dipilah di rumah . Sebagian besar sampah sudah di beli para pengepul, sementara yang tidak laku dijual akan dipilah, dicuci dan dikeringkan. Sisa itulah akan berganti menjadi rejeki untuk keluarganya. Tak ada keluh kesah, kakinya melangkah ringan menuju tempat istirahatnya, esok ia akan kembali ke tempat yang sama , mengais rejeki bersama pemulung lainnya.

_Solo, 31 Oktober 2015_

Seputar Rica-Rica Guk-Guk di Solo

Kira-kira lima tahunan ini, sate jamu atau rica-rica atau sate guk-guk marak di Kota Solo. Sebelum tahun 2010, penjual sate jamu ini terkesan masih ‘malu-malu’, menjualnya tidak terbuka, di lapak-lapak pedagang kaki lima yang hanya menuliskan sate jamu saja, tanpa embel-embel tulisan anjing/guk-guk apalagi gambar anjing. Mengapa? Sepertinya karena pedagang sungkan/tidak enak hati menjual anjing sebagai makanan yang bagi umat muslim adalah haram.

Mereka tidak fulgar menjualnya, dan biasanya hanya orang tertentu dan pelanggan yang tahu sate jamu. Tak heran kalau ada saja warga yang belum paham dan bahkan tidak menduga sama sekali kalau sate jamu itu adalah sate anjing. Saat itu, karena banyak warga yang kecele, maka pemerintah kota Solo memberikan himbauan agar pedagang sate jamu menuliskan secara jelas bahwa sate jamu itu adalah sate guk-guk.

Nah sejak saat itulah, semua pedagang sudah terbuka, terus teras dan tak malu lagi menuliskan Sate Guk-Guk atau Rica Guk-guk, dengan gambar anjing besar. Segaja, agar orang-orang tahu bahwa mereka menjual sate anjing.
Kenapa disebut sate jamu? Konon, menurut orang-orang (yang percaya) mengkonsumsi sate guk-guk bisa menambah vitalitas dan menaikkan kejantanan. Itulah kenapa disebut sate jamu, karena bisa untuk jamu atau obat. Saya tidak tahu pasti, benar atau tidak, yang jelas kalau diamati memang banyak yang suka mengkonsumsinya jika dilihat dari warung-warung sate guk-guk yang ramai dengan pembeli. Bahkan pedagang juga pintar membuat beragam masakan dari daging anjing, seperti rica basah, rica kering dan sate.



Kalau anda ke Kota Solo, gampang sekali menemukan penjual rica Guk-guk. Di pinggir jalan besar, lapak rica guk-guk banyak betebaran. Siang maupun malam, dengan mudah ditemukan.
Saking ramainya pengemar sate jamu guk-guk, menurut data Provinsi Jateng, di Solo dalam sehari konsumsi anjing mencapai 63 ekor. Wow, jumlah yang besar. Rekor konsumsi anjing di kota Solo menjadi yang terbesar di seantero Jawa Tengah(dari total 223 ekor perhari), disusul Klaten dengan 25 ekor/hari dan Semarang dengan 22 ekor setiap harinya.

Tak heran jika para pengemar anjing di Solo menjadi risau dan semakin was-was dengan jumlah konsumsi yang besar tersebut. Bagi pengemar anjing, menkonsumsi daging anjing tidaklah manusiawi karena anjing menjadi binatang peliharaan yang mampu menjaga rumah dan disayang-sayang keluarga.  Dengan kebutuhan anjing yang sedemikian besar, bukan tidak mungkin keberadaan anjing akan mudah terkikis dan habis. Apalagi cukup miris, saat mendengar saat membunuh (maaf) anjing dengan cara yang sadis yaitu di tenggelamkan baru kemudian di sayat dagingnya. Cara tersebut diyakini membuat daging anjing lebih enak, karena darahnya masih ada di tubuh anjing , tak ada yang tercecer.

Terlepas dari enak atau enggak, buat jamu/obat atau enggak, saya setuju dengan rencana Pemkot Solo yang berinisiatif untuk membuat rancangan peraturan daerah tentang pembatasan dan kemungkinan pelarangan konsumsi daging anjing. Raperda tersebut penting mengingat pemkot Solo harus memastikan produk pangan yang dikonsumsi warganya terjamin kesehatannya. Karena sangat mungkin daging anjing yang di buat sate jamu guk-guk itu berasal dari anjing liar yang bisa jadi tertular rabies. Gak ada yang bisa menjamin mereka mengunakan anjing sehat bukan?

Nah, bagi pecinta sate jamu guk-guk, agaknya perlu berpikir ulang untuk meneruskan kebiasaan mengkonsumsi guk-guk. Jangan sampai niat untuk menambah vitalitas, menjaga kebugaran malah berakibat sebaliknya. Kenapa nggak beralih saja ke sate kambing atau sate ayam, rica ayam saja?

_Solo, 28 Oktober 2015_