Rabu, 04 November 2015

Kemarau Panjang, Murid SD Hueknutu Kupang Bawa Air Ke Sekolah

Hari belum cukup siang , tetapi panas matahari sudah sangat menyengat. Kulit saya terasa panas dan gerah. Saya melihat jam tangan saya, baru pukul 10.30. Belum terlalu siang, kok sudah kelihatan siang sekali dan panas, batin saya sambil menghindari panas dengan berteduh di bawah pohon yang daunnya sudah hampir habis karena rontok akibat kemarau panjang.

Saya, Selasa(4/11/2015)  berada di  Desa Heuknutu, Kecamatan Takari,  Kabupaten Kupang. Bagi saya desa ini  cukup sepi. Jarak antar rumah yang cukup jauh dengan pekarangan dan halaman rumah yang cukup luas membuat desa cukup sepi. Tak banyak yang lalu lalang di jalan, kata Mama Ribka(salah seorang warga) warga ada yang dikebun dan sebgaian dirumah saja. Karena tidak banyak yang dilakukan di kebun/sawah, mereka memilih di rumah saja.



Debu dari jalan aspal yang di banyak tempat sudah rusak sesekali mengebul membuat mata harus terpincing kalau tidak mau kemasukan debu. Di mana-mana sejauh mata memandang hanya pemandangan panas, gersang yang terlihat.
Repotnya, saat kemarau seperti saat ini, warga kekurangan air bersih. Sumur tidak ada yang tersisa airnya, kering kerontang. Saya sendiri melihat ke sumur warga dan tak setesepun air yang masih tersisa di sumur yang kedalamannnya rata-rata diatas tujuh meter tersebut.



Kekurangan air menjadi masalah yang dialami warga desa Huekutu sejak bertahun-tahun yang lalu. Mereka harus berjalan ke sumber air sejauh 4 Km2 untuk mendapatkan air. Hanya satu dua sumur warga yang masih menyisakan air , dan menjadi tumpuan warga desa lainnya. Susahnya air membuat mereka harus berhemat air, hanya mengunakan air untuk hal yang penting seperti memasak. Mencuci baju dan mandi mereka terpaksa ke sumber air yang letaknya jauh.

Sekolah pun mengalami masalah yang sama, tidak ada air sama sekali. Tak mau kekurangan akal, para guru di SDN Hueknutu Kecamatan Takari meminta semua muridnya untuk membawa air satu derigen saat masuk sekolah. Tak ayal lagi anak-anak selalu mengambil air ke sumber air untuk dibawa ke sekolah. Menurut nona Grace, salah satu murid kelas 5 saat saya tanya, air yang dibawa akan dimasukkan ke bak mandi sekolah dan sebagian untuk menyiram bunga. Mereka merasa tidak keberatan karena tahu tidak ada air di sekolah sama seperti tidak air di rumah mereka.

Tapi tidak semua anak setiap hari membawa air. Seperti pengakuan Thomas dan beberapa teman lainnya.  Ia mengaku lupa membawa air karena kesingan masuk sekolah sehingga terburu-buru. Apakah murid yang lalai membawa air tidak dimarahi gurunya? “Iya, beta di marahi guru,” jawabnya sambil menyeka keringat di dahinya.

Thomas, Grace dan murid lainnya sangat bersemangat ke sekolah. "Banyak belajar. Kalau sonde sekolah, beta sonde pintar," ucapnya penuh semangat. Meskipun harus membawa air tetapi toh mereka senang saja. Jarak rumah dengan sekolah yang cukup jauh tetap dijalani meski dengan  berjalan kaki dibawah terik panas.

Biasanya sepulang sekolah, mereka  tidak langsung pulang, karena jarak rumah yang cukup jauh mendorong mereka untuk berhenti istirahat duduk di tepi jalan untuk melepas lelah. Sesekali mereka juga berhenti saat ada satu dua mobil melintas. Derigen yang dipergunakan untuk membawa air tergeletak di pinggir jalan, diambil. “Ada oto bagus,” bisik salah seorang teman Grace sambil tersenyum malu-malu kepada kami. Pun saat kami tawari untuk menumpang mengantar mereka pulang. Wajah letih berganti menjadi senyum sumrigah dibalut malu-malu. Mereka tertib naik ke mobil dan terus berbisik-bisik saat di dalam mobil. Tak kurang dari 3 Km2 satu persatu mereka turun setelah mengucapkan terimakasih sambil menenteng derigen yang akan mereka gunakan membawa air esok dan esak harinya lagi. “Sampai ketemu lagi, adik, nona.”

_Kupang, 4 November 2015_

Rejeki di balik Tumpukan Sampah

Matahari belum juga muncul, gelap masih menyelimuti dukuh yang terletak persis di sebelah barat, ujung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo Jawa Tengah. Dukuh Jengglong masuk dalam wilayah dusun Tunggulrejo, Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar memang terletak di sebelah TPA Putri Cempo Mojosongo. Akses jalan raya dari Balai Desa Plesungan masuk ke timur kemudian masuk ke gang dusun. Jika dari TPA Putri Cempo, terletak persis di ujung lahan TPA tersebut. Hanya dibatasi jembatan kecil yang menghubungkan dukuh dengan TPA.

Beberapa warga sudah terbangun sejak Subuh, melakukan aktivitas rumah tangga , kemudian bersiap untuk bekerja. Demikian juga dengan sebut saja Bu Gino, usai menyelesaikan urusan memasak dan menyiapkan anaknya sekolah, ia tidak lantas berleha. Bu Gino harus bergegas untuk ke tempat kerjanya, di lahan TPA yang berusia puluhan tahun. Ia berganti kostum kerjanya, pakaian sederhana yang terdiri dari baju lengan panjang dan celana panjang yang sudah ratusan kali ia gunakan untuk ‘menyambung hidup’ keluarganya. Sebuah topi lebar dari bambu atau biasa di sebut caping menjadi salah satu ‘properti’ yang ia gunakan. Tak lupa sepatu boot plastik yang sudah mulai usang dan kaos tangan yang usianya sudah lebih dari tiga tahun melengkapi pakaian kerjanya. Keranjang besar yang teranyam dari bambu dan pengait dari besi menjadi alat utama yang harus di bawa. Seperti warga lainnya yang bekerja seperti dia, menjadi pemulung, kebanyakan mengunakan kain kecil sebagai masker yang akan melindunginya dari bau yang sangat menyengat.



Bu Gino menjadi pemulung barang bekas seperti tas kresek/platik bekas yang ia pungut dari TPA Putri Cempo. Ia tidak sendiri, puluhan tetangganya bekerja seperti dirinya Pun dari dukuh tetangga juga bekerja sepertinya.

Ia dan para pemulung sudah terbiasa menapaki TPA yang luas wilayahnya 17 hektare. Tidak semua lahan digunakan sebagi tempat pembuangan sampah. Lahan seluas itu dipergunakan untuk berbagai sarana dan prasarana TPA, seperti bangunan kantor dan parkir Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) seluas 1 hektare; IPLT (instalansi Pengolahan Lumpur dan Tinja) yang dikelola oleh PDAM namun lama mangkrak, seluas 2 hektare; dan petilasan Putri Cempo 1 hektare. Sisanya seluas 13 hektare dipergunakan untuk tempat pembuangan sampah.



Ibu yang sudah tidak muda lagi itu, tak kenal lelah,  biasa bekerja dari jam 07.30 sampai sore hari sekitar jam 17.00. Ia berangkat pagi sebelum truk DKP yang membawa muatan sampah datang. Sekitar jam 08.00 puluhan truk membawa sampah hilir mudik dan menurunkan di lahan TPA. Kalau tidak datang lebih awal, ia dipastikan kesulitan mendapatkan sampah yang berarti tidak akan banyak rupiah yang ia bawa pulang. Bukan karena berebut dengan para pemulung saja, tetapi sapi-sapi juga berebut merangsek ingin mencari sampah yang masih bisa dimakan. Gerak sapi inilah yang terkadang membuatnya kurang cepat karena terhalang puluhan sapi yang menanti sampah datang seperti dirinya.



