Sabtu, 17 Oktober 2015

Beratnya Beban Pelajaran Anak Kelas 1 SD

Susah ya pelajaran anak kelas 1 SD sekarang,” keluh salah seorang ibu yang putrnya kelas 1 SD. Tak lama ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya pulang sekolah saling bercerita beratnya pelajaran kelas I SD.

Rata-rata mereka terkejut, heran dan tidak habis pikir kenapa anak kelas I SD sudah diberikan pelajaran dengan materi yang berat. Ya, saya juga mengamini, meskipun tidak terkejut lagi karena pernah mengalami hal itu saat anak pertama dan kedua kelas 1 SD. 

Kami  lantas memperbincangkan hal tersebut. Di sela-sela pembicaraan, seorang ibu sempat berkomentar, ”Bagaimana mungkin anak sempat bermain kalau pelajaran saja sesulit itu.”

Deg, tepat sekali. Melihat materi pelajaran di buku-buku tebal dan LKS yang ‘bikin pusing’ saat melihatnya, kesempatan anak untuk bersantai dan bermain sepuasnya selayaknya usia mereka yang rata-rata 6 tahun-7 tahun terancam hilang. Bagaimana mau bermain, lha wong pelajaran yang mereka terima cukup mengagetkan di masa peralihan dari TK ke jenjang SD. Pelajaran di awal semester ini, sudah cukup berat, apalagi kalau dilihat materi di semester kedua.


Misalnya untuk pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), pelajaran awal sudah belajar tentang berbagai agama, suku di Indonesia. Di salah satu tugas ada pertanyaan “Lagu ayam de lapeh dari daerah mana?“. “Tari Payung berasal dari daerah mana?“ Woalah, apa ya nggak bingung anak-anak yang seusia itu menghafal berbagai suku di Indonesia dengan baju adat, tarian, lagu daerahnya?


Kemudian untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ada sejumlah pertanyaan tentang keluarga, misalnya pertanyaan “Siapa yang dimaksud dengan kerabat?” “Orang yang tidak dapat berbicara disebut?” Masih dipelajaran yang sama, di lembar latihan anak diajak untuk belajar penalaran misalnya dengan menceritakan gambar di beberapa orang berdiri. Pertanyaannya adalah “apa yang terjadi jika kalian naik bus yang penuh dengan penumpang?”


Pelajaran lainnya tak kalah sulit, misalnya di Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dikenalkan dengan bagian tubuh, kegunaanya dan kebutuhan tubuh kita. Nah ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijelaskan dengan sabar, misalnya “apakah yang dimaksud dengan makanan bergizi?” “Apakah manfaat dari kulit itu?”
Bahasa Indonesia, dalam salah satu materi yang diberikan, anak-anak diminta untuk bisa membedakan suku kata, misalnya pertanyaan “sepeda baru, bagaimana dengan suku katanya?”


Belum pelajaran yang lainnya, rata-rata sama beratnya untuk anak seusia 6-7 tahun. Bahkan anak saya yang kelas 9, sempat berkomentar saat adiknya membaca pelajaran muatan lokal bahasa Jawa, ”Lho kok pelajarannya sama denganku Dik.” Ternyata adiknya yang kelas 1 SD sudah diajari bahasa kromo inggil, ngoko alus dan ngoko, yang menjadi salah satu materi pelajaran kelas 9.

Dengan materi pelajaran yang cukup berat tersebut, tak heran jika orangtua merasa kesulitan (beragam alasan, karena materi berat, sibuk dll) saat anak bertanya sehingga pilihannya adalah memberikan les kepada putra-putrinya. Sudah biasa lho, anak-anak kelas 1 SD sudah dileskan. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kasihan dengan anak sekecil itu harus ‘serius’ belajar. Saya bisa membayangkan beban berat mereka kelak saat kelas 6 yang bersiap mengikuti UN. Lha kelas 1 saja sudah dileskan, apalagi kalau kelas 6?

Mestinya saat-saat peralihan dari pendidikan Taman Kanak-kanak ke SD ini, materi yang diberikan tidak memberatkan. Menerima pelajaran saja banyak yang tergagap-gagap, karena sebagian besar cara guru SD memberikan pelajaran sangat berbeda dengan guru di TK. Guru SD cenderung memperlakukan anak-anak kelas 1 SD seperti anak-anak kelas 3, 4, 5, 6 yang memang sudah lebih matang. Nah, secara bertahap, mulai kelas 2 SD anak-anak diperkenalkan dengan materi yang lebih berat dan seterusnya. Tidak saat kelas 1 sudah ‘dipaksa’ memahami banyak materi yang pastinya ‘mengejutkan’ bagi mereka. Ini kan masih masa peralihan dari belajar di TK yang lebih banyak bermain dan bersenang-senang.

Menurut saya,mestinya guru perlu mempersiapan mental anak secara bertahap agar maksimal dalam menyerap pelajaran. Semoga. ***

_Solo, 6 September 2015_

Jangan Umbar Emosi di Medsos

Media sosial memudahkan kita melakukan banyak hal, membantu memperlancar pekerjaan, menjalin komunikasi, melakukan bisnis, menemukan orang-orang yang bertahun-tahun tidak bersua dan merekatkan kembali hubungan dengan orang lain. Tetapi jika kita tidak bijak dalam memanfaatkan medsos, kerugian yang akan kita rasakan.

Sudah banyak orang yang ‘ terpancing’ dengan kecanggihan medsos sehingga kurang bisa mengontrol dirinya sendiri. Mengumbar emosi, cacimaki, menguarkan kekesalan hati . Kalau tidak bijak , bukan tidak mungkin malah  berperkara dengan hukum. Sudah ada beberapa orang yang merasakan dampaknya saat kurang bijak ber-medsos.

Saat ada orang bijak yang mengatakan," jangan mengumbar emosi di medsos ", kiranya itu peringatan yang tepat. Kelegaan setelah mengeluarkan isi hati lewat medsos, bisa jadi menjadi penyesalan yang panjang.
Bijaklah mengontrol emosi,keluarkan di waktu dan tempat yang tepat. Usahakan jangan sampai mengumbar emosi lewat medsos, apalagi saat ada ketidakpuasan dengan keluarga sendiri, terlebih dengan anak/ibu.

Berkaca dengan luapan isi hati artis Krisdayanti (KD) yang menanggapi kicauan anak sulungnya dari perkawinan pertama, Aurel Hermansyah, ibaratnya menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. KD agaknya lupa kontrol emosi saat ia menanggapi curahan hati anaknya.

Saat Aurel merayakan ultahnya yang ke-17, Sabtu (29/8/2015) malam, KD tidak bisa hadir. Barangkali Aurel kecewa dengan Miminya, sehingga ia menulis di akun Instagram-nya, @aurelie.hemansyah, mengungkapkan bahwa KD tidak datang ke pesta ulang tahunnya karena dilarang Raul, suami KD kedua.
"Sebenarnya aku nggak mau nulis ini, tp aku lelah dibilang dan dibully sebagai anak durhaka!!!" curahan hati Aurel pada Minggu.
"Mimi adalah ibu yg melahirkan aku dan aku nggak mungkin mau menjadi anak durhaka walau apapun keadaannya... Sudah 5 bulan aku nggak bisa ketemu mimi jd gmn aku bs post foto sm mimi ,” tambahnya lagi.

