Inilah daftar Mentri di Kabinet Kerja Jokowi-JK:
1. Menteri Sekretaris Negara : Praktino (52 tahun)
2. Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago (51 tahun)
3. Menko Bidang Kemaritiman : Indroyono Soesilo (59 tahun)
4. Menteri Perhubungan : Ignasius Jonan (51 tahun)
5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti (49 tahun)
6. Menteri Pariwisata : Arief Yahya (53 tahun)
7. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral: Sudirman Said (51 tahun)
8. Menko Bidang Polhukam : Tedjo Edy Purdijatno (62 tahun)
9. Menteri Dalam Negeri : Tjahjo Kumolo (56 tahun)
10. Menteri Luar Negeri : Retno Lestari Priansari Marsudi (52 tahun)
11. Menteri Pertahanan : Ryamizard Ryacudu (64 tahun)
12. Menteri Hukum dan HAM : Yasonna H Laoly (61 tahun)
13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara (55 tahun)
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi (46 tahun)
15. Menko Bidang Perekonomian: Sofjan Djalil (61 tahun)
16. Menteri Keuangan : Bambang Brodjonegoro (48 tahun)
17. Menteri BUMN : Rini M Soemarno (56 tahun)
18. Menteri Koperasi dan UMKM: Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga (49 tahun)
19. Menteri Perindustrian : M Saleh Husin (51 tahun)
20. Menteri Perdagangan : Rachmat Gobel (52 tahun)
21. Menteri Pertanian : Amran Sulaiman (46 tahun)
22. Menteri Ketenagakerjaan : Hanif Dhakiri (53 tahun)
23. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadi Muljono (59 tahun)
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya Bakar (49 tahun)
25. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN: Ferry Mursyidan Baldan (53 tahun)
26. Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani (41 tahun)
27. Menteri Agama : Lukman Hakim Saifuddin (52 tahun)
28. Menteri Kesehatan : Nila F Moeloek (65 tahun)
29. Menteri Sosial : Khofifah Indar Parawansa (49 tahun)
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohana Yambise (56 tahun)
31. Menteri Kebudayaan dan Pedidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan (45 tahun)
32. Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi : M Nasir (54 tahun)
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi (41 tahun)
34. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Ja'far (43 tahun)
(sumber detik.com)
Minggu, 26 Oktober 2014
Selasa, 14 Oktober 2014
Menelaah Sapi TPA Putri Cempo Solo
Beberapa hari menjelang idul kurban, polemik hewan ternak sebagai hewan kurban kembali bergulir. Sapi dari Tempat Pembuangan
Akhir(TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo kembali dipersoalkan.
Seperti diberitakan pada Harian Solo
Pos, 29 September 2014, para pedagang sapi di pasar sapi Kliwonan Bekonang ,
Mojolaban, Sukoharjo diminta tak
memperjualbelikan sapi-sapi yang diternak di TPA Putri Cempo Solo. Alasan yang
disampaikan karena sapi dari TPA tersebut mengandung logam timbal
cukup banyak sehingga dikhawatirkan mengancam kesehatan.
Sementara itu sejumlah peternak sapi di
TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo,
sebagaimana diberitakan Solo Pos, 30 September 2014, bertekad memasarkan
sapi mereka ke sejumlah Rumah Pemotongan Hewan Solo, Kalioso Karanganyar dan
Sukoharjo.
Wajar kalau sebagian masyarakat menilai sapi yang biasa berkeliaran di TPA Putri
Cempo mengandung logam timbal sehingga
sebisa mungkin dihindari untuk dikonsumsi. Alasan tersebut tentunya berdasarkan
informasi yang berkembang dimasyarakat,
karena TPA pada dasarnya berisi sampah, tidak hanya sampah sisa makanan tetapi
juga sampah plastik, logam, besi, dll. Sulit untuk memastikan sapi tidak ikut
makan sampah –sampah tersebut.
Keberadaan TPA Putri Cempo dan Sapi
Sebelum melakukan penilaian, ada baiknya
perlu melihat keberadaan sapi di TPA
Putri Cempo terlebih dahulu. Dahulu,
Sapi milik warga di sekitar TPA Putri Cempo, seperti sapi pada umumnya, makan
rumput, jerami dan makanan ternak lainnya. Sejak Pemkot Solo
memutuskan pembuangan sampah akhir di TPA Putri Cempo Mojosongo, pada tahun 1987,
warga kehilangan tempat mengembalakan ternak mereka. Awalnya warga mencoba
membiarkan sapi mereka di areal TPA, tempat yang sebelumnya menjadi lahan
pengembalaan sapi. Lambat laun sapi-sapi beradaptasi dengan sampah dan
mengkonsumi sampah TPA Putri Cempo.
Pemilik tidak terlalu khawatir dengan perilaku sapi ini, karena pada
malam hari biasanya sapi mereka akan memuntahkan sampah plastik yang tertelan saat pagi hingga siang hari.
Disamping itu, harga jual sapi TPA Putri Cempo juga relative bagus sama dengan
harga dipasaran. Bahkan menurut warga, sudah ada pembeli sapi yang secara rutin
membeli sapi-sapi mereka.
Tidak mudah untuk menilai kondisi
kelayakan sapi di lahan TPA tersebut.
Tetapi ada fakta yang menarik dan bisa
menjadi bahan pertimbangan terhadap polemik sapi yang dibiarkan berkeliaran bebas di TPA
Putri Cempo. Beberapa hal tersebut adalah:
Pertama, sekitar seribu
lebih sapi yang berkeliaran di TPA Putri Cempo dimilik oleh warga Solo yaitu
warga Jatirejo, Randusari, dan warga sekitar. Hampir semua warga di Randusari
mempunyai sapi, sementara di Jatirejo dan di Kepuhsari sebagian warga mempunyai
sapi dari 2 ekor sampai puluhan ekor. Sapi tersebut selama ini menjadi
investasi yang dipergunakan untuk keperluan besar seperti biaya sekolah,
memperbaiki rumah, hajatan, dll. Sebagian sapi lainnya dimiliki warga dari kabupaten Karanganyar yaitu dari dukuh
Jengglong dan Suluhrejo, Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo. Perkembangan
sapi sangat pesat karena sapi dibiarkan berkembang biak di alam terbuka /tidak
dikadangkan sehingga sapi relatif bebas. Lain ketika sapi dikandangkan,
biasanya dalam 2 tahun baru mempunyai anak.
Kedua,
tidak semua sapi milik warga di sekitar TPA Putri Cempo di biarkan berkeliaran
di areal TPA. Meskipun relative sedikit, tetapi ada sebagian warga yang tetap
mengkandangkan sapi miliknya di rumah. Selain untuk mengantisipasi kesehatan
sapi, juga untuk meminimalisir sapi terlindas alat berat. Alasan lain karena
sapi tersebut termasuk mahal harganya sehingga sayang kalau dibiarkan
berkeliaran di TPA.
