Bendungan Kuningan Jawa Barat dalam proses penyelesaian pembangunan, merupakan salah satu infrastruktur untuk mendukung perairan sawah penduduk terutama di Jawa Barat. Bendungan yang diperkirakan mampu menampung 25,9 juta meter kubik air tentunya sangat diharapkan warga khususnya yang bekerja sebagai petani. Dengan perairan yang baik melalui ketersediaan air di bendungan, petani boleh jadi bernafas lega karena ada harapan padi yang ditanam tidak ada kekurangan air sehingga hasil panen juga lebih baik. Selain itu pasokan listrik juga dipastikan alan lebih maximal lagi.
Berikut penjelasan pak Joko Widodo:
Saya berkesempatan mengunjungi lokasi Bendungan Kuningan di
Randusari, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kemarin. Ini waduk yang
besar, hanya belum kelihatan besarnya karena air belum masuk.
Bayangkan saja, Bendungan Kuningan akan menampung 25,9 juta meter kubik
air, dua kali lebih besar dari Bendungan Raknamo di NTT yang sudah
selesai.
Waduk ini seluas 221 hektare dengan membendung Sungai
Cikaro, anak Sungai Cijalengkok. Bendungan Kuningan kelak bisa mengairi
3.000 hektare sawah, energi listrik
tenaga air sebesar 500 KWH, dan sumber air baku dengan debit kurang
lebih 300 liter per detik untuk 300.000 kepala keluarga di Kuningan,
Jawa Barat, sampai daerah di bawahnya seperti Brebes, Jawa Tengah.
Bendungan Kuningan merupakan satu dari 65 bendungan yang dibangun
pemerintah pada periode 2015-2019, juga satu dari delapan waduk akan
selesai tahun ini.
(sumber FB Presiden Joko Widodo)
Senin, 04 Juni 2018
Tentang Penangkapan Terduga Teroris di UNRI, Pak FH Masak Nangkap Pakai Tongkat?
Beberapa hari lalu (Sabtu 2 Juni 2018) Densus 88 Antiteror
dan Polda Riau melakukan penangkapan tiga orang terduga teroris di Universitas
Riau (UNRI). Langkah cepat aparat
tersebut patut di acungi jempol mengingat akhir-akhir ini ulah teroris semakin
membuat resah masyarakat.
Meskipun begitu ada saja yang mengkritik alias nyinyir
dengan aksi penangkapan tersebut. Biasalah, tak selalu apa yang dilakukan
aparat keamanan mendapatkan simpati.
Kali ini, wakil ketua DPR Fahri Hamzah(FH)
memberikan tanggapan yang kesan saya sih seperti tidak mendukung langkah antisipasi Densus 88
Antireror . FH memberikan kritik cara kerja Densus 88 dan Polri yang melakukan
penangkapan ke dalam kampus dengan mengunakan senjata laras panjang. Ia sebutkan
bahwa Fahri, masuknya senjata laras panjang ke area kampus adalah sebuah
kemunduran.
“Kenapa senang menampakkan pasukan bersenjata dan laras
panjang masuk kampus? Ini Polri atau kompeni? #SaveKampus,” tulis Fahri di akun
Twitternya.
Tak butuh waktu lama, Polri memberikan tanggapan kritik FH dengan dingin melalui Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto
. Beliau mengatakan bahwa apa yang
dilakukan oleh Polisi dan Densus 88 adalah sudah sesuai dengan prosedur.
“Jadi begini, penangkapan kasus teror tidak sama dengan
penangkapan kasus lain,” kata Setyo. “Jadi bagaimana SOP-nya membawa senjata
panjang (masa) yang masuk harus ganti pakai tongkat polisi misalnya, sementara
bomnya sudah siap. Jadi tolong rekan-rekan pahami penangkapan atau upaya paksa
kasus terorisme itu ada prosedurnya.”tambahnya.
Betuuuulll Pak Setyo, selain karena saya nyakin sudah sesuai SOP, lha
mosok mau ngrebek terduga teroris kok pakai tongkat ya pak? Lha nanti kalau bom
yang ditangan siap diledakkan, trus pak polisi yang pakai tongkat mau bijimana menaklukkan pembawa bom tersebut
hayo??
Memang itu tongkat sakti apa, begitu di lempar tuingggg…. Trus
pembawa bomnya jadi tetiba tangannya terborgol dalam kondisi lemas, sama bom-nya mejen
gitu.
Lagipula Pak FH ini yo lutju tenan. Lha kalau nangkap
terduga teroris yang ngengirisi dan gak takut mati itu tanpa senjata yo piye
tho yo? Mau di kampus, mall, jalanan,
rumah yo bawa senjata buat ngadepi teroris
tho yo.
Eits, atau enaknya kalau ada terduga teroris masuk bawa bom ke rumah Pak FH atau ke DPRRI
dibiarkan saja ya, paling tidak biar DHEERRRRRRRR gitu dulu? Biar ngrasakke. Lha piye Densus 88 bawane tongkat je. Keburu teroris meledakkan bom, tongkat baru melayang. Bukankah kabarnya
salah satu target pengeboman kemarin tu gedung DPR, tempat pak FH berkantor
ya?? Pripun pak FH? Ngoten nopo nggih????
Minggu, 03 Juni 2018
Rusun Pesantren Modern Terpadu Prof. Hamka, Bukti Jokowi Sangat Peduli Islam dan Pesantren
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Rumah Susun (Rusun), Masjid
Hj. Yuliana, Gedung Sekolah SMP 2 dan SMA 2 di Kawasan Pesantren Modern
Terpadu Prof. Hamka, Kota Padang, Sumatera Barat, 21 Mei 2018.
Pembangunan Rusun dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) sedangkan gedung sekolah dibangun oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Presiden Jokowi dalam sambutannya mengenang Buya Hamka adalah tokoh besar bagi masyarakat Minang, Indonesia bahkan diakui di mancanegara. “Pesantren Modern Terpadu adalah bukti nyata bahwa cita-cita almarhum Buya Hamka telah berhasil menembus waktu dan generasi. Harapan saya agar PMT menjadi ladang subur bertumbuhnya santri yang berakhlak mulia, berakhlakul karimah, yang tangguh dan ulet dan selalu optimis yang akan membahwa Indonesia menjadi negara Baldatun Thoyibatun Wa Rabbun Ghofur,” kata Presiden Jokowi.
Turut hadir Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Pembina Yayasan Wawasan Islam Indonesia sebagai pengelola Pesantren Prof. Hamka Ahmad Syafii Maarief dan Ketua Yayasan Wawasan Islam Jasrial.
Usai peresmian, Presiden meninjau ke dalam Rusun, melihat kondisi dan fasilitasnya. “Gedungnya rapih dan mebelair nya bagus kuat dan kokoh,” ujar Presiden Jokowi. Rusun yang dibangun tahun 2017 tersebut setinggi tiga lantai terdiri dari 12 unit kamar tipe barak yang bisa menampung sebanyak 216 orang santri pria.
Rusun telah dilengkapi fasilitas listrik, air, kamar mandi luar dan meubelair seperti tempat tidur bertingkat, lemari dan meja belajar. Biaya pembangunannya sebesar Rp 8,7 miliar. Sementara untuk biaya pengadaan meubelair Rp 670 juta.
Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Basuki untuk membangun satu lagi Rusun di kawasan PMK Prof. Hamka yang diperuntukan bagi santri wanita tahun ini.