KD agaknya kelewat emosi sehingga membalas kicauan anaknya,
"Kondisi terakhir yg membuat saya sangat terpukul krna sikap tidak sopan kedua anak sy Aurel dan Azriel, sy jga sebagai ibunya malu atas tindakan anak saya. Sy berharap jg suami sy memaafkan mereka," balas KD dalam akun Instagram-nya, @krisdayantirl, Minggu (30/8/2015).
"Sy sangat paham dengan curahan hati anak saya Aurel. Dulu2 malah suami saya selalu mengingatkan saya untuk selalu berusaha contact anak2 dan ajak bertemu supaya bisa dekat dengan anak2. Namun setiap mau ketemu tiba2 anak saya yg batalkan dgn alasan ini itu. Itu semua saya pahami karena mungkin dengan kesibukan mereka," tambahnya.


Apa yang diungkapkan KD melalui akun instagramnya sebagai balasan dari tulisan anaknya, menurut saya kurang tepat. Bukankah itu artinya ia membuka aib sendiri? Sebagai selebritis yang banyak disorot public, mestinya ia bisa mengerem emosi dan menyampaikan secara baik-baik ke putrinya tanpa melalui medsos. Masyarakat yang tidak tahu hubungan keluarga mereka, jadi tahu setelah apa yang mereka tuliskan. Kenapa KD-nya sebagai ibu tidak memerankan sosok ibu yang diinginkan anaknya? Bisa saja ia menanggapi ungkapan Aurel dengan cara menelpon anaknya dan memberikan pengertian  baik-baik alasan ketidakhadirannya sekaligus menjawab tentang kondisi 5 bulan terakhir yang menyebabkan anaknya susah bertemu dengannya.

Saya memahami perasaan Aurel, gadis remaja yang dalam masa pertumbuhan, mencari jati diri dan terus berusaha membaca , memahami situasi hubungan miminya dengan ia, ayah dan adiknya. Sebagai anak yang saat itu beranjak remaja dan tahu Miminya meninggalkan Pipinya kemudian menikah dengan laki-laki yang juga meninggalkan keluarganya, ia pastilah sangat kritis dan tanggap situasi yang terjadi saat itu. Meskipun ia masih dianggap anak-anak , tetapi ia juga punya perasaan dan pasti tahu kalau apa yang dilakukan Miminya tidaklah mendapatkan kerelaan hatinya.

Untuk itu, kita bisa belajar dari pengalaman tersebut. Menurut saya, sebaiknya orangtua dan anak , dalam kondisi semarah apapun, jangan sampai mengumbarnya melalui medsos. Dalam hitungan detik semua jutaan orang bisa mengetahui apa yang mestinya tidak boleh diumbar ke publik. Usahakan jangan mengumbar masalah keluarga sendiri di muka umum, karena bisa jadi masalah tersebut adalah aib bagi keluarga sendiri .

Bijaklah menggunakan medsos, kendalikan, manfaatkan medsos untuk membantu kita. Jangan sampai kita yang dimanfaatkan medsos .
Semoga bisa menjadi bahan perenungan kita bersama, amin.

KD, kalau boleh menyarankan, telpon  dan ajaklah putrimu bertemu. Peluk Aurel  dengan hangat dan penuh kasih sayang. Ajaklah ia bicara, selayaknya seorang ibu mengajak bicara anaknya. Dengarkan curahan hatinya, bicaralah antara dua orang wanita. Insyaallah Aurel mau mengerti. Smoga  kesalahpahaman bisa terselesaikan.
Aurel, dengarkan kata Mimi-mu. Ia sangat sayang padamu, hanya perlu  meluangkan waktu khusus untukmu dan Azril. Kau sudah remaja, beranjak dewasa, pasti kau bisa memahami  keadaan  Mimimu.

_Solo, 31 Agustus 2015_

Rabu, 14 Oktober 2015

Nama-nama Unik, Ada Tuhan,Saiton, dan..

Kalau selama ini kita biasa mendengar  istilah ‘apalah artinya sebuah nama’, tetapi sejak seorang warga asal Banyuwangi yang bernama Tuhan banyak dibicarakan di media sosial, sebuah nama menjadi sangat berarti.
Nama yang melekat pada seseorang dan menjadi identitas diri, diberikan oleha orangtua mestinya dengan keinginan, harapan tertentu. Rasanya tidak ada orangtua yang memberikan nama asal-asalan saja kepada anak-anaknya , apalagi hanya sambil lalu. Bahkan banyak orangtua yang sejak jauh-jahu hari sebelum anaknya lahir, sudah mencari calon nama yang akan diberikan ke anaknya. Dengan berbagai pertimbangan, mencari namkma yang tepat. Karena bagi orangtua sebuah nama adalah doa, harapan yang kelak ingin terwujud.

Ada lho nama-nama unik, tak biasa di Indonesia. Selain Tuhan dari Banyuwangi, ada lagi nama Tuhan , seorang warga Probolinggo yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat batu bata. Kemudian ada Saiton dari Palembang yang  berprofesi sebagai guru dengan gelar Msi.


Sebagian orang menganggap nama tersebut kurang lazim, tidak biasa dan terdengar aneh , karena bukan seperti nama pada umumnya. Bahkan banyak orang yang lalu meributkan, memperbincangkan dan ada yang menyarankan ganti nama.
Kenapa ada yang  meributkan nama-nama tersebut. Toh, selama mereka warga yang baik, tidak merugikan orang lain, tidak berbuat kriminal, tidak mencuri uang rakyat, biarkan saja mereka tetap nyaman dengan nama yang disandang sejak lahir. Soal orang menganggap aneh, biarkan itu yang merasakan mereka yang bersangkutan. Bukankah bertahun-tahun mereka sudah terbiasa dengan nam itu dan merasa ya seperti nama pada umumnya.
Oya, kalau mau tahu lagi, masih banyak nama-nama yang jarang dipakai oleh orang, seperti

 • Gulat Medali Emas Manurung, tersangka suap Gubernur Riau nonaktif.
• Dua Malam Sehari, manajer turnaman sepakbola di Karanganyar
• Idealis Radikal , pernah bermain di Persela Lamongan
• Gutmorning, orang Jawa Tengah
• Satria Baja Hitam , orang Lampung Selatan
• Minal Aidin Wal Faizin, asal Tangerang, Banten
• Selamet Dunia Akhirat, asal Purbalingga
• Sechah Walafiat, asal Solo
• Royal Jelly, pengemudi taxi
• Rinso, warga Kaltim
• Anti Dandruf
• Dont Worry
Nama-nama tersebut hanya satu yang saya tahu dan kenal langsung, hanya tahu dari teman dan sebagian dari media massa.

Nah, kalau nama ini SURGA, saya kenal dan tahu langsung orangnya karena tetangga saya sendiri.
Surga, anak laki-laki usianya sekitar 12 tahun, anaknya kecil tinggi kurus. Rajin ke masjid dan sangat penyayang. Meskipun masih kecil, anak sulung dari dua bersaudara ini cukup dewasa. Ia rajin membantu orangtuanya terutama ibunya yang folio sejak kecil dan mengalami keterbatasan aktivitas. Menurut Surga, namanya indah karena diberikan orangtuanya. Meskipun tidak biasa dipakai, tetapi ia malah senang karena mungkin ia satu-satunya orang yang bernama Surga (katanya sambil tertawa).



_Solo, 30 Agustus 2015_


Kenapa Anak-anak Lebih Senang Makan di Luar Rumah?