Ketiga, meskipun ada sejumlah pihak yang merasa
khawatir dengan kesehatan sapi TPA Putri Cempo, tetapi pada tahun 1994, Sapi di TPA Mojosongo pernah memenangkan lomba sapi sehat yang
diadakan Departeman Pertanian. Pada
waktu itu Dinas Pertanian Kota Solo menunjuk
sapi dari Kelompok Ternak Sapi Potong Bakti Mulya (KTSPBM) Randusari Mojosongo untuk
menjadi peserta mewakili kota Solo. Sapi dari Mojosongo tersebut berhasil meraih juara kedua. Hal itu
yang menjadikan warga semakin nyakin dan nyaman untuk beternak sapi. Karena
meskipun sapi diberikan pakan sampah tetapi sehat , bahkan memenangkan lomba
sapi tingkat nasional. Bahkan setelah melihat
perkembangan populasi sapi yang pesat, pemerintah provinsi memberikan gaduhan
sapi ke warga Jatirejo dan Randusari. Kemudian
pada tahun 1994/1995 Dispertan kota Solo juga memberikan bantuan gaduhan
sapi sejumlah 224 ekor sapi yang berkembang sampai sekarang. Sampai saat ini bantuan sapi gaduhan dari Dispertan sudah
mencapai 3 tahap. Tahap yang terakir tahun 2007/2008 Randusari mendapatkan
gaduhan sebanyak 50 ekor.
Keempat, kesehatan sapi di TPA Putri Cempo bisa
dikatakan cukup baik. Dari informasi
warga, selama puluhan tahun belum ada kasus sapi terkena penyakit tertentu.
Sapi yang pernah ditemukan mati bukan karena terserang penyakit tetapi karena
terlindas alat berat di TPA. Merujuk
pada penelitian Dispertan Solo tahun 2006/2007 tentang keberadaan sapi TPA
Putri Cempo, pertama kebutuhan nutrisi sapi terpenuhi ,
kedua sapi sehat dan tak ada penyakit yang spesifik. Penyakit yang ada hanya
tergolong rendah, misalnya cacingan dan obstruksi rumen (kembung pada perut
besar_salah satu tempat pencernaan sapi) yang mengakibatkan perut sapi
kembung. Ketiga sapi mengandung timbal
yang melebihi ambang batas.
Kelima,
meskipun ada temuan sapi mengandung
timbal/residu, ada solusi yang tidak memberatkan warga pemilik sapi, yaitu
untuk melakukan karantina terhadap sapi sekitar tiga bulan sebelum
dijual/disembelih. Karantina dilakukan dengan mengandangkan sapi dan memberikan pakan sapi dengan rumput, sayuran selain sampah dari TPA.
Proses karantina ini dilakukan untuk menghilangkan timbal. Selain itu sebelum
memberikan makanan sampah sebaiknya
sampah organik dicuci terlebih dahulu untuk meminimalisir residu
Keenam,
Dinas Peternakan dan Pertanian (Dispertan) Solo secara rutin melakukan
vaksinasi sapi dengan memberikan suplemen, vitamin dan obat cacing. Hal ini
bertujuan untuk mengantisipasi adanya sapi yang berpenyakit. Hal ini
memungkinkan kondisi sapi di TPA Putri Cempo terpantau secara rutin oleh
Dispertan.
Dengan melihat temuan
tersebut, masyarakat bisa menilai sendiri kelayakan ternak dari lingkungan TPA
Putri Cempo Solo tanpa harus merugikan pemilik ternak yang bersangkutan
Dispertan pernah mengimbau
warga untuk tidak mengembalakan ternak di TPA Putri Cempo. Tetapi tidaklah
mudah untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat pemilik sapi di sekitar TPA
Putri Cempo untuk tidak mengembalakan sapi di TPA. Selama ini sapi tersebut
tetap laku terjual bahkan sapi bisa tumbuh dengan cepat dengan biaya yang
sangat rendah karena pemilik tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk
pemeliharaannya. Selain itu, sapi di
sekitar TPA Putri Cempo berkembang pesat karena selalu ada yang membutuhkan.
Sehingga wajar jika warga membiarkan sapi disekitar TPA.
Secara tidak langsung Pemkot
Solo ikut bertanggungjawab dengan keberadaan sapi yang mengkonsumi sampah di
TPA Putri Cempo. Selama
ini pengelolaan sampah di kota Solo masih menggunakan cara yang konvensional
yakni sistem pembuangan terbuka atau open dumping dimana sampah dibuang ke
tanah yang sudah di gali setelah itu sampah ditutup tanah lagi. Cara tersebut
membuat timbunan sampah tidak bisa terkontrol lagi. Luapan sampah di sekitar
tempat tinggal warga juga berpotensi menjadi santapan sapi yang setiap hari
berkeliaran di sekitar TPA.
Pemkot Solo mestinya ikut bertanggungjawab
untuk memberikan kepastian bahwa sapi milik warga di sekitar TPA tersebut masih
dalam kategori aman dan layak untuk dikonsumsi. Pemantauan terhadap pendistribusian ternak dari kota Solo
menjadi penting untuk ditingkatkan. Diharapkan
hal tersebut akan membantu peternak sapi di kawasan TPA Putri Cempo
tetap bisa menjual sapi mereka dan masyarakat umum (pembeli ternak) tidak diliputi rasa khawatir
saat mengkonsumsi hewan kurban tersebut. Sehingga polemik sapi dari TPA Putri
Cempo tidak akan terulang lagi.***
Rabu, 11 Juni 2014
Jokowi Tak Perlu Manfaatkan Dugaan Pelanggaran HAM Prabowo
Beredarnya surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) tentang pertimbangan pemberhentian Prabowo dari ABRI yang beredar di media massa beberapa hari yang lalu membantu masyarakat untuk menilai capres yang akan dipilih pada tanggal 9 Juli nanti.
Rekam jejak capres Prabowo yang selama ini menjadi perbincangan, kasak kusuk di masyarakat perlahan mulai menemukan titik terang. Bagi masyarakat (terutama aktivis 98) yang selama ini menyakini keterlibatan Prabowo semakin merasa mantap karena kenyakinan mereka telah diperkuat dengan surat keputusan DKP tersebut. Meskipun selama ini mereka tahu keterlibatan Prabowo terutama dari berbagai diskusi antara sesama aktivis angkatan 98 yang mengalami penculikan, tetapi bukti otentik sulit untuk didapat. Bagi masyarakat yang
selama ini tidak nyakin dengan keterlibatan Prabowo, sedikit banyak
mulai terbuka pikiran dan hatinya untuk melihat lebih jelas rekam jejak
sang capres. Bagi masyarakat yang selama ini tidak mau tahu, paling tidak menjadi tergerak hatinya untuk lebih tahu.
Soal surat DKP tersebut, sebagian berpendapat kalau
surat dimunculkan menjelang Pilpres karena kepentingan politis. Masuk
akal juga, kenapa tidak sejak dulu surat keputusan DKP tersebut beredar
luas di media massa? Kenapa menjelang Pilres baru diedarkan? Apakah
momentum ini dipilih untuk menjatuhkan capres tersebut? Sebagai orang awam, menurut saya sangat mungkin hal itu terjadi. Entah siapa pelakunya tetapi sangat mungkin tujuan surat tersebut untuk mengancurkan kepercayaan warga yang selama ini mendambakan Mr P sebagai presiden mereka. Tetapi bisa juga dipahami, justru surat tersebut diedarkan menjelang pilpres karena justru untuk meluruskan jalan gelap yang selama ini dilalui para pengidola Mr P. Kenapa? Karena di moment-moment krusial kurang lebih dari sebulan Pilpres ini, ada jalan terang yang dibukakkan sehingga mereka tidak terlanjur salah pilih. Surat tersebut dimaksudkan agar masyarakat tidak sesat pikir dalam mengambil keputusan yang akan mempengaruhi pemerintahan Indonesia selama lima tahun ke depan.