Meski rata-rata hanya Rp 30.000/hari ia dapatkan dari penjualan sampah, tetapi ia selalu bersyukur karena masih diberikan kemurahan rejeki dari Tuhan. Ia tak pantang menyerah, terus dengan sabar dan telaten memilah sampah yang masih layak jual. Hidungnya sudah terlalu kebal dengan bau, meski tanpa masker saat memilah sampah, tak mengapa.

Saat senja mulai turun, perlahan ia melangkah terseok, membawa sisa sampah yang akan dipilah di rumah . Sebagian besar sampah sudah di beli para pengepul, sementara yang tidak laku dijual akan dipilah, dicuci dan dikeringkan. Sisa itulah akan berganti menjadi rejeki untuk keluarganya. Tak ada keluh kesah, kakinya melangkah ringan menuju tempat istirahatnya, esok ia akan kembali ke tempat yang sama , mengais rejeki bersama pemulung lainnya.

_Solo, 31 Oktober 2015_

Seputar Rica-Rica Guk-Guk di Solo

Kira-kira lima tahunan ini, sate jamu atau rica-rica atau sate guk-guk marak di Kota Solo. Sebelum tahun 2010, penjual sate jamu ini terkesan masih ‘malu-malu’, menjualnya tidak terbuka, di lapak-lapak pedagang kaki lima yang hanya menuliskan sate jamu saja, tanpa embel-embel tulisan anjing/guk-guk apalagi gambar anjing. Mengapa? Sepertinya karena pedagang sungkan/tidak enak hati menjual anjing sebagai makanan yang bagi umat muslim adalah haram.

Mereka tidak fulgar menjualnya, dan biasanya hanya orang tertentu dan pelanggan yang tahu sate jamu. Tak heran kalau ada saja warga yang belum paham dan bahkan tidak menduga sama sekali kalau sate jamu itu adalah sate anjing. Saat itu, karena banyak warga yang kecele, maka pemerintah kota Solo memberikan himbauan agar pedagang sate jamu menuliskan secara jelas bahwa sate jamu itu adalah sate guk-guk.

Nah sejak saat itulah, semua pedagang sudah terbuka, terus teras dan tak malu lagi menuliskan Sate Guk-Guk atau Rica Guk-guk, dengan gambar anjing besar. Segaja, agar orang-orang tahu bahwa mereka menjual sate anjing.
Kenapa disebut sate jamu? Konon, menurut orang-orang (yang percaya) mengkonsumsi sate guk-guk bisa menambah vitalitas dan menaikkan kejantanan. Itulah kenapa disebut sate jamu, karena bisa untuk jamu atau obat. Saya tidak tahu pasti, benar atau tidak, yang jelas kalau diamati memang banyak yang suka mengkonsumsinya jika dilihat dari warung-warung sate guk-guk yang ramai dengan pembeli. Bahkan pedagang juga pintar membuat beragam masakan dari daging anjing, seperti rica basah, rica kering dan sate.



Kalau anda ke Kota Solo, gampang sekali menemukan penjual rica Guk-guk. Di pinggir jalan besar, lapak rica guk-guk banyak betebaran. Siang maupun malam, dengan mudah ditemukan.
Saking ramainya pengemar sate jamu guk-guk, menurut data Provinsi Jateng, di Solo dalam sehari konsumsi anjing mencapai 63 ekor. Wow, jumlah yang besar. Rekor konsumsi anjing di kota Solo menjadi yang terbesar di seantero Jawa Tengah(dari total 223 ekor perhari), disusul Klaten dengan 25 ekor/hari dan Semarang dengan 22 ekor setiap harinya.

Tak heran jika para pengemar anjing di Solo menjadi risau dan semakin was-was dengan jumlah konsumsi yang besar tersebut. Bagi pengemar anjing, menkonsumsi daging anjing tidaklah manusiawi karena anjing menjadi binatang peliharaan yang mampu menjaga rumah dan disayang-sayang keluarga.  Dengan kebutuhan anjing yang sedemikian besar, bukan tidak mungkin keberadaan anjing akan mudah terkikis dan habis. Apalagi cukup miris, saat mendengar saat membunuh (maaf) anjing dengan cara yang sadis yaitu di tenggelamkan baru kemudian di sayat dagingnya. Cara tersebut diyakini membuat daging anjing lebih enak, karena darahnya masih ada di tubuh anjing , tak ada yang tercecer.

Terlepas dari enak atau enggak, buat jamu/obat atau enggak, saya setuju dengan rencana Pemkot Solo yang berinisiatif untuk membuat rancangan peraturan daerah tentang pembatasan dan kemungkinan pelarangan konsumsi daging anjing. Raperda tersebut penting mengingat pemkot Solo harus memastikan produk pangan yang dikonsumsi warganya terjamin kesehatannya. Karena sangat mungkin daging anjing yang di buat sate jamu guk-guk itu berasal dari anjing liar yang bisa jadi tertular rabies. Gak ada yang bisa menjamin mereka mengunakan anjing sehat bukan?

Nah, bagi pecinta sate jamu guk-guk, agaknya perlu berpikir ulang untuk meneruskan kebiasaan mengkonsumsi guk-guk. Jangan sampai niat untuk menambah vitalitas, menjaga kebugaran malah berakibat sebaliknya. Kenapa nggak beralih saja ke sate kambing atau sate ayam, rica ayam saja?

_Solo, 28 Oktober 2015_

Rabu, 28 Oktober 2015

Museum Sangiran, Menguak Misteri Kehidupan

Di tempat ini sejarah di torehkan perjalanan panjang nusantara terpampang jelas. Karya para peneliti yang dedikasikan hidupnya, kini harus jadi pelajaran bagi anak2 Indonesia dan dunia. (tandatangan) Anies Baswedan (26/2/2015).



Itulah kalimat yang ditulis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan, belum lama ini, tertanggal 12 Februari 2015, di satu satu sudut ruang pamer 3, diletakkan di dekat tembok sebelah barat, di bawah layar TV flat ukuran 21 inci yang memutar video proses pembuatan orang-orangan manusia purba. manRuang pamer 3 atau display area 3 adalah salah satu dari tiga ruang pamer yang ada di Museum Purbakala Sangiran.



Museum arkeologi ini terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Sebenarnya letak Museum Sangiran masuk dua wilayah Kabupaten penemuan yaitu Kabupaten Sragen yaitu Kecamatan Plupuh, Kalijambe dan Gemolong dan satu kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.




Tidak sulit untuk menjangkaunya, dari Solo kita bisa mengambil jalan lewat terminal Tirtonadi lurus ke arah pasar Nusukan terus ke utara sampai palang KA Joglo. Dari sini ada perempatan, setelah menyeberang palang Jogjlo, ambil jalan yang kanan arah kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Ikuti jalan raya tersebut sampau masuk ke kecamatan Kalijambe. Saat sudah dekat dengan lokasi, di jalan ada penunjuk arah yeng besar dengan tulisan Museum Sangiran. Nah, tinggal belok kiri menyusuri jalan desa, sekitar 4 Km dari jalan raya tersebut letak museumnya. Jadi kira-kira kalau dari Solo jaraknya sekitar 17an Km.



Mudah menjangkaunya, ada penanda, di jalan  sekitar museum terdapat toko-toko penjual souvenir yang sebagian besar terbuat dari batu, kayu dan tulang. Ya, khas dengan apa yang dipamerkan di Museum Sangiran. Tak kurang dari sepuluh toko/kios memajang dagangan mereka dengan harga terjangkau.