Menteri Basuki mengatakan siap melaksanakan perintah tersebut karena adanya Rusun di Pondok Pesantren diharapkan meningkatkan kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu sekaligus melakukan penataan lingkungan pesantren.
Pada periode tahun 2015-2017, Rusun yang dibangun Kementerian PUPR di Provinsi Sumbar berjumlah 14 buah. Tahun 2018 akan dibangun 15 Rusun yang tersebar di 14 Kabupaten/Kota di Sumbar dengan anggaran total sekitar Rp 120 miliar.
Rusun yang akan dibangun diantaranya yakni Rusun di Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Muhammadiyah Sumbar, Akademi Teknik Gigi Padang, Kejaksaan Tinggi Sumbar, YP2TI Padang, ISI Padang Panjang, Akademi Komunitas Negeri Tanah Datar, Universitas Dharma Indonesia, Ponpes Tarbiyah Islamiyah, Rusun MBR Kota Sijunjung, MBR Kabupaten Pesisir Selatan dan MBR Kota Solok.
“Rusun-rusun tersebut ditargetkan selesai bulan November 2018. Untuk pembangunan Rusun, rata-rata membutuhkan waktu 8 bulan,” jelas Direktur Rumah Susun Kuswardono.
Kementerian PUPR membangun Rusun diberbagai daerah yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, nelayan, pekerja, mahasiswa/santri, dan aparatur sipil negara.
Turut mendampingi Menteri Basuki pada acara tersebut Direktur Rumah Susun Ditjen Penyediaan Perumahan Kuswardono, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional III Syaiful Anwar, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Maryadi Utama dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.
Biro Komunikasi Publik
Kementerian PUPR
Presiden Jokowi dalam sambutannya mengenang Buya Hamka adalah tokoh besar bagi masyarakat Minang, Indonesia bahkan diakui di mancanegara. “Pesantren Modern Terpadu adalah bukti nyata bahwa cita-cita almarhum Buya Hamka telah berhasil menembus waktu dan generasi. Harapan saya agar PMT menjadi ladang subur bertumbuhnya santri yang berakhlak mulia, berakhlakul karimah, yang tangguh dan ulet dan selalu optimis yang akan membahwa Indonesia menjadi negara Baldatun Thoyibatun Wa Rabbun Ghofur,” kata Presiden Jokowi.
Turut hadir Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Pembina Yayasan Wawasan Islam Indonesia sebagai pengelola Pesantren Prof. Hamka Ahmad Syafii Maarief dan Ketua Yayasan Wawasan Islam Jasrial.
Usai peresmian, Presiden meninjau ke dalam Rusun, melihat kondisi dan fasilitasnya. “Gedungnya rapih dan mebelair nya bagus kuat dan kokoh,” ujar Presiden Jokowi. Rusun yang dibangun tahun 2017 tersebut setinggi tiga lantai terdiri dari 12 unit kamar tipe barak yang bisa menampung sebanyak 216 orang santri pria.
Rusun telah dilengkapi fasilitas listrik, air, kamar mandi luar dan meubelair seperti tempat tidur bertingkat, lemari dan meja belajar. Biaya pembangunannya sebesar Rp 8,7 miliar. Sementara untuk biaya pengadaan meubelair Rp 670 juta.
Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Basuki untuk membangun satu lagi Rusun di kawasan PMK Prof. Hamka yang diperuntukan bagi santri wanita tahun ini.
Menteri Basuki mengatakan siap melaksanakan perintah tersebut karena adanya Rusun di Pondok Pesantren diharapkan meningkatkan kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu sekaligus melakukan penataan lingkungan pesantren.
Pada periode tahun 2015-2017, Rusun yang dibangun Kementerian PUPR di Provinsi Sumbar berjumlah 14 buah. Tahun 2018 akan dibangun 15 Rusun yang tersebar di 14 Kabupaten/Kota di Sumbar dengan anggaran total sekitar Rp 120 miliar.
Rusun yang akan dibangun diantaranya yakni Rusun di Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Muhammadiyah Sumbar, Akademi Teknik Gigi Padang, Kejaksaan Tinggi Sumbar, YP2TI Padang, ISI Padang Panjang, Akademi Komunitas Negeri Tanah Datar, Universitas Dharma Indonesia, Ponpes Tarbiyah Islamiyah, Rusun MBR Kota Sijunjung, MBR Kabupaten Pesisir Selatan dan MBR Kota Solok.
“Rusun-rusun tersebut ditargetkan selesai bulan November 2018. Untuk pembangunan Rusun, rata-rata membutuhkan waktu 8 bulan,” jelas Direktur Rumah Susun Kuswardono.
Kementerian PUPR membangun Rusun diberbagai daerah yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, nelayan, pekerja, mahasiswa/santri, dan aparatur sipil negara.
Turut mendampingi Menteri Basuki pada acara tersebut Direktur Rumah Susun Ditjen Penyediaan Perumahan Kuswardono, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional III Syaiful Anwar, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Maryadi Utama dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.
Biro Komunikasi Publik
Kementerian PUPR
Jokowi Hadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Pertama di Indonesia
Puluhan tiang berwarna putih berjajar di punggung pebukitan Desa
Mattirotasi dan Desa Lainungan, Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang,
nun di pelosok tengah Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer dari
Makassar. Tiang-tiang itu begitu menonjol, berukuran raksasa: tingginya
80 meter. Pada sebagian tiang menara baja itu, di ujungnya sudah
terpasang baling-baling besar, garis tengahnya 57 meter, sehingga total
tingginya mencapai 137 meter.
Ya, inilah tiang-tiang kincir angin raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pertama di Indonesia. Di pebukitan itu sedang dibangun 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 megawatt, atau 75 MW untuk 30 turbin.
Ya, inilah tiang-tiang kincir angin raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pertama di Indonesia. Di pebukitan itu sedang dibangun 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 megawatt, atau 75 MW untuk 30 turbin.
Kawasan pebukitan
Sidrap memiliki potensi angin yang bagus, dengan perkiraan kecepatan
angin berkisar tujuh meter per detik yang cocok untuk kebutuhan
menggerakkan baling-baling PLTB.
Dibangun sejak bulan April 2016 oleh PT UPC Sidrap Bayu Energi dengan investasi senilai USD150 juta, PLTB ini nantinya akan beroperasi secara komersial. Bila telah rampung tahun depan, PLTB Sidrap sanggup mengalirkan listrik ke sekitar 80.000 rumah tangga pelanggan 900 VA.
PLTB ini akan menjadikan Indonesia sebagai satu dari sedikit negara di Asia yang mempunyai pembangkit bertenaga angin, seperti Jepang, China, dan Korea.
Selain PLTB Sidrap, kita juga tengah membangun PLTB Jeneponto, juga di Sulawesi Selatan yang melibatkan investor dari Denmark.
Potensi energi angin di negara ini 60,6 GW. Pemerintah mendorong adanya penggunaan energi baru terbarukan dari air, panas bumi, ataupun angin.
(sumber : Facebook Presiden Joko Widodo)
Presiden Joko Widodo (Jokowi ) telah membuktikan kerja nyatanya, kerja..kerja.kerja..yang selama ini beliau lakukan. Hebatnya, hanya di era Jokowi inilah wilayah terpencil seperti Papua, Kab Sidenreng Rapang (yang saya saja baru pertamakali ini tahu nama daerah tersebut) mendapatkan perhatian yang luar biasa, mendapatkan perhatian dan diperlakukan sama dengan wilayah di Jawa.
Infrastruktur di bangun, yang rusak diperbaiki, yang belum memadai di cukupkan sehingga membuat nyaman warganya.