Beredarnya surat DKP tersebut mau tidak mau memberikan keuntungan bagi pihak Jokowi-JK. Satu point berhasil mereka dapatkan dari rekam jejak Prabowo di masa lalu. Meskipun
melihat perkembangan selama ini, tanpa surat DKP itupun dukungan kepada
pasangan capres Jokowi-JK semakin hari semakin banyak. Artinya peluang Jokowi-Jk sebenarnya cukup besar untuk memenangi Pilpres. Meskipun di sana-sini masih saja ada masyarakat
yang merasa kuatir jika Jokowi terpilih menjadi Presiden tidak akan
menyelesaikan tanggungjawabnya selama lima tahun melihat rekam jejak
ketika meninggalkan jabatan Walikota Solo dan sekarang bersiap
meninggalkan amanah menjadi Gubernur DKI Jakarta., untuk mengejar
jabatan Presiden RI.
Sebagai warga biasa yang beberapa kali berinteraksi
langsung dengan Jokowi ketika menjadi Walikota Solo, saya berharap
beliau tidak akan memanfaatkan moment surat DKP yang menjadi pukulan telak Prabowo untuk
kepentingan beliau. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri, pak Jokowi
tidak usah terjebak untuk ikut mengomentari soal dugaan pelanggarahn
HAM Prabowo di masa lalu. Sebagai orang jawa, pak Jokowi mestinya tidak melupakan falsafah Menang Tanpa Ngasorake (menang tanpa meremehkan/merendahkan lawannya). Tetaplah menjadi Jokowi seperti yang dulu yang kami kenal, yaitu seorang yang kalem, rendah hati, sabar, nrimo, dan pekerja keras . Itulah Jokowi yang sebenarnya.***
Demam Capres
Udara panas menyengat, rasanya tidak ada angin yang bertiup.
Sungguh panas sekali. Gerah.
Sungguh panas sekali. Gerah.
Debu-debu
tebal memenuhi jalanan. Daun-daun di pot
bunga yang tertata rapi di pinggir trotoar
tampak kotor berselimut debu. Sebagian besar debu dari letusan gunung
Kelud belum sepenuhnya hilang. Hujan
yang diharapkan datang sudah lama tidak turun. Sesekali Karyo dan tukang becak
lainnya harus membersihkan debu di jok becaknya dengan lap bekas kaos yang
sudah tidak terpakai lagi.
Karyo menghela nafas
panjang. Siang-siang seperti ini tidak
banyak orang yang membutuhkan jasa tukang becak seperti dirinya. Apalagi
semakin lama semakin sedikit orang yang mau naik becak. Terutama sejak
sepeda motor di jual dengan sangat mudah. Hanya dengan uang
muka limaratus ribu saja orang sudah bisa membawa motor pulang. Cicilan
perbulan juga bisa memilih sendiri, mau yang tigaratusribu, empatratusribu, sampai
yang sejuta. Tergantung kemampuan. Yang jelas mempunyai sepeda motor sangatlah
mudah. Pilihan membeli sepeda motor
selain lebih hemat juga lebih menghemat waktu. Daripada untuk membayar upah
naik becak , lebih baik untuk membeli bensin. Lebih irit. Itulah mengapa
akhir-akhir ini bekerja sebagai pengayuh becak sudah tidak mampu untuk menutupi
kebutuhan sehari-hari. Karyo masih tetap
bertahan karena dia tidak mempunyai kemampuan selain mengayuh becak yang sudah
ditekuni sejak limabelas tahun silam.
Karyo mengubah
posisi duduknya sambil mengipasi badannya dengan selembar kardus
kumal yang biasa membantu mengurangi hawa panas saat tidak membawa
penumpang seperti saat ini. Pandangan
matanya tertuju kepada Slamet, temannya
yang duduk diatas becak sambil membaca
koran .Beberapa teman yang lain ada yang tidur-tiduran diatas becak, ada pula
yang duduk di kursi kayu dibawah pohon sambil gobrol . Semua
bertujuan sama, mengisi kejenuhan
sambil menunggu calon penumpang. Pangkalan becak yang terletak di seberang hotel berbintang
tiga ini memang cukup strategis.
Terletak di pojok sebuah pusat grosir terbesar di kota Solo, depan jalan utama
dan persis di pinggir perempatan jalan. Tak heran sampai saat ini masih ada sepuluh tukang becak yang masih
bertahan di pangkalan. Meskipun jauh berkurang karena lima tahun yang lalu
masih ada tigapuluh dua tukang becak
yang mengais rejeki .
“Wah, hebat.
Benar-benar hebat nich pak Gubernur . Ck…ck…ck….” Decakan kagum Slamet
mengusik lamunan Karyo . Beberapa kali
terdengar gumaman Slamet.
“Memang lagi baca
apa, Met?” tanya Karyo penasaran.
“Ini, pak Gubernur
DKI. Pak Jokowi semakin populer saja. Banyak survey yang menempatkan dirinya di
atas Prabowo. Hehehehe,” jawab Slamet tak lepas dari korannya.
“Ach, nggak usah
percaya dengan survey. Itu khan bisa dipesan. Huahahahahaha. “
“Maksudmu?” tanya
Slamet sambil mengeryitkan alisnya.
“Ya kalau yang survey
kubu Jokowi ya dia yang teratas. Tapi kalau yang pesen survey Prabowo , ya
pasti Prabowo yang diatas Jokowi,” jawab Karyo mantap. Meskipun hanya tukang
becak tetapi Karyo tidak ketinggalan untuk mengikuti perkembangan politik di
tanah air. Terutama saat ini menjelang pilihan presiden. Dimana-mana orang
memperbincangkan soal calon presiden Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Karyo tidak
pernah absen ikut mendengarkan obrolan tetangga di pos kamling saat malam hari
sambil melihat berita di televisi. Jadi Karyo sedikit banyak tahu informasi
seputar Pilpres.
“Memang kenyataannya
Jokowi lebih mumpuni dibanding
Prabowo. Selain punya pengalaman menjadi walikota dan gubernur juga lebih sederhana dan merakyat,” kata Slamet
tak bisa menutupi kebanggaan terhadap calon presiden yang dia dukung.
“Hahahahahahahaha. Mumpuni gimana? Jelas lebih mumpuni Prabowo dong. Tegas, disiplin!
Pasti mampu memimpin bangsa Indonesia ke depan.”
Slamet meradang.
Koran dibanting dengan keras.
“Lihat rekam
jejaknya dong. Prabowo itu masih diragukan soal kewarganegaraan, soal
pelanggaran HAM. Itu yang akan kamu dukung jadi presiden?” ejek Slamet . Tanggannya menunjuk kea rah Slamet dengan
kesal.
“Heh, itu semua
belum tentu benar. Fitnah tau. Pokoknya
Prabowo saja. Hidup Prabowo-Hatta!”seru Karyo
keras.
“Sekali Jokowi tetap Jokowi! Jokowi- JK adalah kita !” mantap suara Slamet menirukan tagline
pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sambil
mengepalkan tangan kanannya.
“Nggak bisa. Jokowi
itu lembek,nggak tegas. Lain dengan Prabowo, dong. Tegas, disiplin, orator yang
baik. Dialah calon presiden Indonesia.
Pokoknya Prabowo-Hatta. Titik!” balas Karyo berapi-api.
“Apa? “ Slamet melompat dari becak. Tangannya mengepal
dengan keras. Wajahnya merah tak bisa
lagi menyembunyikan kemarahan.
“Dasar geblek. Pilih pemimpin kok gak lihat
rekam jejaknya.Pelanggar HAM.” Teriak Slamet marah.