Memasuki pelataran musem, kita dimanjakan dengan bangunan yang cukup megah dan serba terawat dan teratur. Bangunan baru museum ini baru berusia sekitar 4 tahun, karena renovasinya tahun 2011. Dulu, bangunan museum ini masih sederhana, jauh sekali dari bangunan modern seperti saat ini.
Tiket masuknya sangat murah, hanya Rp 5000/orang saja untuk wisatawan domestic, sementara untuk wisatawan asing cukup membayar Rp 11.500. Murah sekali bukan? Sebelum masuk ke dalam museum yang sudah diakui dunia sebagai situs cagar budaya ini, pengunjung akan diminta untuk mengisi buku tamu. Dua orang petugas yang ramah sudah menanti menunggu buku tamu.



Nah, mulailah menyusuri lorong menanjak yang rapi dan bersih. Dibelokan pertama, kita bisa mulai menjawab rasa penasaran akan asal usul nenek moyang kita, dari ruang pamer 1. Disini kita bisa menemukan banyak fosil-fosil binatang purba. Semua fosil binatang purba seperti Gajah purba Elephas namadicus, Stegodon trigonocephacus, Mastodon sp, Bubalus palaeokarabau (kerbau) Felis Palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Boviade (sapi) Cervus sp (rusa), Hippopotamus sp ( kuda nil), terawat dengan baik. Hanya sayang sekali, tidak diletakkan di dalam kotak kaca, sehingga saya malah ngeri kalau ada pengunjung yang memegangnya. Rawan dan sayang sekali kalau rusak.

Beberapa manusia purba yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak kelihatan betul-betul hidup. Melihat matanya yang bersinar, rasanya manusia tersebut benar-benar menatap pengunjung tanpa berkedip. Proses evolusi digambarkan begitu jelas dengan display yang menarik. Pithecantropus Erectus dapat kita lihat di sana , namun juga fosil lain seperti Pithecanthropus Mojokertensis ( Pithecanthropus Robustus), Meganthropus Palaeojavnicus, Homo Soloensis, Homo Neanderthal Eropa, Homo Neandethal Asia, Homo Sapiensis, dll (sangat banyak).



Puas melihat ruang pamer 1, kita bisa keluar dan meneruskan ke ruang pamer 2. Disini beragam proses terbentuknya bumi, proses alam raya, gunung berapi, proses pencarian fosil manusia purba, binatang purba disajikan secara lengkap. Bahkan teori-teori Darwin dan penemu lainnya di pampangkan secara detail. Reflika orang-orangan yang sedang mencari fosil di tanah-tanah pengunungan dengan mengali lubang, mengangkat batu juga ada. Disini pengunjung bisa melihat juga kerangka manusia purba yang ditemukan di berbagai tempat seperti di Gunungkidul. Kalau pengunjung belum puas melihat langsung dan membaca penjelasan yang tertulis di setiap reflika/gambar, pengunjung bisa mencari tahu data dan keterangan lebih lengkap di audiso visual atau di laptop yang disedikan dengan berbagai keterangan. Tinggal sentuh data yang diinginkan, maka terpampanglah keterangan yang kita butuhkan. Setiap ruang pamer menyediakan audio visual dan laptop yang menyajikan data.

Di ruang pamer 3, pengunjung di manjakan dengan reflika manusia purba yang masih dipenuhi rambut, kemudian reflika besar tak kurang dari 10 meter luasnya yang memperlihatkan keadaan hutan dengan berbagai penghuninya.
Di ruangan pamer 3 ini, pengunjung bisa melihat lebih detail proses pembuatan orang-orangan/manusia purba. Dari semacam boneke yang didandani ,menyerupai manusia kemudian dibentuk mendekati wujud manusia purba. Prosesnya rumit, misalnya menempel rambut satu persatu , membuat efek kerut di wajah dll.


Meskipun belum puas melihat-lihat dan menemani anak sulung saya yang sibuk memotret setiap bagian yang ada di ruang pamer, tetapi kami toh harus keluar untuk memberikan kesempatan pengunjung lain yang menikmati museum. Hari Minggu (25/10/2015) kemarin pengunjung memang banyak sekali, terutama rombongan dari berbagai sekolah di Sragen dan sekitarnya. Akhirnya kami melepas lelah dengan duduk-duduk di depan museum yang pemandangannya asri. Meskipun hari teramat panas, tetapi mata terasa sejuk dengan melihat pohon-pohon dan bunga yang tertata apik di taman di depan museum.

Oya, bagi yang berminat membeli olah-oleh, di sekitar tempat parker ada kios-kios pedangan yang menjajakan beragam oleh-oleh seperti kaos dan souvenir lainnya.


Luar biasa, meskipun ini bukan yang pertama kali saya berkunjung ke Museum Sangiran, tetapi tetap saja rasa kagum tak bisa saya hilangkan. Meskipun masih diliputi tanya yang besar tentang apa yang sudah dilihat, tetapi rasanya cukup mengerti tentang asal usul nenek moyang kita.



Benar seperti kata Gubenrnur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang tertulis di papan tulis di ruang pamer 3, “Di tempat ini ada banyak misteri kehidupan. Semua orang bisa berlomba-lomba menguji rahasia Tuhan. Adalah yang mampu membuka tabir itu? Adakah kakek nenekku di sini?”
Ya,rasanya moyang kita ada di Museum Sangiran.

_Solo, 26 Oktober 2015_

Minggu, 25 Oktober 2015

Berkat Tangan Trampil Ini, Perca Jadi Samurai

Tak ada barang yang terbuang percuma, semua bisa dimanfaatkan dan diubah menjadi uang. Kalimat penuh makna itu keluar dari mulut, sebut saja Pak Kar. Seorang laki-laki berumur 60-an tahun yang memanfaatkan masa pensiunnya untuk terus berkarya. Ia memilih berwirausaha setelah purna dari pekerjaannya sebagai salah satu karyawan sebuah perusahaan di Jakarta. Cara cerdas dilakukan setelah melihat peluang pasar yang terbuka lebar. Sepulangnya dari merantau di Jakarta, ia memilih tinggal di rumahnya di Colomadu, Kartosuro, Kab Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Meskipun ia bisa pensiun menjelang masa tuanya, tetapi toh ia memilih untuk terus memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja dan disesuaikan dengan kemampuannya. Ia bekerja lama di bidang perbengkelan, tangannya biasa terampil mengotak-atik mesin dan memegang barang-barang kecil yang njlimet dan butuh ketelatenan.

Setelah melihat  peluang pasar yang belum tergarap, ia memutuskan untuk membuat mainan orang-orangan/boneka (model komik Jepang) Jepang yang mengunakan beragam baju khas samurai dengan segala tetek-bengek senjata andalan. Ya, tokoh-tokoh Jepang menjadikannya inspirasi karena melihat belum banyak yang menjualnya.

Dengan bahan-bahan sederhana yang mudah dicari dan harganya murah, ia mengumpulkan kain perca yang biasanya sudah dibuang oleh pemilik konvensi, membeli bahan-bahan seperti seng tipis, kawat, sumpit, benang jahit untuk melengkapi kebutuhannya membuat boneka samurai.
\


Sederhana tetapi rumit dan butuh ketelatenan untuk membuatnya, karena Pak Kar harus menjahit baju untuk bonekanya yang berukuran lebih besar sedikit dari jari manusia, kemudian menyambungnya menjadi bagian tubuh manusia dengan kerangka kawat dan membuat senjata samurai seperti pedang dengan seng tipis. Kemudian ia menyambung bagian demi bagian sehingga menjadi samurai yang gagah dengan senjata andalannya.



