Jumat, 24 April 2015

Surat Buat Ibu

(Surat buat ibu)

Solo, 22 Desember 2013
Teruntuk ibunda tersayang
Di tempat
Assalamu’alaikum
Ibu,
Saya masih di sini, entah sudah berapa menit berlalu, tak puas  memandang wajah lembut  ibu di  pigura foto yang memberikan senyuman teduh dan penuh kasih. Rasa kangen sebenarnya tak bisa lagi dibendung, ingin rasanya segera bertemu. Suara lembut ibu lewat telpon tak mampu menghapus rindu yang membuncah di dada. Jarak yang cukup jauh memisahkan kita, membuat saya belum bisa secepatnya berkunjung ke rumah ibu.
Apa kabar ibu?
Saya selalu berdoa agar ibu selalu sehat, segar dan pernah jauh dari kelembutan yang selama ini mampu membuat ketenangan hati anakmu. Saya percaya ibu pasti sangat sibuk dengan sawah, tegalan, pengajian, menenggok orang sakit dan kegiatan social lainnya. Meskipun ibu sudah sepuh, semangat ibu luar biasa untuk selalu mengisi hari tua dengan banyak hal yang bermanfaat bagi orang lain.
Ibu tercinta,
Banyak kenangan manis yang pasti tak akan pernah saya lupakan. Sepanjang usia saya, engkau telah mengukir hal-hal baik yang menjadi tonggak dalam kehidupan saya. Bersikap baik, menghargai orang lain, ringan tangan, tidak gampang mengeluh dan sabar dalam menghadapi hidup. Sebagai istri seorang guru yang tinggal di desa, menjadi panutan orang lain tak membuat beban, justru ibu selalu berusaha menunjukkan jiwa luhur. Selalu ibu ingatkan kepada anak-anakmu , “kudu biso mikul dhuwur mendhem jero “ (menjaga nama baik keluarga).
  
Ibu sayang,
Ada kenangan luar biasa yang sangat mendalam saya rasakan. Masihkan  ibu mengingat saat ibu memeluk saya sambil menangis tersedu-sedu saat  bapak  murka dan kehilangan kontrol terhadap saya?  Kenangan manis yang tak pernah terlupakan sampai kini, terus tertanam rapi di hati. Betapa ibu dengan gagah berani, melawan kemurkaan bapak , hanya demi membela anakmu ini.
Saat itu idealisme begitu besar  tertanam di pikiran saya. Rasanya saya tak lagi memikirkan perasaan bapak, ibu dan kakak-kakak. Kondisi masyarakat yang penuh tekanan dan hidup serba kekurangan sementara pejabat tinggi negri ini bergelimang harta dengan korupsi, nepotisme dan kolusi yang begitu kental dan menyolok mata. Saya seperti teman mahasiswa lain, meski hanya segelintir mahasiswa ditengah ribuan mahasiswa terketuk hati dan tak sampai hati hanya berdiam diri.
 
 
Ibu, saya tahu perasaan ibu selalu was-was mendengar saya ikut turun ke jalan berteriak memprotes ketidakadilan. Saya tahu, setiap saat ibu selalu ketakutan luar biasa kalau sampai saya tertangkap dan dijebloskan ke hotel prodeo. Ibu selalu gundah setiap melihat tayangan televisi yang mengabarkan berita demontrasi. Ibu menyimpan ketakutan luar biasa kalau saya termasuk mahasiswa yang tak akan pernah kembali karena berani menentang penguasa. Puluhan tahun silam, siapa yang berani melawan pemerintah tanpa resiko?
Bukannya saya tidak tahu, jika air mata ibu selalu tumpah  disetiap  sholat untuk mendoakan keselamatan saya. Disetiap helaan nafas ibu, hanya doa untuk kesehatan saya.
Betapa saya rasanya tak tahu malu, hanya mengikuti kekerasan hati untuk memperjuangkan apa yang saya nyakini benar, tanpa mempertimbangkan perasaan ibu yang setiap saat tak pernah tenang. Saya hanya berkutat pada rasa egois yang tinggi untuk ikut  menentang ketidakadilan di negri ini.  Saya tak tahu terimakasih karena tak cukup menghargai rupiah demi rupiah yang kau kumpulkan untuk membiayai kuliah saya, karena saya lebih memilih menghabiskan waktu saya di jalan daripada di kampus. Saya lebih memilih membaca buku-buku revolusioner daripada membaca diktat kuliah. Kerinduan ibu yang tak tertahankan tak pernah saya perhatikan,  karena berbulan-bulan tak bisa pulang ke rumah hanya dengan alasan tak ada waktu. Yang sebenarnya  karena saya pengecut, tak berani bertemu dengan bapak dan kakak yang pasti akan memaksa saya untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan resiko itu. Dan sebenarnya juga karena saya tak mungkin akan tahan lama berhadapan dengan ibu yang takut kehilangan anaknya.
Ibu, 
 