Karyo bangun dari
duduknya, berjalan menghampiri Slamet dengan kemarahan yang tidak bisa di
tahan.
“Jangan asal
ngomong. Dasar kamu yang bebal! Kenthir!
“
Tanpa bisa dicegah
Slamet dan Karyo sudah berhadap-hadapan
dan saling mencacimaki. Tangan mereka
berkacakpinggang, sesekali saling
tuding . Banyak kata-kata tak pantas keluar dari mulut mereka, saling
membanggakan capresnya , saling mengejek capres lawan . Suasana memanas. BAK..BUK…BAK..BUK… entah
siapa yang memulai tahu-tahu tangan mereka sudah saling pukul dan hantam. Jeritan mbak Sumi pedangan wedangan yang baru datang dengan sepedha onthelnya membuat
para tukang becak lain terkejut dan berlarian mendatangi Karyo dan Slamet. Perkelahian Karyo juga membangunkan tidur
tukang becak yang lain. Segera saja mereka melerai Karyo dan Slamet sambil
melihat mereka berdua dengan pandangan penuh tanda tanya. Butuh empat orang untuk memegang Karyo dan
Slamet agar tidak meneruskan bakuhantam. Meskipun sempat di cegah, tetapi adu
mulut masih terdengar jelas. Makian kasar tidak juga berhenti. Beberapa
pengendara sepeda motor menjadi tertarik dan berhenti melihat keributan yang
terjadi.
“Sudah, CUKUP! “
bentak mbah Atmo, tukang becak tertua yang juga ditunjuk sebagai sesepuh tukang
becak di pangkalan. Mata tuanya menatap
Karyo dan Slamet bergantian dengan kesal. Seketika suasana hening. Karyo dan
Slamet diam membisu, tidak berani lagi angkat bicara. Meskipun mbah Atmo sudah
tua tetapi badannya kekar dan kuat karena sudah puluhan tahun mengayuh becak.
Tutur katanya tegas dan bisa ngemong
tukang becak yang lain. Selama ini mbah Karyo menjadi panutan Karyo dan
teman-temannya.
“Kalian ini seperti
anak kecil saja. Ora isin, ora pekewuh. Udur-uduran barang sing
ra ngenah.” Mbak Atmo bisa menangkap
bahan pertengkaran Karyo dan Slamet. “ Kalau suka dan mendukung capres itu boleh saja, tapi mbokyao yang masuk akal. Jangan turuti emosi. Jangan membiarkan soal dukungan menjadi bahan pertengkaran.”
Suara-suara
bersahut-sahutan terus terdengar bagai degungan lebah. Sebagian geleng-geleng
kepala, ada yang bilang ya ampun, juga
ada yang komentar ada-ada saja. Tanpa di komando banyak nasehat yang bermunculan dari tukang becak. Sebagian
menyesalkan pertengkaran yang terjadi
dan sebagian lagi minta Karyo dan Slamet untuk menahan diri. Bahkan ada diskusi
mendadak yang membicarakan soa kedua
capres.
“SUDAH!” bentak mbak
Atmo kesal. “Kalian malah memperburuk keadaan. Nggak usah bikin panas. Tidak
ada gunanya kalian membela mati-matian capres kita. Memangnya kalau yang jadi
presiden Jokowi Indonesia akan hancur? Kiamat? Memangnya kalau yang terpilih
Prabowo kita akan hancur juga? Wealah, semua sama-sama berpeluang menjadi
presiden. Biarkan saja , tunggu tanggal 9 nanti. Kita tidak usah terlalu ngoyo mendukung dan saling menjelekkan.
Mau milik no 1 atau 2 ya monggo saja.
Itu hak kalian. Tetapi ya harus menghormati hak orang lain juga. “ kata mbah
Atmo panjang lebar.
Karyo menundukkan
muka sambil mengusap wajahnya yang terasa perih. Pukulan Slamet mendarat mulus
di mukanya lebih dari satukali. Ada rasa sesal dan malu tidak mampu
mengontrol emosinya. Padahal Slamet
adalah sahabatnya sejak lama. Kenapa hanya karena pilihan yang berbeda dia
menjadi emosi dan kalap? Karyo meringis sambil mendengarkan nasehat mbah Atmo .
Sementara Slamet
masih berdiri di sebelah kiri mbah Atmo dengan sesekali meringis memegangi
perutnya. Beberapa tendangan kaki Karyo tepat mengenai perutnya. Rasanya
melilit sekaligus nyeri. Hatinya diliputi perasaan penyesalan telah membuat
Karyo marah dan mereka berkelahi. Selama bertahun-tahun bersahabat mereka
berdua selalu rukun bahkan sesekali mereka saling membantu. Saat Karyo sedang
membutuhkan uang banyak untuk keperluan tertentu, Slamet dengan ikhlas
membiarkan rejekinya untuk Karyo. Demikian juga sebaliknya. Sungguh persahabatan
yang baik diantara mereka. Slamet tidak rela jika persabahatan mereka selama
ini hancur hanya karena masing-masing mempunyai pilihan yang berbeda.
“Nah, lebih baik
kalian segera berbaikan. Tidak baik
memelihara permusuhan. Kita ini sama-sama orang kecil. Kalau tidak
kompak, gimana mau cari rejeki buat anak istri? Ayo, salaman!” kata mbah Atmo
dengan nada memerintah.
Karyo dan
Slamet tanpa disegaja saling pandang
dalam waktu yang bersamaan. Ada
keraguan di mata Slamet, tetapi segera terhapus ketika melihat senyum Karyo.
Reflek mereka saling berpelukan dan tanpa menunggu lama kemarahan segera
mencair. Tak ada lagi permusuhan dan dendam yang memenuhi hati mereka. Pelukan
Slamet mengendor saat Karyo menjerit
kesakitan karena tanpa segaja Slamet
telah memegang pipi Karyo yang biru
menghitam. Mereka berdua tertawa bersama-sama menyadari wajah dan badan berantakan. Mau nomer satu atau dua yang terpilih, yang
penting rakyat kecil sejahtera, batin Karyo lega. ***
Jumat, 25 April 2014
Kalau Memang Jujur, Kenapa Takut?
Jujur..jujur...jujur....kalimat yang mudah diucapkan tetapi tidak gampang dilakukan.
“HP yang selalu ditenteng dan tidak pernah tergeletak di dalam rumah adalah HP yg mencurigakan…
WaSPadaLah!!!!!” Kalimat tersebut saya copy dari wall FB teman. Saya hanya merasakan ada ketidaknyamanan dari salah satu pasangan dengan sikap pasangannya. Saya pikir ada kecurigaan, dan itu tentunya tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi pasti ada alasan tertentu sehingga muncul statment seperti itu.
Jika memang jujur kepada pasangan dan tidak ada yang disembunyikan, kenapa marah dan tidak terima ketika HP dan barang pribadi di buka pasangan?
Kalimat tersebut seringkali menjadi perdebatan antara pasangan. Yang merasa marah disebabkan karena merasa privasinya terganggu. Meskipun sudah menjadi pasangan bahkan pasangan suami istri tetapi masing-masing pihak merasa tetap berhak mempunyai privasi. Dompet, HP, email, tas menjadi wilayah pribadi yang tak seorang pun boleh membukanya, tak terkecuali pasangan.
Di pihak lain, merasa bahwa sudah menjadi pasangan , kenapa harus punya rahasia? Bukannya setiap pasangan mestinya saling terbuka, jujur, tidak menyimpan rahasia dan urusanmu menjadi urusanku?