Apa yang di lakukan Jokowi bukan karena pencitraan, bukan karena alasan politik apalagi tahun depan Pemilihan Presiden, bukan sama sekali bukan untuk itu. Tapi semua semata-mata demi keadilan sosial, demi pemerataan, memakmurkan rakyatnya membuat sejahtera rakyatnya dalam semua wilayah di NKRI.
Sekali lagi, semua karena alasan demi keadilan sosial .
Foto: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Dibangun sejak bulan April 2016 oleh PT UPC Sidrap Bayu Energi dengan investasi senilai USD150 juta, PLTB ini nantinya akan beroperasi secara komersial. Bila telah rampung tahun depan, PLTB Sidrap sanggup mengalirkan listrik ke sekitar 80.000 rumah tangga pelanggan 900 VA.
PLTB ini akan menjadikan Indonesia sebagai satu dari sedikit negara di Asia yang mempunyai pembangkit bertenaga angin, seperti Jepang, China, dan Korea.
Selain PLTB Sidrap, kita juga tengah membangun PLTB Jeneponto, juga di Sulawesi Selatan yang melibatkan investor dari Denmark.
Potensi energi angin di negara ini 60,6 GW. Pemerintah mendorong adanya penggunaan energi baru terbarukan dari air, panas bumi, ataupun angin.
(sumber : Facebook Presiden Joko Widodo)
Presiden Joko Widodo (Jokowi ) telah membuktikan kerja nyatanya, kerja..kerja.kerja..yang selama ini beliau lakukan. Hebatnya, hanya di era Jokowi inilah wilayah terpencil seperti Papua, Kab Sidenreng Rapang (yang saya saja baru pertamakali ini tahu nama daerah tersebut) mendapatkan perhatian yang luar biasa, mendapatkan perhatian dan diperlakukan sama dengan wilayah di Jawa.
Infrastruktur di bangun, yang rusak diperbaiki, yang belum memadai di cukupkan sehingga membuat nyaman warganya.
Apa yang di lakukan Jokowi bukan karena pencitraan, bukan karena alasan politik apalagi tahun depan Pemilihan Presiden, bukan sama sekali bukan untuk itu. Tapi semua semata-mata demi keadilan sosial, demi pemerataan, memakmurkan rakyatnya membuat sejahtera rakyatnya dalam semua wilayah di NKRI.
Sekali lagi, semua karena alasan demi keadilan sosial .
Foto: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kamis, 31 Mei 2018
Pesan Senyap Presiden di Balik Dolanan Gobak Sodor
Kemarin Presiden bersama ibu Negara disertai sejumlah menteri
bermain bersama ratusan anak-anak yang diundang ke Istana dalam
rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei.
Pak Jokowi (JKWi) terlihat santai dan tertawa lepas saat bermain aneka permainan salah satunya gobak sodor. Beliau mengakui sudah lama sekali tepatnya limapuluh tahun lebih tidak bermain permainan yang membutuhkan kerjasama tim tersebut.
Pak Jokowi (JKWi) terlihat santai dan tertawa lepas saat bermain aneka permainan salah satunya gobak sodor. Beliau mengakui sudah lama sekali tepatnya limapuluh tahun lebih tidak bermain permainan yang membutuhkan kerjasama tim tersebut.
Meski
terlihat sederhana tetapi bagi saya permainan/dolanan gobak sodor yang
dimainkan pak JKWi itu sarat makna , tidak hanya sekedar dolanan
bocah saja.
Bagi orang desa seperti saya ( Jawa), saat kecil bermacam permainan seperti gobak sodor , engklek menjadi mainan sehari-hari. Selain betengan, delikan, nekeran, gembung, jamuran. Dolanan gobak sodor ini kabarnya pertamakali dimainkan oleh para prajurit di zaman kerajaan sebagai latihan perang melawan musuh dan untuk melatih keterampilan.
Dolanan gobak sodor membutuhkan kerjasama tim, dengan jumlah tim tergantung ketersediaan anak. Minimal tiap tim ada 3 anak, untuk menjaga garis terdepan, garis tengah dan garis belakang. Kalau anak yang main lebih banyak, tim bisa ditambahkan untuk menjaga garis kedua, ketiga, dll sampai garis paling belakang.
Selain butuh kecepatan dan kecermatan serta kejelian, bermain gobak sodor membutuhkan kerjasama, kekompakan tim, baik tim penjaga/ bertahan atau tim penyerang. Karena tim penyerang harus bisa melewati setiap garis yang dijaga oleh tim lawan.Sementara tim penjaga/bertahan harus mampu bekerjasama agar tim lawan tidak bisa masuk atau agar tim lawan tertangkap. Meskipun strategi masing-masing tim dibahas tertutup tetapi saat permainan dilakukan semua terang benderang. Lawan bisa melihat dengan jelas pergerakan tim yang dihadapi. Tim yang kalah(tertangkap) tidak ada protes, dengan ksatria mengakui kekalahan dan sukarela berhenti bermain sampai permainan selesai. Tidak ada gontok-gontokan juga.
Saat bermain gobak sodor kemarin Pak JKWi seakan menyampaikan pesan ke semua anak bangsa untuk bermain secara fair dalam politik. Meskipun tidak suka dengannya dan kelak berpotensi berhadapan dengan Pak JKWi tetapi fair play mestinya tetap di kedepankan. Tidak mengunakan jurus fitenah, obong-obong , gubras gabrus. Kalau memang dalam perjalanannya bertumbangan hendaknya mengakui kekalahan, tidak menyalahkan pihak lain. Pak JKWi juga seakan mengajak semuanya bermain politik dengan riang gumbira, seneng, ceriyaaaaaaaaaa, selayaknya dolanan gobak sodor itu. **
Bagi orang desa seperti saya ( Jawa), saat kecil bermacam permainan seperti gobak sodor , engklek menjadi mainan sehari-hari. Selain betengan, delikan, nekeran, gembung, jamuran. Dolanan gobak sodor ini kabarnya pertamakali dimainkan oleh para prajurit di zaman kerajaan sebagai latihan perang melawan musuh dan untuk melatih keterampilan.
Dolanan gobak sodor membutuhkan kerjasama tim, dengan jumlah tim tergantung ketersediaan anak. Minimal tiap tim ada 3 anak, untuk menjaga garis terdepan, garis tengah dan garis belakang. Kalau anak yang main lebih banyak, tim bisa ditambahkan untuk menjaga garis kedua, ketiga, dll sampai garis paling belakang.
Selain butuh kecepatan dan kecermatan serta kejelian, bermain gobak sodor membutuhkan kerjasama, kekompakan tim, baik tim penjaga/ bertahan atau tim penyerang. Karena tim penyerang harus bisa melewati setiap garis yang dijaga oleh tim lawan.Sementara tim penjaga/bertahan harus mampu bekerjasama agar tim lawan tidak bisa masuk atau agar tim lawan tertangkap. Meskipun strategi masing-masing tim dibahas tertutup tetapi saat permainan dilakukan semua terang benderang. Lawan bisa melihat dengan jelas pergerakan tim yang dihadapi. Tim yang kalah(tertangkap) tidak ada protes, dengan ksatria mengakui kekalahan dan sukarela berhenti bermain sampai permainan selesai. Tidak ada gontok-gontokan juga.