Dalam sehari Pak Kar bisa membuat lebih dari lima puluh boneka samurai, tetapi tergantung keinginannya, kalau dirasa cukup hanya tiga puluh buah ya sudah. Ia tidak ngoyo, tetapi semua dibawa santai saja. Boneka samurai tanpa senjata dijual Rp 5.000, sementara yang menggunakan senjata satu macam dijual sekitar Rp 15.000-17.000. Murah meriah.



Ia biasa menjual di sekolah-sekolah (SD) di Solo dan sekitarnya, juga manjajakan dagangannya di bazar, pasar malam atau acara-acara sejenisnya. Dalam sehari ia bisa membawa uang pulang rata-rata Rp 50.000- 100.000. Sesekali ia jualan di Jakarta (saat ada pasar malam) dan ia mengaku saat pasar malam jualannya bisa laku sampai Rp 500.000 dalam waktu sehari. Karena kalau di Jakarta, seorang boneka  samurai lengkap (dengan senjata) bisa terjual Rp 50.000.


_Solo, 24 Oktober 2015_
Foto. Dok. Pribadi

Jumat, 23 Oktober 2015

Mereka Belajar Kerjasama Lewat Bakiak

Seperti biasanya, pagi itu jalan Adi Sucipto penuh dengan lalulalang kendaraan roda empat dan dua. Dari arah barat dan timur, ratusan kendaraan berpacu, pengendara mencari celah yang sepi menyiasati  waktu agar segera sampai tujuan dengan cepat. Terburu-buru tetapi penuh kewaspadaan, melihat jalan hiruk pikuk tetapi tidak sampai macet.

Yang tidak biasa dipagi itu, Kamis (22/10/2015), pintu masuk Stadion Manahan sebelah selatan, tepat di sebelah jalur lambat yang saat ini sedang ada proyek pembangunan patung Presiden RI Pertama, IR Soekarno, ramai, dipenuhi ratusan kendaranaan. Lalu lalang, mengantarakan anak-anak berseragam olahraga kuning hijau, lalu kendaraan melaju kembali meninggalkan deru yang perlahan hilang di telan deru kendaraan lain.

Hari itu, kegiatan jeda tengah semeser gasal bagi anak-anak SD Djama'atul Ichwan (SD DJI) Solo. Semua anak kelas 1 sampai 6 mengikuti acara lomba permaianan yang diadakan di komplek Stadion Manahan Solo. Tak kurang dari 900 an anak bergembira ria mengikuti berbagai perlombaan seperti lomba membawa bola dengan kening, lomba bakiak, dll.



"Enak, nggak pelajaran, bisa ikut lomba," ujar Adhan, seorang murid kelas 1 sambil tertawa saat bercanda dengan temannya. Tak lama ia menjauh, langkah kaki kecilnya terlihat ringan dan gesit berlarian dengan beberapa orang temannya.

"Senanglah, bermain bersama teman setelah mid semester," jawab Mia, anak kelas 5 saat saya tanya tentang kegiatan rutin yang dilakukan sekolahanya di setelah tes mid semester.
Perhatian saya beralih saat mendengar anak-anak tertawa diselingi teriakan keras dan aba-aba dari anak-anak yang suaranya bersahut-sahutan. "AYo maju terus, ayo..ayo..ayo .... kelas 3 A..ayo..ayo" . Disleingi teriakan ," Ayo..ayo..kelas 3 D ayo...menang..menang..."

 Sesekali teriakan tersebut bercampur dengan teriakan aba-aba dari gurunya kelas mereka, yang memberikan  suport kepada tim yang bertanding bakiak. "Kanan..kiri, kanan..kiri, ayo, yang kompak.."  Empat anak berjalan diatas bakiak, bertanding dengan empat anak lainnya.
"Ini belajar kerjasama yang hebat. Kalau kami nggak kompak, nggak bisa jalan," kata Ardi, salah seorang murid kelas 3 yang berteriak kegirangan saat tim-nya menang.

Bagi anak-anak, belajar itu tidak harus di ruang kelas mempelajari berbagai pelajaran dari buku-buku. Bagi mereka bermain bersama teman juga pelajaran yang asyik. Mereka bisa belajar kompak misalnya saat ikut lomba bakiak. Belajar saling mengerti, menjalin komunikasi yang baik. Demikian juga dengan permainan lainnya.

Kegiatan jeda semester diawali hari Senin (19/10/2015) dan berakhir Jumat (23/10/2015). Berbagai kegiatan tersebut antara lain: senam bersama, praktek ibadah bersama, bermacam lomba ketrampilan, lomba ketangkasan dan besuk Jumat, hari terakhir melakukan sholat istisqa' (sholat minta hujan).
Wajah sumrigah dihiasi tawa memenuhi wajah anak-anak itu, pun ketika dengan suka ria mengambil sampah di sekitar stadion Manahan.

Melihat keceriaan yang terpancar di wajah mereka, saya menjadi ikut senang.  Dengan suasana baru, pikiran segar , mereka  lebih bersemangat saat memasuki proses belajar setelah mid semester.

_Solo, 22 Oktober 2015_

Selasa, 20 Oktober 2015

Berburu Buku Langka di Alun-Alun Kota Solo

Bagi penggemar buku, rasanya tidak  menolak jika mendapatkan  buku-buku yang dicari dengan harga murah meriah dan boleh ditawar lagi. Apalagi buku-buku yang dicari termasuk langka dan tidak mudah didapatkan di toko buku. Meskipun sebagian besar buku yang ditawarkan buku bekas atau loakan tetapi masih bisa dibaca dan dinikmati isinya.

Taman Buku dan Majalah Alun-Alun Kraton Surakarta, menawarkan bermacam buku lama dengan harga terjangkau bahkan murihh (karena murah sekali). Taman buku ini terletak di sebelah utara alun-alun utara Kraton Surakarta atau sebelah utara Pasar Klewer. Mudah sekali mencarinya. Tak jauh dari Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo, dari arah barat (menuju komplek Balai Kota) persis di depan Bank BCA, belok kiri melewati  jalan dengan naungan pohon-pohon beringin besar tak lebih dari 200 meter ambil kiri jalan. Di situlah letak Taman Buku dan Majalah  Alun-Alun Kraton Surakarta atau Solo


Kios buku berjejer menawarkan koleksi bermacam buku, sebagaian besar buku bekas.

Puluhan kios pedagang buku tersebar di lokasi taman buku yang tidak terlalu luas ini. Hampir semua kios menjual buku-buku yang sembilan puluh persen buku bekas dan sisanya buku baru yang biasa di jual di toko buku. Bermacam jenis buku, non fiksi dan fiksi.  Dari  buku sastra, politik, ekonomi, sosial, ketrampilan, pelatihan, dll sampai novel dewasa/remaja/anak, komik, majalah, dll. Komplit  sekali, tinggal pilih.  Kios ini mulai buka sekitar pukul 09.30 sampai sore Pk 16.00. Para pedagang bisa menjual murah karena mendapatkan buku-buku dengan harga murah, berasal dari persewaan buku (yg mungkin bangkrut atau memperbarui buku-bukunya) atau dari pedagang/pengepul buku yang biasa membeli buku/majalah dari rumah-rumah.


Untuk mendapatkan buku yang diinginkan, jangan sungkan membokar tumpukan buku

Tidak berlebihan saya mengatakan kalau beragam buku langka juga ada, silahkan anda melihat-lihat dan membolak-balik tumpukan buku, anda akan terkejut saat menemukan buku langka yang mungkin  sudah tidak bisa dibeli di toko buku. Bahkan salah satu rekan  saya(dulu bos di kantor) , pengoleksi buku langka, yang sekarang menjadi salah satu deputi Presiden Jokowi, mempunyai ratusan koleksi buku langka di rumahnya. ia mendapatkan buku-bukunya dari Taman Buku dan Majalah tersebut. Hanya saja pada waktu itu sebelum ada penataan pedagang  yang di sediakan kios di taman buku, pedagang buku mengelar dagangan di sepanjang jalan arah alun-alun utara, tepatnya di jalan jalur lambat. Di bawah teduhnya pohon beringin yang berumur puluhan tahun menjulang tinggi besar, para pecinta buku biasa memuaskan dahaganya di situ.