Masing-masing mempunyai alasan tersendiri, merasa argumentasinya benar. Dan saya rasa tak ada yang berhak menyalahkan, karena itu menjadi urusan pasangan tersebut. Artinya terserah pasangan tersebut, apakah merasa nyaman dengan hal itu atau tidak. Apakah akan bersikap seperti itu terus atau tidak. Apakah pihak yang marah akan membiarkan pasangan atau memberikan ultimatum atau tidak.
Membuka HP, dompet, email, pasangan bukan berarti tidak percaya diri atau menyimpan ketidak percayaan kepada pasangan. Bisa jadi karena memang ada alasan kuat sehingga pasangan berbuat seperti itu misalnya memergoki pasangan yang ketahuan tidak setia dan itu sudah berulang kali terjadi sehingga memang perlu sesekali di cek isi HP nya.
Kalau memang jujur, menurut saya tidak ada salahnya pasangan mengetahui isi HP, dompet, tas, email kita. Dengan mempersilahkan pasangan mengetahui barang-barang pribadi kita, bisa menambah rasa percaya pasangan terhadap kita.
Kalau memang jujur, kenapa takut??????
“HP yang selalu ditenteng dan tidak pernah tergeletak di dalam rumah adalah HP yg mencurigakan…
WaSPadaLah!!!!!” Kalimat tersebut saya copy dari wall FB teman. Saya hanya merasakan ada ketidaknyamanan dari salah satu pasangan dengan sikap pasangannya. Saya pikir ada kecurigaan, dan itu tentunya tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi pasti ada alasan tertentu sehingga muncul statment seperti itu.
Jika memang jujur kepada pasangan dan tidak ada yang disembunyikan, kenapa marah dan tidak terima ketika HP dan barang pribadi di buka pasangan?
Kalimat tersebut seringkali menjadi perdebatan antara pasangan. Yang merasa marah disebabkan karena merasa privasinya terganggu. Meskipun sudah menjadi pasangan bahkan pasangan suami istri tetapi masing-masing pihak merasa tetap berhak mempunyai privasi. Dompet, HP, email, tas menjadi wilayah pribadi yang tak seorang pun boleh membukanya, tak terkecuali pasangan.
Di pihak lain, merasa bahwa sudah menjadi pasangan , kenapa harus punya rahasia? Bukannya setiap pasangan mestinya saling terbuka, jujur, tidak menyimpan rahasia dan urusanmu menjadi urusanku?
Masing-masing mempunyai alasan tersendiri, merasa argumentasinya benar. Dan saya rasa tak ada yang berhak menyalahkan, karena itu menjadi urusan pasangan tersebut. Artinya terserah pasangan tersebut, apakah merasa nyaman dengan hal itu atau tidak. Apakah akan bersikap seperti itu terus atau tidak. Apakah pihak yang marah akan membiarkan pasangan atau memberikan ultimatum atau tidak.
Membuka HP, dompet, email, pasangan bukan berarti tidak percaya diri atau menyimpan ketidak percayaan kepada pasangan. Bisa jadi karena memang ada alasan kuat sehingga pasangan berbuat seperti itu misalnya memergoki pasangan yang ketahuan tidak setia dan itu sudah berulang kali terjadi sehingga memang perlu sesekali di cek isi HP nya.
Kalau memang jujur, menurut saya tidak ada salahnya pasangan mengetahui isi HP, dompet, tas, email kita. Dengan mempersilahkan pasangan mengetahui barang-barang pribadi kita, bisa menambah rasa percaya pasangan terhadap kita.
Kalau memang jujur, kenapa takut??????
Kampanye Terbuka Menyesatkan Anak-Anak
Kampanye terbuka menjadi salah satu cara untuk meraih simpati
dan dukungan massa. Biasanya berbagai acara dilakukan dalam ajang
kampanye terbuka, dari acara inti seperti orasi, penyampaian visi misi
parpol, ajakan untuk tidak lupa mencoblos parpol yang bersangkutan,
sampai acara tambahan seperti pembagian doorprize dan hiburan. Kemasan
hiburan dibuat semenarik mungkin, sekali lagi untuk menarik simpati
massa. Biasanya parpol mengundang penyanyi band sampai penyangi dangdut
untuk memeriahkan acara kampanye terbuka. Untuk urusan hiburan,
dangdutan lebih ramai dan lebih laku dibandingkan aliran musik lainnya.
Hiburan dangdutan memang diharapan mampu menarik perhatian massa
sehingga massa mau bergabung untuk bersenang-senang. Tidak peduli massa
calon pemilih yang sesungguhnya atau hanya massa bohong-bohongan.
Hampir semua parpol peserta pemilu 2014 ini mengundang penyanyi dangdut pada saat kampanye terbuka. Parpol tersebut mengundang penyanyi dangdut ke kampanye terbuka tanpa memikirkan massa yang mendatangi acaranya. Ada sejumlah parpol yang (entah segaja atau tidak) melibatkan anak-anak kecil tutur dalam kampanye terbuka. Dari anak kecil yang diajak orangtuanya dengan alasan terpaksa di ajak karena tidak ada yang mengasuh, sampai anak kecil yang datang sendiri karena tertarik dengan hiburan gratis.
Keterlibatan anak-anak di bawah umur ini nampaknya tidak didasari betul oleh Parpol ybs, sehingga hiburan dangdut yang disajikan tidak memikirkan dampak bagi anak-anak tersebut. Pakaian yang dipakai penyanyi dangdut biasanya mencolok, seksi (cenderung seronok), pendek, memperlihatkan sebagian anggota auratnya, dan mirisnya dengan pakaian yang serba minim tersebut mereka bergoyang dengan seksi dan seronok. Tak terlihat risih, malu, sungkan karena tidak hanya di tonton oleh petinggi Parpol tetapi juga masyarakat dan anak-anak kecil. Bahkan sejumlah penyanyi dangdut tak canggung turun panggung dan mengajak massa bergoyang. Sekali lagi dengan goyangan yahud dan menantang.
Kampanye terbuka yang dilakukan Parpol dengan melibatkan penyanyi dangdut (tanpa larangan berpakaian seksi dan bergoyang seronok) adalah pendidikan politik yang tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mestinya kampanye terbuka menjadi ajang pendidikan politik yang baik untuk masyarakat. Parpol mempunyai tanggungjawab untuk ikut mencerdaskan dan mendewasakan masyarakatnya, bukan malah menyesatkan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tidak pantas di cekoki dengan hiburan erotis yang tidak ada manfaatnya. Kalau memang mau memasang artis berpenampilan seksi dan bergoyang yahud dalam kampanye terbuka, mestinya Parpol melakukan langkah untuk melarang anak-anak terlibat dalam kampanye tersebut. Itu baru langkah cerdas dan mendidik.**
Hampir semua parpol peserta pemilu 2014 ini mengundang penyanyi dangdut pada saat kampanye terbuka. Parpol tersebut mengundang penyanyi dangdut ke kampanye terbuka tanpa memikirkan massa yang mendatangi acaranya. Ada sejumlah parpol yang (entah segaja atau tidak) melibatkan anak-anak kecil tutur dalam kampanye terbuka. Dari anak kecil yang diajak orangtuanya dengan alasan terpaksa di ajak karena tidak ada yang mengasuh, sampai anak kecil yang datang sendiri karena tertarik dengan hiburan gratis.