Kaulah seorang ibu sejati yang penuh dengan kasih dan kesabaran tiada batas. Atas  semua kekurangajaran saya, ibu tak pernah terlihat marah. Betapa  bijaksananya engkau dengan menyembunyikan dan menutup rapat-rapat semua perasaan ibu. Dengan kelembutan dan kasih sayangmu kau ceritakan keinginan bapak agar  anakmu ini kembali ke bangku kuliah. Kau ceritakan beberapa teman kecil saya sudah menyelesaikan kuliah dan menyandang gelar sarjana. Bahkan ada beberapa yang sudah menikah. Ibu tahu persis kekerasan  hati saya, hingga tak sampai hati untuk membujuk  dan mengancam saya untuk  kembali kuliah. Engkau hanya memberikan sinyal pesan  ketidaksetujuan dan kemarahan bapak dengan bahasa yang sangat halus dan tak mau menyakiti hati saya.
Ibu,  engkau  malaikatku ,
Saat kemarahan  bapak tak lagi terbendung, saat bapak murka dan tak lagi mampu mengontrol emosi, saat tangan bapak yang seumur hidup saya tak pernah melintas di kulit saya, engkau pasang badan hanya demi anakku yang tak tahu terimakasih ini. Dengan ketegaran luar biasa yang tak pernah saya lihat sebelumnya, engkau  ikhlas menerima pukulan tangan bapak yang mestinya mendarat di tubuh saya.
Ibu, tahukah ibu kenapa anakmu ini menjadi penurut dan mendengarkan  keinginanmu?
Tahulah sejak peristiwa itu saya menghilang cukup lama tanpa kabar secuilpun? 
 
Ibu, sesungguhnya sejak saat itu, saya tak pernah turun ke jalan lagi bersama teman-teman, saya tak kemana-mana. Ketabahan, kerelaan dan ketidakberdayaan  yang ibu  perlihatkan saat menerima pukulan bapak membuat saya termenung, terpekur dan lama merenungkan  kejadian itu. Betapa saya telah terlalu lama membangkang dan menyakiti ibu. Tanpa tersadari sudah terlalu jauh saya menjauh dari keluarga dan dari kasih sayang ibu. Betapa saya terlalu egois dan tak mau tahu  penderitaan ibu yang selalu ibu hadapi dengan tabah. Sekian tahun ibu meredam kemurkaan bapak, hanya demi menjaga perasaan saya. Ibu rela menanggung beban dan penderitaan yang luar biasa berat.  Sebutan anak durhaka, kuliah tak  kunjung selesai, perawan tua, itu pasti tak mudah ibu hadapi. Gunjingan tetangga pasti menyakitkan bagi perasaan halus ibu. Dan tatapan menyalahkan dari bapak yang setiap hari ibu terima pastilah selalu menguji kesabaran dan ketabahan ibu. Kasih ibu tetap sepanjang masa tak berubah sedikitpun.
Bukan kemarahan bapak yang membuat saya tersadar, tetapi air mata dan keikhlasan ibu-lah  yang membuat saya tak berdaya lagi untuk melanjutkan idealisme saya. Ternyata saya harus mengakui kalau saya tak berdaya melihat ketegaran ibu dibalut air mata penuh kasih seorang ibu. Banyak jalan untuk menyalurkan idealisme tanpa harus menyakiti hati ibu dan bapak. Ada harapan  tinggi dari ibu dan bapak untuk melihat anaknya berhasil menyelesaikan kuliah, bekerja dan berumah tangga. Ya,  saya telah  luruh dalam air mata tanpa batas kasih sayang dari ibu.
Ibu………………,
 