Novel lama ini saya temukan sudah dengan sampul yang dibikin penjualnya,sampul asli sudah hilang

Jangan ragu untuk membongkar mencari buku, terkadang kita menemukan buku yang kita cari ditumpukan bawah. Meskipun terkadang buku-buku yang kita cari sudah bulukan(kotor, jelek) bahkan sampulnya hilang. Yang penting isis\nya masih oke saja. Jangan sungkan menawar, meskipun harga yang ditawarkan sudah murah. Asal sesuai dengan kesepakatan, buku bisa dibawa pulang. Saya biasa menawar buku-buku yang saya inginkan setelah mencari beberapa buku sekaligus. Oya, kalau membeli banyak buku lebih enak sekalian menawarnya. Jadi sekian buku kita tawar sekian.
Pedagang juga kelihatan lebih senang seperti itu.




Sebagai contoh, novel 5 sekawan yang baru masih diatas Rp 25.000 (di toko buku), dengan mudah bisa kita dapatkan di bawah Rp 5.000 atau Rp 4.000 saja. Ya tentunya novel bekas. Novel karya Sydney Sheldon, Danniell Steel, dll bisa dibawa dengan membayar Rp9.000- 10.000. Buku-buku langka berkisar Rp 20.000-25.000. Murah bukan?

Foto. Dok pribadi
_Solo, 20 Oktober 2015_

Senin, 19 Oktober 2015

Melihat Warga Desa Simpang Karmio Batanghari Manfaatkan Aset Desa

Kokok ayam bersahut-sahutan membangunkan para penghuni rumah. Semilir angin berhembus basah mengiringi pagi yang mulaimerekah. Adzan subuh berkumandang dari kejauhan, merdu merasuk kalbu. Rasanya tak ada yang  mau menyiakan waktu Subuh untuk  meneruskan bergelut selimut.  Perlahan, geliat warga mulai terlihat. Bangun membasuh muka dan  bergegas menuju masjid membelah keremangan pagi yang masih rapat dengan kabut.

Meski terus beranjak pagi, tetapi matahari belum juga menampakkan diri. Tersembunyi di antara kabut asap yang tebal tak terusik oleh kegagahan matahari. Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya, selama beberapa bulan terakhir ini, selalu diselimuti gelap. Desa Simpang Karmio, Kecamatan Bhatin XXIV, Kabupaten Batanghari, Jambi, terus 'dipaksa' akrab dengan kabut asap yang saban hari selalu ada dan belum ada tanda-tanda berkurang.

Beberapa warga terus beraktivitas, para bapak membersihkan halaman rumah, ibu-ibu menyiapkan makanan. Selepas semua urusan rumah selesai, para bapak segera beranjak untuk bersiap bekerja. Sebagian pergi ke kebun karet, sawit dan ada yang ke bendungan untuk mengurus karamba.



Desa Simpang Karmio, mempunyai aset desa berupa bendungan yang terletak di pinggir desa membentang dari desa ke desa tetangga, terletak di sebelah kebun sawit dan kebun pembibitan sawit milik Dinas Pertanian Kabupaten Batanghari.

Bendungan seluas puluhan hektar tersebut selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk pengairan sawah milik warga Desa Simpang Karmio dan desa tetangga. Tetapi setahun terakhir ini, pemerintah desa melakukan inovasi dengan memanfaatkan bendungan tersebut. Berbekal  pelatihan kepada sejumlah warganya dan modal pembibitan ikan kakap, warga mulai memelihara ikan di karamba. Tak kurang dari sepuluh kotak karamba  sudah terbentang, memanfaatkan pinggir bendungan.



Pak Kar, salah satu warga yang mempunyai karamba di bendungan Simpang Karmio, mengaku sudah memulai usaha memlihara ikan di karamba beberapakali. Ia senang karena mempunyai pekerjaan sampingan selain bertani karet di kebunnya yang lumayan luas. selepas istirahat dari kebun karet, Pak Kar, mengurus ikan-ikannya siang sampi sore hari. Paling tidak sore  hari ke karamba untuk memberi makan ikan.  Tak banyak menyita waktu, tetapi mesti menyisihkan waktu untuk memberi makan ikannya. Ia melakukan semuanya sendiri, tak butuh bantuan dari keluarganya.




Dalam tiga bulan, Pak Kar bisa memanen ikannya, lumayan itulah hasil yang diakuinya. Selain menambah pendapatan keluarga, ia juga senang karena bisa memanfaatkan air bendungan yang selama ini hanya dibiarkan saja. Kedepan ia berharap warga desa lainnya juga mengikuti jejak nya bersama pemilik karamba lainnya.

Memanfaatkan potensi desa atau aset desa itulah semangat yang melecut Pemerintah Desa demi peningkatan kesejehteraan warga desanya. Mereka juga bersiap untuk berembug guna memanfaatkan bendungan Simpang Karmio menjadi tempat wisata.  Peluang untuk itu sangat besar, apalagi desa mempunyai kewenangan lokal yang cukup banyak dan mengelola Dana Desa  yang bisa digunakan untuk memaksimalkan potensi desa yang dimiliki.


_Solo, 19 Oktober 2015_
Foto. Dok. pribadi

Minggu, 18 Oktober 2015

Yang Hilang Dari Stasiun dan Gerbong KA

Saya salah satu orang yang suka melakukan perjalanan dengan Kereta Api. Seringkali bepergian mengunakan moda transportasi yang murah, nyaman dan bebas macet. Bahkan beberapatahun yang lalu saya menjadi pelanggan Kereta Api (KA) karena harus bolak balik kerja Solo-Yogya pulang pergi.

Beberapa tahun yang lalu, fasilitas Kereta Api tidak senyaman saat ini, hanya KA dengan bandrol bisnis dan eksekutif yang menawarkan kenyamanan penumpangnya. KA bisnis agak lumayan,sementara yang eksekutif memang nyaman. Tak heran karena harga tiket juga cukup mahal dibandingkan dengan KA kelas ekonomi. Ibaratnya, ada kenyamanan  maka keluar uang lebih banyak.

Dahulu, untuk menghemat biaya, saat perjalanan jauh dengan anggota keluarga, KA ekonomi menjadi pilihan karena bisa berhemat atau paling tidak naik KA bisnis. Hanya sesekali naik KA eksekutif , itupun kalau ada urusan kantor, jadi tidak bayar pakai uang sendiri. Selain alasan lebih berhemat naik KA ekonomi, yang membuat selalu kangen adalah naik KA ekonomi itu nggak akan kekurangan makanan alias kelaparan. Tidak usah memikirkan bawa banyak bekal, cukup membeli di KA saja, dijamin nggak bakalan kelaparan. Ya, terlalu banyak penjual atau pedagang asongan yang menjajakan dagangan di KA ekonomi, baik di dalam kereta sendiri juga di stasiun-stasiun.
Rasanya semua makanan ala rakyat yang sederhana, murah dan cocok dilidah tersedia. Masih terekam kuat dalam ingatan setiap perjalanan ke barat (arah Jakarta) selalu saja pedagang asongan nyaring meneriakkan barang dagangan.

“Pecel…Pecel… mendoan..arem-arem..tahu-tahu…nasi—nasi…aqua..aqua…..kopi...”
Saat di stasiun Purwokerto dan sekitarnya pasti teriakan ini terdengar, “ lanting…lanting…pisang sale..pisang sale….”