Keterlibatan anak-anak di bawah umur ini nampaknya tidak didasari betul oleh Parpol ybs, sehingga hiburan dangdut yang disajikan tidak memikirkan dampak bagi anak-anak tersebut. Pakaian yang dipakai penyanyi dangdut biasanya mencolok, seksi (cenderung seronok), pendek, memperlihatkan sebagian anggota auratnya, dan mirisnya dengan pakaian yang serba minim tersebut mereka bergoyang dengan seksi dan seronok. Tak terlihat risih, malu, sungkan karena tidak hanya di tonton oleh petinggi Parpol tetapi juga masyarakat dan anak-anak kecil. Bahkan sejumlah penyanyi dangdut tak canggung turun panggung dan mengajak massa bergoyang. Sekali lagi dengan goyangan yahud dan menantang.
Kampanye terbuka yang dilakukan Parpol dengan melibatkan penyanyi dangdut (tanpa larangan berpakaian seksi dan bergoyang seronok) adalah pendidikan politik yang tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mestinya kampanye terbuka menjadi ajang pendidikan politik yang baik untuk masyarakat. Parpol mempunyai tanggungjawab untuk ikut mencerdaskan dan mendewasakan masyarakatnya, bukan malah menyesatkan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tidak pantas di cekoki dengan hiburan erotis yang tidak ada manfaatnya. Kalau memang mau memasang artis berpenampilan seksi dan bergoyang yahud dalam kampanye terbuka, mestinya Parpol melakukan langkah untuk melarang anak-anak terlibat dalam kampanye tersebut. Itu baru langkah cerdas dan mendidik.**
Selasa, 12 November 2013
Magnet Mencegah Bengkak Akibat Gigitan Serangga
Pernah di sengat lebah ? Wow, jangan di
tanya bagaimana rasanya. Pedih, sebut-senut, gatal dan membuat badan
meriang, panas dan dingin, terkadang kepala ikut pusing.
Lebah merupakan sekelompok besar serangga yang dikenal karena hidupnya
berkelompok meskipun sebenarnya tidak semua lebah bersifat demikian.
Sebagai serangga, ia mempunyai tiga pasang kaki dan dua pasang sayap.
Biasanya lebah membuat sarangnya di atas bukit, di pohon kayu dan
pada atap rumah.
Kelihatannnya sepele, hanya digigit seekor lebah kecil
yang tak sampai sejempol tangan besarnya. Tetapi kalau sudah kena
gigitannya, wadehhhhhh di jamin akan lebih berhati-hati lagi ketika
bertemu lebah. Beberapa hari yang lalu, tangan
anak saya tanpa segaja di sengat lebah. Tentu saja anak saya yang baru
berumur 4 tahun menangis menjerit-jerit. Saya percaya, pasti sakit
sekali, karena beberapa bulan sebelumya,suami saya juga di sengat lebah
dan luar biasa dampaknya. Selain bengkak memarah, badan suami meriang,
pusing dan semalaman tidak bisa tidur karena merasakan badan yang tidak
enak.
Atas saran dari saudara saya, sebuah magnet ditempelkan tepat
pada tangan bengkak anak saya. Dan luar biasa, saya melihat sendiri,
tangan anak saya tak sembap bengkak, hanya sedikit memerah. Rasanya masuk akal juga, karena selama ini magnet atau yang disebut besi berani ternyata tidak hanya berguna untuk kompas dan industri manufaktur saja. Ternyata magnet memiliki manfaat lain untuk membantu menyembuhkan beberapa penyakit. Dan dipasaran sudah banyak produk kesehatan yang mengatasnamakan magnet sebagai alat penyembuh.
Sebuah
penelitian oleh University of Virginia membuktikan bahwa magnet dapat
mengurangi pembengkakan. Ilmuwan menemukan bahwa magnet statis mampu
mengurangi pembengkakan kaki belakang tikus hingga 50 persen. Teorinya
adalah daerah yang terkena kalsium dalam sel otot menyebabkan pelebaran
pembuluh darah arteri. Dengan memaparkan magnet, pelebaran tersebut
dapat dikurangi.
Dari pengalaman saya, tak ada salahnya mencoba mengurangi bengkak akibat gigitan serangga/lebah dengan mengunakan magnet.
Suami Pilihan
“Bunda, ayah mana? Kerja di mana? Dekat apa? Kapan ayah pulang? “ Masih
banyak pertanyaan lain dari mulut mungil Rama. Mata beningnya menatapku
penuh pertanyaan. Tak mampu aku memberikan jawaban dari serangkaian
pertanyaan yang terus di ulang-ulang , ku rengkuh badan anak bungsuku,
kuciumi dengan rasa bangga, tanpa terasa air mata yang tak mampu ku bendung .
Selalu saja pertanyaan polos dari Rama membuat hatiku bahagia. Kecerdasan si bungsu ini sudah terlihat sejak kecil. Bocah
berusia 3 tahun ini hampir setiap saat menanyakan keberadaan ayahnya,
meskipun sudah ku berikan penjelasan tentang ayahnya. Kerinduan kepada
ayahnya sudah tak terbendung, membuatnya selalu tak puas dengan jawabanku.
Rama tak hanya bertanya padaku, tetapi juga kepada kedua kakaknya, Satrio dan Lintang. Kalau kakaknya terlihat
bosan menjawab , seringkali dengan nada bercanda mengatakan ayahnya tak
akan pulang, membuat Rama menjerit marah. Satrio tertawa senang dengan kegusaran Rama. Lintang sesekali dengan sabar menjelaskan, tetapi karena Rama terus bertanya, Lintang dengan kesal menjawab tanya bunda saja. Pada akhirnya aku yang harus menjelaskan.
Sudah lima bulan ini, mas Bayu terpaksa harus bekerja di luar pulau untuk mengejar kebutuhan yang sangat penting bagi kami. Kenapa
terpaksa? Karena sudah menjadi kesepakatan kami untuk bekerja di kota
saja, kalaupun bekerja di luar kota yang bisa terjangkau dengan tempat
tinggal kami. Setidaknya bisa
setiap hari pulang atau kalau terpaksa seminggu sekali masih bisa
berkumpul dengan keluarga. Mas Bayu sangat memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak-anak, sehingga kami sepakat untuk selalu bersama.
Hanya saja, takdir berkehendak lain, sejak setengah tahun yang
lalu, kami mulai risau dengan rumah yang kami tempati. Sejak menikah 8
tahun lalu, kami hanya bisa mengontrak rumah, penghasilan mas Bayu yang
bekerja sendirian belum mampu untuk membeli rumah. Meskipun mas Bayu bekerja membanting tulang dan mengambil lemburan
untuk mewujudkan impian kami, tetapi impian kami belum bisa tercapai.
Tabungan yang disisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli rumah, habis digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak.
Sebagai istri, sudah berulang kali kutawarkan untuk
membantu bekerja. Tetapi mas Bayu belum mengijinkan, dengan alasan
anak-anak butuh bimbingan langsung dari bundanya. Terpaksa aku hanya membantu dengan hasil yang tak seberapa, menjual makanan kecil yang ku titipkan di warung dan kantin.
Enam bulan yang lalu ada tawaran dari perusahaan yang sedang berkembang di luar pulau Jawa. Setelah kami berunding, sekitar sebulan kemudian dengan terpaksa mas Bayu meninggalkan kami dengan harapan akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar sehingga kami lebih cepat mempunyai rumah idaman.
“Bunda, ayah mana? “ pertanyaan Rama memutus lamunanku . “Kok nggak jawab? Ayah kerja di mana?”