Saya baru benar-benar merasakan betapa senang dan was-wasnya menjadi seorang ibu. Kecintaan dan kasih sayang  tak bisa diukur dengan apapun untuk darah daging kita sendiri. Saya rasakan perasaan ibu pasti  sama persis dengan perasaan saya ketika anak sakit, tak menurut kata orang tua dan  menjauh dari rengkuhan kita.  Saya resapi nikmat dan sakitnya saat mengandung , membawa anak ke manapun kita pergi dan saat berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan. Oh, betapa memalukan saya selama ini tak pernah menyadari betapa beratnya tugas sebagai ibu.
Saya bersyukur meskipun terlamabat menyadari  semua ini ibu,
Bertahun-tahun telah terlalui, rasa syukur tak terhingga karena kedekatan saya sebagai anak   kembali seperti sedia kala. Saya kembali bisa bermanja-manja dan berkeluh kesah di pangkuan ibu, sementara ibu tertawa saat menceritakan hal-hal yang engkau temui setiap hari yang  penuh semangat untuk mengulurkan tangan  saat menceritakan kehidupan tetangga di desa yang dilanda paceklik. Meskipun bapak masih terasa kaku dengan sikap saya, tetapi sesungguhnya saya sangat sayang bapak. Dan saya tahu sesungguhnya di dalam  hati yang terdalam bapak juga sangat sayang dengan saya, menantunya dan  cucu-cucnya.  Bapak juga pasti bangga dengan kami semua.
Tahukah Ibu,
 
Ketika  petang itu ibu tiba ke rumah kami,  dengan wajah  sumrigah  dan berseri-seri saat kami semua mencium tangan ibu, betapa bahagianya saya. Keletihan yang tergurat di wajah sepuh ibu, nampak tersamar rasa bahagia,  ketika  ibu mendengarkan coloteh  anak-anak kami. Saya sepenuhnya kembali tersadar betapa langkah yang saya putuskan  atas kesadaran dari air mata ibu, itu tidak salah. Kebahagiaan telah terengkuh di tangan saya dengan keluarga kecil kami . Rasanya inilah akhir dari jawaban  air mata ibu selama bertahun-tahun yang lalu.
Terimakasih ibu untuk hal luar biasa yang engkau berikan selama ini kepada saya.
Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga kesehatan, memberikan usia panjang, memelihara kelembutan dan kasih sayang serta selalu menyirami kearifan ibu. Semoga  semua kebaikan ibu bisa menurun ke saya, meneruskan siraman kasih sayang untuk cucu ibu. Amin.
Wasalam
Sungkem dari ananda
 

Puisi Untuk Kawan

Sebuah puisi lama untuk kawan-kawan saya.

Kawan,
Aku tahu, kalian tak akan pernah bosan
Kalian tak akan pernah lelah
Kalian tak akan pernah mau berhenti
Perjuangkan nasib mereka
Aku tahu,
Setiap saat tangan pongah menyudutkan
Setiap saat teror mengangkang
Setipa saat bijih besi mengancam
Setipa saat terali besi mengangga
Aku tahu,
Selama keadilan melanda
Selama penindasan tumbuh subur
Selama kemiskinan tetap ada
Selam pembungkaman hak asasi manusia mengakar
Kalaian pantang mundur
Kawan, teruskan berjuang di barisan depan
Jalankan amanah tertindas di barisan depan
Singkirkan kapitalis primitif
Yang mengerogoti jiwa
Lumatkan pola feodalis yang mengikis nilai keadilan
Teruskan berjuang walau dalam liang pengabdian kekejaman
Selamat berjuang kawan!
Solo, Juli 1994

Berkarya Setelah Lama Tidak Menulis

Sejak SMA saya suka menulis cerpen dan puisi, tetapi nyaris tidak saya lanjutkan lagi setelah saya duduk di bangku Perguruan Tinggi.  Waktu itu saya ikut banyak kegiatan kampus dan terlalu larut dalam beberapa kegiatan yang 'bersebrangan' dan 'menantang' pemerintah Orde Baru. beberapa kali aksi saya ikuti tidak hanya di dalam kota tetapi juga sampai luar kota seperti Jakarta. Akibatnya, saya sama sekali tidak mempunyai waku. Jangankan untuk menulis, kuliah pun keteteran. Bahkan saya sempat tidak ikut ujian dan hanya minta tolong kepada teman untuk ikut mengabsenkan. Untung saja kampus saya tidak terlalu ketat sehingga  titipan absen saya lolos.