Saat bermain gobak sodor kemarin Pak JKWi seakan menyampaikan pesan ke semua anak bangsa untuk bermain secara fair dalam politik. Meskipun tidak suka dengannya dan kelak berpotensi berhadapan dengan Pak JKWi tetapi fair play mestinya tetap di kedepankan. Tidak mengunakan jurus fitenah, obong-obong , gubras gabrus. Kalau memang dalam perjalanannya bertumbangan hendaknya mengakui kekalahan, tidak menyalahkan pihak lain. Pak JKWi juga seakan mengajak semuanya bermain politik dengan riang gumbira, seneng, ceriyaaaaaaaaaa, selayaknya dolanan gobak sodor itu. **
Ngotot Soal Utang Negara Akibat Kurang Piknik…
Suatu ketika saya pernah gobrol-gobrol(kalau bilang diskusi kok keren
banget yak) dengan seorang teman yang kebetulan haters pak Jokowi
(Jkwi). Setelah debat ngalor ngidul dengan berbagai tema, akhirnya
sampai juga ke soal hutang yang hitungan sampai Februari 2018 tercatat
sebesar USD 356,23 miliar atau setara dengan Rp 4.907 triliun . “Sampai
anak cucu cicit kita yang belum lahir pun nanggung utang Negara.”
Katanya berapi-api sambil menyalahkan pak Jkwi.
Sik..sik…
Ingat lho, saat pak Jkwi dilantik sebagai Kepala Negara, beliau sudah mengemban utang dengan angka yang wow yaitu Rp 2.700 triliun. Artinya hutang sekarang ini separo leibh adalah hutang warisan dari pendahulunya.
Mana mau teman saya itu terima kenyataan itu, ia terus ngotot kalau semua salah Jkwi, ngapain mbangun ini itu dari uang utangan.
Tahukah kamu kawan, uang utangan itu juga buat instrument pembiayaan pembangunan. Meskipun hutang bertambah , tetapi uang utangan itu jelas larinya, salah satunya dialokasikan buat mendorong percepatan infrastruktur terutama di indonesia timur. Kebetulan saya sendiri punya pengalaman ke beberapa daerah di Indonesia timur yang selama ini minim akses seperti infrastruktur jalan, pendidikan , kesehatan dan layanan dasar lainnya. Di era pak Jkwi, pemerataan pembangunan mulai digenjot dengan pencapaian yang cepat dan luar biasa. Mungkin saudara kita di Papua tidak pernah menyangka , bermimpi pun rasanya sulit untuk merasakan jalan yang bisa dilalui sekarang, kemudahan akses transportasi, kesehatan. Sekarang mereka mulai merasakan layanan dasar tersebut. Layanan listrik dari PLN juga sudah mulai di nikmati saudara kita yang selama puluhan tahun, sejak mereka lahir belum pernah dirasakan.
Beberapa desa di Indonesia timur saya contohkan tetapi yo tetep saja ngeyel. Sakjane saya anyel tenan, tapi asudahlah.
Di akhir obrolan saya hanya pesan, “ Mulane sesekali pikniko, ojo mung percoyo medsos wae …”
Ingat lho, saat pak Jkwi dilantik sebagai Kepala Negara, beliau sudah mengemban utang dengan angka yang wow yaitu Rp 2.700 triliun. Artinya hutang sekarang ini separo leibh adalah hutang warisan dari pendahulunya.
Mana mau teman saya itu terima kenyataan itu, ia terus ngotot kalau semua salah Jkwi, ngapain mbangun ini itu dari uang utangan.
Tahukah kamu kawan, uang utangan itu juga buat instrument pembiayaan pembangunan. Meskipun hutang bertambah , tetapi uang utangan itu jelas larinya, salah satunya dialokasikan buat mendorong percepatan infrastruktur terutama di indonesia timur. Kebetulan saya sendiri punya pengalaman ke beberapa daerah di Indonesia timur yang selama ini minim akses seperti infrastruktur jalan, pendidikan , kesehatan dan layanan dasar lainnya. Di era pak Jkwi, pemerataan pembangunan mulai digenjot dengan pencapaian yang cepat dan luar biasa. Mungkin saudara kita di Papua tidak pernah menyangka , bermimpi pun rasanya sulit untuk merasakan jalan yang bisa dilalui sekarang, kemudahan akses transportasi, kesehatan. Sekarang mereka mulai merasakan layanan dasar tersebut. Layanan listrik dari PLN juga sudah mulai di nikmati saudara kita yang selama puluhan tahun, sejak mereka lahir belum pernah dirasakan.
Beberapa desa di Indonesia timur saya contohkan tetapi yo tetep saja ngeyel. Sakjane saya anyel tenan, tapi asudahlah.
Di akhir obrolan saya hanya pesan, “ Mulane sesekali pikniko, ojo mung percoyo medsos wae …”
Saat Jokowi Nguwongke Sopir Truk
Hari ini, saya menerima tamu istimewa: 80 pengemudi truk angkutan logistik di Istana Negara, Jakarta.
Kami mengobrol tentang banyak hal, tetapi saya lebih banyak mendengarkan mereka. Terutama, keluhan mengenai pungutan liar (pungli) dan tindak premanisme di sepanjang jalur transportasi yang mereka lalui sehari-hari.
Terus terang saya terkejut mendengarnya. Tentang pungli, seorang pengemudi menceritakan, "Mesti bayar kalau mau lewat jalan. Kalau tidak bayar, kaca pecah. Kalau nggak kaca pecah, golok sampai di leher. Kalau nggak, ranjau paku. Ban kita disobek."
Ini tidak boleh dibiarkan. Saya perintahkan langsung ke Pak Kapolri dan Wakapolri untuk segera ditindaklanjuti. Sudah meresahkan dan menyebabkan ketidaknyamanan.
Mereka juga mengeluhkan soal peraturan pembatasan tonase truk. Hal itu akibat dari kurangnya sosialisasi yang dilakukan Dinas Perhubungan kepada para pengemudi maupun kepada perusahaan-perusahaan. Saya sudah meminta kepada Perhubungan untuk lebih menyosialisasikan aturan-aturan dimaksud.
(Biro Pers Setpres)
Cerita pemalakan sopir truk oleh orang-orang tertentu sudah menjadi rahasia umum. Saya rasa sudah banyak yang mendengar kejadian seperti itu. Saya sendiri pernah beberapa kali mendengarkan cerita tetangga yang kebetulan suaminya sopir truk dari sebuah perusahaan.Rata-rata dalam seminggu suaminya jalan untuk mengantarkan dagangan ke luar kota antara lain di sekitar Jabodetabek dan sekitarnya. Di beberapa titik dipastikan ada orang-orang yang sudah 'langganan' menarik pungutan 'upeti' dari tetangga saya. Untuk kelancaran perjalanan, tak pelak tetangga saya sudah menyiapakan 'dana' untuk membayar pungutan liar tersebut. Nilainya bervariasi berkisar puluhan ribu. Memang dilihat sepintas tidak terlalu besar tetapi kalau dikalikan beberapa titik menjadi besar.
Tentu saja tetangga saya tidak berani melanggar karena tidak mau berurusan dengan orang-orang tersebut yang dipastikan akan menghambat kerjaannya. Ironisnya uang yang dibayarkan tersebut diambil dari kocek sendiri, bukan disediakan dari perusahaan. Tak ayal kalau pendapatan tetangga dan bisa dipastikan terjadi juga pada sopir-sopir lainnya menjadi berkurang. Mana mau perusahaan memberikan dana untuk pungli, kata tetangga saya.