“Ayah kerja jauh di Papua sayang. “
“Papua itu mana? “ tatapnya lagi sambil memainkan ujung bajuku.
Dengan
sayang ku gandeng tangan mungil Rama menuju kamar Satrio. Buku atlas
bersampul merah yang ku ambil dari meja belajar, ku buka lebar di lantai
kamar. Setelah kutemukan lembaran peta Papua, ku jelaskan secara perlahan ke Rama.
“Khan deket
tu, hanya segini. Kok ayah ngga pulang? Nih tinggal gini aja..” suara
cadel Rama membuatku hampir tertawa. Rama tetap nyakin kalau ayahnya hanya kerja di dekat rumah saja. Tangan mungilnya menunjuk peta Jawa dan Papua berulang -ulang.” Nich, nik..inik..inik…dekat khan bun?”
“Iya sayang, kalau di gambar ini memang dekat. Tapi jauh lho. Kalau ayah naik pesawat hampir seharian baru sampai. “
“Naik
pesawat? Ngeng…ngeng….ngeennnnnnnnnnn…..”Rama sudah lupa dengan
ayahnya. Pensil yang ku pakai untuk menjelaskan pulau Papua sudah
beralih fungsi menjadi pesawat. Sesaat kemudian anak bungsuku itu sudah
asyik dengan permainannya.
Setahun berlalu , mas Bayu belum bisa pulang. Kontrak dengan perusahaan hanya memberikan kesempatan cuti sekali dalam setahun. Selama
ini komunikasi dengan mas Bayu ku lakukan melalui telpon, SMS, email
dan chating. Untung saja jaman semakin maju, tehnologi semakin canggih.
Meskipun tak bisa bertemu setiap hari, tetapi setiap hari rasanya sudah
bertemu paling tidak lewat SMS. Tanpa absen, mas Bayu selalu menyapa
anak-anak lewat telpon. Meskipun berjauhan, tugas sebagai seorang ayah
dengan mengikuti perkembangan anak-anak tak pernah dilewatkan.
Kerinduan
sudah membuncah di dada, kami tak terbiasa berpisah jauh dan lama.
Meskipun sudah setahun, mas Bayu belum pulang karena bulan depan sudah bulan ramadhan. Tanggung kalau harus pulang sekarang, karena biaya perjalanan mahal . Menunda pulang 2 bulan lagi akan lebih membahagiakan karena bisa berlebaran bersama. Kami sepakat untuk
menunda rasa kangen yang mendalam. Mas Bayu sebenarnya sudah tidak
sabar lagi untuk bertemu denganku, terlebih dengan anak-anak, terutama
dengan Rama. Setahun yang lalu, Rama belum suka bermain bola, mas Bayu sering mengajari bermain bola dengan tendangan dan sundulan. Dan sekarang Rama sudah pandai menendang bola sambil berlari ke sana kemari.
Anak-anak sudah ingin sekali bertemu dengan ayahnya, rupanya kerinduan
dengan sosok ayah yang selama ini menemani mereka tiap hari sudah
sedemikian besar. Awalnya mereka protes keras, bahkan Lintang sempat
ngambek ketika tahu ayahnya menunda kepulangan. Dia mengurung diri di
kamar dan mogok bicara dan makan. Setelah mas Bayu ikut membujuk lewat telpon, barulah Lintang mau makan.
Untuk kesekian kalinya aku tertawa mendengar celoteh dan candaan suamiku dengan anak-anak. Rasanya tak pernah bosan Satrio, Lintang dan Rama mengelitik ketiak ayahnya. Dengan cepat dan tangkas, mas Bayu menangkap dan mengunci tangan anak-anak. Kedua tangan Satrio di kunci dengan paha kanan, tangan Rama dengan paha kiri dan tangan Lintang di pegang kuat . Ketiga anak-anak tak mampu lagi melepaskan diri, terlebih Satrio yang terus tertawa terbahak-bahak sehingga rasanya tenaga sudah terkuras habis. Jeritan riuh membuat rumah kami ramai dan penuh kebahagiaan, setelah setahun belakangan sepi.
Ku pandangi mereka berempat dengan
rasa haru yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Ingin rasanya
menyaksikan kebersamaan mereka setiap hari. Sebuah keutuhan keluarga yang tak bisa di tukar dengan materi apapun.
“Bunda, lagi memikirkan apa? “ tanpa ku sadari mas Bayu sudah di dekatku. Anak-anak lagi asyik mencoba tablet 7 inci yang dibelikan mas Bayu kemarin sebagai oleh-oleh.
“Bunda senang melihat anak-anak bahagia. Rasanya lama sekali rumah ini sepi tanpa tawa lepas mereka
, Yah.” Kusandarkan kepalaku di dada mas Bayu. Tangan lembut mas Bayu
membelai rambutku. Dengan rasa sayang kecupan hangat mendarat di pipiku.
“
Ayah ingin selalu bersama Bun. Ayah harus menahan sepi, rindu dan rasa
sakit mendalam karena selalu teringat kalian. Ingin rasanya meninggalkan
pekerjaan dan kembali ke rumah. Tetapi kalau teringat setiap tahun kita
harus membayar kontrakan dan terkadang kesana kemari mencari rumah kontrakan, ayah mencoba bertahan. Sedih sekali Bun, kalau ingat kita harus pindah-pindah.”
Ku genggam erat tangan suamiku, kupandangi matanya yang telah dialiri dua sungai bening. “
Ayah, bunda juga merasa berat. Amanah mendidik anak-anak juga sulit
untuk dilakukan sendirian. Tetapi demi cita-cita kita ke depan, bunda
harus ikhlas melepas ayah.”
Mas
Bayu mencium tanganku, membuatku semakin terharu. Betapa bahagianya
mempunyai pahlawan keluarga yang pemurah, pengasih dan rela berkorban
untuk keluarga. Betapa bersyukurnya diriku dikaruniai seorang imam
keluarga yang luar biasa dan sholeh.
Allohu Akbar…Allohu Akbar…………………………… terdengar lantunan adzan magrib dari masjid dekat rumah. Alhamdulillah, puasa kami berakhir hari ini. Besok, kami merayakan hari kemenangan bersama-sama. Mas Bayu merangkul pundakku berjalan ke ruang makan, mengikuti anak-anak yang berlarian dengan jeritan syukur mereka.
Bibirku membentuk senyuman, aku nyakin ini senyum paling manis dari senyumanku selama ini.
***
(Mawar VI, akhir Okt 2013, teruntuk suamiku tercinta)
Penyesalan Mimi
[Kita harus belajar untuk bisa menerima kenyataan
Harus di hadapi, jangan sampai di sesali ]
Mimi membuang
nasi dan lauk buatan ibu. Mukanya cemberut, wajahnya masam tanda tak senang.
Dengan kesal kakinya menendang kue yang telah jatuh dilantai. Tak dihiraukan
wajah sedih ibu yang telah bersusah payah menyediakan masakan. Bahkan kekesalan
Mimi dilanjutkan dengan menendang pintu kamarnya.
“Mimi, jangan begitu nak. Tak baik kelakukan kamu seperti itu,” tutur
ibu , tangannya mengambil nasi dan lauk
yang berserakan di lantai.
“Huh, tiap hari makan nasi thiwul dan ikan kering.
Apakah tak ada lauk lainnya? Sesekali beli ayam, daging , susu, nasi putih.
Thiwul lagi, ikan kering lagi, air putih, huh bosan. “ sembur Mimi marah.