Pun saat saya bekerja, sampai berumah tangga, saya belum mulai menulis lagi. Meskipun banyak kesempatan, tetapi saya belum tergerak untuk menulis.

Baru, tahun 2014 kemarin saat kontrak kerja saya telah berakhir, saya mulai menulis. Kumcer pertama berjudul "Persimpangan Hati" sudah selesai diterbitkan sebuah penerbitan indi, kemudian antologi cerpen saya juga ada. Berikut  buku-buku antologi cerpen saya, lumayanlah untuk pemula.
Beberapa antologi cerpen saya, bersama penulis lain (dok. Suci)

Persimpangan Hati

Kumpulan cerpen ini karya pertama saya.

Judul  : Persimpangan Hati
Penulis: Suci Harjono, 2014
Editor: Kyuna Angel
Setting dan Layout: MBM-Self Publishing
Desain Sampul: Shippa Kim
ISBN: 978-602-1375-46-4
Cet. I, September 2014
 93 hlm. ; 14 x 20,5 cm
Diterbitkan Oleh:
MBM-Self Publishing
mahakambookmedia@yahoo.co.id
Harga : Rp. 37.000

Kumcer Persimpangan Hati, by Suci Harjono, 2014
 Buku ini berisi 12 cerita pendek, hampir semuanya bertemakan kritik sosial.  Seperti pada cerpen berjudul' laki-laki tua dan ambisinya' secara gamblang menceritakan  penguasa  zalim yang telah memerintah negri ini selama 32  tahun. Berbagai dosa politik tergambar jelas.  Cerita 'Sepenggal Malam' menceritakan kehidupan seorang Pekerja Seks Komersial(PSK) yang selalu tersisih dari kehidupan. Sementara dalam cerita 'Demam Capres' secara tidak langsung mengkritik fanatisme seseorang terhadap capres. Ketika nalar tidak digunakan, maka emosilah yang menguasai. 'Persimpangan Jalan' menceritakan pertentangan batin seorang aktivis ketika harus memilih jalan hidupnya dengan terus berjuang di garis yang dia nyakini atau harus memilih mengikuti keinginan orangtuanya yang tetap mengharapkan anaknya menjalani hidup seperti anak-anak pada umumnya.
.......mungkin karena sejak kecil aku hidup dalam negara kecil atau keluarga yang otoriter, tidak demokratis, tidak bisa berpendapat bebas mengakibatkan jiwaku tumbuh menjadi pembangkang, sehingga saat kuliahpun melihat kenyataan di negara yang menurutku jauh dari keadilan jiwa pembangkangku muncul dan semakin subur berkembang.  
Apalagi setelah aku menemukan kawan-kawan dan organisasi yang memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas oleh penguasa, membuatku semakin terlarut dalam semua kegiatanku......

Kamis, 23 April 2015

23 April, Perayaan Hari Buku Sedunia

Mungkin belum banyak yang tahu kalau hari ini tanggal 23 April,  adalah hari buku sedunia atau   World Book Day.

Kali pertama World Book Day di rancang oleh UNESCO sebagai  sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia.
Menurut sumber pustakainfo.wordpress.com, sejarah perayaan World Book Day awalnya merupakan  sebuah tradisi pemberian bunga mawar dari laki-laki  kepada kekasihnya yang  bagian dari perayaan  Hari Saint George di wilayah Katalonia. Perayaan tersebut dilakukan  sejak  abad pertengahan. Tahujn 1923 para pedagang buku  mempengaruhi tradisi tersebut untuk  mengenang den memberikan penghormatan kepada seorang pengarang , Miguel de Cervantes, yang meninggal tanggal 23 April. Sejak tahun 1925 para perempuan menganti tradisi  pemberian bunga mawar dengan memberikan buku. Saat itu sekitar 400.000 buku terjual dan ditukar dengan 4 juta bunga mawar. Saat Konferensi Umum UNESCO tahun 1995, diputuskan tanggal 23 April sebagai World Book  Day. Tepat tanggal tersebut tokoh-tokoh  dunia seperti Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla meninggal dunia sedangkan Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejo and Halldór Laxness dilahirkan.
UNESCO merancang World Book Day  sebagai perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Juga sebagai penghargaan dan kemitraan penerbit, distributor, orgnaisasi perbukuan , komunitas pecinta buku juga pengarangnya. Perayaan ini juga untuk memberikan semangat kepada seluruh masyarakat terutama anak-anak agar mampu mengeksplorasi manfaat dari senang membaca buku

Buku-buku  bacaandengan mudah kita akses (dok. Suci)
Indonesia  sendiri untuk pertama kali melaksanakannya perayaan ini  di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umumial budaya kemanusiaan.