"Anak saya susah makan. Tapi kalau makan diluar..wah lahap dan banyak sekali." Kata Mama Anggra, mamanya teman anak saya, saat menjemput anak pulang sekolah. "Padahal saya sudah masak enak, kesukaannya. Eh tetap saja malas makan. Maunya makan di luar terus," tambah Mama Anggra lagi.
"Memang menu makanan diluar beda, Ma?" tanya saya.
"Nggak lho Ma. Anggra tuh senang ayam goreng, sudah tak buatin. Kalau makan di luar ya minta ayam goreng lagi," sungutnya tidak tahu kenapa anaknya lebih senang makan di luar.  Padahal masakan mamanya Anggra itu enak lho. Nggak kalah dengan rasa masakan yang biasa di beli.
"Mungkin kalau di rumah makannya pakai sayur, kalau beli diluar makan garingan (tanpa sayur) saja?" tebak saya.
Mama Anggra terdiam, kelihatan mengingat-ingat sesuatu. " Iya, saya kira memang begitu, Ma," katanya tiba-tiba.

Masalah anak susah makan rasanya sudah dialami semua ibu, tak terkecuali saya. Sebagian besar teman-teman saya juga mengeluh hal yang sama. Anak susah makan, tetapi suka dengan camilan dan semangat saat diajak makan diluar. Meskipun dengan menu yang sama plus rasa yang  berani bersaing dengan rumah makan, tetapi anak tetap saja  suka makan diluar.

Kenapa anak lebih suka  makan di luar rumah?
Saya menduga karena anak merasa lebih nyaman makan dengan suasana yang berbeda dari rumah. Rumah makan lebih menarik karena mampu memberikan tempat yang nyaman, menarik dan menyajikan menu masakan yang dikemas menarik.

Bisa juga karena rasa masakan di luar lebih enak, gurih, mantap dibandingkan dengan masakan ibu di rumah. Harus kita akui, saat memasak kita lebih berhati-hati sehingga memilih untuk menghindari bumbu-bumbu yang disinyalir dalam jangka penajng berbahaya bagi tubuh.  Kalau rumah makan lain lagi, tidak terlalu memikirkan jangka panjangnya, tetapi yang penting masakan enak, gurih, lezat. Tak peduli taburan bumbu yang banyak bahkan berlebihan. Meraka cenderung mengejar pelanggan agar datang lagi karena ketagihan dan mendapatkan untung besar. Urusan kesehatan itu urusan pelanggan sendiri, kira-kira begitulah yang mereka pikirkan.

Kemungkinan yang lain, saat makan diluar, anak lebih leluasa memilih menu yang disukainya termasuk makanan garingan (makan tanpa sayur). Ibu jarang memaksa anak untuk makan sayur (yang mungkin tidak disukai Si Anak). Ibu juga tidak mau berdebat dengan anaknya ketika makan diluar. Lain lagi kalau di rumah, ibu lebih leluasa untuk memaksa anak makan sayur meskipun tidak disukai anaknya.
Menyediakan menu makanan buat keluarga gampang-gampang susah. Selera  makan antar anggota keluarga bisa berbeda, sehingga tidak semua masakan yang kita sajikan diminati. Sudah begitu, saat kita repot-repot masak, eh masakan tidak di makan. Ujung-ujungnya masakan sia-sia saja. Lebih sia-sia lagi saat sudah masak tetapi anak menginginkan makan di luar.

Untuk itu, sebagai seorang ibu, kita di tuntut untuk 'lebih pintar' dibandingkan dengan anak kita.  Menyediakan menu makanan yang disukai   anak secara lebih variatif juga bisa membantu menarik perhatian. Kalau anak lebih suka makan diluar, ibu  bisa saja mengabulkan keinginannya tetapi tentunya dengan syarat tertentu. Misalnya hanya boleh seminggu sekali, itupun kalau semua PR selesai dikerjakan. Sekolahnya rajin, menyelesaikan tugasnya. BOleh makan diluar tetapi harus dengan sayur. Setiap hari makan di rumah  tidak boleh malas/asal-asalan,  dan sebagainya.

Intinya anak tidak dibiarkan terus merasa  nyaman  saat makan diluar,  tetapi juga harus  dengan sukarela makan di rumah. Kalau memungkinkan  aturlah situasi rumah paling nggak  agak  mirip dengan situasi rumah makan. Atau sesekali ubah tatanan rumah  agar tidak membosankan.

_Solo, 29 Agustus 2015_

Jangan Ada Lagi 'Orang Miskin Dilarang Sakit'

Sedia payung sebelum hujan, peribahasa itu tepat untuk masyarakat yang ingin hidupnya lebih nyaman, aman dan tidak panik saat tiba-tiba sakit. Pastilah tidak ada seorangpun  yang ingin sakit, tetapi jika sakit datang, siapa yang bisa menolaknya?
Wes awak loro, isih mikir biayane” (Sudah merasakan sakit, masih harus memikirkan biaya berobat ) keluhan seperti itu biasa saya dengar. Dan saya sendiri juga merasakan hal yang sama. Seperti jatuh masih tertimpa tangga pula. Nasib jelek yang bertumpuk-tumpuk.

Kami sendiri pernah merasakan hal yang sama. Saat anak-anak masih kecil, tiba-tiba sakit dan harus di opname. Kebetulan kami tidak mempunyai asuransi kesehatan, sehingga biaya rumah sakit yang cukup tinggi bagi kami ( tahun 2003 dua anak sakit masuk rumah sakit karena diare, opname 3 hari dengan biaya sekitar Rp 4,5 juta) harus ditebus dengan mengambil tabungan yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun –tahun untuk keperluan lain. Rasanya kerja keras bertahun-tahun habis dalam sekejap. Tetapi demi anak, apapun akan kami lakukan.

Selain biaya yang cukup tinggi saat anak-anak masuk rumah sakit, biaya berobat jalan ke dokter juga cukup menguras kantong kami yang hanya  pegawai biasa di salah satu kantor swasta. Beruntung kami jarang sakit, hanya sesekali sakit ringan yang tidak memerlukan opname. Hanya anak kami  yang beberapa kali  sakit.

Premi Terjangkau Bikin Hidup Nyaman
Senang dan lega, itulah perasaan kami, saat tahun 2014, pemerintah mempunyai program Jaminan Kesehatan Nasional yang terkenal dengan BPJS Kesehatan.

Rasanya tak salah lagi, program ini meringankan beban masyarakat seperti kami. Saat asuransi  kesehatan lain tak bisa kami jangkau karena mematok premi tinggi , rata-rata diatasRp 350.000 pernasabah /bulan, dengan ikut BPJS Kesehatan hanya cukup merogoh kantong Rp 59.500/bulan/orang untuk kelas 1. Sementara untuk kelas 2 hanya Rp 42.500/bulan/orang dan kelas 3 denga Rp 25.500/bulan/orang.
Sampai dua bulan pertama sejak diluncurkan, kami mengikuti informasi seputar BPJS Kesehatan. Pernah langsung mau ngurus kepesertaan tetapi urung karena setiap datang ke kantor BPJS Kesehatan selalu penuh orang yang antri. Saya melihat antusias masyarakat cukup tinggi untuik mendaftar.