Ibu memandang anak semata wayangnya dengan sorot mata
sedih,” Ibu tidak ada uang, nak. Hanya ini yang mampu kita makan. Kita harus
bersyukur karena masih bisa makan meskipun sederhana seperti ini. “
“NGGAK MAU !! Mimi nggak mau makan kalau hanya
seperti ini terus. BOSAN! Lama-lama Mimi bisa muntah.”teriak Mimi bertambah
kesal.
“Mimi sayang, ibu janji kalau ada rejeki akan
membelikan ayam, daging, susu seperti keinginan kamu,” janji ibu meredakan
amarah Mimi.
“NGGAK, pokoknya kalau nggak ada ayam, Mimi nggak mau
MAKAN, TITIK !”
BRAAAAAAAAAAAAAK, pintu di banting keras. Mimi
berjalan keluar dengan luapan amarah.
Ibu hanya bisa mengelus dada, tak didasari ada buliran air mata yang menetes di
pipi tuanya. Ada sejumput penyesalan karena tidak mampu mendidik Mimi dengan
baik. Sejak ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu, Mimi berubah menjadi anak yang
sulit di atur, pemalas dan suka menang sendiri . Segala keinginannya harus
dipenuhi. Mimi akan marah kalau ibunya tak bisa memenuhi permintaan.
Tak pernah mau membantu ibu, justru selalu merepotkan. Padahal ibu sudah
bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Ibu hanya mampu menyediakan nasi thiwul yang
terbuat dari singkong. Nasi putih menjadi makanan yang mewah bagi mereka.
**
Matahari bersinar cukup terik mengantarkan panas yang
terasa menyengat di kulit. Angin siang tak berhembus seakan enggan berhadapan
dengan Sang Surya.
Mimi menyeret kakinya tak tentu arah. Badannya mulai
gerah, bahkan di beberapa bagian sudah mulai basah karena keringat. Perutnya
sudah keroncongan dari tadi karena sejak pagi belum ada sebutir nasipun masuk perut.
Kerongkongan juga sudah kering dari tadi, bahkan ludahpun terasa tak ada
lagi. Langkah kakinya mulai pelan dan terseok-seok. Karena tak bisa menahan capek dan lapar, Mimi
memutuskan untuk berhenti di sebuah pohon besar di pinggir desa. Sepertinya
pohon itu rindang sekali, aku akan beristirahat dulu,batin Mimi. Benar saja, di
bawah pohon besar dan rindang itu, Mimi bisa melepas lelah. Perutnya semakin
sakit karena terasa di remas-remas. Sebersit penyesalan melintas di pikiran
Mimi karena telah menolak masakan ibu. Padahal ibu sudah berbaik hati setipa
hari mneyediakan makanan . Apakah aku pulang saja? Ach tidak, aku bosan dengan makana itu itu saja. Lebih baik
aku pergi saja, kata Mimi dalam hati.
Meskipun kelaparan, angin sepoi-sepoi yang berhembus mampu mengantarkan kantuk.
Matanya terasa berat dan tak lama kemudian Mimi tertidur. Tiba-tiba ada seorang
nenek bertubuh gemuk mendatanginya. Mimi terkejut dengan kehadiran orang yang
tak dikenalnya.
“Anak, kenapa kamu
tidur di sini?”
‘” Saya...saya....emh saya sedang istirahat , nek,”
sahut Mimi terbata-bata.
“Ehm, kamu kabur dari rumah ya?memangnya
kenapa?”tanya nenek itu seakan tahu apa yang telah terjadi.
Mimi tersipu
malu,” Iya nek, saya kesal karena ibu tidak menyediakan makanan yang enak-enak.
Setiap hari hanya nasi thiwul dan ikan asin saja,” gerutu Mimi kesal.
“Hhehehehehe, nama kamu siapa?”
“Mimi,Nek”
“Baiklah Mimi, kalau kamu mau makanan yang enak , ayo
ikut nenek saja.”
Mimi memandang nenek tak percaya,” Apakah nenek bisa
memberikan makanan yang enak-enak?”
“Nggak hanya makanan, kamu juga bisa mendapatkan
baju-baju bagus dan perhiasan,”terang nenek menyakinkan.
Mimi tertarik dengan ajakan nenek yang baru
dikenalnya. Mimi tak ingat lagi pesan ibu kalau harus berhati-hati dengan orang
yang baru dikenalnya. Mimi hanya membayangkan mendapatkan makanan lezat dan
pakaian bagus seperti yang selama ini diharapkan.
Tak berapa lama kemudian, Mimi dan nenek sudah sampai
di sebuah rumah yang besar, mewah dengan halaman luas. Banyak perabotan mewah
yang menghiasi rumah besat itu. Mimi
semakin kagum ketika di meja makan tersedia makana yang enak dan banyak sekali,
Ada ayam goreng, opor ayam, daging empal, sate kambing, ikan bakar, dan
buah-buahan. Semua nampak lezat dan
membangkitkan selera. Nampak beberapa
orang anak sebaya Mimi sedang bersiap makan juga. Setelah dipersilahkan , Mimi
segara menyantap semua hidangan yang tersedia. Rasanya perut Mimi tak bisa kenyang sehingga semua makanan di masuk
ke perut. Setelah semua kenyang, Mimi dan anak sebayanya di bawa ke sebuah
kamar yang luas dan penuh dengan perabotan mahal. Tanpa di minta, Mimi sudah
meloncat ke tempat tidur empuk yang
membangkitkan kantuknya.
“Eh nggak boleh tidur. Enak saja, sudah kenyang kok
lanagsung tidur. Ayo kalian semua ikut ke belakang. Banyak pekerjaan yang harus
dikerjakan,” perintah nenek dengan suara keras, tegas dan marah. Mimi menatap
heran perubahan sikap nenek, tak ada lagi keramahan dan kesabaran yang sempat
Mimi lihat.
Sejak saat itu Mimi dan teman-temannya dipaksa
bekerja keras siang dan malam. Tak ada
makanan lezat dan berlimpah lagi, hanya ada sedkit makanan dengan lauk garam
yang dicampur oarutan kelapa. Tak ada tempat tidur mewah, mereka hanya tidur di
ruang belakang sambil berdesak-desakan.
Sekitar seminggu kemudian Mimi sudah tidak tahan
lagi. Badannya terasa remuk dan sakit
sekali. Beberapa kali nenek itu memukulnya karena dianggap pemalas dan tidak
becus bekerja. Tiba-tiba penyesalan muncul di hatinya. Mimi sangat menyesal
telah menyakiti hati ibu. Kerinduan
untuk bertemu ibu dan menikmati masakannya semakin kuat hadir di
hatinya. Mimi menangsi sedih ingin bertemu dan minta maaf kepada ibu.
Tiba-tiba..Aduhhhhhhhhhhhhhhhhhh, Mimi terbangun saat
sebuah ranting pohon jatuh dan menimpa kepalanya. Matanya tampak kebinggungan, pandangan diarahkan ke kanan
dan kiri. Mimi baru tersadar kalau dia tertidur dan bermimpi. Mimi kemudian
menyadari kalau dia hanya bermimpi. Syukurlah , semu ini hanya mimpi. Tak ada orang sebaik ibu dan tak ada rumah seindah rumah sendiri. Ibu , Mimi minta maaf,
Mimi akan makan semua masakan ibu, tekad
Mimi sambil bergegas pulang ke rumah***
Langganan:
Postingan (Atom)