Silih berganti pedagang membawa dagangan yang disusun diatas baskom besar berjalan ke sana kemari menawarkan dagangannya tanpa mengenal lelah.
Satu hal yang membuat saya angkat keempat jempol saya,mereka rata-rata tidak muda lagi tetapi semangat dan tenaganya luarbiasa. Meskipun tidak selalu laku tetapi mereka pantang menyerah,gigih memberikan pilihan menu makanan dan terkadang merayu calon pembelinya dengan wajah penuh harap. Tak kenal waktu, sampai tengah malampun tak kunjung menyerah sampai dagangan terbeli.

Di satu sisi, meskipun memberikan kemudahan untuk mencari makanan, banyak penumpang yang mengeluh karena merasa terganggu dengan pedagang asongan di KA. Mereka rata-rata tidak terlalu nyaman saat terkantuk-kantuk terpaksa bangun karena teriakan pedagang atau jengkel saat tangan pedagang mencolek badan mereka untuk menawarkan dagangan.

Rupanya salah satu keluhan penumpang tersebut yang menjadi dasar bagi PT KA untuk membuat penumpang lebih nyaman. Alasan lainnya saya tidak tahu. Pada akhirnya ada Intruksi Direksi PT KAI nomor 2/LL-066/LA-2012 tanggal 12 Januari 2012 yang berisi tentang Penertiban Pedagang Asongan , Penumpang Liar dan Larangan Penumpang Merokok diatas KA. Sejak saat itulah pedagang asongan dilarang berjualan di atas KA. Bahkan pada akhirnya pedagang sama sekali tidak boleh dijualan di area stasiun. PT KAI benar-benar ‘membersihkan’ pedangan asongan dari stasiun KA. Berbagai protes keras dan perlawanan dari pedagang tidak digubris dan tidak mempan,toh pedagang tetap tidak bisa jualan lagi.

Sebagai penumpang, saya merasakan kenyamanan di stasiun dan di dalam KA karena PT KAI serius memberikan fasilitas yang membuat penumpang nyaman. Area stasiun benar-benar bersih, terawat dengan baik, teratur, bebas asap rokok. Di dalam KA juga nyaman, bersih, bebas dari pedagang asongan. Bahkan hampir semua kereta api ekonomi dipasang AC, hanya sebagian kecil yang belum nyaman. Misalnya KA Pramek Solo-Yogya p/p yang bertiket Rp 8000, masih terasa panas apalagi saat musim kemarau seperti sekarang.

Menurut saya, kenyamanan penumpang diatas KA harus dibayar mahal dengan tidak adanya pedagang asongan yang menjajakan dagangannya karena mau tidak mau penumpang harus merogoh kocek lebih dalam saat membeli makanan/minuman di restorasi KA yang harganya berlipat-lipat. Saat kepepet (lupa bawa makanan/minuman atau bekal dari rumah habis sementara lapar tak bisa ditunda) , ya itulah pilihannya.

_Solo, 17 Oktober 2015_
sumber foto : www.sinarngawi.com

Bergelut Getah Karet, Potret Warga Desa Rambai Sumsel

Saat adzan subuh berkumandang, berbalur dinginnya embun pagi, kehidupan dimulai dari rumah-rumah panggung. Berderak lantai kayu saat penghuninya yang semalam terlelap melepaskan penat terbangun untuk memulai kegiatan sehari-hari. Selepas subuh, hanya ditemani secangkir kopi hitam kental para suami biasa merokok menunggu istrinya selesai menyiapkan makan pagi. Tak butuh waktu lama, nasi putih hangat yang masih mengepul plus lauk sederhana menemani secangkir kopi yang tinggal menyisakan setengahnya.

Tanpa banyak cakap, para suami segera mengisi perut untuk menjaga tenaga beberapa jam ke depan bergelut dengan kegiatan rutin di ladang. Tak menunggu mentari muncul, mereka mengeber motor, meninggalkan deru yang terus menghilang setelah beberapa waktu kemudian.



Mereka warga Desa Rambai Kecamatan, Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan bekerja di ladang karet untuk menyadap karet. Setiap hari, sebelum jam 5 sudah meninggalkan rumah untuk mengambil karet yang telah mengumpul di batang pohon bawah sekaligus mengerat batang pohon untuk mengumpulkan karet yang baru.



Sebagian besar warga Desa Rambai bekerja di ladang karet, sebagian ladang milik sendiri dan sebagian yang lain menjadi pekerja di ladang milik tetangga. Mereka butuh waktu paling tidak 5 jam untuk mengerjakan pekerjaan di ladang karet. Dari jam 5 sampai 10 siang satu per satu, berkeliling memeriksa dan mengumpulkan gumpalan karet di batok kelapa setiap pohon karet. Setelah itu menggunakan pisau mereka mengerat batang-batang pohon dan memastikan tetesan getah kareta tepat berada di batok kelapa. Memastikan esok hari terkumpul getah karet yang akan memperpanjang asa keluarga mereka.

Bukan pekerjaan mudah, berbalut udara dingin saat yang nyaman untuk terlelap di bawah selimut tebal, bekerja keras di tengah kerumunan nyamuk yang sudah menjadi teman sehari-hari. Semua dilakoni tanpa merasa beban untuk mencukupi kebutuhan keluarga.




Para Istri Rangkap Pekerjaan, Urusan Domestik dan Membantu di Ladang
Di waktu yang sama, para istri sibuk berkutat dengan pekerjaan domestik, menyiapkan makan untuk keluarga, memastikan anak-anak siap beres untuk berangkat sekolah, kemudian berangkat ke ladang untuk membantu suami.


Bu Aidil, selepas sholat Subuh sibuk berkutat dengan masakan sambil membangunkan anak-anaknya yang duduk di bangku SMA dan SD. Setelah urusan anaknya beres dan mereka berangkat sekolah, ia segera mencuci peralatan memasak. Tak menunggu lama, setelah makan pagi dengan cepat, ia segera menyusul suaminya ke ladang. Lima hektar ladang karet peninggalan orangtua suaminya selama ini mengandalkan tenaganya dan suami, meskipun kadang-kadang dibantu beberapa tetangganya saat panen karet melimpah. Tetapi tidak untuk saat ini, saat harga karet turun, ia tidak mampu membayar tenaga tetangga.

Di kabupaten OKI, harga karet turun sampai berkisar antara Rp 8.000/ kg, dari harga biasanya lebih dari Rp 10.000/kg. Dalam kondisi seperti ini, Bu Aidil hanya memanfaatkan tenaga sendiri. Dalam sehari, sampai jam 10, ia dan suami biasa mengumpulkan karet sampai 10 kg. Getah karet disetorkan kepada pengumpul yang ada di desa, ia tinggal menerima bayaran saja.

Lelah di ladang tidak membuat Bu Aidil ongkang-ongkang kaki di rumah. Ia harus segera membereskan rumah, membersihkan rumah dan mencuci baju seluruh keluarganya. Paling tidak selepas Dhuhur ia baru selesai dari pekerjaan rutin di rumah. Sesekali di siang hari, ia akan membuat olahan pangan lokal seperti membuat kerupuk dari ketela pohon atau membuat tepung dari bahan yang sama. Bu Aidil seperti ibu-ibu pada umumnya di Desa Rambai, tidak mengenal lelah, tidak membuang waktu dengan percuma untuk sekedar menikmati sinetron, tetapi memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat, menyediakan kebutuhan pangan untuk keluarganya.


Pekerjaan Sampingan Suami
Siang seusai melepas penat sejenak, para suami tidak biasa hanya berdiam diri di rumah. Mereka biasanya akan mencari pekerjaan sambilan. Misalnya Pak Aidil, biasa mencari kayu di hutan sebagai barang dagangan. Ia dibantu beberapa orang tetangga, menelusuri hutan-hutan di desa dan desa tetangga untuk melihat dan barangkali bisa membeli kayu-kayu yang akan dijual kembali. Mereka mempunyai pekerjaan lain selain mengurus ladang karet. Dengan keuletan dan kerja keras inilah, kebutuhan keluarga tercukupi.