Saya ikut berharap setelah perwakilan sopir truk bertemu pak Jokowi ada harapan yang membaik di masa depan mereka. Tidak ada lagi pungli yang selama ini menguras kantong mereka. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan saat mengemudi truk yang bermuatan barang-barang yang banyaknya war biasa, tumpuk undung. Hingga tetangga saya dan teman-teman se-profesinya bisa pulang dengan senyum sumrigah yang menghiasi wajah letih mereka. Menyerahkan upah dari keringat mereka yang tak jua kering bahkan saat sampai berkumpul dengan anak istri,
Ach Pak Jokowi... rasanya adem, ayem, tentrem sekaligus terharu melihat panjenengan begitu dekat dengan rakyat, nguwongke (memanusiakan) mereka, begitu memperhatikan rakyat tanpa pandang bulu. Ulama, politisi, organisasi profesi, rakyat biasa semua panjenengan rangkul.
Ach bapak, kalau begini, tak mungkin kami meragukan kepemimpinanmu untuk 2 periode**
Kami mengobrol tentang banyak hal, tetapi saya lebih banyak mendengarkan mereka. Terutama, keluhan mengenai pungutan liar (pungli) dan tindak premanisme di sepanjang jalur transportasi yang mereka lalui sehari-hari.
Terus terang saya terkejut mendengarnya. Tentang pungli, seorang pengemudi menceritakan, "Mesti bayar kalau mau lewat jalan. Kalau tidak bayar, kaca pecah. Kalau nggak kaca pecah, golok sampai di leher. Kalau nggak, ranjau paku. Ban kita disobek."
Ini tidak boleh dibiarkan. Saya perintahkan langsung ke Pak Kapolri dan Wakapolri untuk segera ditindaklanjuti. Sudah meresahkan dan menyebabkan ketidaknyamanan.
Mereka juga mengeluhkan soal peraturan pembatasan tonase truk. Hal itu akibat dari kurangnya sosialisasi yang dilakukan Dinas Perhubungan kepada para pengemudi maupun kepada perusahaan-perusahaan. Saya sudah meminta kepada Perhubungan untuk lebih menyosialisasikan aturan-aturan dimaksud.
(Biro Pers Setpres)
Cerita pemalakan sopir truk oleh orang-orang tertentu sudah menjadi rahasia umum. Saya rasa sudah banyak yang mendengar kejadian seperti itu. Saya sendiri pernah beberapa kali mendengarkan cerita tetangga yang kebetulan suaminya sopir truk dari sebuah perusahaan.Rata-rata dalam seminggu suaminya jalan untuk mengantarkan dagangan ke luar kota antara lain di sekitar Jabodetabek dan sekitarnya. Di beberapa titik dipastikan ada orang-orang yang sudah 'langganan' menarik pungutan 'upeti' dari tetangga saya. Untuk kelancaran perjalanan, tak pelak tetangga saya sudah menyiapakan 'dana' untuk membayar pungutan liar tersebut. Nilainya bervariasi berkisar puluhan ribu. Memang dilihat sepintas tidak terlalu besar tetapi kalau dikalikan beberapa titik menjadi besar.
Tentu saja tetangga saya tidak berani melanggar karena tidak mau berurusan dengan orang-orang tersebut yang dipastikan akan menghambat kerjaannya. Ironisnya uang yang dibayarkan tersebut diambil dari kocek sendiri, bukan disediakan dari perusahaan. Tak ayal kalau pendapatan tetangga dan bisa dipastikan terjadi juga pada sopir-sopir lainnya menjadi berkurang. Mana mau perusahaan memberikan dana untuk pungli, kata tetangga saya.
Saya ikut berharap setelah perwakilan sopir truk bertemu pak Jokowi ada harapan yang membaik di masa depan mereka. Tidak ada lagi pungli yang selama ini menguras kantong mereka. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan saat mengemudi truk yang bermuatan barang-barang yang banyaknya war biasa, tumpuk undung. Hingga tetangga saya dan teman-teman se-profesinya bisa pulang dengan senyum sumrigah yang menghiasi wajah letih mereka. Menyerahkan upah dari keringat mereka yang tak jua kering bahkan saat sampai berkumpul dengan anak istri,
Ach Pak Jokowi... rasanya adem, ayem, tentrem sekaligus terharu melihat panjenengan begitu dekat dengan rakyat, nguwongke (memanusiakan) mereka, begitu memperhatikan rakyat tanpa pandang bulu. Ulama, politisi, organisasi profesi, rakyat biasa semua panjenengan rangkul.
Ach bapak, kalau begini, tak mungkin kami meragukan kepemimpinanmu untuk 2 periode**
Senin, 29 Mei 2017
Kaesang #BapakMintaProyek, Kritik Nepotisme dan Intoleransi
Kaesang Pengarep, anak ragil/bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama ini dikenal rajin ber-media sosial (medsos). Selain rajin menulis di blog pribadinya, Kaesang terhitung sering membuat video blog (vlog) yang diunggah di situs You tube. Dengan gaya anak muda yang kocak, santai, ceria, Kaesang sering menyapa pengikutnya, salah satunya dengan mengunggah vlog tentang kegiatannya.
Kali ini, Kaesang kembali membuat vlog yang di unggah di You Tube dengan tema kritik
sosial yang cadas dan mantap.
Kaesang mengkritik praktik
nepotisme dan intoleransi dalam satu tayangan.
Video yang berdurasi
2.40 detik tersebut berjudul
#BapakMintaProyek, diunggah akun 'Kaesang' pada Sabtu (27/5/2017) kemarin. Dengan mengenakan topi bertuliskan ‘Kolektor
Kecebong’ , Kaesang yang kali ini tampil tanpa kacamata minusnya, melakukan
dialog monolog, berperan sebagai dirinya
sendiri dan pak Jokowi. Ia mengawali percakapan dengan adegan merayu pak
Jokowi. Dengan kocaknya ia minta kepada pak Jokowi agar memberinya proyek.
"Halo Bapak, Bapak! Mbok Kaesang minta proyek triliunan
yang ada di pemerintah," kata Kaesang.
Terdengar jawaban yang kira-kira dimaksudkan pak Jokowi,
"Opo toh, le? Mau sukses sama kaya, ya kerja keras toh.
Mosok pengin penake thok? Sana ngurusin Markobar sana (Apa sih nak? kalau mau
sukses dan kaya, ya kerja keras lah. Masa mau enaknya saja? Sana urus Markobar
sana)," tanggap si bapak.
Mendengar jawaban bapaknya, Kaesang menjawab dengan kocak bahwa Markobar bukanlah usaha kepunyaannya.
"Oh bukan to?" tanya si bapak memastikan. Dan
berpesan untuk diisikan pulsanya,” Bapak minta pulsa ya. Pulsa bapak
habis."
"Opo to Pak, Pak? Nggak cetho ," jawab Kaesang mendengar pesan bapaknya.
Adegan selanjutnya, kritik sosial meluncur dari bibir Kaesang,
yang intinya praktek nepotisme tidak
lagi boleh dilakukan di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa tidak boleh seorang anak yang sekolah tinggi-tinggi
hanya minta proyek pemerintahan kepada bapaknya.
"Malu dong sama embel-embel gelar dari kuliah yang kalian
dapat. Apalagi kuliahnya di luar negeri. Balik ke Indonesia bukannya membangun
lebih baik malah ngehancurin. Dasar ndeso!" kata Kaesang.
"Dasar ndeso!" adalah makiannya untuk orang-orang
yang dia kritik.