Mendorong minat baca anak dan rasa cinta  terhadap buku memang sangat penting dan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Ibarat buku adalah jendela dunia, dengan membaca anak akan mendapatkan informasi dan pengetahuan serta imajinasi yang kuat dan luas. Efek positif lainnya mendorong anak memanfaatkan waktu dengan lebih efektif. Dan jika ada nilai plus lainnya(misalnya bisa menulis) itu adalah bonus. 


Sebagian buku-buku karya anak kedua saya Anugrah Rawiyah Salma (dok. Suci)


Seperti anak-anak saya, suka membaca sejak usia pra sekolah. Kecintaan terhadap buku luar biasa kuat, dan mendorong untuk menulis juga. Saat ini anak kedua saya, usia 14 tahun sudah mempunyai 10 buku (novel dan kumcer) yang diterbitkan penerbit mayor. Mari kita kembangkan budaya cinta buku dan membaca untuk generasi yang lebih cerdas dan berkarakter.
Selamat hari buku sedunia!!!




Rabu, 15 April 2015

Menikmati Durian Manis Di Pantai Losari Ambon

Jalan-jalan ke Ambon.
Keindahan pantai menjelang senja (dok. Suci)



Bagi penikmat durian,  tak salah jika mampir ke Pantai Losari Mardika Ambon. Di lokasi inilah setiap malam warga merasakan  nikmatnya durian manis di padu dengan bau yang ehm enak sekali. Berderet pedagang  durian memenuhi  trotoar jalan dan mengambil sebagian jalan untuk tempat  duduk-duduk para penikmat durian. 
Pembeli bebas memilih dan menawar durian yang ditawarkan pedagang (dok. Suci)


 Pantai Losari  Ambon terletak di sebelah taman Victoria yang biasa dipergunakan warga untuk bersantai. Entah mengapa di sebut pantai Losari, karena biasanya orang akan menebak pantai Losari itu di Makasar. Menurut beberepa orang, nama pantai Losari ini  karena  pemandangan pantainya mirip dengan Losari-nya Makasar.

Hampir sepanjang malam, mobil bak terbuka membawa durian yang disetorkan kepada para penjual.  Mereka pedagang yang membeli durian dari petani langsung di Ambon.  Sebagian petani yang membawanya langsung ke kota.  Selain membawa durin,  pedagang juga membawa buah pisang yang terkenal pisang berukuran besar  dan rasanya enak. Stok durian nyaris tidak pernah habis karena pasokan selalu datang. Ukuran durian besar, sedang sampai yang kecil tersedia, tinggal memilih mana yang sesuai selera. Rata-rata durian manis semua  dengan  bau yang membuat air liur menetes. Meskipun saya bukan pengemar durian tetapi melihat durian yang ranum dan berbau harum tak ayal membuat saya terpesona.

Setiap malam pedagang memasok durian  (dok. Suci)
Harga durian juga termasuk murah. Durian ukuran besar hanya di jula Rp 20.000, sementara yang sedang bisa Rp 15.000. Bagi yang tidak bisa memilih durina yang manis dan enak, tidak perlu khawatir karena pedagang jujur-jujur bisa memilihkan durian yang enak dan nikmat.
Bagi yang tidak suka durian, ada juga beberapa buah lokal lainnya yang dijual pedagang lapak. Langsa Ambon yang terkenal  besar dan manis, apel, jeruk bisa menjadi pilihan. Silahkan memilih seseuai dengan selera dengan harga terjangkau. Untuk urusan minum, tak perlu risau, banyak minuman mineral tersedia. Pokoknya tinggal datang dan melahap durian manis semanis ambon manise.***

Jumat, 03 April 2015

Kemeriahan Festival Kuliner Di Solo

Festival kuliner Solo kembali di gelar.
Tadi malam  pembukaan Solo Indonesia Culinary Festival 2015  yang digelar di halaman Benteng Vastenburg Solo.  Agenda tahunan  kali ini   mengambil tema  kuliner tradisional. Festival kuliner yang akan berlangsung selama  3 hari  dari tanggal 2-5 April ini  diikuti sekitar 105  peserta  dari pelaku bisnis kuliner, usaha kecil menengah (UKM) dan sejumlah perwakilan hotel di Solo . 
Pengunjung antusias di Festival kuliner (dok. Suci)
 