Akhirnya tanggal 6 Maret 2014, saya datang ke kantor BPJS Kesehatan di kota Solo. Karena baru berjalan di bulan ketiga, antrian panjang mengular. Saya harus sabar untuk dilayani karena lebih dari tiga loket Customer Service (CS) dibuka untuk melayani pendaftar. Sekitar satu jam kemudian saya mendapatkan giliran dilayani para petugas yang ramah dan memberikan penjelasan yang saya butuhkan. Proses berlangsung dengan cepat, sampai saya mendapatkan kartu peserta BPJS kesehatan setelah membayar
premi untuk satu
 bulan.

Hari itu juga, kami sekeluaraga resmi terdaftar sebagai anggota BPJS Kesehatan secara mandiri. Hidup kami rasanya lebih nyaman karena untuk urusan kesehatan sudah tidak terbebani.
Selama setahun lebih kami menjadi peserta, sudah berkali-kali kami menggunakan kartu BPJS untuk berobat ke dokter keluarga. Beberapa kali juga menggunakan rujukan dokter faskes pertama untuk berobat ke rumah sakit. Saat berobat, tidak usah pusing memikirkan biaya. Tinggal membawa kartu dan menunggu antrian. Sementara untuk berobat ke rumah sakit tinggal menyiapkan berkas rujukan dan kartu peserta serta  antri di rumah sakit.

Kami benar-benar merasakan keuntungan menjadi peserta BPJS kesehatan karena:
 Pertama, hidup kami menjadi lebih nyaman karena ada jaminan pengobatan saat keluarga  sakit. Tidak perlu mengeluarkan biaya besar saat berobat apalagi kalau sampai opname. Tidak ada beban lagi jika sewaktu-waktu keluarga ada yang sakit.
Kedua, premi tidak membebani, tergolong murah dan terjangkau. Mana ada asuransi lain yang berani menanggung biaya pengobatan pesertanya dengan premi sekecil itu?
Ketiga, tidak merasakan diskriminasi pelayanan kesehatan. Selama menjadi peserta, kami merasakan pelayanan rekanan BPJS Kesehatan (dokter keluarga/faskes pertama dan rumah sakit) tidak berbeda seperti saat kami bukan peserta BPJS Kesehatan.  Alhamdulillah informasi yang beredar kalau peserta BPJS diperlakukan berbeda dengan peserta umum belum pernah kami alami. Dokter keluarga dan rumah sakit rujukan melayani dengan ramah selayaknya peserta umum lainnya.

 Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan BPJS Kesehatan, apalagi dalam usianya baru satu tahun. Meskipun dirasakan manfaatnya tetapi kami berharap BPJS Kesehatan tetap meningkatkan pelayanannya. Berikut beberapa masukan untuk BPJS Kesehatan :
Pertama, pihak BPJS Kesehatan perlu meningkatkan pelayanan terkait informasi kerjasama dengan rumah sakit. Selama ini ada pengalaman pasien yang opname di rumah sakit tetapi tidak bisa mendapatkan ruang perawatan sesuai dengan kelasnya. Pihak rumah sakit mengatakan kalau kelas ybs ( sesuai dengan kelas peserta) sudah habis sehingga mau tidak mau harus mengambil ruang dengan kelas yang lebih tinggi. Sehingga pasien menambah biaya sendiri. Kami sendiri belum pernah opname, sehingga tidak tahu persis. Tetapi banyak informasi seperti itu. Kedepan ada baiknya rumah sakit bisa menambahkan informasi secara terbuka (online) yang bisa dicek sewaktu-waktu ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit ybs.
Kedua, rujukan rumah sakit (tipe B, C) dari dokter keluarga/faskes tingkat pertama perlu di pikirkan ulang sehingga tidak terjadi penumpukan di rumah sakit tertentu. Saya mengalami beberapa kali saat berobat ke rumah sakit dengan antrian yang sangat panjang. Untuk diperiksa dan antri mengambil obat tidak cukup dengan 4 jam mengantri. Hal itu membuat pasien merasa tidak nyaman karena lamanya waktu berobat. Karena lama mengantri, saya biasanya pulang dulu baru mengambil obat sore harinya.
Ketiga, hendaknya informasi kerjasama pihak BPJS Kesehatan dengan pihak lain, misalnya saat ada program papsmear gratis di maximalkan. Kedepan hendaknya setiap dokter keluarga/faskes tingkat pertama memberikan informasi bentuk kerjasama tersebut sehingga peserta BPJS Kesehatan bisa memanfaatkannya.

Akhirnya, sebagai masyarakat biasa, saya berharap kelak tidak akan ada lagi sindiran, “orang miskin dilarang sakit”. Kenapa? Karena dengan premi yang terjangkau, seluruh masyarakat Indonesia mestinya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai,  nyaman, tepat, memuaskan, sesuai dengan kebutuhan.***

_Solo, 28 Agustus 2015_

Ibu Kenapa Kakak Berbeda


....setiap anak dilahirkan dengan membawa keunikan dan keistimewaan tertentu, maka syukurilah semua anugrah Tuhan ..


“Ibu, kenapa kakak berbeda?” tanya seorang anak kepada ibunya. Si Ibu hanya memandang anaknya sekilas dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memberikan gadget kepada anak perempuan berponi tersebut.

Pagi itu, kami sedang menunggu antrian di sebuah rumah sakit. Kebetulan saya menunggu di depan periksa dokter mata. Saya tidak tahu siapa yang di tunggu ibu dan anak perempuan cantik itu. Tetapi saya melihat di sebelah, ada sebuah ruangan tertulis Ruang Okupansi. Saya langsung menebak kalau ibu itu sedang mengantar anaknya periksa di Ruang Okupansi.

“ Bu? Kakak?” tanya anak perempuan itu lagi. Wajah polos anak enam tahun itu terus menunggu, menanti jawaban dari ibunya yang tak kunjung menuntaskan rasa penasarannya.
“Sstttttt…..DIAM ” bentak Si Ibu membuat wajah anak itu mengkeret dan beralih ke layar gadget. Wajah Si Ibu tampak merah dan sesekali melihat kursi kanan dan kiri, ke pengantri lainnya, ia berusaha menyembunyikan rasa malu.
Belum sampai dua menit, Si Ibu meminta anaknya diam, tiba-tiba dari Ruang Okupansi terdengar teriakan-teriakan ribut suara anak kecil dan orang dewasa yang mencoba membujuk.
Dengan cepat, Si Ibu langsung berdiri dan masuk ke ruangan tersebut. Saya tidak tidak apa yang terjadi, tetapi suara ribut anak kecil semakin mengeras dan suara ibu dan seorang suster terus membujuknya untuk tidak rewel.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki sekitar sekitar umur 8 tahun berlari keluar ruangan sambil menelengkan kepala, miring-miring dan meracau tidak jelas. Suaranya ah, uh tidak jelas. Si Ibu mengejarnya , membujuk, menarik tangan , tetapi tidak dihiraukan si anak yang berdiri tegak di dekat tembok. Ia cuek saja dengan bujukan ibu. Bahkan ketika ibunya memberikan sebuah HP, dengan cueknya ia ambil dan di otak atik sebentar . Saat suara sebuah lagu anak-anak terdengar, ia senang, mengoyang-goyangkan kaki dan badannya. Ibu itu terus membujuk agar anaknya mau masuk, bahkan dengan ancaman HP akan diambil kalau tidak mau menurut. Lagi-lagi Si Anak cuek saja, asyik dengan musik yang dia dengarkan dari HP.
Kesabaran ibu itu habis, ia membentak dan menarik tangan anaknya dengan kasar, tetapi dibalas dengan suara lengkingan marah dan hentakan kaki Si Anak. Kemudian, lagi-lagi ia asyik lagi dengan HPnya. Saat seorang suster membantu membujuknya, ia tidak tergerak. Bahkan saat adiknya ikut menghampiri dan menarik tangannya , ia tetap tak peduli.