Dasar Ndeso merupakan ungkapan yang sudah biasa dalam
percakapan sehari-hari kami di Solo. Ungkapan ini memang kerap di sematkan untuk seseorang yang cenderung menjengkelkan, tidak tahu
aturan, kampungan, yang tidak sopan ,
melakukan hal yang bertentangan dengan norma .Kira-kira seperti itulah.
"Katanya mau berbakti buat nusa dan bangsa, tapi yang
ada apa? Malah ngehancurin semuanya. Bukan begini caranya untuk membangun
Indonesia yang lebih baik," kata Kaesang lagi.
Kaesang juga mengkritik soal intoleransi yang akhir-akhir
ini marak dan semakin tidak terkendali. Cupilkan video pawai obor anak-anak
sambil berteriak untuk membunuh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
sempat diperlihatkan.
Ia dengan serius mengatakan prihatin karena anak kecil sudah
belajar menebarkan kebencian. Kaesang juga menjelasakan bahwa ia tidak bermaksud membela (Ahok). Tetapi ia teramat prihatin karena
anak seusia mereka bersikap dan berucap demikian. Dia juga
mempertannyakan siapa yang mengajari mereka bertindak demikian.
"Sangat disayangkan kenapa anak kecil seperti mereka
itu sudah belajar untuk menyebarkan kebencian. Apaan coba itu? Dasar ndeso! Ini
ajaranya siapa coba? Dasar ndeso. Ndak jelas banget," ungkapnya.
Kaesng protes terhadap orang yang telah mengajari anak-anak
generasi penerus bangsa sampai bisa
melakukan intimidasi dan teror kepada
orang lain.
"Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, kita itu
harus kerja sama, ya, kerja sama (sambil memegang jempol tangan kirinya dengan
tangan kanan), bukan malah saling menjelek-jelekkan, mengadu domba,
mengkafir-kafirkan orang lain. Bukan malah tadi ada kemarin tuh, yang nggak mau
mensalatkan padahal sesama muslim karena cuma perbedaan dalam memilih pemimpin.
Apaan coba? Dasar ndeso!"
Dalam akhir tayangan Kaesang juga berpesan, "Kita itu
Indonesia, kita itu hidup dalam perbedaan."
Pentingnya melawan , tidak lagi bungkam
Kritik sosial yang disampaikan Kaesang sangat menarik dan
menjadi penting untuk terus memberikan semangat ‘perlawanan’ bagi orang-orang yang masih waras ini untuk
melawan intoleransi dan radikalisme. Jelas sekali Kaesang memilih untuk bersuara menyampaikan kebenaran tanpa takut
intimidasi.
Apa yang disampaikan Kaesang, saya rasa untuk menyemangati kita yang akhir-akhir ini sudah mulai mengurangi intensitas melakukan
kritik di media sosial karena takut
dengan intimidasi yang massif dari kelompok
garis keras. Tentunya semangat dari putra bungsu Pak Jokowi ini juga
diharapkan mampu mendorong kita untuk
berani bersuara lagi tanpa ada rasa takut di intimidasi. Perlawanan terhadap derasnya sikap
intoleransi dan intimidasi tidak harus dilakukan dengan melawan dengan senjata
tetapi dengan bahasa kritikan yang santun, tidak penuh caci maki dan kebencian.
Ini menjadi hal yang penting dilakukan karena para kaum intoleran selama ini
mengunakan media sosial untuk terus mendapatkan
simpati dan dukungan. Semoga kita tidak akan bungkam lagi, tidak menyerah
sampai kapanpun.
Terimakasih mas Kaesang , telah mengingatkan kita semua.
Salam
https://news.detik.com/berita/3513509/kritik-kaesang-terhadap-nepotisme-dan-intoleransi-dasar-ndeso
Minggu, 14 Mei 2017
Gubernur Baru, ASN DKI Jakarta Siap di Mutasi
Salah satu hal yang dikhawatirkan dan menjadi momok bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah moment Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) usai dilangsungkan. Setidaknya hal itu diakui oleh salah seorang teman yang kebetulan seorang PNS. Momok tersebut dirasakan terutama oleh PNS yang ada dalam 'satu kubu' mendukung kerja-kerja Kepala Daerah lama, tetapi kemudian setelah Pilkada
ada pergantian Kepala Daerah.
Bagi PNS yang mendukung Kepala Daerah lama dan kebetulan
Kepala Daerah tersebut mencalonkan diri dan terpilih kembali, tentunya itu
bukan momok. Tetapi kebalikannya, jika Kepala Daerahnya baru, alamak harus
siap-siap di mutasi.
Diakui atau tidak, mutasi pejabat acapkali terjadi saat ada
pergantian Kepala Daerah. Itu juga
terjadi di daerah-daerah setelah Pilkada usai.
Bukan rahasia lagi jika Kepala Daerah yang baru akan membawa
program baru, juga ‘gerbong ‘ baru yang berisi orang-orang yang menjadi kubunya
dan dipastikan tidak akan berseberangan dengan kebijakan yang akan diambilnya
kelak.
Demikian juga dengan DKI Jakarta pasca dukungan
terhadap Anies Baswedan dan Sandiaga Uno
melebihi dukungan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot versi
hitung cepat. Meskipun masih bulan Oktober nanti pelantikan terhadap pasangan Anies –Sandi tetapi kabar mutasi pejabat
sudah berhembus dan tercium media. Hal itu
seperti yang diakui Mohamad Taufik,
wakil ketua tim pemenangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno yang juga wakil ketua
DPRD DKI Jakarta , memastikan akan ada perombakan pejabat di satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta setelah pergantian pimpinan Jakarta
pada Oktober 2017. Masih diakui Taufik, Pejabat di Pemprov DKI harus satu visi dengan Anies-Sandi.
"Anies bilang kan ini gerakan, supaya di dalam sama gerakannya, (SKPD)
harus satu visi," ujar Taufik.
Pernyataan Taufik tentu tidak mengejutkan karena hal itu sudah diperkirakan jika Anies
Baswedan menjabat Gubernur tentunya ia akan mengangkat orang-orang yang di
percaya yang selama ini mendukungnya dan membantunya mewujudkan langkahnya menduduki
kursi DKI Jakarta 1. Bisa
dipastikan pejabat yang tidak satu visi
dan misi dengan Anies-Sandiaga akan diganti. Artinya pejabat yang selama ini mendukung Ahok dan
program kerjanya bisa jadi dianggap tidak satu visi dengan Anies Baswedan dan
tentu saja kedepannya akan di ganti.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok juga memastikan bahwa pergantian pejabat merupakan hak yang
dimiliki tiap kepala daerah. Ahok juga mengatakan bahwa ada regulasi yang mengatur gubernur
terpilih bisa mengganti pejabat, setelah menjabat selama enam bulan.
Apa yang dikatakan Ahok sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, pasal 162 ayat (3): bahwa, Gubernur,
Bupati dan Walikota dilarang untuk melakukan pergantian pejabat lingkungan pemerintahan daerah (Pemda) baik provinsi
ataupun kabupaten/kota dalam jangka waktu 6 bulan terhitung sejak tanggal
pelantikan.
Anies-Sandi bisa menganti
pejabat tetapi harus sesuai regulasi
Meskipun kelak setelah di lantik, Anies –Sandi bisa menganti
pejabat yang tidak sesuai dengan visinya tetapi pergantian tersebut mestinya tidak berdasarkan atas asas suka -
tidak suka. Nah , ini yang jamak terjadi di daerah sekaligus menjadi kekuatiran
PNS kalau kepala daerah yang baru akan menganti pejabatnya berdasarkan alasan
suka dan tidak suka.