Selain pelaku kuliner dari Kota Solo dan sekitarnya, kali ini festival juga diikuti peserta dari Sumatra dan Kalimantan
Ribuan orang memadati arena festival, meramaikan stan-stan makanan yang sekitar 60% diisi makanan tradisional seperti sata gembus, kue putu, dawet gempol,  soto gerabah, dll dan 40% sisanya masakan komtemporer hasil  modifikasi dan makanan ala hotel.


Kami di depan Benteng Vastenburg (dok. Suci)

Kami datang sekitar pukul 20.00, saat acara pembukaan sudah lewat. Tetapi pengunjung masih padat, menikmati aneka makanan yang di sajikan. Di beberapa stan tampak pengunjung  rela antri cukup panjang hanya untuk menikmati kuliner yang disajikan. 
Salah satu stan makanan (dok. Suci)

Dengan mudah kami menemukan aneka macam menu baik yang olahan hotel, rumah makan , pedagang kaki lima  maupun pedagang yang biasa keluar masuk perumahan.   Penataan stan cukup diperhatikan oleh peserta terutama peserta dari hotel di Solo. Peralatan yang dibawa benar-benar peralatan hotel dengan aneka makanan yang terlihat mengiurkan.  Sementara untuk stan makanan tradisional  kelihatan diupayakan ditata dengan baik meskipun tidak semenarik stan dari hotel. Pedagang kaki lima sebagian juga tidak menggunakan stan khusus tetapi mengelar dagangan dengan menggunakan gerobak dorong/sepeda di halaman depan stan resmi.
Harga yang ditawarkan agak sedikit mahal dari biasanya (dok. Suci)
Salah satu kue tradisional juga ditawarkan (dok. Suci)

Harga-harga yang ditawarkan cukup menarik. Untuk ukuran makanan ala hotel ditawarkan cukup miring dibandingkan ketika kita membeli di hotel. Tetapi untuk makanan tradisional ada sedikit kenaikan harga.  Tetapi secara umum masih wajar dan terjangkau.
Festival ini akan berakhir hari Minggu 5/4, bila masih ada waktu silahkan berkunjung ke Solo, sekalian menikmati kegagahan Benteng Vastenburg Solo.***

Kamis, 02 April 2015

Merekalah Yang Berjasa Menyediakan Makanan Pokok Kita

Makanan pokok sebagaian masyarakat kita adalah beras.
Beras menjadi salah satu kebutuhan pokok  masyarakat kita. Meskipun pemerintah beberapa tahun terakhir ini menghimbau masyarakat untuk mencoba beralih ke  bahan pokok selaian  beras, yaitu jagung, ketela pohon, dll, tetapi masih banyak masyarakat yang tetap ’setia’ dengan beras. Rasanya nasi belum bisa tergantikan dengan yang lain.
Ribuan butir nasi yang kita makan setiap hari berasal dari gelut semangat, tenaga dan waktu cukup panjang dari seorang petani. Dari merekalah butir-butir gabah disemai, di pupuk dan dirawat sehingga menjadi bulir-bulir padi gemuk yang siap dipanen setelah 3 bulan lamanya.


Selain petani, puluhan buruh tanilah yang selama ini berperan membantu memanen padi menjadi butiran gabah dan akhirnya menjadi beras yang siap kita masak.
Saat ini masa panen di sejumlah daerah, salah satunya di desa-desa yang masuk wilayah Kecamatan  Cawas dan Karangdowo Kabupaten Klaten. Hampir sepanjang jalan kita bisa melihat para petani sibuk memanen sawahnya, meskipun masih ada beberapa petak sawah yang padinya sudah menguning tetapi belum dipanen.