Beberapa orang yang antri mau tidak mau memperhatikan Si Anak laki-laki itu. Saya juga ikut memperhatikan. Semula ingin ikut membujuk tetapi tidak jadi lantaran suster yang membujuk tidak mampu membuat ia tergerak dan akhirnya menyerah, meninggalkan ibu dan Si Anak Laki-laki berdiri di dekat tembok. Si Ibu marah, gelisah, salah tingkah dan berkali-kali melihat ke arah kami dengan wajah masam.
Saya perhatikan, Si Anak tersebut anak berkebutuhan khusus. Kemungkinana anak autis, melihat keterlambatan bicara, keasyikan bermain sendiri, hiperaktif motorik, tertawa sendiri, marah tanpa sebab, asyik dengan dunianya sendiri.

Saya jadi teringat dengan anak tetangga satu komplek perumahan. Sejak kecil ia memang tidak dianugrahi kemampuan fisik yang sama dengan teman lainnya. Ia difabel / different abilities people (orang dengan kemampuan yang berbeda). Tidak bisa berjalan, dan untuk melakukan kegiatan fisik harus dibantu orang lain. Ia anak sulung (saat ini usia 16 tahun) dan mempunyai seorang adik. Hebatnya keluarga tetangga saya ini, sejak kecil ia tidak pernah malu untuk mengenalkan anaknya kepada orang lain. Terhitung ia orang baru, bukan penghuni pertama di komplek perumahan sehingga saat ia pindah , semua tetangga tahu kondisi anaknya. Meskipun kemana-mana menggunakan kursi roda, ibu dan suaminya tidak pernah berusaha menyembunyikan keadaan anaknya. Saat ada acara di RT, ia selalu membawa anaknya dalam kursi roda. Dan hebatnya lagi ia memperlakukan anaknya seperti anak –anak lainnya .
Saya salut melihat anak keduanya/adik Si Sulung juga biasa saja, menerima keadaan kakaknya dan mengajak bermain kakaknya. Terlihat ia tidak terbebani dengan keadaan kakaknya.
Suatu saat saya pernah bertanya, bagaimana ibu bisa mengkondisikan anak kedua sehingga mampu menerima kakaknya yang mempunyai kemampuan berbeda tersebut?
Jawaban ibunya sungguh mengharukan,” Anak itu  amanah Tuhan, seperti apapun keadaanya harus bisa kita terima dengan lapang dada. Masih banyak yang tidak mempunyai keturunan, dan saya dipercaya untuk merawat anak saya. Untuk itu, kami harus bisa menerima dan memperlakukan seperti orang biasa. Adiknya sejak kecil, saat ia mengenal kakaknya ya kami kondisikan keadaan kakaknya. Dan ia bisa menerima itu.”

Memang saat ini sebagian besar masyarakat sudah mulai terbiasa melihat orang difabel, tidak menganggap orang yang ‘aneh’. Meskipun tidak menutup mata, mungkin masih saja ada yang beranggapan aneh dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Saat masyarakat mulai terbiasa dan menganggap difabel seperti mereka, sayangnya masih saja ada keluarga yang mempunyai anggota keluarga difabel belum cukup ‘nyaman’ membaurkan anggota keluarga tersebut di tengah masyarakat. Rasa rendah diri, malu, takut dipermalukan, dll  menjadi alasanannya. Yang lebih memprihatinkan saat anggota keluarganya sendiri ‘belum bisa’ menerima kehadiran keluarganya yang lain daripada yang lain itu.

Belajar dari pengalaman tetangga saya, sejak dini sangat penting untuk mengkondisikan keluarga untuk menerima anggota keluarga yang kebetulan difabel. Secepatnya memberikan pengertian dan penjelasan , diharapkan secepat itu pula keluarga bisa memahami dan menerima perbedaan keluarganya. Sehingga keluarga tidak sampai bertanya-tanya tentang perbedaan, tidak malu dan rendah diri. Keluarga adalah kekuatan dan beteng pertahanan utama bagi anggota keluarganya, sehingga semestinya keluargalah yang akan menjadi pelindung saat anak difabel mendapatkan ketidaknyamanan dari lingkungannya.

 Solo, 27 Agustus 2015_

Rabu, 02 September 2015

Belajar Syukur dari Para Perempuan Hebat

Jangan selalu melihat ke atas, sering-seringlah melihat ke bawah. Kalimat penting itu sangat tepat, agar kita tidak selalu merasa kurang dan mestinya harus bisa bersyukur saat melihat orang-orang yang kondisinya di bawah kita.



Sumpek dengan lingkungan kita? Bosan dengan  aktivitas sehari-hari?  Binggung dengan banyaknya beban, tagihan, kebutuhan yang  merangkak naik?  Tak ada salahnya sedikit mengurangi beban pikiran dengan berjalan-jalan. Banyak hal menarik dari hal sederhana yang ada di sekitar kita. Melihat dan berbincang dengan orang-orang yang selama ini jarang kita perhatikan mungkin akan mengurangi beban yang ada di pikiran kita.

Sederhana saja, luangkan waktu untuk bicara dengan orang-orang yang mungkin belum pernah  anda ajak bicara. Bisa orang-orang dijalan yang biasa nongkrong di warung-warung tenda, hik, pinggir jalan, atau di pasar.

Seminggu sekali saya ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan saya sering bertemu dengan orang-orang baru yang baru kali itu saya temui, atau bertemu beberapa kali dengan pedagang pasar. Sambil belanja , biasaanya saya mengajak mereka gobrol. Bermacam-macam hal, dari harga kebutuhan pokok, keseharian mereka sampai  hal-hal ringan seperti kebiasaan para pedagang. Tak heran, waktu belanja saya biasaanya lebih lama.

Dari merekalah,  banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Kesabaran, keuletan, ketelatenan, ketabahan, sikap nrimo, rasa syukur yang besar dan hidup sederhana.  Terutama dari sikap pedagang yang sudah lanjut usia, yang hampir semuanya perempuan. Puluhan tahun berdagang dengan penghasilan yang tidak seberapa, tetapi mereka mampu mensyukuri hidup ini dan tetap bersemangat terus mencari sesuap nasi.
Jika di kalkulasi, kadang kita merasa tidak bisa berpikir , kok bisa ya sehari dengan laba sekian rupiah bisa  bertahan hidup, menyekolahkan anak dan tetap setia dengan pekerjaanya? Itulah hidup, terkadang susah untuk dilogika. 

Mbah Atmo (bukan nama sebenarnya) puluhan tahun berjualan kecambah, terkadang pisang, tempe, sayuran dan hasil tanaman seadanya yang ia tanam dan beli dari tetangga, selalu bersyukur di masa tuanya masih diberikan kesehatan. Meskipun tidak mendapatkan hasil banyak dari berjualan, tetapi toh baginya itu sudah cukup. Ia sehat, tidak merepotkan anak cucu dan bisa makan sendiri tanpa bergantung kepada orang lain/keluarga itu sudah kebahagiaan tersendiri. Baginya hidup tidak hanya sekedar mempunyai  uang sekian rupiah, tetapi hidup untuk melihat anak cucu sehat, kecukupan sandang pangan  dan ia bisa berkumpul dengan teman-temannya.