Meskipun regulasi membolehkan Anies menganti pejabat, tetapi
aturan dalam pergantian tersebut juga harus di taati. Saya rasa para PNS di
Pemprov DKI Jakarta juga bisa ikut mengawasi dan memantau proses pergantain
pejabat tersebut dengan mengikuti
regulasi yang berlaku. Misalnya dengan melihat kembali Tata Cara
Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi di
lingkungan Instansi Pemerintah seperti
diatur di dalam UU nomor 5 tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara dan Peraturan menteri pendayagunaan Apartur Negara
dan Reformasi Birokrasi nomor 13 tahun 2014 tentang tata cara pengisian jabatan
pimpinan tinggi secara terbuka di
lingkungan instansi pemerintah. UU nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara antara lain mengamanatkan bahwa Pengisian jabatan pimpinan tinggi
utama dan madya pada kementerian, kesekretariatan lembaga negara, lembaga
nonstruktural, dan Instansi Daerah dilakukan secara terbuka dan kompetitif di
kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan,
pendidikan dan latihan, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan
lain yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
dilakukan pada tingkat nasional.
Sedangkan untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama
dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan
syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan pelatihan, rekam
jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan jabatan lain sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang dilakukan secara terbuka dan
kompetitif pada tingkat nasional atau antarkabupaten/kota dalam 1 (satu)
provinsi.
Dalam UU tersebut
diatur tata cara tata cara seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di lingkungan Instansi Pemerintahan,
dari persiapan, pelaksanaan sampai
monitoring dan evaluasi.
Jelas ada aturan untuk mengangkat pejabat, jadi tidak bisa
hanya berdasarkan kedekatan atau rasa suka - tidak suka atau cocok - tidak
cocok dengan kepala daerah saja. Meskipun tersiar kabar saat menjabat rektor dan Mendikbud
dulu Anies diindikasikan mengangkat
orang-orang dekatnya , tetapi saya berharap saat menjadi Gubernur ini Anies
tetap akan mengangkat pejabat yang membantunya sesuai dengan regulasi yang
ada. Semoga!!
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/27/12463091/kata.ahok.soal.rencana.perombakan.pejabat.dki.oleh.anies-sandi
Menyoal Tuntutan Kenaikan Upah Buruh dalam Demo Buruh 1 Mei : Masa Pemerintahan Ahok Upah Buruh Naik Lebih 100%
Masih seputar aksi buruh pada peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei lalu yang diwarnai dengan pembakaran sejumlah karangan bunga tanda cinta dari warga untuk Ahok-Djarot. Setelah mendapatkan kritik dan sorotan dari warga dan ramia dibicarakan di media sosial, Presidena Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengatakan aksi
pembakaran dilakukan untuk ikut membersihkan balai kota dari karangan bunga
tersebut , membantu gubernur supaya
sampahnya nggak banyak. Alasan tersebut tentu saja untuk membantah jika aksi
pembakaran bunga sebenarnya politis karena kelompok buruh tersebut pernah
menyatakan mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Anies Baswedan- Sandiaga
Uno pada Pilkada DKI Jakarta.
Yang menarik, sehari sebelum aksi pada tanggal 1 Mei, seperti yang disampaikan Said Iqbal kepada
Kompas.com, ada tiga tuntutan
utama para buruh yang tergabung dalam serikat pekerja saat Hari Buruh Internasional
atau "May Day", yaitu hapus
outsourcing dan sistem magang, jaminan sosial pekerja, dan tolak upah murah. https://news.detik.com/berita/d-3488736/karangan-bunga-ahok-dibakar-said-iqbal-itu-untuk-bantu-gubernur
Dari tuntutan tersebut, salah satu yang mengelitik saya adalah
tuntutan tolak upah murah. Tuntutan kenaikan upah atau menolak upah murah
memang lazim dilakukan saat demontrasi
yang dilakukan oleh buruh. Hampir bisa dipastikan dalam setiap aksi para buruh,
kenaikan upah layak selalu menjadi isu yang disuarakan buruh. Bahkan seringkali
karena tuntutan tersebut tidak dipenuhi
sampai menimbulkan gelombang
demonstrasi besar-besaran .
Said Iqbal sendiri pernah mengatakan kalau wajar jika buruh
menuntut kenaikan upah setiap tahun. Pasalnya selama ini upah yang diterima
buruh tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga,
pertumbuhan tersebut dinilai hanya dirasakan oleh pengusaha.
UMP DKI Jakarta
tertinggi di Indonesia
Tuntutan kenaikan upah
yang disuarakan dalam demo 1 Mei kemarin
sudah menjadi ‘lagu wajib’ bagi
para buruh. Kebutuhan hidup yang
cenderung meningkat dari tahun ke tahun jika tidak dimbangi upah buruh yang memadai pasti akan selalu menimbulkan
masalah.
Demo buruh
kemarin yang diwarnai dengan
tindakan anarkis pembakaran karangan bunga juga dikatakan karena
kekecewaan terhadap kepemimpinan
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. Pasangan Ahok-Djarot tidak memenuhi janji selama memimpin DKI
Jakarta yang akan menaikkan UMP (Upah Minimum Provinsi) Rp 4
juta.
Meskipun tahun ini UMP DKI Jakarta naik dari tahun kemarin,
tetapi buruh merasa belum cukup sehingga menuntut kenaikan UMP. Karena UMP DKI
Jakarta belum sebesar Rp 4 juta, buruh kecewa dan menyalahkan Ahok-Djarot.
Padahal Ahok- Djarot tidak bisa disalahkan dalam hal besaran
kenaikan UMP. Karena UMP DKI 2017 yang
sudah ditetapkan sebesar Rp Rp 3.355.750, sudah sesuai dengan PP Nomor 78 Tahun
2015. Berkaitan dengan hal tersebut
tentunya Pemprov DKI tidak bisa mengeluarkan perda yang bertentangan dengan PP
tersebut, umpanya Ahok mau menaikkan hingga Rp 4 juta. Perlu kita ingat jika peraturan yang lebih bawah harus mengacu pada
peraturan yang lebih tinggi.
Perhitungan UMP sudah memiliki rumus sehingga Pemprov DKI tetap memakai Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan untuk menentukan UMP DKI
Jakarta.
Dengan perhitungan UMP tahun 2016 ditambah dengan inflasi
dan pertumbuhan ekonomi jadilah UMP tahun 2017, kira-kira seperti itu.
Lagipula bagaimana pula buruh menilai Ahok tidak menepati janji memikirkan nasib para buruh
jika kenaikan UMP sudah dilakukan dari tahun ke tahun.
Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) mengumumkan Upah Minimum
Provinsi (UMP) di seluruh tanah air untuk 2017, rata-rata mengalami kenaikan
sebesar 8,25 persen. Dengan kenaikan itu, maka UMP tertinggi ada di Provinsi
DKI Jakarta sebesar Rp 3.335.700,- sementara yang terendah adalah Provinsi DIY
sebesar Rp 1.337.645,-.
Untuk DKI Jakarta, terhitung sejak lima tahun terakhir terlihat kenaikan cukup signifikan .
Kenaikan terjadi sejak Jakarta di pimpin Jokowi-Ahok. Kenaikan tersebut saya kira menunjukkan keseriusan Jokowi-Ahok dalam
memikirkan nasib para buruh. Dilihat
dari tahun 2011 (sebelum Jokowi-Ahok memimpin DKI Jakarta) sampai lima tahun
terakhir ada kenaikan upah lebih dari
100%.