Ribuan hektar sawah di Cawas siap panen (dok. Suci)
Petani dibantu oleh buruh tani yang tidak semuanya berasal dari desa mereka sendiri. Seperti di Cawas, saat panen raya, petani memetik padinya hampir dalam waktu bersamaan. Petani mengalami kesulitan mencari tenaga buruh dari desanya karena biasanya sebagaian tenaga memanen di sawahnya sendiri atau jika tidak sudah dipakai tenaganya oleh petani lain. Saat situasi seperti itu, petani akan mengunakan jasa para buruh tani yang datang dari desa bahkan kecamatan lain. Para buruh tani tersebut biasa berkeliling menjajakan jasanya sambil membawa peralatan untuk memanen seperti sabit.  Mereka biasa datang berkelompok sekitar 5-10 orang perkelompok. Jasa untuk memotong padi dan merontokkan padi adalah satu paket. Biasanya petani tinggal menyediakan mesin perontok padi yang disewa dari beberapa tempat.

Petani dan buruh tani memotong padi (dok. Suci)
Di Cawas, sejak sekitar 5 tahun belakangan ini merontokkan padi mengunakan mesin perontok padi yang berbahan bakar solar. Mereka sudah tidak lagi mengunakan mesin tradisional yang biasa di sebut erek. pengunaan mesin perontok padi lebih efisien waktu dan tenaga, dibandingkan dengan erek yang membutuhkan tenaga esktra (karena pengunaannya dengan digenjot seperti naik sepeda) dan memerlukan waktu yang lama.
Para buruh tani lebih senang mengunakan mesin perontok padi karena lebih hemat tenaga. Mereka biasa turun ke sawah sejak pagi sekitar pukul 7 atau 8 untuk memotong padi dengan sabit. Mesin pemotong padi yang dibagikan Presiden Joko Widodo belum sampai ke petani di beberapa desa di Cawas. Setelah ada tumpukan padi, satu orang memegang kendali untuk merontokkan padi, satu orang lainnya membantu mengambilkan padi dan sekitar dua orang yang memindahkan padi dari sawah ke lokasi perontokan dan sejumlah orang lainnya melanjutkan memotong batang padi.

Dengan mesin perontok padi mempercepat penyelesaian proses memanen padi (dok. Suci)
Tim bekerja secara cepat, rapi dan efisien serta kompak. Mereka hanya beristirahat saat ‘rolasan’ (istilah untuk jam makan siang di Jawa Tengah) dan kembali bekerja. Biasanya dalam satu hari sampai jam 4 sore semua gabah (padi yang sudah dirontokkan) sudah tersimpan rapi di dalam karung. Upah yang diminta tidak dengan uang tetapi dengan gabah, satu orang mendapatkan upah 1 karung gabah setara dengan 34 kilogram. Ini berbeda dengan kebiasaan sekitar tiga tahun yang lalu, mereka diupah dengan uang sekitar Rp 50-70 rb/ hari (tergantung tawar menawar). Sejak tiga tahun belakangan ini buruh tani lebih memilih upah gabah. Jika satu kilo gabah seharga Rp 3.400 maka sehari seorang  buruh tani mengumpulkan uang Rp 115.600 bersih, karena makan siang, sore, jajanan, rokok sudah disediakan pemilik sawah.

Ibu-ibu mencari sisa padi dengan 'ngasak' mengunakan alat tradisional 'ani-ani' (dok. Suci)
 Sisa batang padi satu dua batang menjadi rejeki bagi ibu-ibu yang mencari sisa panen atau istilah jawanya ‘ngasak’. Dengan alat tradisional yaitu ani-ani (terbuat dari bambu dan baja tipis dan tajam di ujungnya/seperti pisau) mereka mencari rejeki dari sawah yang telah selesai dipanen. Ibu-ibu tersebut dalam sehari bisa pergi ke beberapa sawah, dan kalau beruntung bisa mendapatkan sekitar 3 kilo gabah basah. Rejeki dari  bisa petani mengalir ke banyak orang dan dinikmati puluhan bahkan ratusan keluarga.***

Selasa, 31 Maret 2015

Mengintip Tangan Trampil di Balik Pembuatan Batik Solo

Tangan-tangan trampil yang selama ini terlupakan. Dari tangan merekalah, kita bisa mengunakan batik sebagai salah satu pakaian cirikhas Indonesia

Kota Solo sangat popular, terlebih sejak orang Solo yang pernah menjadi Walikota Solo dua periode, Joko Widodo terpilih sebagai Presiden RI (2014-2019). Kota yang berkembang pesat ini memiliki berbagai atribut seperti Kota Budaya, Kota pariwisata juga dengan berbagai julukan seperti , The Spirit of Java; Solo, the City of Batik; dan Solo, the City of Charm.