“Uripkuwi gur mampir ngombe”  (hidup itu ibaratnya  hanya sekedar mampir istirahat untuk  minum saja) , ungkapan Mbah  Parni (nama samaran), yang sehari-hari berjualan tahu. Tak banyak barang dagangannya , hanya dua ember kecil itupun tidak penuh. Tidak banyak uang yang ia bawa pulang, tetapi ia merasa senang dan bersyukur. Hidup hanya sebentar, ia tidak terlalu ngoyo(membabi buta) dalam mencari nafkah. Baginya ada waktu yang ia sisihkan untuk beribadah dan bekerja. Ia pun berdagang juga agar bisa bertemu dengan teman-teman, mengisi masa tuanya yang sendirian.  Uang untuk makan ada dari anaknya , tetapi toh ia tetap ke pasar, sekali lagi untuk tetap bertemu dan berkumpul dengan temannya.

Tak berbeda dengan Mbah Sur (samaran), berjualan pisau  dan alat dapur lainnya seperti cangkir, piring, sednok, mangkon, saringan dll sejak usia muda. Terhitung sudah lebih dari empatpuluh tahun berjualan. Meskipun hidup susah dan hanya pas-pasan saja, tetapi toh ia tetap riang menghadapinya. Terkadang dalam satu hari daganganya tak laku, ia santai, nrimo saja. “Rejeki sudah diatur Gusti Allah,” tuturnya ringan seringan ayunan kakinya yang menua di makan usia.  Saat ke pasar ia merasa kakinya bersemangat dan tak merasa membawa beban berat , padahal ia biasa mengendong barang daganganyan di punggungnya. Sikap sabarnya dalam mencari rejeki membuatnya tidak merasa kekurangan.

Masih banyak pelajaran hidup yang bisa kita temui melalui orang-orang  tersebut.  Meskipun hidup pas-pasan tetapi tetap bersemangat dalam mencari rejeki, tetap sabar dalam mengumpulkan rupiah demi rupiah, jarang mengeluh, jujur, bersyukur atas rejeki hari itu yang mereka bawa pulang dan tidak melupakan untuk terus berusaha di esok harinya. 

Semoga sekelumit cerita ini bisa menyemangati kita untuk terus berusaha tanpa putus asa, mengurangi mengeluh, sabar dan tetap bersyukur atas semua yang diberikanNya. Kenikmatan itu tidak hanya berupa rupiah yang mengalir ke kantong, tetapi  sehat dan rasa nyaman itu juga kenikmatan yang tiada tara.***

Singkong, Dari Desa Masuk Meja Pejabat

Benar kata simbah simbah dulu, jaman bisa kewalik-walik, kebalik-balik. Wolak walikin jaman. Apa yang dulu pernah terjadi, suatu saat tidak ada dan kembali ada.
Itu bisa terjadi pada banyak hal, pakaian yang dulu pernah digemari suatu saat hilang dan muncul kembali modelnya. Rambut juga sama. Demikian juga dengan makanan.


Makanan rakyat seperti kacang rebus, pisang rebus,  gethuk, cenil, sawut, dll yang terbuat dari singkong dan ubi jalar, mulai melambung dan banyak diburu sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) mengeluarkan   Surat Edaran Nomor 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara.  SE Menteri tersebut  memberikan instruksi kepada  instansi  agar menyajikan menu makanan tradisional yang sehat dan buah-buahan produksi dalam negeri pada setiap penyelenggaraan pertemuan atau rapat.

Instruksi dalam surat edaran itu juga bertujuan untuk mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan dan  menindaklanjuti perintah Presiden pada sidang kabinet kedua tanggal 3/11/14,  yang menegaskan pelaksanaan gerakan penghematan nasional dan mendorong peningkatan efektivitas serta efisiensi kerja aparatur negara.
Tak pelak lagi, makanan tradisional yang bertahun-tahun sebelumnya ‘ tersingkirkan’ karena sebagian masyarakat lebih memilih makanan ‘modern’ , kini kembali moncer. Mungkin anak-anak kita , generasi tahun  80-an sampai  generasi sekarang  sudah jarang mengenal makanan berbahan baku singkong, ubi, talas, jagung, garut,  sagu dan dll. Mereka lebih menyukai makanan cepat saji, kue, biskuit yang bukan berbahan baku singkong. Selera mereka berbeda dengan selera simbah-simbah dan leluhurnya.


Saya, generasi  tahun 70-an , berasal dari desa dan Alhamdulillah meskipun lama tinggal di Solo tetapi masih sangat menyukai makanan yang berbahan baku singkong, jagung, ubi, dll. Saat banyak yang kurang suka memasak singkong dan menjadikannya camilan, saya sih masih rutin hampir  setiap pagi merebus singkong  atu membeli gethuk, lemet (semua berbahan baku singkong) sebagai salah satu camilan. Murah meriah, enak, dan baru-baru ini ada informasi baik untuk kesehatan.

Di Jawa Tengah, singkong biasa di baut berbagai menu makanan, baik untuk makanan pokok penganti nasi  maupun untuk makanan ringan(camilan). Sebagai makanan penganti nasi, singkong bisa diolah menjadi thiwul. Memang cukup rumit dan memakan waktu lama, dari menyiapkan singkong menjadi tepung dan di kukus menjadi nasi thiwul.  Saat saya kecilpun tidak banyak yang membuatnya, biasanya hanya ibu-ibu dari  Kabupaten Gunungkidul, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Wonogiri yang tinggal di daerah pegunungan yang membuatnya. Mereka menanam singkong sendiri dan mengolahnya menjadi gaplek .  Kemudian gaplek inilah yang dijual.  Nah, saat saya kecil sesekali ibu memasak nasi thiwul yang gapleknya di beli dari sejumlah pedagang  di Kabupaten Gunungkidul yang lebih dekat dengan tempat tinggal kami. 

Sebagai makanan camilan, singkong bisa direbus saja atau di bakar dan langsung di makan (lebih nikmat saat singkong rebus masih panas),  dibuat gethuk, lemet, sawut. Untuk makanan ringan yang kering bisa dibuat mangleng (semacam keripik singkong yang diiris tebal), keripik singkong juga lamting.
Saat ini makanan berbahan baku singkong  sudah diolah menjadi makanan ringan dengan berbagai variasi rasa dan warna.  Dari sajian dan rasa tak kalah menarik dan nikmat dengan makanan manca yang kesohor  dan banyak digandrungi anak-anak muda jaman sekarang.

Tak salah jika saya menyebutnya singkong naik kelas. Singkong  yang semula selera kelas bawah  sekarang menjadi selera  kelas menengah ke atas,  menjadi menu pilihan untuk berbagai acara, masuk hotel, menjadi sajian bagi pejabat baik di tingkat kabupaten, provinsi sampai pusat.***


Rabu, 26 Agustus 2015

Melek Bengi, Nguri-nguri Budaya Jawa

Melek bengi ( begadang), rasanya banyak orang yang sering melakukannya. Entah karena sedang lembur kerjaan, bikin skripsi, belajar, ada hajatan atau memang lagi gak bisa tidur.