Berikut daftar UMP Jakarta 2009-2017:
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 : Rp. 1.069.865,-
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 : Rp. 1.118.009,-
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2011 : Rp. 1.290.000,-
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2012 Rp 1,529,150 (naik 18,53%
)
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013 Rp 2,200,000 (naik 43,88%)
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014 Rp 2,441,000 (naik 10,95%)
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 Rp 2,700,000 (naik 10.61%)
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2016 Rp 3,100,000 (naik 14.81%)
Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2017 Rp 3,335,700 (naik 8%)
Kalau buruh masih membandingkan dengan upah buruh di Bekasi
dan Karawang, mungkin teman-teman buruh lupa bahwa di Jakarta ada tambahan fasilitas lainnya yang tidak
didapatkan di daerah lainnya. Yaitu di Jakarta mereka mendapatkan sejumlah
fasilitas yang menunjang kesejahteraan keluarga seperti akses
terhadap pendidikan,kesehatan, perumahan dan transportasi. Berbagai program diluncurkan seperti menggratiskan biaya
transportasi dengan bus Transjakarta, pengobatan gratis dengan kartu BPJS
kesehatan, pemberian Kartu Jakarta Pintar (KJP) bagi anak tidak mampu, serta
menjalankan operasi pasar hingga menjual daging murah Itu semua dilakukan Ahok- djarot untuk menekan pengeluaran buruh
di Jakarta. Pahamkan teman.
Astaga, Sandiaga Bilang : Kartu Jakarta Jomblo Solusi Populasi Warga Menurun
Astaga, Sandiaga Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih mengatakan bahwa Kartu Jakarta Jomblo (KJJ) merupakan terobosan dan solusi untuk populasi warga yang menurun.
Singkatnya, Anies-Sandiaga ini bikin program KJJ tak ubahnya
dengan program ‘pengembangbiakan’ bagi
para jomblo di Jakarta. Mblo, mblo, gubernur dan wakil gubernur kalian ini perhatian banget ya, bikin program
pengembangbiakan karena khawatir kalian tidak segera menikah dan tidak beranak
pinak.
"Salah satu yang menjadi kekhawatiran dari kota-kota
besar bukan hanya di Asia tapi juga di seluruh dunia itu adalah jumlah populasi
yang menurun karena banyak kesibukan. Saya melihat ini ada di Singapura,"
jelas Sandiaga, seperti yang dilangsir dari detik.com.
Sandi khawatir sekarang ini warga sudah nyaman dengan status
jomblo sehingga tidak ingin segera
mengakhiri jomblo-nya tersebut.
"Memang ada juga yang menyatakan ini adalah ranah
privasi. Itu nanti diskusikan, tetapi tetap berjalan, karena kami nggak mau
sebetulnya kayak Jepang dan Singapura dimana jumlah populasinya menurun terus
karena si jomblo-jomblo ini akhirnya menikmati menjadi jomblo," kata
Sandiaga. (https://news.detik.com/berita/d-3494604/sandiaga-kartu-jakarta-jomblo-solusi-cegah-populasi-menurun)
KJJ sendiri diakui Sandi sebagai program terobosan karena
belum pernah ada. Padahal KJJ ini bagi saya tidak lebih dari lucu-lucuan saja,
hanya sebagai penarik simpati para jomblowan/jomblowati untuk memilih pasangan
Anies-Sandi
Seperti yang di sampaikan
Anies- Sandi beberapa hari menjelang pencoblosan pilkada putaran kedua,
mereka meluncurkan Kartu Jakarta Jomblo
(KJJ) bagi warga yang belum memiliki pasangan.
Hal itu sesuai dengan slogannya saat kampanye, 'Maju Kotanya, Bahagia
Warganya', Sandi mengatakan bahwa kartu ini adalah fasilitas untuk mendapat
pasangan.
"Harus bahagia, karena terus-terusan jomblo pasti
menimbulkan stres, kan hidup harus berpasang-pasangan, kita harus cari pasangan
kita dan kartu jomblo ini adalah fasilitas kita untuk mencari pasangan
kita," kata Sandi (https://news.detik.com/berita/d-3487944/menuju-warga-bahagia-sandiaga-kita-siapkan-kartu-jakarta-jomblo)
KJJ ini dikatakan bukan program yang berdiri sendiri tetapi merupakan
inovasi yang berintegrasi dengan beberapa program andalannya, seperti
program OK OCE, dan rumah DP Rp 0. Jadi,
kalau para jombowan/jomblowati mempunyai pekerjaan karena bisa berwiraswasta melalui program OK OCE dan
bisa mempunyai rumah sendiri dengan mengambil rumah yang katanya DP-nya 0%
itu.
Melalu KJJ, Anies-Sandi akan memfasilitasi orang yang belum
memiliki pasangan untuk melakukan perkenalan atau yang disebutkannya sebagai
Taaruf. Direncanakan proses perkenalan dilakukan melalui pojok taaruf atau
taaruf massal di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak RPTRA.
Pertumbuhan Penduduk Jakarta
Tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia sekitar
255 juta orang. Laju pertambahan
penduduk sekitar 1,3 % pertahun atau setiap tahun ada tambahan 3 juta orang.
Semakin besar jumlah penduduk, semakin komplek permasalahan yang dihadapi. Permasalahan
kependudukan ini menuntut terpenuhinya kebutuhan makanan, sandang, kesehatan,
pendidikan, hingga lapangan kerja.
Jumlah penduduk di Jakarta sendiri mengalami peningkatan. Bahkan Jakarta
merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar tersebut, permasalahan di ibukota tersebut menjadi semakin komplek
misalnya kemiskinan, pengangguran. Daya
tampung kota yang melebihi kapasitas
menjadi salah satu penyebab terjadinya macet menjadi salah satu permasalahan besar di
Jakarta. Selain banjir, juga banyak lahan di Jakarta di padati pemukiman.Belum
lagi masalah urbanisasi yang dari tahun ke tahun belum cukup terkendali.
Pemerintah sendiri berusaha menekan laju pertumbuhan
penduduk salah satunya dengan program
BKKBN : Keluarga Berencana (KB).
Untuk DKI Jakarta program KB menjadi salah satu jawaban karena penduduk di Jakarta sudah melebihi
kapasitas kota Jakarta itu sendiri.
Lantas jika program KJJ Anies-Sandi itu untuk mencegah
populasi menurun tepatkah hal itu
dilakukan? Bukankah sama saja mereka berdua tidak mendukung program pemerintah
melalui program KB tersebut?
Lagipula, status jomblo itu pilihan hidup, hak asasi,
bukan status yang memalukan bukan pula status yang harus disembunyikan.
Bukankah justru akan menimbulkan masalah baru jika Jakarta
semakin banyak populasi penduduknya sementara kemiskinan, problem perumahan,
pengangguran, kesehatan dan pendidikan
masih menjadi masalah di ibukota? Bukankah lebih baik gubernur dan
wakilnya memikirkan kesejahteraan warga yang ada sekarang? Tidak malahan
membuat program yang katanya untuk menambah populasi warga yang katanya menurun
tersebut. Satu lagi, kalau program KJJ berhasil dan Jakarta bertambah populasi
penduduknya, Anies- Sandi juga harus memikirkan salah satu janjinya yaitu rumah
dengan Dp 0% lho pak. Pikirkan itu pak, jangan sampai janji manisnya di tagih
warga nanti. Pahamkan teman?
Langganan:
Postingan (Atom)