Berbicara Kota Solo tidak akan bisa lepas dari batik yang menjadi salah satu andalah kunjungan wisatawan domestik maupun manca negara. Dua sentra batik di Kampung Kauman dan Laweyan menjadi penanda popularitas batik Kota Solo pantas dibanggakan.Saat berkunjung ke dua Kampung tersebut, kita bisa menyaksikan rumah-rumah dan sebagian merangkap sebagai showroom batik.
Batik Solo menggunakan proses cap maupun proses tulis, mempunyai corak tradisional. Tetapi seiring dengan perkembangan permintaan konsumen, beragam corak batik diproduksi sehingga menjadi daya tarik sendiri. Tak heran kalau lagi batik Solo telah lama merambah dunia internasional. Di era Joko Widodo menjabat Presiden, batik menjadi semakin populer. Presiden, Menteri dan pejabat negara sering mengunakan baju batik saat berdinas.
Batik-batik yang sering kita jumpai di toko, Mall, showroom di dalam negeri dan berbagai negara di luar negri, telah melalui proses pembuatan yang tidak sederhana dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Di rumah Ibu Tri Wiedyaningsih Susanto, salah satu pengrajin batik di Mutihan, Kampung Laweyan, saya mencoba memahami proses pembuatan kain batik.

Kain putih polos diberikan  warna dasar/smok (dok. Suci)
 Pertama-tama kain polos putih di beri pewarna dasar dengan cara di smok dan dijemur. Dalam cuaca yang baik, kain bisa kering tidak melebihi satu hari. Kain tersebut kemudian dicap dengan motif tertentu, rata sampai semua lembaran kain terisi. Proses ini membutuhkan kelelitian karena semua kain harus terisi motif yang telah ditentukan. Tidak boleh ada renggangan kain yang tanpa terisi motif tersebut. Seorang pekerja dalam satu hari (8 jam) bisa menyelesaikan 1 kodi kain, dengan 1 lembar kain sekitar 3 meter.

Pemberian cap dengan motif tertentu (dok. Suci)


 Proses selanjutnya dilakukan sekadi atau memberikan warna di motif tertentu. Misalnya satu lembar kain dengan motif bunga dan daun akan diberikan warna merah, kuning, hijau, biru, dll. Pekerja memberikan warna dengan menggunakan kuas kecil. Perlu ketelitian dan kehati-hatian karena kuas mudah keluar dari motif yang diberi warna. Biasanya seorang pekerja hanya sanggup menyelesaikan maximal 15 lembar kain dalam satu hari.
Proses sekadi, pemberian warna tertentu di motif batik (dok.Suci)

 Setelah itu, kain direbus ke dalam pewarna yang telah disediakan. Dengan menggunakan kompor bata semen ukuran jumbo, berpuluh-puluh kain bisa di berikan pewarna dalam satu kali proses pewarnaan.


Kain dicelupkan pada pewarna (dok. Suci)
 Kain yang telah diberikan pewarna, kemudian dicuci dalam air yang telah direbus dalam bak raksasa berbahan semen.

Kain dicuci ke dalam air mendidih, untuk menghilangkan sisa malam/bahan batik (dok.Suci)
Perlu beberapa kali pencelupan di dalam air mendidih agar malam(salah satu bahan batik) tidak tersisa lagi. Kain yang sudah di celup, diputar didalam air mendidih kemudian dimasukkan ke dalam air dingin yang bersih. Setelah dicuci, proses terakhir adalah penjemuran. Kain tidak perlu dijemur diterik sinar matahari, tetapi cukup diangin-anginkan. Selesailah sudah proses pembuatan kain batik dengan motif beragam. Kain batik tersebut sebagian dijahit sesuai dengan pesanan dan sebagian dijual masih dalam bentuk lembaran kain.

Kain diangin-anginkan supaya kering (dok. Suci)
 Ibu Tri, pemilik batik dengan merk Widya Kencana, sering kewalahan menerima order dari konsumennya dari Singapura. Dalam satu bulan pesanan bisa mencapi 8000 lembar kain/baju jadi.
Kain batik yang saat ini kita pakai melalui proses yang tidak sederhana dan dikerjakan oleh tangan-tangan trampil para pekerja rumahan yang telah menyulap selembar kain putih polos berharga ribuan menjadi ratusan ribu rupiah bahkan jutaan dan menjadi bagian dagangan penting toko-toko didalam dan luar negri.***