Setiap daerah mempunyai tata cara, kebiasaan, adat istiadat yang bisa jadi berbeda-beda, meskipun ada daerah yang mempunyai kebiasaan yang mirip. Desa mowo toto, negoro mowo coro, begitu juga di daerah kami, meskipun jaman sudah jaman tehnologi maju, tetapi sebagian masyarakt masih memegang teguh sejumlah kebiasaan yang sudah dilakukan sejak para tetua/simbah-simbah buyut/canggah/gantung siwur/udeg-udeg. Salah satu kebiasaan yang masih dilakukan yakni saat ada hajatan pernikahan/mantu masih ada tradisi melek bengi.

Melek Bengi untuk tarawih dan pengajian bulan Ramadhan 2015
Di Jawa Tengah, terutama di pedesaan, saat ada  yang punya hajatan menikahkan anggota keluarga , sudah biasa tetangga lek-lekan/melek-melekan/melek bengi atau bedagang, tidak hanya semalam, tetapi bisa beberapa malam. Atau paling tidak begadang terutama saat malam midodareni.

Masih ingat, bulan Juli kemarin saat Presiden Joko Widodo mantu putra sulungnya mas Gibran khan? Acara melek bengi masih dilakukan, masuk salah satu proses pernikahan yang masih di lakukan.

Bukan tanpa sebab kebiasaan melek bengi/begadang tersebut. Mereka lek-lekan tidak hanya sedekedar tidak tidur atau melek sampai pagi saja, tetapi sebenarnya kebiasaan melek ini banyak tujuannya.  Antara lain,
Ngancani atau menemani keluarga yang mempunyai hajatan. Sudah pasti saat mempunyai hajatan banyak anggota keluarga jauh dan dekat berkumpul di rumah. Untuk itu perlu ada tetangga yang ikut menemani, untuk sekedar gobrol atau hanya berkumpul saja sambil bermain kartu remi, domino untuk menjaga agar mata tetap terbuka alias tidak mengantuk. Kami biasa menamai ini sebagai jagak lek (penjaga melek/terbangun).

Begadang semalaman juga mempunyai makna untuk ikut menjaga harta benda milik tuan rumah yang tentunya tersedia banyak sekali melebihi hari biasa. Harta benda tersebut dipergunakna untuk memenuhi kebutuhan hajatan, baik untuk suguhan /hidangan tetamu, untuk hantaran tetangga dan tetau juga untuk menjamu keluarga besan/keluarga pihak laki-laki.

Begadang tersebut juga dimaknai untuk menjaga sawan/ hal-hal gaib yang kurang baik, yang  kemungkinan datang kepada calon pengantin dan keluarganya. Dengan banyak orang yang ikut terjaga sampai pagi, diharapkan hal-hal gaib yang buruk /sukerto tidak akan datang sehingga semua proses pernikahan esko hari bisa berjalan dengan lancar.

Selain hal itu, melek bengi juga dimaknai sebagai rasa ikut gembira, bersyukur atas kebahagiaan keluarga yang mengelar hajatan pernikahan. Sebagai tetangga dekat sudah semestinya ikut bersuka ria atas kebahagiaan tetangga yang akan bertambah anggota keluarga yang baru.

Diakui atau tidak, biasanya para tetangga senang-senang saja dengan acara melek bengi tersebut, bahkan para bapak yang tidak terbiasa melek bengi saja juga ikut berpartisipasi menjaga kantuk di rumah yang punya hajatan. Kebiasaan lain untuk meramaikan acara tersebut,  di salah satu daerah di kabupaten Sragen dan Klaten, para bapak biasa mengadakan acara arisan rokok untuk memeriahkan acara melek bengi. Arisan rokok meskipun hanya  formalitas, sebagai penanda ikut memeriahkan acara melek bengi, tetapi tetap dilakukan dengan serius sampai ada yang mendapatkan rokok paling banyak. Rokok tersebut nantinya juga akan di nikmati bersama-sama oleh para tetangga/tamu yang melek bengi.

Bagaimana dengan kebiasaan di  daerah bapak/ibu? Sekedar berbagi cerita untuk menambah informasi, sukur-sukur ada manfaatnya, nuwun.

Jangan Sepelekan Minta Maaf Ke Pasangan

'Maaf'' sebuah kata sederhana, biasa saja, sepele, tak jarang tidak kita perhatikan secara serius.

Kami ...


Di satu sisi ada orang yang ‘malas’ dan pelit untuk mengucapkan kata maaf, karena menganggap itu nggak penting, merasa tidak melakukan kesalahan fatal sehingga tidak perlu minta maaf.
Sementara di sisi lain  ada orang-orang yang dengan mudah menghamburkan kata ma’af tanpa dirasakan kedalaman makna dari maaf itu sendiri, sehingga kesannya hanya kata saja yang terlontar di bibir, terasa ringan , mudah diucapkan dan merasa sudah selesai , sudah plong saat sudah ada kata maaf. Sehingga kesannya maaf hanya sekedar formalitas saja.  Meskipun pasti banyak juga orang yang mengatakan kata maaf dengan ketulusan hati dan niat sungguh-sungguh disertai hati yang jernih dan dada lapang.

Mungkin kita dengan mudah meminta maaf kepada orang lain, tanpa beban dan tulus. Bahkan merasa sudah sewajarnya minta maaf kepada orang lain , entah itu saudara, teman, tetangga, kenalan dll.

Tetapi adakah yang ‘lupa’ untuk meminta maaf kepada pasangan?  Meski terkesan sepele, terkadang kita melupakan bahwa jika ada suatu kesalahan/ hal yang kurang berkenan di hati pasangan kita (terutama suami/istri) kita seharusnya juga minta maaf.

Dari beberapa obrolan ringan dengan beberapa teman/ tetangga/saudara, sebagian besar mereka  merasa tidak perlu minta maaf kepada pasangan masing-masing. Jawaban yang mencegangkan adalah karena mereka merasa sudah  ‘bukan orang lain lagi’ , ‘sudah keluarga sendiri’, ‘ pasangan sudah menjadi bagian dari kita’  sehingga merasa sah dan wajar saja jika tidak perlu minta maaf pada pasangan.

Dan yang lebih membuat saya terkejut saat ada yang bahkan saat hari raya idul fitri (bagi yang muslim) pun mereka tidak minta maaf kepada pasangan. Padahal mereka minta maaf kepada orangtua, sauadara, tetangga, teman, dlll lho. Sementara kepada pasangan mereka bisa’lupa’? 

Alasan yang disampaikan, bagi suami menganggap seharusnya istrilah yang minta maaf terlebih dahulu, baru suami yang minta maaf. Sementara bagi istri merasa ya sudah nggak perlulah, lha wong setiap hari ketemu dan merasa suami sudah bukan orang lain lagi. What? Justru karena setiap hari ketemu itu memungkinkan banyak kesalahan dan khilaf tho (batin saya).

Saya pernah mendengar  cerita sebuah keluarga saat mereka berantem hebat dan diambang perpisahan. Suami dengan kata-kata kasar mengungkit kepada istrinya kalau selama mereka menikah puluhan tahun, tidak pernah sekalipun istrinya minta maaf bahkan tidak juga di hari idul fitri. Suami merasa tidak diperlakukan sebagai seorang suami, tidak di uwongke, tidak di hargai sebagaimana mestinya. Wah ini gawat.