Menjelang petang, deru motor Pak Aidil terdengar memasuki halaman rumah. Dengan langkah capek, Pak Aidil memasuki rumah panggung disambut istri dan anaknya. Secangkir kopi panas sudah tersedia di meja untuk mengurangi rasa penat seharian di luar rumah. Makanan dengan menu sederhana yang terhidang di meja akan melengkapi untuk melepas lelah.
Itulah potret kehidupan sehari-hari keluarga di Desa Rumbai, suami-istri saling bahu-membahu meringankan beban keluarga tanpa mengeluh dan menyalahkan satu dengan lainnya. Sebuah kebersamaan yang elok dan pantas untuk diteladani.

_Solo, 12 OKtober 2015_

Foto. dokumen pribadi

Danau Ugo Kabupaten Batanghari, Bersiap Menjadi Wisata Desa

Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi menyajikan kekayaan alam yang tersembunyi. Selain memiliki sumber daya alam berbagai jenis seperti batu bara, hutan, perkebunan, pasir, bebatuan, bumi, gas, dan kerikil, yang tak kalah menariknya adalah sebuah danau perawan yang elok dipandang mata.

Seminggu yang lalu, saya berkesempatan pergi ke Jambi, tepatnya di Kabupaten Batanghari. Saat bekerja, saya berkesempatan menjelajahi Desa Aur Gading dan melihat langsung Danau Ugo, potensi desa yang belum tergarap. Meskipun terselimuti kabut asap, keelokan danau ini tetap terlihat. Danau Ugo terletak di Desa Aur Gading Kecamatan Bhatin XXIV atau orang-orang sering bilang Bhatin Dua Lusin, menyimpan potensi wisata yang sangat menjanjikan. Danau seluas 24 hektare ini membentang luas di sepanjang desa.

Untuk menuju Danau Ugo, kita melewati jembatan gantung yang terbuat dari besi. Jembatan tersebut menjadi jalan alternatif menuju Desa Aur Gading, selain jalan lain yang memutar. Beberapa tahun yang lalu, jembatan belum ada. Warga Desa Aur Gading dan sekitarnya harus menyeberang sungai seluas tak kurang dari 200 meter dengan menumpang perahu kecil. Empat tahun terakhir, jembatan dibangun untuk memperlancar transportasi warga. Sayang hanya selebar tak lebih dari 1,5 meter, hanya cukup untuk dilewati sepeda motor satu arah.



Kembali ke Danau Ugo, kita harus menyeberang jembatan gantung kemudian melewati perkebunan karet yang membentang di kanan-kiri jalan raya berdebu yang masih terbuat dari tanah. Sekitar dua ratus meter kemudian, masuk ke jalan setapak yang membelah perkebunan karet yang luas dan sepi. Jalan setapak ini berkelok-kelok, cocok jika digunakan untuk trek motor cross. Sejauh mata memandang hanya pohon-pohon karet yang dipenuhi batok kelapa tempat untuk menyadap karet ditambah rimbun dedauan.



Danau Ugo memang mempesona. Alamnya masih asri dengan air yang cukup jernih. Selama ini, danau alami tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Daya tarik danau dengan pemandangan asri tersebut terletak pada bentangan luas danau, ditambah perkebunan karet di salah satu sisinya. Menurut penduduk setempat, Danau Ugo dihuni banyak ikan lambak, semacam ikan bandeng. Setiap harinya warga sekitar mencari ikan lambak untuk dijual dan dijadikan lauk-pauk.



Konon, Danau Ugo sebagai tempat bermain dan pemandian bagi para bidadari. Danaunya yang luas, tenang dan sepi menjadi tampat favorit para bidadari yang turun dari khayangan. Mereka bersuka ria dan senang bermain air di Danau Ugo. Menurut kabar yang diyakini warga sampai saat ini, danau tersebut tidak boleh dirusak. Karena pernah ada yang meracuni ikan, tetapi di pagi harinya, ikan-ikan tidak mati tetapi di danau muncul banyak sekali telunjuk manusia yang menyembul. Sejak saat itu, warga sekitar mempercayai kalau air danau tidak boleh tercemar dan dikotori orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, keasrian Danau Ugo terjaga sampai sekarang. Warga sekitar juga mempercayai, saat di danau harus cuci muka dengan airnya, karena jika tidak bisa mengakibatkan sakit panas.

Pemerintah Desa Aur Gading bertindak cepat, memanfaatkan aset desa menjadi lebih bermanfaat. Saat ini pengajuan Danau Ugo menjadi tempat wisata sudah diproses Kementerian Pariwisata. Master plan masih disusun, kelak Danau Ugo akan dijadikan danau wisata Kabupaten Batanghari yang dilengkapi dengan rumah makan, sarana pariwisata dan lintasan cros di sekitar danau.

Warga berharap potensi desa ini mampu dikelola secara baik sehingga bisa menambah pendapatan asli desa dan mendorong kemajuan perekonomian masyarakat. Sejumlah rencana sudah disiapkan oleh warga kalau Danau Ugo sudah menjadi tempat wisata. Mereka siap  mengelola warung-warung makan, menjual souvenir, menyediakan jasa ojek, dll. Pandangan mereka optimis untuk kemajuan desa dan warga, bahagia menatap masa depan desa yang membentang di depan mata.

_Solo, 4 OKtober 2015_

foto : dokumen pribadi

Ibu Desa Rambai Sumsel Manfaatkan Potensi Lokal

"Kalau semua beli, sayang uangnya," tutur Ibu A, seorang perempuan dari Desa Rambai, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan.

Tangannya sibuk memeras singkong yang telah di parut/dihaluskan di atas sehelai kain blacu. Putaran tanganya kuat hingga tetes-tetes air dari singkong tak bersisa lagi. Beberapa kali ia mengupas peluh di dahinya dengan ujung lengan baju.

Bukan pekerjaan yang ringan meskipun saat memarut singkong dibantu dengan mesin. Ya, alat bantu mesin pemarut cukup meringankan beban ibu A. Ia tinggal memeras untuk menghabiskan air dari singkong dan setelah itu menjemurnya.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan. Singkong di kupas sampi bersih, kemudian di masukkan air sambil di bersihkan.  Setelah singkong dibersihkan kemudian di tiriskan hingga air tidak lagi menetes. Proses berikutnya singkong satu persatu di masukkan ke dalam mesin pemarut singkong. Setelah itu parutan singkong di peras diatas sehelai kain. Proses pemerasan harus sampai kering agar rasa tepung tidak langu(tidak enak). Agar tepung tidka mengumpal, adonan singkong tersebut harus di tekan-tekan di sebuah alas yang berlubang-lubang seperti saringan tetapi besar. Baru kemudian di jemur sampai kering.


Singkong parut di peras sampai airnya kering

Selain membuat tepung singkong, ibu-ibu tersebut biasa membuat kerupuk dari singkong. Proses pembuatan  hampir sama, setelah singkong di parut dan airnya di hilangkan, kemudian adonan diuleni/dicampur dengan bumbu-bumbu dan pewarna makanan sesuai selera. Kemudian di masukkan ke dalam kulkas agar adonan lebih mengental sehingga tidak pecah/hancur saat diiris. Biasanya semalaman.  Baru keesokan harinya di iris tipis kemudian di jemur.




Kerupuk dari singkong, gurih, enak, halal, dan puas karena buatan sendiri.

Ibu A, tidak sendirian, sebagian besar ibu-ibu di desa Rambai melakukan hal yang sama. Membuat tepung dari singkong. Mereka sudah terbiasa membuatnya, selain irit, higienis juga memanfaatkan singkong tanaman sendiri yang berbuat lebat di kebun. Ibu-ibu meneruskan apa yang dilakukan orangtua mereka, tidak tergantung kepada tepung buatan pabrik. Mereka justru mengandalkan buatan tangan sendiri, produksi mereka sendiri hasil bertanam.

Bukan karena tidak mempunyai cukup uang, mereka toh orang-orang yang mampu. Bahkan ibu A mempunyai berhektar-hektar ladang di hutan yang ditanami karet. Selain itu ia juga hidup berkecukupan. Suaminya mempunyai usaha penjualan kayu, yang lebih dari cukup untuk hidup mereka sekeluarga. Hasil ladang karet juga memadai, setipa harinya mereka menyadap karet dan dijual sehingga tersedia uang tunai. Selain itu, mobil keluaran terbaru juga terparkir di halaman rumah.

Ibu B juga sama, ia hidup cukup dengan membuka usaha toko kelontong di rumahnya. Pekerjaan suami sebagai petani juga cukup memadai, karena anak-anaknya sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tetapi ia juga tidak berpangku tangan, di sela-sela menjaga toko kelontongnya, ia seperti ibu yang lain membuat tepung dari singkong.



Singkong memang ditanam di kebun mereka, dari singkong mereka bisa merebus untuk selingan nasi, mengoreng untuk camilan dan mengolah menjadi  tepung dan kerupuk singkong.
Meskipun tidak sederhana cara membuatnya, tetapi mereka senang bisa membuat salah satu kebutuhan sehari-hari dari tangan mereka sendiri.

Sejatinya mereka perempuan mandiri, tanpa kenal lelah menyediakan kebutuhan keluarga. Pagi selepas anak-anak sekolah, mereka biasa membantu suami ke ladang karet untuk menyadap karet. Selebihnya mengurus rumah tangga salah satunya membuat tepung dan kerupuk.
Bertahun-tahun, bahkan mereka mengaku lupa kapan terakhir membeli tepung dan kerupuk, karena mereka selalu membuat kedua jenis makanan tersebut.

Pemanfaatan kebun dengan menanam singkong kemudian di olah menjadi beragam makanan sehari-hari membuat mereka merasa bangga karena bisa menyediakan  pangan olahan tangan sendiri, membantu meringankan beban suami karena bisa berhemat dan yang paling penting adalah ikut melestarikan pangan lokal.Murah meriah tetapi tetap bernilai gizi tinggi.


 ibu-ibu di Desa Rambai, tekun, rajin melestarikan pangan lokal




_Solo, 26 September 2015_
 

Sumur Bagi Orang Jawa Sebagai Sarana Berbagi

Sumur bagi orang Jawa tidak hanya sekedar tempat untuk mengambil air. Sumur tidak hanya sekadar fasiltas sumber air yang akan memenuhi kebutuhan air untuk keseharian seluruh keluarga.
Tetapi sumur bagi orang Jawa, sumur diibaratkan lambang sumber kehidupan. Dari sumurlah kebutuhan yang sangat penting, yaitu air bisa terpenuhi.

Pengalian sumur yang berbentuk lingkaran dengan diameter 1-1,5 meter,  bagi orang Jawa diibartkan mengali sumber kehidupan.
Maka tak heran jika orang Jawa, saat akan membangun rumah tempat tinggal, biasanya mereka justru membangun sumur terlebih dahulu. Selain untuk memenuhi kebutuhan pambangunan rumah, air dari sumur tersebut juga menandakan ada sumber kehidupan yang menjanjikan bagi keluarga yang akan mendiami rumah itu kelak.

Pembuatan sumur juga tidak dilakukan dengan asal-asalan, biasanya orang Jawa akan mencari orang pintar, orang yang dianggap sebagai pawang sumur untuk menentukan dan mencari sumber mata air yang bagus. Setelah itulah, akan ditentukan hari baik (menurut perhitungan Jawa) untuk mulai mengali sumur.
Menentukan letak sumur juga tidak sembarangan, tidak asal melihat sumber air yang bagus. Tetapi juga mempertimbangkan arah rumah menghadap kearah mana. Karena pemilihan letak sumur diyakini juga akan mempengaruhi peruntungan dan kebahagiaan keluarga pemilik sumur.

Bagi masyarakat di Jawa, sulit sekali menemukan rumah (lama) yang tidak kelihatan sumurnya. Hampir semua rumah di Jawa membangun sumurnya di samping rumah bagian depan. Sehingga dari depan/jalan sumur tersebut bisa dilihat oleh orang lain. Mereka memang sengaja membangun sumur biar kelihatan dari jalan/kelihatan orang lain. Menurut penuturan orangtua saya, peletakan sumur dari jaman nenek moyangnya dulu memang selalu di depan, biasanya samping rumah bisa samping kanan atau kiri. Bagi yang rumahnya berhalaman luas, bisa diletakkan di samping dekat rumah atau terkadang justru di samping pojok yang dekat jalan. Intinya setiap orang yang lewat bisa tahu ada sumur di situ. Jadi tidak diletakkan di tempat yang tersembunyi/ atau di dalam rumah.

Makna yang terkandung di dalam penentuan letak sumur ini amat dalam. Para leluhur sudah mempertimbangkan bahwa sumur sebagai sumber penghidupan bagi keluarga tidaklah elok jika hanya di nikmati oleh anggota keluarga pemilik sumur itu saja. Tetapi sumur juga difungsikan sebagai sarana sosial, untuk menyediakan bagi siapapun yang membutuhkan air. Maka tak heran jika sumur diletakkan di luar rumah, di pinggir jalan, di tempat yang mudah diketahui orang lain. Tidak hanya untuk tetangga yang membutuhkan air saja, tetapi untuk orang yang tidak dikenalpun yang saat melintas membutuhkan air bisa mengambilnya sesuak hati.



Para leluhur sudah mengajarkan konsep berbagi kepada sesama yang sangat sederhana dan mungkin tidak terlalu disadari oleh anak cucunya. Maka tidaklah heran jika sumur di desa (waktu itu, dan saya juga merasakan sendiri saat masih kecil) sering dikunjungi orang yang lewat hanya untuk sekedar numpang cucimuka, atau petani untuk cuci tangan dan kaki setelah bergelut dengan lumpur, pengembala ternak untuk mengambilkan air minum ternaknya dan tetangga yang sumurnya kering saat kemarau panjang seperti saat ini.

Mereka memaknai sumur tidak ada bedanya dengan mata air, sendang, pancuran, belik, sungai yang disediakan Tuhan untuk seluruh makluk hidup di dunia ini.
Selain itu, bagi orang Jawa juga, berkumpul di sumur saat mengambil air, dijadikan sarana untuk bertemu, berbincang, mengakrabkan diri sekaligus membicarakan hal-hal keseharian yang terjadi di sekitar mereka (bahasannya bisa beragam dari hal sehari-hari, pendidikan, sosial, sampai soal politik).



Saat ini, kalau ke desa, saya masih banyak menemumukan sumur-sumur yang terlihat di jalanan. Meskipun sebagian sudah diberikan dinding penutup setinggi 1,5 meter untuk sekedar tidak terlalu mencolok terlihat di jalanan.

Seiring dengan perkembangan jaman, orang yang tinggal di desa dan membangun rumah baru, sudah hampir tidak terlihat sumur di halaman/pekarangan rumah mereka. Kebanyakan sudah meletakkan sumur di dalam rumah/belakang rumah, yang intinya agar tidak terlihat dari jalan/luar. Seperti yang saya tanyakan kepada mereka, alasannya adalah sumur untuk kegiatan yang bersifat pribadi, sehingga kalau tampak dari luar apalagi jalanan ya malu. Oleh karena itu mereka meletakkan sumur di tempat yang tidak terlihat orang luar.

_Solo, 25 September 2015_