Bagi saya, permintaan maaf kepada  pasangan itu sangat..sangat penting. Bahkan penting sekali. 

Pertama, Meskipun sudah menjadi bagian dari diri kita, tetapi pasangan tetap orang lain yang mempunyai perasaan halus dan pasti ingin dihargai selayaknya orang lain. Jangan menganggap itu tidak penting. Maka tetaplah minta maaf kalau ada khilaf.

Kedua, suami istri biasanya setiap hari bertemu, berkumpul. Bisa dipastikan ada hal-hal yang kurang berkenan di hati masing-masing. Apa salahnya memulai terlebih dahulu ntuk minta ma’af, toh itu juga tidak akan menurunkan harga diri kita. Buat apa gengsi? Justru dengan legowo/lapang dada untuk minta ma’af terlebih dahulu itu adalah sikap mulia.

Ketiga, dengan ringannnya hati, pikiran dan bibir kita berucap ma’af, akan menambah keharmonisan dalam rumah tangga. Rasanya suami/istri tidak akan tega marah, mendiamkan, berbuat kasar kepada pasangannya ketika sudah ada permintaan ma’af. Tentunya dengan hati tulus ikhlas dan benar-benar berusaha untuk tidak berbuat khilaf lagi.

Ma’af, seuntai kata  sederhana yang ringan, mudah diucapkan. Tetapi bisa menjadi pedang tajam yang siap mencabi-cabik dan meruntuhkan rumah tangga  kokoh yang terbina lama. Untuk itu sebaiknya jangan berat bibir untuk mengucapkan kata sederhana itu. Plus di sertai dengan kesungguhan hati, insyaallah bisa menghindarkan dari hal-hal yang tidak kita inginkan.***

_Solo, 19 Agustus 2015_

Kerokan, Kearifan Lokal Pengusir Sakit Ringan

KEROKAN... Ya Kerokan...
Sudah pada tahu kan?
Pasti sebagian besar sudah tahu, bahkan sudah pernah kerokan.  Rasanya sebagian besar orang (terutama orang Jawa) sudah pernah kerokan. Sederhana saja, badan (biasanya punggung) di kerok sampai berwarna merah membara.


 (foto diambil dari  :www.google.co.id/search?q=gambar+kerokan&biw=1336&bih=591&tbm=isch&img)

Orang-orang mengenal kerokan sejak kecil, karena sejak kecil ibu-ibu membiasakan kerokan. Saat anak masuk angin, buang-buang angin, pegal-pegal, capek, meriang, pusing, batu-batuk, dan tanda-tanda terserang masuk angin, cara praktis untuk mengusir masuk angin ya dengan kerokan.

Kebiasaan kerokan sudah ada sejak dahulu, menjadi kebisaan turun temurun yang dilakukan sampai saat ini. Bagi orang Jawa, saat masuk angin ya kerokan menjadi solusinya. Tidak perlu susah payah ke didokter, minum obat , tapi cukup dengan kerokan saja. Percaya nggak percaya, biasanya solusi kerokan menjadi manjur karena badan meriang, masuk angin jadi sehat kembali. Bisa jadi itu hanya sugesti, tetapi toh tetap saja merasa sembuh berkat kerokan.

Alat yang dibutuhkan untuk kerokan hanya sederhana saja, cukup dengan sebuah koin , dulu saat saya kecil dengan uang seratus rupiah yang ukuran besar. Kedua sisinya lebih halus sehingga tidak terasa sakit jika dipergunakan untuk kerokan. Itu uang favorit untuk kerokan. Ibu saya bahkan masih menyimpan uang seratus rupiah tersebut, ya khusus untuk kerokan. Beberapa tahun kemudian uang seratus rupiah sisi halus itu sudah sulit ditemukan, maka ada uang alternative untuk kerokan yaitu uang limaratus rupiah dan seribu rupiah itu . Untuk uang seribu rupiah ada dua jenisnya, yaitu ukuran besar yang tebal dan tipis.

Punggung yang mau dikerok di olesi minyak kayu putih atau remason kemudian koin dipergunakan untuk mengerik/mengerok. Saat badan sedang tidak sehat, biasanya dijamin baru sekali dua kali di kerik sudah merah membara. Nah, saat warna merah membara itulah yakini masuk angin akan hilang/pergi. Jadi kalau belum sampai berwarna merah membara, ya jangan berharap ibu akan berhenti untuk mengerik.

Khusus untuk anak-anak bayi, anak kecil, biasanya ibu memilih menggunakan bawang merah yang dipotong untuk alat bantu mengerik. Dan itu cukup membuat anak-anak tidak rewel.

Arah kerokan biasanya dari atas ke bawah, memenuhi punggung kanan dan kiri , jadi bergaris-garis. Nah biasanya kerokan akan diakhiri dengan mengerik dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah punggung. Atau kami biasa menyebutkan di ulo-ulo.

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar kabar kalau kebiasaan kerokan kurang bagus karena bisa membuka pori-pori kulit sehingga tubuh rentan kemasukan penyakit. Jadi soal kerokan bisa menyembuhkan masuk angin belum tentu kebenarannya. Karena kabar itulah, kebiasaan kerokan menjadi berkurang.

Penelitian:  Kerokan  Aman Bagi Kulit
Syukurlah, saya senang saat beberapa hari yang lalu membaca share dari FB teman perihal kerokan. Seorang Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof Didik Gunawan Tamtomo meneliti manfaat kerokan. Penelitian itu dilakukan tahun 2003-2005. Prof Didik melakukan survey kuantitatif dan kualitatif dengan 390 responden berusia 40 tahun ke atas, hampir 90% mengaku kerokan saat masuk angin. Pasiennya mengaku kalau kerokan itu bermanfaat untuk menyembuhkan masuk angin. Dari penelitianya, dapat diketahui jika kerokan itu tidak merusak kulit. Prof Didik menjdikan dirinya sebagai obyek penelitian . Dari pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi UNS ternyata tidak ada kulit yang rusak, atau pembuluh darah pecah tetapi pembuluh darah hanya melebar. Melebarnya pembuluh darah mmebuiat aliran darah lancar dan pasokan oksigen dalam darah bertambah. Kulit ari juga terlepas seperti halnya luluran. Dan masih ada manfaat lain dari kerokan tersebut.

Hasil penelitian Prof Didik tersebut cukup melegakan terutama bagi fans berat kerokan.  Menurut saya, ternyata aman-aman saja , tidak masalah dengan kebiasaan kerokan itu.

Bagi kebayakan orang yang sudah terbiasa menyingkirkan masuk angin dengan kerokan memang tidak mudah mengubah kebiasaan tersebut. Masuk angin ? Cukup dengan kerokan dan minum jahe hangat yang di gepuk ditambahkan gula merah. Itulah pengobatan tradisional turun temurun yang selama ini mampu mengusir masuk angin dan sakit ringan lainnya semacam nyeri otot, meriang, capek-capek, mabuk perjalanan, dll.

Oya, yang membuat sakit cepat sembuh dan masuk angin pergi (minggat, maaf) karena saat kerokan biasanya ibu juga sambil bercerita banyak hal, menghibur, memijit sekaligus mendengarkan curhatan kita. Nah, saat kerokan itulah hubungan dengan ibu semakin dekat. Itu juga barangkali yang membuat penyakit menyingkir. Maka, jangan takut kerokan ya.
Semoga bermanfaat.

_Solo, 26 Agustus 2015_